“Apakah Uncle bisa memberitahu bagaimana ciri ciri keempat gadis itu?” Tanya Rio.
“Kalian
akan merasaka jantung kalian berdegup dengan kencang jika kalian berada
didekat mereka,” Kata Uncle Albert dan berjalan meninggalkan mereka.
“Jadi, penyebab jantung gue berdegup kencang tadi gara gara......,” Kata Cakka menggantung.
“Kita sudah hampir menemukan mereka guys,” Kata Rio.
*****
“Guys,
semalem gue mimpi buruk. Kita pacaran dengan The Hits Boys,” Cerita Ify
tiba tiba yang membuat ketiga temannya shock bukan main.
“Apa Fy?”. “Lo gak bohong kan,” Kata Shilla dengan wajah menyelidik.
“Iya,
gue gak bohong.” Kata Ify menarik nafasnya, “Gue sama cowok yang
matanya biru legam, Shilla sama cowok yang matanya almond, terus Via
sama cowok yang matanya hitam legam dan terakhir Agni sama cowok yang
matanya coklat ”
“Itu namanya mimpi buruk Fy,” Kata Via sambil memasukkan potongan coklat dimulutnya.
“Kan tadi gue udah bilang kalau itu mimpi buruk. Gimana sih lo,” Kata Ify jengkel.
“Yaampun The Hits Boys kesini lagi girl” Teriak salah seorang siswi yang baru saja masuk kekelas.
“Beneran?”. “Yaampun seharusnya gue kemarin ke salon”
“yaelah alay banget sih mereka,” Cibir Shilla.
“Hmm,
Fy temenin gue ke perpus yok. Gue mau balikin nih buku” Kata Agni
sambil memperlihatkan buku yang berjudul ‘SEJARAH MANUSIA PURBA’.
“ayo. Lo berdua ikut gak?”
“gak deh Fy”
***
Ify dan Agni berjalan menuju kelasnya setelah dari perpustakaan. Tapi, mereka bertemu dengan Cakka di koridor menuju kelasnya.
“Eh, ada personilnya The Hits Boys tuh”
“Terus emang kenapa Fy,” Jawab agni cuek.
“Ya gak apa apa sih,”
Ketika melewati Ify dan Agni tiba tiba jantung Cakka berdetak dengan cepat. Cakka pun berhenti dan berbalik badan.
“STOP,” Kata Cakka dingin.
Seketika Ify dan Agni pun menghadap kebelakang dan mendapati Cakka berjalan kearah mereka dengan sorot mata yang tajam.
‘perasaan
tadi gue gak nyenggol maupun lirak lirik dia deh,’ Bathin Ify yang tadi
memang berjalan berpapasan langsung dengan Cakka.
“Nanti istirahat
gue tunggu lo berdua dikantin dan ajak kedua teman lo si pemilik kalung
seperti punya lo,” Kata Cakka dingin dan beralih meninggalkan Ify dan
Agni yang bingung.
“Kenapa ya?” Bingung Agni.
“Mungkin ada sangkut pautnya dengan kalung ini,” Kata Ify lalu memegang bandul kalungnya.
***
“Lo beneran udah ketemu sama mereka?”
“Gue belum ketemu sama mereka semua sih, tapi gue baru ketemu dengan pemilik kalung jingga dan putih .”
“Ck, kenapa sih harus cewek. Kenapa gak cowok aja,” Kata Gabriel dan mengusap rambutnya kasar.
“Tapi, tenang aja Gab, mereka sepertinya gak seperti cewek cewek yang lain. Mereka cuek.”
“Tapi sama aja kita tetap berurusan dengan cewek. Gue gak suka”
***
“Kita beneran ke kantin?” Tanya Ify.
“Yaiyalah Fy, gue udah lapar banget nih” Kata Via sambil memegang perutnya.
“Emangnya kenapa sih Fy?” Tanya Shilla yang melihat perubahan sikap Ify.
“Huft, tadi gue sama Agni ketemu sama salah satu personil The Hits Boys. Dia pingin ketemu kita di kantin.”
“Mau ngapain coba?” Tanya Via bingung.
“Entahlah”
“Kita nemuin dia nggak?”
“Kita. Ya lo berdua lah,” Kata Shilla sewot.
“Tapi, dia nyuruhnya kita berempat,”
“Udah deh adu argumentasinya. Gue laper tau,”kata Via.
“Yaudah ayok kekantin.” Kata Agni berjalan duluan.
“Eh Ag, kita beneran ketemu sama tuh cowok” Tanya Ify dan mensejajari langkah Agni.
“Terserah”
“Gak usahlah. Malas gue berurusan sama mereka,” Kata Shilla.
“Hmm,
sama sih sebenarnya. Apalagi desas desus yang gue denger setiap cewek
yang mendekati mereka pasti habis dikata katain sinis,” Kata Via yang
tiba tiba bergidik.
“Yaudah kalau gitu, kita pura pura gak lihat tu cowok aja,” Saran Ify.
“Ide bagus Fy,” Kata Agni memasuki kantin dan mencari meja yang berjauhan dari meja The Hits Boys.
“Pinter lo Ag, cari meja dipojokan gini.”
“Wah iya dong, gue dari dulu ma udah pinter.”
“Kira kira mereka lihat kita disini gak ya,” Gumam Shilla sambil menatap The Hits Boys dengan tatapan waspada.
“Bisa iya, bisa nggak,” Jawab Ify.
“Eh guys gimana cara kita mau mesen makanan ya?” Tanya Agni.
“Ya lo kesana terus pesen apa yang lo mau. Gitu aja kok repot,” Kata Via.
“Kalau gitu gue juga tau Vi. Masalahnya kalau kita mau kesana kita harus lewatin mereka.”
“Terus gimana dong. Perut gue udah laper nih.”
“Aha.
Gue punya ide,” kata Ify tersenyum penuh arti. “Gimana kalau lo berdua
aja yang pesan.” Kata Ify dan menunjuk Shilla dan Via.
“Maksud lo?”
“Kan tuh cowok belum ketemu sama lo. So, tu cowok gak kenal sama lo”
“Wah, pintar lo Fy,” Kata Agni.
“Yeee, emang Cuma lo doang yang pintar”
“Yaudah, biar gue sama Via yang pesan.”. “Lo berdua mau pesan apa?”
“Samain aja”kompak Ify dan Agni.
Via
dan Shilla pun berjalan dengan tenang melewati meja The Hits Boys.
Tetapi tidak dengan Alvin dan Gabriel. Tiba tiba jantung mereka berdegub
dengan kencang ketika Via dan Shilla lewat.
“Berhenti,” Teriak Alvin
dan Gabriel tiba tiba. Tapi, Via dan Shilla tidak berhenti yang membuat
Alvin dan Gabriel berdecak kesal.
“Sialan.”
“Kalian berdua kenapa sih?” Tanya Cakka.
“Tiba tiba jantung gue berdegup dengan kencang ketika mereka berdua lewat,” Kata Alvin memegang dadanya.
“Gue juga,” Kata Gabriel.
“Tapi, gue kok nggak?” Kata Cakka.
“Mungkin
maksud Uncle Albert, jantung kita akan berdegup dengan kencang ketika
pemilik kalung yang berwarna sama dekat dengan kita,” Kata Rio.
“Ya gue setuju dengan pendapat lo. Soalnya tadi gue ketemu Cuma pemilik kalung berwarna jingga dan putih .”
“Heh, duduk,” Kata Gabriel dingin sambil menatap Via dan Shilla tajam.
“Kita”
“hmn”
“Tapi.....”
“Duduk,” Peintah Alvin dan menatap tajam Via dan Shilla.
Via pun menurut. Entah kenapa. Sedangkan shilla mendengus dengan sebal.
“Mana kedua teman lo?” Tanya Cakka dingin.
“Teman? Teman yang mana Kak?” Tanya shilla pura pura tidak tau.
“Ck. Teman yang memiliki kalung yang sama dengan punya lo,” Kata Gabriel dan menunjuk kalung kepunyaan Shilla.
“Disitu Kak,” Kata Shilla menunjuk kenberadaan Ify dan Agni.
Ify dan Agni pun langsung membuang muka ketika The Hits Boys menatap Ify dan Agni tajam.
“Gimana Ag,” Tanya Ify.
“Balik kelas aja deh Fy.”
“Gila lo. Lo gak lihat mereka nyuruh kita kesana.”
“Kapan mereka ngomong?”
“Matanya yang berbicara Ag,”
“Lo
kalau mau kesana kesana aja. Gue mau balik,” Kata Agni. “Emang lo gak
lihat tuh tatapan para cewek ke Via sama Shilla. Kayak mau makan orang
hidup hidup.” Kata Agni dan berdiri dari duduknya. “Lagian gue sekolah
mau cari ilmu, bukan musuh.”
Ify pun ikut berdiri dan menyetujui perkataan Agni.
“EH SHILL, VIA GUE SAMA AGNI DULUAN YA. BYE” Pamit Ify sambil menahan tawanya.
“HATI HATI YA SAY.”kata Agni dan berjalan meninggalkan kantin diikuti Ify yang sudah tertawa.
“Sialan Ify sama Agni ninggalin gue disini.” Kata Shilla mengumpat.
“Dimana kelas lo?” Tanya Cakka dingin.
“Emang buat apaan Kak?” Tanya Shilla.
“Tinggal nyebutin susah banget sih.”
“Buat apaan dulu, baru gue kasih tau.”
“Lo kelas berapa?” Tanya Gabriel.
“XI-IPA 1” Jawab Shilla.
‘Yaampun kenapa gue kasih tau sih’ Bathin Shilla merutuki kebodohannya.
Cakka pun beranjak dari kursinya diikuti Rio dengan wajah dingin lebih dari biasanya.
***
“Kasian banget nasib Shilla sama Via.” Kata Ify dan membayangkan nasib Via dan Shilla seperti apa nantinya.
“Tapi,
yang gue bingungin itu kok bisa ya mereka tau kalau Via sama Shilla itu
punya kalung seperti kita” Kata Agni tampak berfikir.
“Mungkin mereka mempunyai semacam magic”
“Bisa jadi sih Fy. Pemikiran lo masuk akal.”
“Mmmm Ag, gue takut kalau Shilla sama Via diapa apain.”
“Gue yakin mereka pasti baik baik aja.”
Seketika
kelas XI-IPA 1 menjadi hening ketika Rio dan Cakka berdiri didepan
pintu sambil menatap tajam Ify dan Agni yang sepertinya belum menyadari
kedatangan mereka.
“Eh, kenapa kelas jadi hening gini,”kata Ify yang
menatap semua teman temannya apalagi kaum hawa yang seperinya menahan
nafas dan melihat pada satu titik. Ify pun mengikuti pandangan teman
temannya. Seketika mata Ify membulatkan matanya ketika siapa yang
berdiri didepan pintu dengan angkuhnya.
“Kenapa lo Fy, mau besar besaran mata sama gue. Ya jelas aja gue yang menang lah.”
“Bukan gitu Ag. Coba deh lo lihat didepan pintu.”
Agni
pun membalikkan badannya dan menatap malas kedua obyek yang berada
didepan pintu. “Oh mereka” lalu berbalik keposisi semula.
“Kok bisa sih mereka disini,” Kata Ify dan menatap Agni bingung.
“Suka suka mereka lah,” Kata Agni dan membuka buku yang tadi dipinjamnya.
“Iya sih,” Kata Ify dan memasang headset di telinganya dan menggoyang goyangkan kepalanya mengikuti irama yang didengarnya.
“Ck, tingkah mereka membuat kesabaran gue habis,” Kata Cakka dan memasuki kelas XI-IPA 1 dan berjalan ke meja Ify dan Agni.
Cakka
pun melepas headset Ify dan mengambil buku yang dibaca Agni. Agni pun
Cuma diam saja. Entah kenapa dia bisa seperti itu. Biasanya dia akan
marah marah kalau ada yang mengganggunya saat membaca.
“Eh, balikin
headset gue,“ Kata Ify dan mencoba merebut headsetnya. Tapi, sayang
headset tersebut sudah masuk kedalam kantong jaket cakka.
“Eh, elo gak bisa beli headset ya, sampai sampai headset gue lo ambil”
“Lo berdua ikut gue”
“Kalau gue gak mau, elo mau apa?”
“Ikut nggak?”
“Gak”
Rio
pun masuk kedalam kelas 11-IPA 1 dan menghampiri Cakka yang adu mulut
dengan Ify. Tanpa ba bi bu lagi Rio pun langsung menarik tangan Ify
keluar kelas. Rasanya Ify ingin melawan tetapi entah kenapa rasanya ada
yang melarangnya. Ify pun pasrah ditarik seperti itu layaknya pengembala
menarik sapi peliharaannya. Kasar.
“Lama banget sih lo Yo,” Kata Gabriel.
“Ngajakin
main main dulu dia” Kata Rio menyuruh Ify duduk menggunakan siratan
matanya. Ify pun duduk disamping Via yang menatap nanar bakso yang tadi
dipesannya.
“Dimakan aja kali Vi,” Kata Ify kasihan.
“Nafsu makan gue udah hilang”
Cakka dan Agni datang dan langsung duduk dikursi kosong disamping Ify.
“Oke,
kita gak mau basa basi. Kita Cuma mau nanya, apakah kalian pemilik
keempat kalung setengah bintang itu?” Kata Alvin tidak sedingin tadi.
“Yang lo lihat gimana?” Jawab Shilla.
“Gue mau nanya, emang ada apa sih dengan kalung ini?” Tanya Via.
“Kalung
itu bukan sembarangan kalung. Kalung itu mempunyai magic jika pasangan
setiap kalung itu berdekatan,” Cerita Alvin sambil menatap kalung Via
“terus pemilik pasangan nih empat kalung siapa?”
“Pemilik
pasangan keempat kalung itu adalah kita,” kata Rio dan mengeluarkan
kalung yang disembunyikan dibalik bajunya. Begitupula Alvin, Gabriel dan
Cakka.
“Jadi kalau lagi ngumpul gini kita bisa magic gitu”Tanya Ify.
“Hmnn, walaupun kita gak ngumpul gini bisa kok, asalkan kalung kalian berdekatan dengan kalung pasangannya.”Kata Cakka.
“Ouw, coba ah” Kata Ify. “Tapi gimana caranya?”
“Katakan apa yang kau inginkan, pasti langsung terwujud” Kata Rio datar.
“Mmm”
Kata Ify tampak berfikir. “Buku PR matematika gue yang ketinggalan,”
Kata Ify. Tiba tiba saja buku PR Ify yang ketinggalan dirumahnya berada
dihadapannya.
“Wow” Kata Ify, Via, Shilla dan Agni berdecak kagum.
“Yeayy,
gue kagak jadi dihukum,” Kata Ify melompat lompat kegirangan. Untung
saja kantin lagi sepi karena lima menit yang lalu bel masuk berbunyi dan
kebanyakan siswa kembali kekelas sebelum bel berbunyi.
“Kayaknya iya deh kita bakalan dihukum. Kita udah telat lima menit,” Kata Agni.
Ify,
Via, Shilla dan Agni pun langsung berlari menuju kelas mereka. Tapi,
ketika mereka berlari sekitar jarak 100 meter tiba tiba dada Ify terasa
sakit.
“Aduh,” kata Ify dan langsung terjatuh ditanah dan memegang dadanya.
“Lo kenapa Fy?” Tanya Via khawatir.
“Tiba tiba dada gue sakit”Kata Ify menahan sakitnya.
Tiba tiba datanglah Uncle Albert yang datang secara langsung menggunakan magic.
“Rio kau harus tanggung jawab” Kata Uncle Albert marah dengan Rio.
“Tanggung jawab apa Uncle” Tanya Rio bingung.
“Kau harus memeluknya,” Kata Uncle Albert menunjuk Ify.
“Hah? Maksud Uncle apa?”
“Kau tadi menyentuhnya, jadi mau tidak mau kau harus memeluknya atau dia akan mati kesakitan”
“Tapi.....”
“Ayo Rio”Marah Uncle Albert.
Rio
pun jalan mendekati Ify, lalu membantu Ify berdiri kemudian memeluknya.
Tiba tiba rasa sakit di dada Ify hilang tepat ketika Rio melepaskan
pelukannya. Setelah Rio melepaskan pelukannya Rio pun berjalan kembali
ketempatnya semula.
“Kau tidak apa apa?’ Tanya Uncle Albert. Ify pun membalasnya dengan gelengan.
“Sepertinya saya pernah ketemu dengan Om” Kata Ify.
“Aku adalah orang yang datang dimimpimu dan memberikanmu empat buah kalung.”
“Oh iya, saya baru ingat”
“Kau bisa memanggilku Uncle Albert”
“Oh
ya anak anak, Uncle berharap kalian tidak melepas kalung kalian. Karena
jika kalian melepas kalung tersebut kalian akan merasakan
kesakitan.”Jelas Uncle Albert.
“Dan kau Rio, harus memeluk Ify ketika
kalian akan berpisah. Kalau tidak Ify akan merasakan sakit luar biasa
didanya seperti tadi. Bukan hanya Ify, kau juga akan merasakannya”
Tambah Uncle Albert.
“Kenapa Uncle?” Tanya Rio.
“Karena kau tadi telah menyentuhnya.”
“Baik Uncle.” Kata Rio pasrah.
“Dan sebaiknya akhir akhir ini kalian harus bersama. Karena dunia hitam mengejar kalian” Kata Uncle Albert kemudian menghilang.
*****
Empat
hari setelah kejadian itu Ify, Via, Shilla dan Agni tidak pernah
bertemu dengan The Hits Boys. Ya, mereka memang berharap tidak akan lagi
bertemu dengan The Hits Boys. Apalagi Ify, dia sangat bersyukur kalau
tidak bertemu dengan The Hits Boys, terutama Rio. Dia tidak mau
berpelukan dengan Rio. Menurut feelingnya dia akan mendapat masalah
besar bila selalu berdekatan dengan Rio.
Ify, Via, Shilla dan Agni sedang duduk digazebo sekolah menunggu hujan reda. Sejak pagi hujan mengguyur kota Jakarta.
“Huft, kapan sih hujannya berhenti,” Kata Via dan menatap sepatunya yang sudah lembab terkena percikan air hujan.
“Iya nih. Udah sore lagi,” Tambah Shilla.
“Semoga hujannya berhenti,” Kata Ify. Dan seketika hujan pun berhenti.
“Hah. Kok bisa hujannya berhenti,” Heran Agni.
“Yaiyalah,” Kata Rio yang ternyata berdiri disamping mereka bersama para personil The Hits Boys.
“Ngapain kalian disini?” Tanya Via.
“Mau jemput kalian,”Kata Alvin.
“Uncle Albert yang menyuruh kami untuk menjemput kalian. Beliau ingin berbicara dengan kita,” Jelas Gabriel.
“Yaudah, biar gue telpon sopir gue,” Kata Agni yang hendak menelpon sopirnya.
“Gak usah. Bareng kita saja. Kita bawa motor,” Kata Cakka.
“Ogah
gue. Gue gak mau nasib gue seperti Ify,” Kata Shilla, pasalnya kalau
mereka berboncengan dengan motor pasti mereka bersentuhan.
“Iya gue juga gak mau. Lagian gue gak kuat kena dingin,” Kata Via.
“Emang kenapa sih. Tinggal peluk doang kan,” Kata Gabriel marah yang membuat Shilla langsung kicep.
“Kalau soal dingin, nih pakai jaket gue,” Kata Alvin melepaskan jaketnya dan melemparkannya tepat kewajah Via.
Via pun langsung memakai jaket Alvin dengan wajah ditekuk.
“Ayo kita berangkat,” Kata Rio dan berjalan duluan diikuti teman temannya beserta Ify, Via, Shilla dan Agni.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar