“Bugh” Via, Shilla dan Agni langsung melemparkan bantal ke wajah Ify.
“Wah ngajak ribut lo pada,” Kata Ify dan langsung melemparkan bantal bantal ke wajah Via, Shilla dan Agni.
Terjadi
acara lempar lemparan bantal antara Ify, Via, Shilla dan Agni sehingga
menimbulkan keributan tersendiri yang membuat The Hits Boys kesal karena
mereka tidak menyukai keributan dan tawa kebahagian yang membuat mereka
naik darah seketika. Bisa bisanya mereka tertawa bahagia disaat saat
bahaya seperti ini. Apakah mereka tidak mengetahui betapa khawatirnya
The Hits Boys ketika mereka tidak datang datang juga ke kantin.
“Bisa diam gak sih,” Bentak Rio dengan mata berkilat kilat marah.
Seketika Ify, Via, Shilla dan Agni menghentikan aktivitas lempar lemparan bantal.
“Kenapa sih Kak?” Tanya Ify bingung.
“Gue gak suka keributan. Jadi, lo semua bisa diam gak,” Kata Rio dingin.
Ify,
Via, Shilla dan Agni pun diam. Bermaksud tidak ingin membuat empat
manusia es itu marah. Jujur mereka takut. Apalagi tatapan dingin dan
marah yang muncul dimata mereka.
Ify yang duduk disamping Gabriel pun
bisa merasakan hawa panas disekitarnya. Ada apa dengan keempat pemuda
ini. Kenapa mereka marah hanya karena tidak menyukai keramaian. Kalau
misalnya keempat pemuda ini marah gara gara hal tersebut, gak mungkin
mereka mau datang kekantin dan datang kepesta teman mereka minggu lalu
walaupun tidak jadi sih. Menurut Ify keempat pemuda ini marah bukan
hanya gara gara keramaian yang diciptakannya bersama sahabat sahabatnya.
Sepertinya, ada hal lain yang membuat mereka marah. Tapi, Ify sendiri
pun tidak tahu.
“Kak, kita mau balik. Bentar lagi bel masuk,” Kata Shilla membuka suara.
“Sini lo,” Kata Gabriel dingin dan mentap Shilla dengan tatapan tidak bersahabat.
Setelah
Gabriel, Rio, Alvin dan Cakka memeluk Shilla, Ify, Via dan Agni mereka
pun meninggalkan UKS. Tapi, sebelum keluar dari UKS alvin berpesan.
“Jangan lupa nanti langsung datang ke kampus gue,” Pesan Alvin kemudian meninggalkan UKS.
***
“Eh guys, sekarang aja ya dikerjain tugasnya. Biar gak bentrok nantinya sama tugas yang lain,” Kata Keke.
“Hmm.....,” Bingung Ify.
Ify,
Via, Shilla dan Agni mendapatkan tugas kelompok bersama dengan teman
temannya. Nah, baru saja Keke temannya yang terkenal tidak suka menumpuk
numpuk tugas mengajaknya mengerjakan tugas tersebut dirumahnya sekarang
juga. Mereka bingung sekarang. Mengerjakan tugas atau ke tempat kuliah
The Hits Boys. Sungguh pusing kepala mereka.
“Gimana? Kalian mau kan?” Tanya Keke.
“Gue sih fine fine aja.” Kata Acha.
“Lo berempat?”
“Hmm, gimana?” Tanya Via ke sahabat sahabatnya.
“Terserah,” Jawab Agni seadanya.
“Iya aja deh,” jawab Shilla.
“Oke, sekarang kita langsung kerumah gue,” Kata Keke.
***
“Eh Shill, gimana perasaan lo jadi pacarnya Kak Gabriel,” Tanya Keke penasaran.
“Ya gitu deh,” Kata Shilla menjawab seadanya.
“Lo
hebat Shill,” Kata Acha sambil menggunting gunting kertas. “Bisa
naklukin Kak Gabriel yang benci banget sama cewek,” Lanjutnya.
Shilla pun Cuma tersenyum yang dipaksakan.
“Terus lo bertiga kayaknya juga dekat sama personil The Hits Boys yang lain?” Tanya Acha ke Ify, Via, dan Agni.
“Ify malah udah jadi pacarnya Kak Rio,” Kata Via. Mendengar itu seketika Ify menatap tajam Via.
“Beneran Fy,” Tanya Keke shock. “Selamat ya,” Kata Keke kemudian menjabat tangan Ify.
“Gak kok,” Kata Ify geleng geleng kepala. “Bohong tuh Via.”
“Gue gak bohong kok. Tanya aja sama Agni dan Shilla,” Kata Via.
“Hmmm, betul tuh,” Jawab Shilla mengangguk setuju.
“Tapi,
Lo berdua juga ada kan hubungan sama Kak Alvin sama Kak Cakka kan?”
Tanya Keke ke Via dan Agni. Orang yang ditanya pun kaget dan langsung
menggeleng gelengkan kepalanya kekanan dan kekiri berulang kali.
“Bohong!”
Kata Keke Telak. “Buktinya kemarin Kak cakka mandang Agni lembut
banget. Padahal Kak Cakka itu kalau natap orang itu tajam banget.” Kata
Keke dan menatap Agni dengan tatapan menggoda. “Terus tadi waktu Kak
Alvin tau Via di UKS, Kak Alvinnya kayak khawatir banget gitu,” sambung
Keke dan menatap Via dengan tatapan sama seperti Agni tadi.
“Masa sih,” Gumam Via.
“Cie, cie cie. Via sama Agni ni yee,” Goda Shilla dan Ify kompak.
“Apaan sih. Bohong banget lo Ke,” Kata Agni dongkol.
“Yaelah Ag. Benar kali yang dikatakan Keke,” Jawab Shilla.
“Iya betul banget tuh,” Jawab Ify terkekeh. “ Malah lo juga balas tatapannya Kak Cakka,” Tambah Ify.
“Ke, benar kalau Kak Alvin tadi itu Khawatir sama Via?” Tanya Agni mengalihkan pembicaraan.
“Iya. Kelihatan banget malah,” Kata Keke.
“Iya, benar banget tuh kata Keke,” Kata Shilla mendukung.
“Emang lo lihat sendiri Shill,” Tanya Ify.
“Iya. Waktu di UKS,”Jawab Shilla.
“Cie cie Via,” Goda Agni dan Ify.
“Apaan sih,” Kata Via salting. Tanpa Via sadari semburat merah jambu hadir dipipi Chubbynya.
“Merah tuh pipi,” Goda Acha.
Via pun merengut sebal.
***
“Kemana sih mereka,” Kata Cakka dengan nada khawatir.
“Apa mungkin mereka ditangkap oleh kaum hiitam?” Tambah Cakka.
“Maksud lo apa?” Tanya Gabriel dingin dan menatap Cakka tajam.
“Hmm, ini Cuma kemungkinan,” Kata Cakka.
“Terus
sekarang kita gimana?” Tanya Alvin mengusap rambutnya frustasi. Jujur
dia takut kalau Via seperti tadi. Dia tidak mau kalau Via pergi
meninggalkannya.
“Apa kita kerumah mereka” Saran Rio dengan muka sama seperti Alvin.
“Gimana caranya Yo? Kita gak tau rumah mereka,” Kata Cakka.
“Gampang. Nanti gue cari didata TU VINCOW INTERNASIONAL HIGH SCHOOL,” Kata Gabriel dingin.
***
“Fy, gak pa apa kan kalau kita bermalam dirumah lo?” Tanya Shilla.
“Gak apa apa kok,” Kata Ify yang fokus meyetir. “Emang berapa hari sih?” Tanyanya.
“Ya sampai keadaan aman Fy.” Kata Shilla. “Setidaknya kita terus bersama.”
“Eh Fy, itu didepan rumah lo kan The Hits Boys? Ngapain mereka ke rumah lo,” Kata Via bingung.
“Gak
tau,” Kata Ify sambil geleng kepala. “Gue malah heran, kok mereka bisa
tau ini rumah gue,” Kata Ify heran sambil memberhentikan mobilnya
disamping motor The Hits Boys .
“Yaudah, kita turun aja,” Kata Agni kemudian turun dari mobil disusul Ify, Via dan Shilla.
“Dari mana aja lo,” Tanya Alvin dingin dan menatap Via tajam.
“hmm, Kakak kesini mau ngapain?” Tanya Via berusaha tidak gugup.
“Gue nanya, lo dari mana?” Tanya Alvin dan melangkah maju mendekati Via.
“Dari rumah teman kak,” Jawab Ify karena Via tidak kunjung menjawab.
“BOHONG,” Kata Alvin membentak.
“Nyeh. gue mah ngomong jujur apa adanya Kak,” Kata Ify.
“Lo ngapain kerumah teman lo,” Tanya Alvin menatap Via.
“Kerja kelompok,” Jawab Ify.
“Heh
lo bisa ngomong gak sih. Gue nanya sama lo, kenapa lo gak jawab. Apa
Ify juru bicara lo,” Kata Alvin marah gara gara Via tidak menjawab
pertanyaannya malah Ify yang menjawab. “Dan lo, gue gak nanya sama lo,”
Kata Alvin dan menatap Ify tajam.
“ooh, gue kira lo nanya sama kita
berempat,” Kata Ify watados. Padahal Ify tau kalau yang ditanya adalah
Via. Dia juga tau pasti Via tidak akan menjawab pertanyaan Alvin karena
ketakutan. Terbukti Via menunduk dan memilin roknya.
“Lain kali lo
harus bilang dulu sama gue kalau lo mau kemana mana,” Kata Alvin dingin
lalu memeluk Via erat, sampai sampai Via sesak nafas.
‘Gue Cuma takut kehilangan lo,’ Batin Alvin lalu melepaskan pelukannya.
“Gue pulang dulu,” Pamit Alvin kemudian menstater motornya.
Begitupula dengan Rio, Gabriel dan Cakka yang sebelumnya memeluk Ify, Shilla dan Agni.
“Kak Alvin aneh tau gak,” Kata Via setelah kepergian The Hits Boys.
“Bukan Cuma Kak Alvin kali, mereka semua juga aneh,” Kata Ify
“Betul tuh. Mereka itu spesies aneh tau gak,” Kata Shilla dan beranjak masuk kerumah diikuti Ify, Via dan Agni.
*****
“Heh,
lo berani beraninya rebut Gabriel dari gue,” Marah Angel melabrak
Shilla. Shilla yang baru saja sampai di lobby sekolah bersama Ify, Agni
dan Via pun shock.
“Maksudnya?” Tanya Shilla tidak mengerti.
“Lo sama Gabriel pacaran kan,” Kata Angel.
“Ti...”
“Kalau iya kenapa?” Jawab Via yang membuat muka Angel merah menahan amarah.
“Via,” Kata Shilla membulatkan matanya.
“Kan
emang benar kan Shill, lo sama Kak Gabriel pacaran. Kenapa harus
ditutup tutupi,” Kata Agni tersenyum kemenangan kearah Angel.
“Lo gak usah cari masalah deh,” Kata Shilla bervolume kecil.
“Biarin Shill,” Jawab Ify.
“Lo...” Kata Angel menunjuk muka Shilla dan akan menampar pipi kiri Shilla.
“PLAKK,”
“AGNI,” pekik Shilla.
“Kenapa lo lakuin ini Ag,” Kata Shilla merutuki kebodohan Agni yang mau mau maunya menggantikan posisinya.
“Gue gak tega lihat pipi lo yang putih itu kena tamparan si nenek lampir itu,” Jawab Agni meringis kesakitan.
“Apa lo bilang?” Kata Angel.
“Apa? Mau nampar lagi,” Kata Agni menatap Angel penuh emosi.
Oik yang ikut ikutan emosi pun langsung melayangkan tangannya.
“PLAKK”
“IFY,” Pekik Via dan Shilla.
“Lo...” Kata Shilla yang hendak menampar Oik.
“Jangan Shill,” Tahan Ify. “Lo jangan kotorin tangan lo buat nampar mereka,” Kata Ify yang masih memegang pipinya.
“Tapi Fy...”
“Cukup,”
Kata Ify memejamkan matanya. Ia merasakan kepalanya pusing. Mungkin
gara gara tamparan Oik yang lumayan itu. Ify bersyukur bukan Agni yang
kena tampar. Kalau saja Agni yang kena tampar dia sudah tidak
membayangkan lagi gimana keadaan Agni.
“Fy lo gak apa apa kan?” Tanya Via khawatir. Ify pun membalasnya dengan gelengan.
“Cih. Segitu aja lo udah gitu. Lemah,” Kata Dea mengejek.
“Kenapa?
Lo mau ngerasain,” Kata Via yang sudah naik darah. “Tapi, sayangnya gue
gak mau kotorin tangan gue buat nampar muka lo itu. Sayang banget nanti
tangan gue kelengketan bedak lo itu,” Kata Via tersenyum sinis.
“Lo....” Kata Zevana hendak menampar Via.
“Sekali
lo sentuh Via, lo akan berurusan dengan gue,” Kata Alvin menahan tangan
Zevana tiba tiba yang datang bersama Rio, Gabriel dan juga Cakka.
“Dia yag duluan Vin,” Kata Zevana membela diri.
“Cih. Terus gue harus percaya gitu,” Kata Alvin lalu menghempaskan tangan Zevana dengan kasar.
“Kenapa sih lo belain dia?” Tanya Zevana kesal.
“Emang salah belain pacar sendiri,” Kata Alvin.
Shock!
Itu yang dirasakan Via. Apakah dia bermimpi? Kalau ini adalah mimpi,
ini adalah mimpi yang sangat indah baginya. Entahlah dia juga tidak tahu
mengapa dia merasa senang. Tapi tiba tiba Via berfikir lain. Apakah
maksud Alvin sama dengan maksud Gabriel yang hanya menolong Shilla.
Kalau iya, berarti dirinya yang terlalu pe-de kalau Alvin akan
menyukainya. Ah, ini sama saja mimpi buruk.
Ify, Shilla dan Agni
membelalakkan matanya shock. Emang jalan pikiran para The Hits Boys itu
sukar untuk ditebak. Seperti rumus Fisika yang sering membuatnya pusing
tujuh keliling. Batin Shilla.
Siswa siswi VINCOW INTERNASIONAL HIGH
SCHOOL yang sedari tadi berkumpul di loby pun tak kalah shock. Kenapa
akhir akhir ini The Hits Boys begitu sangat aneh. ‘’Mungin The Hits Boys
itu dipelet sama mereka,” Kata salah satu siswi berbisik.
“Dan sekarang gue harap KALIAN PERGI,” Kata Gabriel mengusir Dea dan dayang dayangnya.
“Urusan kita belum selesai,” Kata Zevana mendesis sinis sebelum meninggalkan lobby sekolah.
“Terserah,” Jawab Shilla tak kalah sinis.
“Lo gak apa apa?” Tanya Alvin khawatir ke Via.
“Gak
kok Kak,” Kata Via sambil menggeleng gelengkan kepalanya. Kemudian
mengalihkan pandangannya ke Ify dan Agni yang tampak biasa saja.
Sepertinya mereka berdua menyembunyikan sakit pada pipi mereka.
“Lo berdua gak apa apa kan?” Tanya Via ke Ify dan Agni.
“Gak kok,” Kata Ify dan Agni kompak menggeleng.
“Cih,” Cibir Shilla yang heran sama tingkah Ify dan Agni yang sok kuat.
“Oh ya Kakak kesini mau ngapain,” Tanya Ify yang menghiraukan cibiran Shilla.
“Gue
nanti gak bisa datang kesini. Soalnya gue harus kuliah pagi sama ada
kerjaan dikantor bokap gue,” Kata Cakka tersenyum manis kearah Agni.
Melihat
senyum Cakka, seketika Agni merasa benar benar melting melihatnya.
Tidak Cuma Agni, Ify, Via dan Shilla pun sampai terperangah melihat
senyuman Cakka. Mereka akuin kalau senyum Cakka itu manis banget.
Begitu
pula dengan siswi VINCOW INTERNASIONAL HIGH SCHOOL yang langsung
histeris melihat senyum Cakka. Mereka tak menyangka mereka bisa melihat
senyuman Cakka untuk pertama kalinya.
“I..ya Kak,” Kata Agni tersadar.
Cakka
pun langsung mengacak poni Agni karena gemas melihat Agni yang
sepertinya salah tingkah. Ya, sepertinya Cakka mulai menyadari
perasaannya terhadap Agni bahwa dia benar benar mencintai gadis manis
ini. Dia mulai menyadarinya saat saat mereka saling berpelukan. Cakka
merasakan kenyamanan disaat memeluk Agni. Tapi dia tidak akan
mengungkapkannya. Dia sudah terlanjur membenci wanita. Dia melakukan ini
untuk melindungi Agni dari fans fansnya yang bertindak sesuka hati
mereka saat ada yang mendekatinya. Ya, dia berfikir sama dengan rio
yaitu dengan cara ini para Fansnya tidak akan menggangu Agni.
“Cie Agni,” Kata Ify senyum mengggoda.
“IFY” Pekik Agni dan bersiap siap mengejar Ify.
“Kyaaa,” Histeris Ify dan berlari kearah belakang Cakka.
“Ayo Ag kalo lo berani,” Kata Ify melet melet dibelakang Cakka.
“Hahaha Agni gak berani,” Tawa Via.
Agni pun cemberut. “Tauk ah,” Kata Agni dan berjalan kearah kekelasnya.
“Eh Ag, lo mau kemana? Lo mau mati?” Tanya Shilla.
Agni pun mau tak mau berbalik badan dan kembali ketempatnya yang semula.
“Yaudah
gue mau balik dulu,” Kata Rio sambil memeluk Ify. “Jaga diri lo baik
baik. Hubungin gue kalau ada apa apa,” Bisik Rio ditelinga Ify. Ify pun
Cuma mengangguk anggukkan kepalanya ragu dalam pelukan Rio.
‘Gimana caranya gue hubungin lo. Gue aja gak punya nomor lo’ Batin Ify bingung.
“Hubungin gue kalau lo kenapa kenapa,” Kata Alvin setelah melepas pelukannya dari Via. Via pun Cuma mengangguk angguk.
“Kalau mau kemana mana hubungin gue dulu,” Kata Gabriel menatap Shilla dengan tatapan memerintah.
“Iya Kak,” Kata Shilla.
“Jaga diri lo baik baik. Besok gue datang kesini lagi,” Kata Gabriel sambil memeluk Shilla.
“Hubungin gue kalau ada yang macam macam sama lo,” Kata Cakka memeluk Agni erat.
“Iya Kak,” Kata Agni.
***
“Kok
gue gak bisa tidur sih,” Kata Via yang sedari tadi mencoba tidur tapi
tidak bisa padahal hari sudah menunjukkan jam satu dinihari.
“Gue juga,” Kata Shilla lalu mengubah posisinya dari berbaring menjadi duduk.
“Perasaan gue gak enak,” Kata Agni.
“Menurut
feeling gue ada sesuatu yang terjadi,” Kata Ify kemudian menghela
nafas. “dan itu terjadi pada The Hits Boys,” Kata Ify kemudian.
“Maksud lo?” Tanya Agni yang duduk di sofa disamping Ify.
“Entahlah. Tiba tiba gue kefikiran mereka,” Kata Ify.
“Terus gimana dong?” Tanya Via dengan raut wajah khawatir. “Apa kita kerumahnya?” Tanyanya lagi.
“Tapi kan, kita gak tau rumah mereka,” Kata Shilla.
“Sebentar..” Kata Agni mulai berfikir. “Ada yang tau gak rumah Pak Ilham dimana?” Tanya Agni.
“Gue tau,” Kata Ify.
“Beneran lo tau Fy?” Tanya Agni tersenyum senang.
Ify pun Cuma mengangguk anggukkan kepalanya dengan antusias. Kini dia tau maksud Agni. Ia satu fikiran dengannya.
“Yaudah ayo kita kesana,” Kata Agni dan bergerak mengambil jaketnya yang tergantung dibelakang pintu kamar Ify.
“Sebentar sebentar. Ngapain kita kerumah Pak Ilham?” Tanya Via.
“Huft. Masa iya lo belum ngerti maksud dari Agni?” Tanya Shilla sambil memakai sweaternya.
“Nggak,” Kata Via geleng geleng dengan muka polos.
“Yaampun Via. Lo lemot banget sih,” Geram Ify. “Pak Ilham kan bokapnya Kak Gabriel,” Kata Ify kesal.
“Oh
iya ya,” Kata Via menepuk jidatnya sendiri kemudian beranjak dari bed
Ify dan mengambil jaket yang digantung dipintu kamar Ify.
“Eh, tapi tunggu dulu,” Kata Via yang membuat Ify, Agni dan Shilla geram sendiri.
“Ada apa lagi sih Vi?” Tanya Agni mencoba menahan emosinya.
“Masa iya kita kesana jam segini,” Kata Via sambil menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah 2 pagi.
“Iya ya,” Kata Shilla yang ikut ikutan menatap jam dinding.
“Yaelah
bodo amat sama jam. Lo berdua kalau gak mau ikut yaudah,” Kata Agni
berjalan keluar dari kamar diikuti Ify dibelakangnya.
“Eh Ag gue ikut,” Teriak Via dan Shilla sambil berlari mengikuti Agni dan Ify.
***
“Eh Fy beneran nih rumahnya?” Tanya Via meyakinkan.
“Iya, ini rumahnya,” Jawab Ify.
“Gila
besar banget,” Kata Via melihat rumah yang ada didepannya. Rumah yang
layaknya seperti Istana bercat kuning gading ditambah sebuah taman yang
ada didepannya. Ditengah tengah taman tersebut dihiasi dengan air mancur
yang sangat indah karena diperhias dengan lampu warna warni.
“Ayo kita turun,” Kata Agni yang hendak turun dari mobil tapi tangannya dicekal oleh Ify.
“Kenapa sih Fy?” Tanya Agni bingung.
“Kok rumahnya rame banget ya?” Tanya Ify.
“Iya juga sih,” Kata Agni.
Tiba
tiba terdengar suara sirine mobil polisi. Muncullah satu mobil polisi
yang masuk kedalam rumah Pak Ilham. Kemudian, disusul empat buah mobil
seharga milyaran rupiah dan ditutup oleh dua mobil polisi dibelakangnya.
“Ada apaan sih sebenarnya?” Tanya Shilla dengan raut wajah bingung.
“Gue
kepo,” Kata Via lalu turun dari mobil lalu berjalan menuju gerbang.
Ify, Shilla dan Agni pun ikut ikutan turun dan mengikuti jejak Via.
“Permisi,” Kata Via sopan kepada bodyguard rumah tersebut. “Kita boleh bertemu dengan Kak Gabriel,” Sambungnya.
“Kalian siapa?” Tanya bodyguard tersebut garang.
“Gini
Pak. Ini pacarnya Kak Gabriel. Ia ingin bertemu dengan Kak Gabriel,”
Kata Ify sambil memegang bahu Shilla. Sedangkan Shilla melotot kearah
Ify.
“Saya tidak percaya kalau tuan muda Gabriel punya pacar.”
“Tapi, ini beneran Pak,” Kata Agni.
“Sebaiknya kalian pergi dari sini,” Usir bodyguard tersebut.
“Tapi pak....”
“PERGI,”
“PAK ILHAM PAK ILHAM,” Teriak Via.
“PAK ILHAM PAK ILHAM PAK ILHAM,” Teriak Ify mengikuti Via.
“Kalian jangan tariak teriak. Pergi sana,” Kata Bodyguard tersebut.
“PAK ILHAM PAK ILHAM PAK ILHAM.”
“Ada apa ini?” Tanya Pak Ilham yang datang bersama dengan tiga lelaki parubaya yang seumuran dengannya beserta beberapa polisi.
“nona,” Kata beberapa polisi dan berbungkuk.
“Kenapa kalian teriak teriak dirumah orang,” Kata Pak Ilham kesal.
“Maaf Pak sebelumnya kita bersikap tidak sopan dirumah Bapak. Apa Pak Ilham masih ingat dengan saya?” Tanya Ify.
Pak
Ilham pun menatap Ify sejenak lalu mengangguk. “Kamu anggota OSIS yang
datang beberapa waktu yang lalu, bukan,” Kata Pak Ilham.
“Iya pak,”
Kata Ify tersenyum. “Kita kesini mau bertemu dengan Kak Gabriel,” Kata
Ify sopan. “Teman saya ini adalah pacar Kak Gabriel. Ia ingin berbicara
sebentar dengan Kak Gabriel,” Kata Ify memegang bahu Shilla. Shilla pun
tersenyum dipaksakan kearah Pak Ilham.
“Benarkah kamu pacar dari Gabriel?” Tanya Pak Ilham bingung.
“Iya pak,” Kata Shilla ditambah senyum yang tetap dipaksakan.
“Bukannya saya meragukan, tapi saya tidak percaya,” Kata Pak Ilham.
“Itu hak Pak Ilham untuk tidak percaya. Tapi, bolehkah kami bertemu dengan Kak Gabriel?” Kata Ify.
“Gabriel tidak ada dirumah,” Kata Pak Ilham lirih.
“Kemana Pak?” Tanya Shilla khawatir.
“Gabriel diculik bersama Rio, Alvin dan juga Cakka.”
“APA!!” Shock Ify, shilla, Via, dan Agni.
“Diculik sama siapa Pak?” Tanya Ify.
“Musuh perusahaan saya.”
Hening.
Tidak ada lagi yang membuka suara. Mereka semua sibuk dengan pikiran
mereka masing masing. Apa yang harus mereka lakukan saat ini? Apa mereka
harus kembali kedunia mereka seperti dulu? Tapi, mereka sudah berjanji
kepada orang tua mereka masing masing untuk tidak masuk kedunia mereka
lagi. Apa yang harus mereka perbuat sekarang?
***
Jakarta, pukul 21.00 WIB.
“Kita jadi kerumah Ify?” Tanya Alvin.
“Hmmn, mengecek apakah mereka baik baik saja” Kata Gabriel datar.
“Benarkah? Atau ada maksud lain,” Kata Cakka memastikan. “Misalnya, lo rindu dengan Shilla.”
“Hmn kalau iya kenapa? Bukannya lo juga gitu. Merindukan seorang Agni?” Kata Gabriel dan tersenyum sinis kearah Cakka.
“Ya ya ya,” Jawab Cakka seadanya.
Tiba
tiba sebuah mobil sedan berhenti didepan mereka. Turunlah beberapa
orang berbadan kekar kemudian menyekap mereka dengan cepat sehingga
mereka sendiri tidak bisa berbuat apa apa karena pandangan mereka
langsung gelap.
Bandung, pukul 03.15 WIB.
Rio membuka matanya
dengan berat. Kepalanya pusing. Setelah matanya bisa menerima cahaya
remang remang diretinanya, ia pun mengedarkan pandangannya. Dimana ia
sekarang. Ini bukan rumahnya. Ya, iya ingat tadi saat ia berjalan menuju
parkiran kantornya dia melihat mobil sedan berhenti didepannya kemudian
turun beberapa laki laki berbaju hitam memakai topeng lalu menyekapnya
bersama dengan sahabat sahabatnya. Mengingat sahabat sahabatnya ia pun
mengedarkan pandangannya untuk mencari sahabatnya yang ternyata berada
disampingnya. Ia mencoba menggerakkan badannya. Aishh!! Tangannya diikat
kebelakang begitu juga kakinya. Ditambah lagi mulutnya yang di lakban.
“mpmhhm” Rio mencoba bersuara untuk membangunkan sahabat sahabatnya. ‘ayo bangun’ batinnya dalam hati.
“hmmpp”
Berhasil!! Sahabat sahabatnya mulai terbangun dan bersikap sepertinya saat pertama kali membuka mata. Bingung!
“hmmppt” Gabriel mencoba berteriak dan memberontak.
“OH Ternyata tuan muda sudah terbangun. Bagaimana tidur kalian” Kata seorang lelaki memakai jubah hitam plus topeng.
The Hits Boys pun memandang tajam orang tersebut.
“Hahaha. Buka lakban mereka,” Perintah lelaki tersebut kepada suruhannya yang memakai baju sama dengannya.
“aw,” Erang The Hits Boys.
“Apa mau lo?” Tanya Alvin dingin dan menatap tajam orang yang berdiri dihadapannya.
“Saya
Cuma butuh tanda tangan kalian disini,” Kata orang tersebut lalu jonkok
dihadapan antara Cakka dan Alvin. Cakka pun membaca isi dari kertas
tersebut. Isi dari surat tersebut ialah pemindahan perusahaannya beserta
perusahaan sahabat sahabatnya ke perusahaan yang dia tidak ketahui
namanya karena nama perusahaan tersebut ditutup dengan kertas kecil
berwarna putih.
“Jangan harap gue mau tanda tangan,” Kata Cakka sambil tersenyum sinis.
“Selamat bermimpi bung,”Kata Alvin tersenyum meremehkan.
“Oke. Kalau kalian tidak mau. Tapi, jangan salahkan saya kalau saya membunuh kekasih kalian,” Kata lelaki tersebut lalu berdiri.
“Bawa mereka masuk.”
Seketika mata mereka membulat ketika mlihat Ify, Via, Shilla dan juga Agni dengan tangan diikat dan mulut di lakban.
“Hahaha gimana tuan muda. Bukannya mereka kekasih kalian,” Kata lelaki tersebut.
Gabriel pun tersenyum miring. “Mereka bukan pacar kami,” Kata Gabriel.
“Hah? Anda tidak usah bohong tuan muda. Mereka sendiri datang kesini dan mengaku kalau mereka kekasih kalian.”
“Ya sudah kalau lo gak percaya. Gue sih fine fine aja lo bunuh mereka,” Kata Rio tenang beserta senyum miringnya.
Ify,
Via, Shilla dan Agni pun membulatkan mata mereka. Sialan banget The
Hits Boys. Mereka dengan susah payahnya membantu The Hits Boys malah
dibalas seperti ini. Aishhh!!
=FLASHBACK ON=
“Biar kita saja yang mencari mereka Pak,” Kata Agni.
“Kalian bisa?” Tanya Pak Ilham.
“Kita bisa Pak.”
“Tapi nona...” Kata salah satu seorang polisi yang diketahui adalah ketuanya.
“Udah tidak apa apa Mister. Yang penting mister tidak mengatakan ini kepada orang tua kita,” Potong Shilla.
“Sebenarnya apa hubungan kalian?” Tanya Pak Ilham sambil menatap Ify, Via, Shilla, Agni beserta kepala polisi.
“Mereka
dulu adalah tim penyelidik mafia tuan. Tetapi mereka berhenti saat
kelas 3 SMP, ya karena mereka ketahuan orang tua mereka.”
“Siapa nama orang tua mereka?”
“mereka dari keluarga Kusuma, Wijaya, Ridelf dan juga Dirta.”
“Ya ampun mereka anak dari sahabat sahabat kita Ilham,” Kata seorang dari lelaki parubaya yang berdiri disamping Pak Ilham.
“Tapi, kalau kalian...”
“Tenang Pak. Kita yang bakal tanggung jawab terhadap diri kita sendiri,” Kata Via yang mengerti jalan pikiran Pak Ilham.
“Baiklah kalau itu mau kalian.”
=FLASHBACK END=
“ARGHHHH”
Teriak lelaki itu frustasi kemudian mendorong tubuh Ify, Shilla, Via
dan juga Agni disamping The Hits Boys kemudian mengikat kaki mereka
seperti The Hits Boys.
“Baiklah tuan muda saya tunggu sampai siang
nanti. Kalau kalian tetap tidak menandatangi berkas tersebut maka nyawa
kalian taruhannya.” Kata Lelaki tersebut. “Tutup lakban mereka kembali,”
Perinta lelaki tersebut kemudian meninggalkan ruangan tersebut disusul
oleh bawahannya yang mengungci pintu dari luar ruangan tersebut.
The
Hits Boys pun mengalihakan pandangan mereka ke Ify, Via, Shilla dan Agni
yang tengah menatap mereka tajam. The Hits Boys pun membalas tatapan
tersebut dengan tatapan tak kalah tajam dan pada akirnya Ify, Via,
Shilla dan Agni memutar bola mata mereka kompak.
Ify pun mulai
berkutat dengan tali yang mengikat tangannya. Ia mencoba membuaka tali
tersebut menggunakan silet yang tadi dibawahnya. Setelah lima menit
berkutat akhirnya tali tersebut pun terlepas.
Ify pun langsung
membuka lakban kemudian tali yang berada dikakinya. Setelah itu membantu
Via yang berada disampingnya untuk membuka tali yang berada
ditangannya. Setelah itu membantu Shilla, Agni dan terakhir The Hits
Boys.
“tangan gue sakit banget. Sadis tuh orang,” Kata Shilla sambil memegang pergelangan tangannya.
“Kalau mereka gak sadis, mana mungkin mereka laku jadi pembunuh bayaran,” Kata Ify yang sedang mencari cari jalan keluar.
“Ngapain kalian kesini?” Tanya Gabriel dingin.
“Jalan-jalan
Kak,” Jawab Via sekenanya. Via sendiri masih berkutat dengan tali
dikakinya yang sangat susah dilepas. “Ag, bantuin gue dong,” Kata Via
memohon.
“Shilla noh. Gue sibuk,” Kata Agni yang sedang mencari jalan keluar seperti Ify.
“Gue lagi gak bercanda,” Kata Gabriel tajam dan dingin.
“Ya
buat bebasin kalian lah. Pake nanya lagi,” Kata Ify yang tengah duduk
bersila di dekat pintu. Ia telah frustasi mencari jalan keluar yang
susah untuk dicarinya. “Kayaknya gak ada jalan keluar deh,” Kata Ify
yang mulai panik.
“Yaudah tunggu polisi kesini,” Kata Shilla bersandar di tembok lalu menutup matanya.
“kira kira kita bisa menghilang gak ya pake magic ni kalung,” Kata Ify sambil menunduk memegang banddul kalungnya.
“Gak bisa,” Jawab Rio.
“Kok bisa?” Tanya Ify bingung.
“Tadi gue udah nyoba ternyata gak bisa,” Kata Rio.
“Magic kalung itu Cuma memunculkan barang barang kita yang mungkin ketinggalan atau apalah,” Kata Cakka.
“Tapi, beberapa hari yang lalu....” Kata Agni yang mengingat kejadian hujan yang langsung berhenti.
“Itu Cuma kebetulan,” Potong Cakka.
“Terus Uncle Albert kok bisa?” Tanya Ify.
“Gak tau,” Jawab Rio datar dan cuek.
“Kok Shilla sama Via bisa tidur ya. Padahal kita dalam bahaya loh,” Kata Ify ke Agni.
“Kenapa gak bisa. Tinggal tutup mata ditambah efek belum tidur+kecapek’an” Kata Agni enteng.
“Kalau
gue, jujur gak bisa,” Kata Ify geleng geleng kepala. “Kita ini lagi
disarangnya pembunuh bayaran yang paling sadis coy,” Kata Ify heboh.
“Biasa aja kali neng. Gue juga tau,” Kata Agni.
“Hehehe, bawaan dari lahir,” Kata Ify cengengesan.
DOR DOR DOR DOR DOR
Ify,
Agni dan The Hits Boys pun langsung berdiri mendengar suara tembakan
tersebut. Via dan Shilla yang tadinya ketiduran pun langsung bangun.
“Kenapa?” Tanya Via kaget.
“Kayaknya
polisi udah mulai bergerak deh,” Kata Agni mencoba tenang. Jujur dia
takut karena lawannya ini adalah seorang pembunuh bayaran tersadis di
dunia. “Siapkan pistol kalian,” Perintah Agni.
“Kakak bawa pistol gak?” Tanya Ify.
“Gak.”
“yaudah
kakak pake ini aja,” Kata Via menyerahkan rompi anti pelurunya ke
Alvin. Begitu juga dengan Ify, Shilla dan Agni yang menyerahkan rompi
anti pelurunya ke Rio, Gabriel dan Cakka.
“Ayo kak pake aja,” Kata Shilla sambil memberikan rompinya ke tangan Gabriel.
“Tapi lo...”
“Gak apa apa,” Kata Shilla.
The Hits Boys pun memakai rompi tersebut dengan ragu.
“NONA, APAKAH NONA BERADA DIDALAM,” Teriak seorang lelaki dar luar.
“IYA MISTER KITA DIDALAM,” Teriak Shilla.
“SEBAIKNYA KALIAN MENJAUH DARI PINTU,” Teriak Mister.
Ify, Via, Shilla, Agni dan The Hits Boys mundur dan menjauh dari pintu.
BRAAAAKKK
“Kalian tidak apa apa?” Tanya Mister.
“kita tidak apa apa Mister,” Jawab Via mengawakili.
DOR DOR DOR DOR.
“Ayo kak keluar,” Kata Agni mendorong tubuh The Hits Boys.
“Lo gimana?” Tanya Cakka.
“Cepetan Kak. Kita disini baik baik saja, ikutin Mister Hermawan,” Kata Ify.
“Jaga diri lo baik baik,” Kata Rio kemudian langsung memeluk Ify.
“Jaga diri lo,” Kata Gabriel sambil memeluk Shilla.
“Hubungin gue kalau terjadi apa apa,” Kata Alvin setelah memeluk Via.
“Awas lo kalo gak balik,” Kata Cakka sambil memeluk erat erat Agni.
“Yaudah Kak, cepetan keluar,” Kata Via.
“Nanti
kita tunggu di kantin,” Kata Alvin kemudian mengecup kening Via.
Begitupula Gabriel, Rio dan Cakka yang mengecup kening Shilla, Ify dan
Agni sebelum pergi.
“Yaampun,” Kata Via sambil memegang keningnya.
DOR DOR DOR
“Ayo kita keluar,” Kata Agni yang mulai tersadar dari shocknya.
***
“Kalian tidak apa apa nak,” Tanya Pak Ilham.
“Tidak Pah.”
“Tidak Om.”
“Syukurlah kalian tidak apa apa,” Kata Pak Guntur ayah dari Cakka.
“Cepat kalian masuk ke mobil,” Perintah Pak Kim ayah dari Alvin.
“Tapi, Pah mereka masih didalam,” Kata Alvin.
“Tenang Alvin ada Mister Hermawan yang menjaga mereka,” Kata Pak Kim.
“Tapi Om, saya tidak tenang kalau nanti saya meninggalkan Ify didalam,” Kata Rio dengan wajah khawatir.
“Iya tuan muda, saya yakin mereka aman,” Kata Mister Hermawan.
“Dari mana Mister tau kalau mereka aman. Kalau mereka tertembak gimana?” Tanya Gabriel dingin.
“Tidak mungkin mereka tertembak. Mereka pakai rompi anti peluru,” Kata Mister Hermawan tenang.
Gabriel pun tersenyum sinis. “Rompinya kita pakai Mister,” Desis Gabriel tajam.
“Gadis bodoh,” Umpat Mister Hermawan kemudian menghubungi bawahannya menggunakan alat komunikasi.
“Lindungi nona nona yang ada didalam. Mereka tidak memakai rompi anti peluru,” Kata Mister Hermawan.
“Baik Mister,” Balasan dari bawahan Mister Hermawan.
"Mister
sebaiknya bawa Pak Ilham dan romobongan dari sini. Terdapat bom yang
akan meledak 10 menit lagi. DOR. Aw Agni ngapain lo nubruk gue sih.
Sakit bego. Lo hampir ketembak bego,” Terdengar dua suara dari alat
komunikasi tersebut.
“Nona tidak apa apa?” Tanya Moster Hermawan.
“Saya
tidak apa apa Mister aw. Sakit Agni. Cepetan lo bangun. Kita harus
lindungin Ify sama Shilla,” Suara dari alat komunikasi Mister Hermawan.
“Mister
cepetan bawa Pak Ilham beserta rombongan dari sini. DOR DOR DOR. Bom
meledak 8 menit lagi. Untuk urasan sini biar kita yang handle. Via jaga
Shilla. peluru gue habis Ag. Nih pistol gue,” Suara dari alat komunikasi
Mister Hermawan.
Cakka pun langsung merebut alat komunikasi tersebut dari tangan Mister Hermawan.
“Ag lo gak apa apa kan?” Tanya Cakka.
“Gue
gak apa apa Kak. Sebaiknya Kakak cepetan pergi dari sini. Sebelum
bomnya meledak.Argghh gue gak bisa lagi. Lo coba tenang Fy. Gue yakin lo
bisa jinakin tu bom.”
“Gue gak bakal pergi sebelum lo semua keluar,” Kata Cakka tajam.
“Aishh,
lo jangan nakal deh kak. Cepetan lo pergi Kak. Aw tangan gue kesetrum.
Tangan lo gak apa apa kan Shill. Kayaknya tangn gue gak bisa digerakin
lagi deh. Fy, tinggal lo harapan kita atau kita mati disini. Kak cepetan
lo pergi. Gue mohon lo cepetan pergi. Gue pasti balik kok,”
“Tangan Shilla kenapa Ag?” Tanya Gabriel.
“Udah deh Kak. Kakak pergi aja. Kalau kakak gak pergi kita gak bakal keluar,” Ancam Agni.
“Mau lo apa hah,” Bentak Cakka.
“Itu
terserah Kakak. Gue angkat tangan gue gak bisa. Apa lo gak bisa Fy.
Mati lah kita disini. Gue pasrah aja deh. Kakak pergi dari sini Kak.
PERGI!!!”
“Oke kita pergi kalau itu buat lo senang,” Kata Cakka
dingin dan tajam. Lalu membanting alat komunikasi kepunyaan Mister
Hermawan. Kemudian masuk kemobil diikuti Rio, Alvin, dan Gabriel.
***
“Fy beneran lo gak bisa jinakin tuh bom?” Tanya Via.
“Gak. Ni bom emang gak bisa dijinakin,” Kata Ify.
“Terus kita gimana? Kita keluar percuma kan. waktu kurang 3 menit lagi,” Kata Shilla.
“Yaampun masa iya kita harus mati disini,” Kata Agni.
“Lo gak mau coba lagi Fy?” Tanya Via.
“Oke gue bakal coba lagi. Semoga gue bisa,” Kata Ify yang mulai mengotak ngatik bom tersebut.
Sekitar dua menit Ify terus mengutak ngatik bom itu dengan tangan gemetar dan berkeringat dingin.
“Gimana Fy. Gak bisa ya?” Tanya Shilla. “Kalau gak bisa gak usah dipaksakaan. Berarti hidup kita sampai disini,” Tambahnya.
“Guys lihat,” Kata Ify.
“Kenapa Fy?” Tanya Agni.
“Lihat waktunya ditambah menjadi 10 menit lagi. Berarti masih ada waktu buat kita kabur,” Kata Ify.
“Yaudah ayo kita lari keluar,” Kata Agni berlari diikuti Ify, Shilla dan Via.
Mereka
pun berlari melewati mayat mayat yang berserakan dilantai. Mereka
berlari sekuat tenaga mereka berharap semoga mereka bisa selamat. Mereka
pun segera memasuki mobil mereka yang terparkir dengan manis di samping
tempat penyekapan The Hits Boys.
“Ayo cepat masuk,” Kata Ify yang telah duduk dibangku kemudi.
“Ayo Fy jalan,” Perintah Shilla.
Ify
pun langsung meninggalkan tempat itu segera dan menambah kecepatan
mobilnya. Pucat menghiasi ayu wajah. Ify pun menjalankan mobilnya
secepat mungkin untuk menjauh dari tempat itu.
BLOOOOOOOOOOM
“Syukurlah. Kita masih hidup guys,” Kata Via lega.
“Iya. untung untung. Ternyata umur kita masih panjang,” Kata Agni.
“Oh ya Fy, lo apain tu bom kok waktunya bisa bertambah lagi?” Tanya Shilla heran.
“Entahlah Shill, gue juga bingung,” Kata Ify yang masih fokus menyetir. “Sekarang jam berapa?” Tanya Ify.
“jam lima lewat sepuluh menit Fy,” Jawab Agni.
“Oke. Pake sabuk pengaman kalian. Gue mau tambahin kecepatan,” Kata Ify.
“Kenapa Fy buru buru?” Tanya Via bigung.
“Lo gak sekolah neng?” Tanya Ify balik.
“Ngapain sih sekolah Fy. Gue ngantuk+capek banget Fy. Gue mau istirahat,” Kata Via.
“Ada rapat OSIS neng hari ini+ulangan Fisika,” Kata Ify.
“Yaelah. Padahal gue udah rencanain buat bolos hari ini,” Kata Shilla.
“Sebaiknya kalian tidur deh. Nanti gue bangunin kalau udah sampai,” Saran Ify.
“Terus lo sendiri Fy?” Tanya Shilla.
“Gue gak apa apa,” Kata Ify.
“Kalau lo udah gak bisa nyetir lagi, bangunin gue aja Fy,” Kata Agni. Ify pun membalas dengan anggukan.
***
“Bom
ditempat penyekapan tuan muda satu jam yang lalu telah meledak tuan.
Tidak ada yang tersisa,” Lapor Mister Hermawan lirih pada akhir
kalimatnya.
“Apakah mereka selamat?” Tanya Pak Ilham.
“Sepertinya
tidak Tuan. Gudang tersebut telah rata. Bahkan mayat mayat yang mati ada
yang hancur lebur menjadi abu,” Kata Mister Hermawan lirih.
“APA? Jadi maksud Mister mereka meninggal gitu?” Tanya Gabriel.
“Iya tuan muda.”
“Mister
gak bohong kan?” Tanya Cakka. “Bilang Mister kalau ini bohong bilang
Mister,” Kata Cakka sambil menarik kerah Mister Hermawan.
“Cakka cukup,” Bentak Pak Guntur.
Cakka pun langsung melepas kerah Mister Hermawan.
“Apa yang harus gue lakuin sekarang?” Gumam Rio terduduk lemas di tangga.
“ARHHHHHH,” Geram Alvin mengusap rambutnya frustasi.
“Apakah papa boleh tanya?” Tanya Pak Ilham. “Apakah mereka pacar kalian?” Tanya Pak Ilham langsung.
“Apakah tidak ada pertanyaan yang penting untuk ditanyakan?” Tanya Gabriel dingin.
“Papa kan Cuma nanya. Apa salahnya?” Kata Pak Ilham.
“Apakah sikap kita bukan arti apa apa?” Tanya Gabriel.
“Oke papa mengerti,” Kata Pak Ilham.
“Mister, tolong telpon orang tua mereka untuk segera kesini,” Perintah Pak Ilham.
“Baik Tuan.”
***
“Seharusnya
kita langsung pulang terus bobok cantik deh. Eh malah disuruh ngaterin
ni berkas ke rumahnya Pak Ilham,” Ngomel Shilla.
“Iya tuh. Sialan banget tuh Pak ketua,” Kata Via.
“Sabar neng. Ini tuh perintah dari Ketua OSIS kita,” Kata Ify.
“Seharusnya kan ini tugas lo Fy. Eh kok malah kita juga yang kena,” Kata Agni.
“Hehehe soalnya gue yang minta,” Kata Ify nyengir.
“Aishh! Lo nyebelin banget sih Fy,” Kata Via.
“Hehehe” Cengir Ify.
“Udah deh. Sebaiknya sekarang kita cus kerumah Pak Ilham sekarang biar cepat cepat pulang buat bobok cantik,” Kata Shilla.
***
“Maaf kan saya Hendra, Gunawan, Dirga, Juna. Ini semua salahku,” Kata Pak Ilham.
“Sudahlah
Ilham ini bukan salahmu. Ini salah Ify anakku. Dia memang sangat
bandel. Jadi kamu jangan merasa bersalah seperti itu,” Kata Pak Hendra
ayah dari Ify.
“Tapi, gara gara menyalamatkan anak kami, anak anak kalian jadi seperti ini,” Kata Pak Martin ayah dari Rio.
“Maaf Om ini semua gara gara kami,” Kata Gabriel meminta maaf.
“Sudahlah. Tidak ada yang perlu disalahkan,” Kata Pak Dirga ayah dari Shilla sambil memeluk istrinya yang sedang menangis.
“Bagaimana bisa anak kami kenal dengan anak kalian?” Tanya Pak Juna ayah dari Agni.
“Apakah kalian tidak tau kalau anak kalian berpacaran dengan kami?” Tanya Pak Kim.
“Tidak.
Sungguh putri ku anak yang sangat bandel. Kenapa dia tidak ngomong
kepada ayahnya kalau ia sudah mempunyai pacar,” Kata Pak Gunawan ayah
dari Via.
“Maaf Om, saya tidak bisa menjaga Via,” Kata Alvin.
“Tidak apa apa.”
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar