OBLIGATIE PART 9
Tittle : Obligatie part 9
Cast : Ify | Rio | Via | Alvin | Shilla | Gabriel | Agni | Cakka |
Genre : Romance, Friendship, Action, etc,- | Maybe
Author : Yanti Lestari | @yanti_lestariA | IG: @yanti_lestariA
SISA berdiri dihalte bus dengan kesal. Sudah dua jam mereka menunggu bus, tapi tak datang juga. Padahal mereka sudah telat 20 menit dari jam ditentukan untuk berkumpul dirumah Uncle Albert. Katanya sih, Uncle Albert mau ngomong penting. Ck ck.. kapan coba nih bus lewatnya.
Sebenarnya SISA pengen nelpon The Hits Boys untuk menjemput mereka. Tapi kan, mereka saat ini masih perang sama The Hits Boys. Jadi, gak mungkin kan kalau SISA harus menelpon keempat suami mereka. Apalagi, belum tentu juga kalau suami mereka itu mau menjemput mereka. Nganter aja gak mau apalagi jemput_-.
Ify menghela nafas berat. Kepalanya pusing mikir ini mikir itu. Huhuhu kayaknya bentar lagi Ify bakal terjangkit darah tinggi atau lebih parahnya stroke. Huwaaa gue gak mau, batin Ify mencak mencak.
***
“Permisi,” ucap Shilla setelah memencet bel rumah Uncle Albert. Tak lama kemudian keluarlah Uncle Albert menyambut mereka dan mempersilahkan mereka masuk. SISA pun masuk mengikuti Uncle Albert yang memimpin mereka.
“Cish..darimana aja lo. Lo pikir gue gue gak sibuk,” semprot Rio tanpa basa basi. Padahal SISA belum juga mendaratkan bokong mereka eh udah disemprot aja.
“Lo pikir nunggu bus lewat itu cepet,” jawab Ify sengit dan tak lupa sebuah senyum miring tercetak dibibirnya. Ify lagi badmood malah dimarahin. Tambah kesel dirinya.
“Kenapa lo gak nebeng sama temen cowok lo itu,” sindir Rio tajam. Tanpa sadar Ify berdiri dari duduknya kemudian mengmbil gelas berisi sirup di meja lalu menumpahkannya ketubuh Rio. Dirinya sudah sangat sangat kesal sekarang.
“Maksud lo apa hah?” marah Rio sambil berdiri dari duduknya. Baru kali ini ia diperlakukan seperti itu. Marahnya sudah diubun ubun sekarang.
“Biar otak udang lo itu bisa mikir,” cela Ify tajam dan membuat gigi Rio menggeretuk (?) saking marahnya.
“Lo...” Rio menatap tajam Ify. Kalau saja Ify ini bukan pemilik hatinya mungkin sudah habis Ify ditangan Rio.
“Apa?? Lo mau bunuh gue. Silahkan,” ucap Ify sambil menatap Rio yang tengah berdiri dihadapannya. Hanya saja dibatasi sebuah meja sofa didepan mereka.
Rio mengepalkan tangannya. Menahan agar emosinya tidak keluar sekarang. Bisa bisa ia membunuh Ify sekarang jika emosinya tidak bisa ia kontrol.
“Kenapa? Lo gak berani. Cish..” cela Ify membuat Rio harus menahan kuat kuat emosinya.
“Ify, Rio duduk,” perintah Uncle Albert. Ify pun segera duduk, itupun karena tarikan Via ditangannya. Sedangkan Rio duduk setelah Gabriel membisikkan kata kata yang entahlah apa itu, kemudian Rio membersihkan bajunya menggunakan tissu yang tersedia di meja Uncle Albert
“Baiklah, Uncle mau bertanya. Apakah diantara kalian sudah tau siapa kaum hitam sebenarnya??” tanya Uncle Albert setelah melihat Ify dan Rio cukup tenang.
Ify dan Shilla langsung saling pandang mendengar pertanyaan Uncle Albert. Mereke saling berbicara melalui mata dan pada akhirnya Ify mengangguk mengakhiri percakapan mereka.
“Tidak Uncle,” jawab Cakka mewakili mereka berdelapan dan ddukung gelengan dari Agni dan Via.
“Benarkah??” tanya Uncle Albert ragu.
“Iya Uncle. Ada apa Uncle?” jawab dan tanya Gabriel.
“Menurut bayangan Uncle, diantara kalian sebenarnya sudah ada yang mengetahui siapa kaum hitam sebenarnya,” jelas Uncle Albert membuat Shilla dan Ify tegang sendiri. Mampus deh mereka. Padahal kan rencana kedua gadis ayu itu kan mencari tau kebenarannya kemudian memberitahu kepada Uncle Albert jika orang menyerang mereka kemarin itu kaum hitam.
“Siapa Uncle?” tanya Agni.
“Entahlah Uncle belum tau. Tapi, jika itu benar Uncle mohon ceritakan sebenarnya. Biar masalah ini cepat selesai,” jawab Uncle Albert.
Ify menggaruk kepalanya bingung kemudian membuka tasnya lalu mengsms Shilla dengan hpnya tetap berada didalam tasnya *hadehngertikan*.
To: Shilla
Shill gimana nih?
Shilla langsung mengambil hpnya saat merasakan getaran disaku bajunya. Shilla lmengerenyitkan keningnya lalu melirik Ify sebentar kemudian membuka pesan dari Ify.
From: Ify
Shill gimana nih?
To: Ify
Gue juga bingung Fy. Menurut lo gimana?
From: Ify
Hmm, kita cari tau kebenarannya aja dulu. Sesuai rencana awal aja deh.
To: Ify
Gue setuju Fy. Lagian kalau kita salah kasih info kaum hitam, nanti tuh cowok malah marah marah lagi ke kita berdua. Kayak gak tau sifat empat cowok kece itu aja.
From: Ify
Ya betul banget tuh. Huhh.. gue masih emosi sama Rio.
To: Ify
Lo tau, gue tadi malah takut kalau Kak Rio bunuh elo benaran.
From: Ify
Gak mungkin lahh. Gue tadi Cuma nantangin doang. Ngetes gitu. Hahahaha.
To: Ify
Klau benaran iya gimana?
From: Ify
Buktinya nggak kan?
To: Ify
Mungkin aja tadi ditahan gara gara ada Uncle Albert. Bisa jadi pulang nanti elo....
From: Ify
Do’a elo Shill minta diaminin. AMIN
To: Ify
Maksud elo apa Fy. Fy, elo jangan macam macam deh.
From: Ify
Kalau dia bahagia gue mati. Gue sih fine fine aja.
“IFYYYYYYY,” teriak Shilla menggelegar. “Gue kagak rela taukkk.”
“Asem lo Shill. Ngapain juga elo teriek teriak sih. Ify disini Cuma beda 2 meter dari elo juga,” kata Agni kesal. Sedangkan The Hits Boys menatap sengit Shilla
“Si Ify ngeselin Ag,” bela Shilla sambil menunjuk Ify yang duduk diojokan disamping Via.
Ify mengangkat alisnya pura pura bingung. “Gue salah apa coba? Perasaan gue dari tadi anteng disini.”
“Tau nih si Shilla. Ify itu dari tadi duduk anteng kok,” bela Via.
“Elo gak tau sih gimana...” Ucap Shilla terpotong. Ingin rasanya Shilla memberitahu sms Ify barusan tetapi, kan ada sms rahasianya. Ughh... Ify ngeselin.
***
“Baiklah Uncle, kita pulang dulu,” pamit Alvin berdiri dari duduknnya diikuti Rio, Gabriel, Cakka dan juga SISA.
“Hati-hati,” balas Uncle Albert mengantarkan kepergian mereka berempat didepan pintu.
SISA tersenyum membalas ucapan wanti wanti dari Uncle Albert. Tiba- tiba saja setelah Uncle Albert menutup pintu, Rio langsung mendorong tubuh Ify ke tembok dengan kasar.
Ify kaget bukan main. Hatinya ketar ketir kalau sampai beneran Rio akan membunuhnya. Oh, oh mampuslah riwayatnya hari ini.
Shilla menahan nafasnya. Berharap Rio tidak benar membunuh Ify. Ingin rasanya Shilla mencegahnya, tapi apa daya ia sendiri juga takut.
“Seharusnya gue gak pernah kenal sama elo. Seharusnya gue gak jutuh cinta sama elo. Seharusnya gue gak cinta mati sama elo,” kata Rio penuh penekanan sambil menatap tajam kedua mata Ify yang hanya berjarak 25 cm dari matanya. “Dan sekarang sebaiknya lo pergi dari hadapan gue, dari hati gue dan dari kehidupan gue. Gue.. Cin.. hm benci elo.”
Setelah mengucapkan kalimat menyakitkan itu, Rio langsung memeluk tubuh Ify lama lalu berlalu pergi meninggalkan Ify yang tinggal mematung menahan untuk laju air matanya.
***
“Hmm, Shill kayaknya gue gak gabung deh bareng kalian,” Shilla ikut berhenti dari jalannya kemudian menatap Ify yang juga mengikuti tingkah Shilla.
“Kenapa Fy?” tanya Shilla.
“Kayaknya nih ya, kaum hitam udah tau deh kalau gue salah satu pemegang kalung setengha bintang,” bisik Ify ditelinga Shilla.
“Apa!!! Kok bisa?” tanya Shilla shock.
“Dari tadi tuh kayaknya ada yang ngintai gue deh dan itu pasti kaum hitam,” kata Ify melanjutkan perjalannya. Shilla pun mengikuti Ify dan mensejajajrkan langkahnya dengan Ify.
“Terus hubungannya dengan gue, Via sama Agni apa?” tanya Shilla.
Ify menghentikan jalannya kemudian menghadap ke Shilla yang ikut ikutan berhenti. “Gue taku aja, kalau nanti kaum hitam juga tau kalau elo, Via dan Agni pemilik kalung setengah bintang itu. Kan bahaya,” kata Ify mengecilkan volume suaranya.
“Tapi Fy-“
“Udah deh. Lo sekarang ke kantin temuin Shilla sama Agni terus bilang kalau gue pulang duluan,” kata Ify dan sontak membuat Shilla kesal.
“Terus kalau mereka nanya gini ‘Ify ngapain pulang?’ Gue harus jawab apa dong?” tanya Shilla.
“Hmm elo tinggal bilang kalau gue sakit ket atau apa kek... terserah elo deh pokoknya,” jawab Ify dan membuat Shilla memutar bola matanya kesal.
“Kalo gue ngomong gitu, pasti si Via sama Agni juga bakal pulang nyusulin elo,” kata Shilla.
“Nah, makanya elo cari dong alasan yang logis diotak. Lagian gue lagi gak mood buat belajar hari ini,” kata Ify menghela nafas.
“Elo masih kepikiran yang kemarin ya?” tanya Shilla hati hati.
“Ya, seperti itu lah. Kayaknya gue harus pergi deh dari kehidupan Kak Rio,” curcol Ify.
“Udah lah Fy. Kayaknya kemarin Kak Rio itu ngomong kebawa emosi doang. Lagian elo sih nantang nantangin dia,” kikik Shilla.
“Nggak kok Shill. Kak Rio beneran kok nyuruh gue untuk pergi dari kehidupannya. Gue bisa tau kok,” jawab Ify membuat Shilla gak enak hati.
“Elo yang sabar aja ya Fy. Gue yakin Kak Rio itu gak marah beneran sama elo,” ucap Shilla yang dibalas senyuman manis oleh Ify.
“Yaudah Shill, elo kekantin gih. Nanti si Agni sama Via marah marah lagi kalo elo datangnya ngaret,” kata Ify.
“Oke Fy. Elo hati hati ya. Jaga diri. Kalo ada apa apa hubungin gue,” wanti Shilla.
“Oke. Gue titip Via sama Agni ya. Jangan lupa The Hits Boys juga. Jaga mereka. Kayaknya gue harus turutin kemauan Kak Rio. Biar dia bahagia,” kata Ify membuat Shilla menyipitkan matanya menatap Ify.
“Maksud lo?” tanya Shilla.
“Udah deh. Lo cepeta kekantin gih. Bye,” pamit Ify lalu berlari meninggalkan Shilla.
“Gue harap elo akan baik baik aja Fy,” lirih Shilla sambil menatap punggung Ify yang semakin mengecil ditelan oleh jarak.
***
“Ify mana Shill?” tanya Agni yang melihat Shilla yang datang hanya seorang diri.
“Pulang,” jawab Shilla singkat. Tiba tiba perasaannya tak enak.
“Kenapa? Ify sakit?” tanya Via khawatir.
“Nggak kok. Katanya mau nenangin diri aja. Palingan gara gara masalah kemarin,” ucap Shilla.
“Kayaknya malang banget ya nasib kita. Harus ditinggalin oleh lelaki yang kita cintai,” celetuk Via sendu, membuat Shilla dan Agni menoleh menatapnya.
“Hm Iya. Apalagi Ify. Dia yang paling ngerasain sakit,” tambah Shilla.
“Huss udahlah. Ngapain kita mikirin hal kemarin lagi. Udah lupan aja. Lebih baik kita mikirin buat surprise ultah Ify besok. Tadi, itu pak ketua udah nanya nanya ke gue tentang surprise Ify besok,” kata Agni langsung mengalihkan pembicaraan. Jujur hatinya masih sakit gara gara kejadian kemarin yang tiba tiba Cakka meninggalkannya.
“Oh iya ya. Yaudah elo telpon pak ketua sama temam teman yang lain. Kita buat rencanya sekarang. Mumpung Ify nggak disini sekarang,” ucap Via dan langsung diangguki oleh Agni lalu mengambil hpnya dan menghubung teman temannya.
***
“Aduh Ify kemana sih? Udah jam 7 kurang lima menit nih. Tapi, kok belum datang juga,” gelisah Shilla sambil menatap gerbang sekolah yang belum menandakan kedatangan Ify.
“Dik, tadi elo udah lihat Ify berangkat sekolah kan?” tanya Via yang juga khawatir.
“Udah kok. Gue tadi lihat Ify berhentiin taksi kok. Pake seragam juga,” jawab Dika.
“Terus kenapa gak lo ikutin?” tanya Agni.
“Ya gue kan juga harus buru buru kesini lewat jalan lain Ag. Masa iya gue ikutin dari belakang. Gue kan gak mau ketinggalan juga,” jawab Dika.
“Terus sekarang gimana dong? Malah udah bel lagi,” kata Via.
“Apa jangan jangan Ify udah tau rencna kita terus kabur lagi,” prasangkan Dika.
“Bisa jadi sih. Terus sekarang..”
“Kita kasih kejutan besok aja. Lagian Ify kan cerdas. Mana mau dia dibodoh bodohi untuk kedua kalinya,” saran Anjas sang ketua kelas.
***
“OMG Ify kemana sih. Udah jam 3 sore belum pulang pulang,” histeris Shilla membuat Agni menatap Shilla sebal.
“Gak usah histeris gitu juga kali Shill,” kesal Agni sambil menoyor kepala Shilla.
“Gue itu khawatir tau sama Ify,” kata Shilla sambil mengelus kepalanya yang sudah menjadi korban kegananasan tangan Agni.
“Ck, kok nomor Ify sekarang gak aktif sih,” celetuk Via tiba tiba yang datang dari balkon. “Padahal tadi kan masih aktif.”
“Beneran Vi?” tanya Shilla gak nyante.
“Iya Shill. Lagian perasaan gue tiba tiba gak enak gini,” jawab Via menghembuskan nafas, membuang pikiran negatifnya.
“Jangan jangan Ify....” Via dan Agni pun langsung menatap Shilla. “Gak mungkin, pasti gak mungkin. Ify pasti gak mungkin ditangkap sama kaum hitam. Gak mungkin gak mungkin,” Shilla menggeleng gelengkan kepalanya dan langsung jatuh terduduk dilantai. “Tapi...,” Shilla meneteskan air matanya. Otaknya langsung dipenuhi pikiran kalau Ify diculik oleh kaum hitam. Sekarang apa yang harus ia lakukan.
Via dan Agni menatp heran Shilla. Kenapa dengan Shilla?? Apa hubungan Ify dengan kaum hitam dan juga Shilla. Apa jangan jangan Shilla dan Ify sudah mengetahui keberadaan kaum hitam?
“Elo kenapa Shill?” tanya Via sambil memegang tangan Shilla yang coba memukul dirinya sendiri.
Shilla mendongakkan kepalanya lalu menatap Via. “Ify gak mungkin diculik sama kaum hitam kan?”
“Maksud lo apa? Atau jangan jangan elo udah tau semuanya ya?” tanya Agni berbondong.
Shilla menganggukkan kepalanya membuat Agni dan Via langsung melototkan mata mereka.
“Kenapa elo gak cerita kekita sih Shill?” tanya Agni emosi.
Shilla hanya menangis sesenggukan dipelukan Via. Pikirannya sudah kacau sekarang.
“Jawab Shil jawab. Elo nganggaep gue itu apa sebenarnya?”
“Udah Ag. Tenangin diri elo. Lo jangan salahin Shilla sampai segininya dong. kasihan..” ucap Via ketika merasakan pelukan Shilla erat kedirinya.
Agni menghembuskan nafasnya lalu melepas kacamatanya dan mendudukkan dirinya dibed. “Maafin gue Shill.”
Shilla langsung melepaskan pelukannnya lalu mengatur nafasnya. “Gpp Ag. Ini memang salah gue.”
“Coba elo ceritain semuanya Shill,” kata Via memohon dan erkesan memaksa.
Shilla langsung menghapus air matanya kemudian menceritakan kejadian dua hari yang lalu saat ia dan juga Ify melawan penyusup yang datang diacara musik dan dari situ ia dan Ify mengetahui kalau penyusup itu adalah kaum hitam. Kemudian Shilla menceritakan keanehan ucapan Ify kemarin membuat Via dan Agni membulatkan matanya.
“Ini gak bisa didiamin lagi. Kita harus beritahu The Hits Boys,” kata Agni lalu memakai kacamatanya kembal kemudian berdiri dari duduknya.
“Tapi—“
“Udah deh Shill. Masalah kalaung ini adalah tanggung jawab kita berlapan,” potong Via yang kemudian diangguki oleh Shilla.
***
“Mau ngapain kalian bertiga kesini??” tanya Dea yang langsung menghalangi langkah SSA yang akan mencari The Hits Boys.
“Gue mau ketemu The Hits Boys. Minggir lo,” jawab Agni ketus sambil berjalan maju tapi langsung dihalangi oleh dayang dayang Dea.
“Minggir gak elo semua atau..—“
“Atau apa?? Lo bertiga berani sama kita. IYAAA,” tantang Angel membuat SSA mengepalkan tangan mereka menahan emosi.
Tiba tiba mata Shilla menangkap The Hits Boys yang berjalan kearah area parkiran. “KAK GABRIELLL,” teriak Shilla sehinggan Via, Agni dan Dea beserta genknya menatap arah pandang Shilla.
Gabriel hanya menoleh sebentar lalu menaiki motornya dan bersiap meninggalkan area sekolah bersama sahabatnya.
Melihat itu SSA pun berlari ingin menyusul The Hits Boys. Tapi, sayang belum saja mereka sampai kearea parkir The Hits Boys sudah melajukan motor mereka.
“SIALL,” umpat Agni.
Via pun memberhentikan taksi yang kebetulan lewat didepan mereka lalu SSA pun menaiki taksi tersebut.
***
SSA pun berlari menyusul The Hits Boys yang memasuki sebuah gedung. Mereka terus meneriaki nama para member The Hits Boys tetapi member The Hits Boys tidak mengidahkan panggilan SSA. Mereka tetap saja berjalan memasuki gedung tersebut dengan tenang.
“Eh eh kalian mau kemana. Kalian tidak boleh masuk,” cegah salah satu petugas keamanan yang berada di loby utama gedung tersebut. SSA memandang tajam satpam tersebut kemudian tetap menerobos masuk. SSA pun berlari secepatnya sebelum pintu Lift tersebut tertutup.
Via menahan tangannya ke pintu Lift kemudian memasuki Lift tersebut diikuti Shilla dan Agni dibelakannya setelah itu Lift tertutup sempurna. SSA mengatur nafas mereka yang sudah senin kemis karena jantung mereka berpacu lebih cepat dari biasanya.
“Lo mau apa?” sebuah suara membuat SSA mendongakkan kepala kepalanya. Yap, suara Cakka yang memang mereka bertujuh saat ini sedang satu Lift.
“Ify diculik,” jawab Agni to the point.
Rio tersentak kaget dan langsung mengubah wajahnya menjadi datar kembali. “Terus hubungannya sama kita apa?”
“Ify diculik sama kau hitam,” jawab Shilla lirih.
“Gue tau elo bohong. Mana mungkin kaum hitam nyulik Ify. Gak usah buat cerita basi deh,” kata Rio memandang jijik SSA.
“Gue beneran Kak. Sebenarnya gue sama Ify udah tau siapa kaum hitam,” kata Shilla lirih membuat The Hits Boys langsung menatap Shilla tak percaya.
“Sejak kapan lo tau?” tanya Gabriel yang tau tau sudah mengunci pergerakan Shilla.
“Dua hari yang lalu kak,” jawab Shilla takut takut. Apalagi Gabriel langsung menatapnya tajam.
BUGHH
Shilla membuka matanya peralahan lahan dan didapatnya mata coklat almond yang menatapnya tajam menyala.
“APA MAKSUD LO HAH? KENAPA LO SEMBUNYIIN? KENAPA? KENAPA?” bentak Gabriel didepan muka Shilla. Shilla hanya meneguk ludahnya yang rasanya sangat susah sekali.
“Hm kar.. na gue sama Ify belum yakin kalau itu kaum hitam. Rencananya gue sama Ify mau cari tau dulu,” jawab Shilla nyaris berbisik tapi masih terdengar oleh Gabriel. Entahlah kenapa suaranya susah sekali untuk dikeluarkan.
BUGHH
Shilla menutup matanya untuk yang kedua kalinya. Lagi dan lagi Gabriel memukul dinding lift tepat disamping kirinya.
“Maaf kak,” lirih Shilla setelah membuka matanya.
“Hm,” jawab Gabriel cuek kembali berdiri seperti biasa.
“Kakak mau kan bantuin cari Ify,” pinta Shilla.
“Lo ceritain dulu kenapa Ify bisa diculik,” kata Rio dingin tapi tersirat sebuah ke khawatiran pada nadanya.
Shilla menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ya sebenarnya ia bingung mau jelasin kayak gimana. “Hmm, sebenarnya sih gue kurang yakin kalau Ify itu diculik sama kaum hitam...” semua mata pun langsung mebulat menatap Shilla. Shilla yang melihat itupun langsung melajutkan ucapannya. “Tapi, denger kata kata Ify kemarin, akhirnya gue berfikir kalau Ify diculik.”
“Kata kata Ify.. apa?”tanya Rio.
Shilla pun menceritan obrolannya kemarin dengan Ify dan sekali kali matanya melirik kearah Rio. Memastikan bagaimana ekspresi dari Rio.
“Yang jelas Ify kayaknya mau pergi dari kehidupan Kak Rio. Apalagi kata pamit dari Ify buat gue ngrasa Ify mau pergi deh,” ucap Shilla hati hati. “Gue titip Via sama Agni ya. Jangan lupa The Hits Boys juga. Jaga mereka. Kayaknya gue harus turutin kemauan Kak Rio. Biar dia bahagia,” Shilla menirukan ucapan Ify kemarin dan membuat Rio langsung...
BUGHH
Shilla meringis melihat darah yang keluar dari tangan Rio. Kalau tadi, Gabriel sekarang Rio. tapi, lebih parahan Rio. Kayaknya Rio benar benar emosi deh.
“Ini salah gue,” Rio langsung jatuh terduduk sambil mengacak ngacak kepalanya. “Ya ini salah gue. Gue bego bego. Lo bego Rio.”
“Udah Yo. Lo jangan salahin diri lo kayak gini,” kasihan Alvin yang melihat Rio memukul kepalanya sendiri.
“Iya Kak. Sebaiknya kita cari keberadaan Ify sekarang,” saran Via.
Alvin pun langsung memencet salah satu tombol agar lift yang mereka tunggangi (?) berjalan kembali ketempat tujuan awal.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar