Tittle : The Guardian of Devangel #1
Cast : Ify Alyssa as Gifyana Vita Pervetta | Sivia Azizah as Taviana Juniver | Ashilla Zee as Nashilla Vrijkan Gonzales | Agni Tri Nubuwati as Agnita Zoettav | Rio Stevadit as Micher Giorio Leanarda Haling | Alvin Jo as Jason Calvin Sindunatha | Gabriel Stev as Michel Gabriel Damanik | Cakka Nuraga as Reinardo Cakka Nuraga | Riko Anggara as Miriko Juan William | Zahra Damariva as Zahraya Guessti Alpha | Dayat Simbaia as Day Nikholas | Aren Nadya as Arenadya Kinomi Chan |
Genre : Friendship, Romance, Comedy, Hurt etc (maybe)
Rating : PG-13
Author : Yanti L Ayuningsih | @yanti_lestariA
Suara dentuman musik menjadi baground di sebuah diskotik pribadi milik sebuah agen mata-mata. Agen mata mata ilegal yang ada dikota itu bernama ‘DARK SPY’. Pemiliknya adalah seorang pengusaha kaya yang biasanya para member agen Dark Spy menyebutnya dengan Mr. Dark dan sampai saat in belum ada yang bertemu dengan beliau, kecuali Uncle Kaal. Uncle Kaal adalah pengurus di Dark Spy yang berkepala pelontos. Ya seperti namanya ‘Kaal’ yang dalam bahasa indonesia berarti botak.
Sistem di Dark Spy adalah bekerja secara kelompok dan terdiri dari empat sampai enam pasangan. 1 pasangan terdiri dari pria dan wanita. Sistem pemilihannya yaitu dipilih langsung oleh Mr. Dark. Jadi, siapa pun pasangannya para member Dark Spy harus menerimanya dengan hati. Pasti kalian bingung dengan kata hati. Hmm maksudnya secara tidak langsung pasangan yang terpilih itu adalah sepasang kekasih. Dalam artian Mr. Dark bukan saja mencari pasangan bekerja, tetapi pasangan hidup_-.
Setiap member wanita harus WAJIB memiliki tato di punggung yang berbatasan dengan pundak sebelah kiri bertuliskan nama pasangan mereka sedangkan member lelaki di bagian dada sebelah kiri. Emang kelihatan ekstrim tapi.. itu sudah menjadi konsekuensinya.
Diujung sudut ruangan terdapat empat orang wanita yang sedang duduk seperti cacing kepanasan. Berdiri, duduk, berdiri duduk berulang ulang kali tanpa bosan.
Salah satu diantara mereka akhirnya menghela nafas kesal. Sudah 3 jam mereka menunggu Uncle Kaal yang tidak datang juga dan membuat mereka menjadi tidak sabar menunggu. Pasalnya Uncle Kaal akan datang bersama pasangan kerja mereka.
Sebenarnya mereka berempat sudah lama memiliki tato pada punggung atas mereka. Ya, mereka memang tau siapa nama pasangan mereka, tapi soal wajah dan rupanya mereka sama sekali belum mengetahuinya. Itu terjadi karena keempat pria itu dulu belum siap untuk masuk ke Dark Spy dan itu membuat Ify, Via, Shilla, dan Agni –Keempat wanita itu- naik pitam karena selama dua tahun ini mereka bekerja sendiri tanpa bantuan siapa pun.
“Kenapa lo pada?” Ify lalu menghela nafas berat lalu menatap wanita yang tadi bertanya padaya.
“Kita lagi nunggu Uncle Kaal,” wanita itu pun mengangguk kemudian lalu tersenyum menggoda kearah SIVA –Shilla, Ify, Via dan Agni-.
“Udah deh, lo berempat gak usah khawatir. Gue yakin cowok yang jadi pasangan lo pada pasti keren-keren.”
“Bukan itu masalahnya Ren. Tapi, gue Cuma tegang aja,” jawab Via memberi alasan. Sebenarnya Via penasaran siapa sih keempat pemuda itu? Sampai sampai Uncle Kaal memberikan mereka waktu membiarkan keempat pemuda itu siap.
Tiba-tiba pintu utama terbuka. Muncullah Uncle Kaal diikuti empat orang pemuda dibelakangnya. Pemuda pertama bertubuh tinggi dan badan atletis, berkulit putih, pupil berwarna biru bening, hidung mancung, bibir tipis, rambut yang acak acakan dan ditambah lagi sebuah tindik ditelinga kirinya menambah aura ketampanannya. Pemuda kedua memiliki postur sama dengan pemuda pertama tetapi tidak dengan dengan bentuk matanya. Kalau Pemuda kedua memiliki mata yang sipit dan pupil berwarna hazel. Pemuda ketiga memiliki warna kulit yang coklat kearah eksotis, mempunyai ginsul dan pupil mata berwarna biru legam. Untuk yang lainnya ya sama dengan pemuda pertama dan kedua, termasuk tindik yang sama sama berwarna hitam dan disebelah kiri. Sepertinya mereka berempat memesan jenis tindik yang sama. Pemuda keempat memiliki kulit seperti pemuda yang ketiga, memiliki postur yang sama dengan ketiga temannya, dan mata berwarna hitam pekat. *janganngencesyakakak*
“What,” pekik Shilla membulatkan matanya dan tangan kanannya menutup mulutnya yang terbuka. “Mereka kan D’ Sttatlich.”
“Wah-wah ternyata pasangan kalian, most wantednya sekolah gue deh,” bisik Aren ke Ify sebelum pergi meninggalkan kursi yang ditempati SIVA.
Uncle Kaal pun duduk di kursi satu satunya yang masih kosong. Uncle Kaal pun menatap SIVA dengan tatapan yang hanya dimengerti oleh SIVA. SIVA pun melongos kemudian berdiri dari duduknya dan bergeser lebih dekat dengan Uncle Kaal. Kemudian dengan santainya Keempat lelaki itu duduk di kursi yang tadi ditempati oleh SIVA.
“Hadeh kenapa ceweknya disuruh berdiri,” gumam Shilla kesal.
“Tadi, kamu bilang apa Shilla?” Uncle Kaal menatap tajam Shilla menyuruhnya diam. Shilla melongos ketara dengan sengaja.
“NASHILLA,” tegas Uncle Kaal dan tetap menatap tajam Shilla. “Kamu yang sopan didepan mereka.”
“Hmm,” Shilla menganggukkan kepalanya dengan malas lalu menolehkan wajahnya kearah lain.
Uncle Kaal pun berdehem sebelum memulai pembicaraan yang pastinya sangat penting itu. Agni menyikut Shilla untuk memerhatikan Uncle Kaal sebelum beliau marah dan pembicaraan ini tidak akan dimulai-mulai.
“Ify, Agni, Via dan Shilla, mereka adalah pasangan kalian. Ify kau dengan Rio, Shilla dengan Gabriel, Agni dengan Cakka serta kau Via dengan Alvin,” kata Uncle Kaal sambil menunjuk pemuda ketiga, keempat, pertama dan terakhir pemuda kedua secara bergantian.
SIVA menganggukkan kepala mereka sekali. Kemudian menatap pasangan mereka masing-masing yang tengah mentap mereka datar tapi tajam. SIVA meneguk ludah mereka dalam-dalam lalu mengalihkan pandangan mereka, karena tak kuat ditatap seperti itu. Sebenarnya mereka tidak terlalu mengetahui tentang mereka-D’Stattlich’, yang mereka ketahui hanyalah keempat lelaki itu adalah siswa troubelmaker dan juga anak geng motor, dan satu lagi mereka juga dikenal dengan ‘BERWAJAH MALAIKAT NAMUN BERHATI IBLIS’. SIVA yang membayangkannya aja sudah merinding, apalagi kalau jadi nyata. MATILAH MEREKA!!!
“Baiklah, Uncle pergi dulu. Kalian temani mereka disini,” perintah Uncle ke SIVA lalu berdiri dari dudukya.
“Tapi, Uncl—“
“Tak ada tapi-tapian,” potong Uncle Kaal cepat lalu pergi meninggalkan mereka. Via pun melongos lalu duduk di kursi yang ditempati Uncle Kaal disusul Ify. Jadilah mereka dempet dempetan.
“IFYYY ngapain lo duduk disini sih. Sempit nih!!” Ify mengidahkan ucapan Via, malah menggeser bokongnya agar duduk dengan sempurna.
“IFYYYYY,” pekik Via mengeluarkan suara toanya.
“VIAAA JANGAN TERIAK TERIAK NAPA!! SUARA LO KAYAK KALENG ROMBENG!!,” teriak salah satu member Dark Spy yang tak jauh dari situ.
“Udah deh Vi. Sesama teman itu harus saling berbagi,” ucap Ify sebelum Via mengeluarkan suara toa mautnya itu.
Via memanyunkan bibirnya menatap Ify kesal. Ify melirik Via kemudian kembali fokus ke hp nya.
“Lo berdua gak setia kawan sih. Masa lo berdua duduk sedangkan gue sama Agni disuruh berdiri sih,” cemberut Shilla. Ify menatap sekilas Shilla, kemudian asyik sendiri dengan dunianya.
“Udah nasib lo kali Shill,” cablak Via membuat Shilla tambah mengerucutkan bibirnya.
“Gak usah dimonyong monyongin tuh bibir. Gak bakal seksi juga. Malah tambah tebal(?). Ihhh,” Ify dan Via pun terkikih geli mendengar candaan Agni sedangkan sang korban sudah berubah menjadi manusia bertanduk dengan muka merah siap meledak.
Baru saja Shilla ingin membuka mulutnya, tiba-tiba saja D’Stattlich berdiri dari duduk mereka dan berjalan menuju pintu keluar. SIVA melongo kemudian dengan kompak mereka salin pandang.
“Sopan banget tuh orang,” gumam Ify meledek yang diangguki persetujuan oleh Via, Shilla dan Agni.
***
“CECANSS PULANG,” teriak dua orang wanita memasuki rumah dan sontak saja SIVA yang berada disitu menutup telinga mereka rapat rapat.
“Ck.. suara lo ngalah ngalahin suaranya Afgan tau gak,” kesal Agni sambil menatap kedua wanita tadi yang sekarang sudah duduk dihadapan mereka.
“Yaiyalah Ag. Bandingin kok sama suaranya Afgan. Hadehh,” ucap Via gemas. Agni Cuma mengangkat bahunya doang.
“Tumben lo pulang terlambat?” tanya Ify tanpa mengalihkan pandangannya dari rumus rumus Fisika yang ia tulis.
“Gue tadi abis latihan cheers,” jawab Aren –salah satu dari dua wanita tadi, memiliki mata yang sipit-.
Ify menegakkan kepalanya kemudian mengerenyitkan dahi melihat Aren dan Zahra pulang Cuma berdua.
“Bang Riko sama Day mana?” tanya Ify.
“Kerumah pacar lo,” jawab Zahra sambil melepas kaos kakinya lalu menyimpannya didalam sepatunya.
“Pacar?” Zahra menghela nafasnya kesal mendengar jawaban Ify. Ify ini pura-pura gak tau atau sengaja gak tau? *samaaja
“Pasangan kerja lo,” Ify menganggukkan kepalanya mengerti kemudian melanjutkan kegiatannya menyusun rumus-rumus Fisika itu agar menemukan jawaban dari soal yang dikerjakannya.
“Ngapain? Maho?” tanya Shilla ikut-ikutan.
Zahra dan Aren lantas membulatkan mata mereka mendengar pertanyaan Shilla yang jujur minta di loundry extra terlebih dahulu.
“Enak aja lo ngatain Day maho. Day itu cowok tulen tauk,” kesal Aren. Kemudian melirik jail kearah Zahra. “Tapi, kalau bang Riko bisa aja sih.”
JTAK
“Enak banget lo ngomong Ren,” semprot Zahra ke Aren yang tengah meringis menahan sakit akibat jitakan Zahra.
“Kan bisa aja kan Ra,” ringis Aren kemudian mengangkat salah satu tangannya dan jarinya membentuk huruf V ketika melihat Zahra yang siap siap melayangkan kembali jitakan mautnya.
“Kenapa tuh muka. Jelek banget,” ucap Riko yang tiba tiba sudah berdiri dengan coolnya bersama Day dan juga D’Stattlich.
“Bang Rikooooo,” pekik toanya Via. “Lo kalau datang salam kek. Gak langsung njelujuk (?) kayak gini. Lihat nih pensil gue jadi patah kan,” cerocos Via dan tak lupa memamerkan pensil patahnya kearah Riko.
“Hehe sory Vi,” maaf Riko yang dibalas dengusan sebal dari Via.
“Muka kamu kenapa kok ditekuk gitu?” tanya Riko yang duduk disamping Zahra. Day sudah duduk disamping Aren sedangkan D’Stattlich duduk disofa dibelakang SIVA. SIVA sendiri duduk ngeleseh (?) dengan meja sofa yang berada didepannya.
“Tadi, Aren ngatain Bang Riko maho. Jadinya Zahra marah deh,” kata Shilla menjawab pertanyaan Riko dengan muka polosnya. Riko langsung saja menghadiahi Aren dengan tatapan tajamnya.
“Loh kok gue sih? Si Shilla duluan tuh,” bela Aren menunjuk Shilla yang sedang menulis ah lebih tepatnya menyalin pekerjaan Ify. *hadeh*tepokjidat.
“Loh, gue kan gak ngatain Bang Riko maho, tapi Cuma tanya doang Bang Riko sama Day itu maho ya,” jawab Shilla sambil tetap menyalin pekerjaan Ify.
“Udah Ren. Kamu kalau ngomong sama salah satu dari mereka pasti kalah. Gak usah diladenin lagi,” saran Day menenangkan Aren.
“Yaiyalah, kita kan selalu diajarin untuk selalu menang dan membuat lawan kalah telak,” kata Agni dengan sombongnya.
“Cih,” cibir Day kemudian berdiri dari duduknya diikuti Riko dan berjalan menuju kamar mereka.
“Eh, Vi lo nyium bau kecut gak?” tanya Ify sambil menutup bukunya. Sepertinya pekerjaannya udah selesai alias finish alias ending.
“Hu’uh nih,” jawab Via sambil tangan kirinya menutup hidunganya dan tangan kananya mengibas-ngibas didepan wajahnya.
“Eh lo berdua disindir sindir kok gak peka sih,” nyablak Agni ke Aren dan Zahra yang belum bergerak dari duduk mereka.
Aren dan Zahra pun mendengus sebal lalu berdiri dari duduk mereka dan berjalan kelantai atas menuju kamar mereka.
“Dari tadi kek,” ucap Shilla lalu berjalan kedapur. Ify, Via dan Agni pun berjalan kekursi kosong yang ditempati dua pasangan tadi.
“Akhirnya selesai juga,” lega Via lalu menyandarkan kepalanya dibadan sofa.
“Nyeh.. lo kan Cuma nyalin jawaban Ify sama gue. Mana mikir lo,” ejek Agni yang kemudian dibalas senyuman yang diimut imutkan ala Via.
Agni bergidik ngeri kemudian menidurkan sejenak matanya. Begitupa dengan Via. Sedangkan Ify menatap satu persatu para personil D’Stattlich. Dahinya berkerut heran melihat benda berwarna hitam yang menempel di telinga mereka. Gak mungkin kan mereka memakai benda itu diarea sekolah. Mereka saja saat ini masih menggunakan pakaian basket kebanggaan mereka.
“Kenapa lo liat gue segitunya,” Ify langsung kelabakan karna salah satu personil D’Stattlich yang memiliki mata biru legam mengetahui tingkah bodoh Ify dan sialnya pemuda itu adalah pasangan kerja Ify. Hadehh tengsin booo.
“Hehehe gak apa apa,” jawab Ify gugup lalu mengambil toples berisi kripik pisang yang berada dimeja kemudian memakannya.
Shilla pun datang sambil meminum es jeruk yang dibawanya kemudian duduk disamping Via.
“Eh gue minta minum lo,” ucap personil D’Stattlich yang memiliki mata hitam pekat ke Shilla. Shilla.. jangan ditanya, ia hanya menatap melongo pemuda itu.
“Hah? Yaudah gue buatin yang baru aja,” tawar Shilla. Pemuda itu mendengus sebal lalu menahan tangan kiri Shilla lalu mengambil paksa minuman Shilla yang terdapat ditangan kanan Shilla kemudian meneguknya sampai habis dan meletakkan gelas kosong itu dimeja.
Lagi-lagi Shilla melongo menatap lelaki. Ralat bukan Cuma Shilla tapi, Ify juga. Tapi, dengan cepat Ify sadar ketika melihat pemilik mata biru legam menatapya dengan tajam. hedehh tensin dua kali gue, batin Ify.
“Shill duduk,” sindir Ify menyadarkan kebodohan Shilla. Shilla langsung menggeleng gelengkan kepalanya kemudian melempar badannya disamping Via.
“Ya Tuhaan Shilla... Lo bisa nyantai gak sih. Bisa bisa gue kena serangan jantung usia muda gara gara dikagetin mulu,” kesal Via menggunakan suaran toanya (lagi).
“Via lo kalau ngomong bisa gak sih gak pake toa,” kesal Agni setelah melemparkan bantal sofa kearah Via tapi meleset kearah Shilla.
“Agni kena gue tauk,” ucap Shilla manyun. Agni langsung mengusap wajahnya berulangkali menghilangkan rasa kantuknya kemudian menatap Shilla dan tak lama kemudian Agni menampilkan cengirannya khusus buat Shilla.
Shilla mendengus sebal lalu menatap kearah depan yang tengah menampilkan pandangan menegukkan ludah para kaum hawa.You know you know, para D’Stattlich mengganti baju basket mereka didepan SIVA yang tengah melongo. Body atletis mereka terlihat lebih err.. sexy bagi SIVA ditambah lagi sebuah tato didada kiri mereka yang menuliskan nama SIVA sesuai pasangan masing masing. Aishhh.. banjir dah... (Cuma baju doang ya)
Ify langsung menyadarkan dirinya sebelum ia kena tengsin untuk ketiga kalinya. Ia langsung memainkan hpnya dan bernyanyi gaje.
“Ayo goyang duyu, senangkanlah hatimu,” Via, Agni dan Shilla pun segera tersadar kemudian langsung menolehkan kepala mereka kearah Ify dengan tatapan ‘lo-ngenganggu-kesenangan-gue’.
“Kenapa lo pada ngelihatin gue segitunya. Terpesona dengan kecantikan gue ya,” narsis Ify yang dengusan sebal oleh Via, Agni dan Shilla.
***
“Bang gak ada tugas ya?” tanya Shilla yang lebih memilih duduk didepan pintu menuju kolam renang dan juga taman daripada duduk dibawah lelaki yang menjadi pasangannya itu.
“Nggak,” jawab Riko yang lagi bermesraan dengan Zahra.
“Kok sekarang kita gak pernah dapat tugas sih?” tanya Shilla.
“Nggak tauk,” jawab Riko lagi.
“Kok lo gak tau sih?? Gue lagi bokek nih sekarang,” kesal Shilla sambil sedikit memanyunkan bibirnya.
Riko berdecak kesal kemudian mengangkat kepalanya dari bahu Zahra. “Ya emang gue gak tau kalee. Lo tanya langsung tanya aja sama Uncle Kaal.”
“Ya elo dong yang nanya. Elo kan ketuanya.”
“Yang butuh siapa?” tanya Riko.
“Emang lo gak bokek ya??” tanya balik Shilla.
“Nggak kok,” jawab Riko nyantai.
“Terus elo dapat duit darimana? Lo jual tubuh elo ya?” tanya Shilla berbondong membuat Zahra, Aren, Day, Ify, Via, Agni dan tentunya menatap Shilla sambil membulatkan matanya.
“Asem lo Shill. Lo kira gue apaan,” kesal Riko sambil melemparkan bantal sofa tepat di muka Shilla.
“La terus, elo dapat uang dari mana?” tanya Shilla manyun sambil memeluk bantal yang dilemparkan Riko tadi.
“Kepo lo.”
“Atau jangan jangan lo main sama tante tante genit terus yang kaya ya,” celetuk Ify ikut ikutan. “Kalau lo gitu, gue juga ikut ikutan. Tapi, gue sam—“
“Apa elo mau sama om om Fy?” shock Via menata Ify tak percaya.
Ify langsung menoyor kepala Via. “Enak aja. Bukan lah. Tapi, sama cogans.”
“Kalau gitu, gue juga mau,” kata Agni gak nyantai.
“Ingat woy ingat lo lo pada iu udah punya pasangan. Gak boleh main main,” peringat Aren.
“Bilang aja lo iri,” celetuk Via.
“Tenang aja Ren. Kalo lo mau, gue cariin yang gans dari Day banyak loh,” tawar Shilla. Kayaknya sebentar lagi, bakal diadain perdagangan manusia.
“Gak usah aneh aneh deh lo pada,” kesel Day.
“Hihihi dia cemburu,” kikik Agni sambil menatap Day gemas membuat Day langsung memeluk Aren dan menyembunyikan kepalanya di leher Aren.
“Gue pengen ngomong sama lo berempat. Ikut gue,” perintah Riko lalu berdiri dari duduknya diikuti SIVA dibelakanganya.
***
“Ada apa bang?” Agni pun bertanya setelah mendudukkan bokongnya dikursi kesayangannya.
“Lo berempat mau tau kan, kenapa akhir akhir ini gak ada tugas buat kalian?” tanya Riko yang membuat SIVA mengangguk kompak.
Riko pun tersenyum misterius kemudian melemparkan sebuah berkas ke meja yang dilingkupi oleh SIVA.
“Itu adalah surat kontrak kerja yang dimana isinya adalah kita dipindah tugaskan untuk menjaga D’Stattlich,” SIVA membulatkan matanya mendengarkan penuturan Riko. Mereka kaget dan juga bingung. Siapa sebenarnya D’Stattlich??
“Kenapa bisa gitu bang?” lagi dan lagi Riko hanya tersenyum misterius.
“Udah deh lo pada gak usah tau. Sebaiknya lo tanda tanganin tuh surat.”
“Ogah, sebelum lo kasih tau dulu alasannya,” Ify menggelengkan kepalanya dan menggeser berkas berkas itu dari hadapannya.
“Yaudah terserah kalian. Tapi, jangan harap kalian akan mendapatkan gaji dari Dark Spy,” ucapan dari Miriko Juan William membuat SIVA membulatkan matanya (lagi). Astaga ini sama saja membunuh mereka secara perlahan.
“OMG. Seriusan bang?” tanya Shilla gak nyante. Riko pun mengangguk dan tak lupa senyum miring terbentuk dibibirnya.
SIVA pun mendengus kesal dan dengan segala keterpaksaan mereka menandatangani kontrak tersebut.
Riko pun tersenyum puas melihat SIVA mau menandatangani kontrak kerja tersebut. Ia pun mengambil kontrak tersebut kemudian menyimpannya didalam laci dan menyerahkan besok ke Uncle Kaal.
“Oh ya, kontrak tersebut berlaku seumur hidup,” lagi lagi dan lagi SIVA membulatkan mata mereka shock. “Tapi, berlaku hanya untuk lo berempat,” Riko pun berjalan meninggalkan keempat gadis itu yang tengah mendapatkan serangan jantung mendadak.
***
“Hai semua nama saya Taviana Juniver. Kalian bisa manggil saya Via,” Via menatap seluruh calon teman teman barunya itu. Tak lupa sebuah senyuman tercetak dibibir tipisnya.
“Saya Gifyana Vita Pervetta. Panggil aja Ify.”
“Saya Nashilla Vrijkan Gonzales atau panggil aja Shilla.”
“Nama saya Agnita Zoettav. Panggil Agni aja,” Ify, Shilla dan juga Agni pun meniru perbuatan Via, tersenyum manis dihadapan murid XII-MIA 1 atau calon teman teman barunya. Ya, untuk mempermudah tugasnya mereka akhirnya pindah disekolah yang sama dengan D’Stattlich.
“Baiklah, kalian boleh duduk dibangku yang kosong,” SIVA pun tersenyum kemudian melangkahkan kaki mereka kemeja yang dimaksud. Tapi, baru saja kaki mereka melangkah tiba tiba sebuag celetukan mebuat langkah merka terhenti.
“Bu, kenapa mereka duduk dibelakang D’Stattlich?” siswi tersebut tidak terima jika murid baru apalagi wanita duduk dibelakang D’Stattlich. Meja tersebut adalah meja keramat.
“Terus mereka mau duduk dimana?” tanya Bu Winda wali kelas XII-MIA 1
“Ya mereka duduk disini. Biar saya yang duduk disana,” tiba tiba saja suara sorakan memenuhi ruang kelas tersebut.
“Itu mah mau-nya elo,” sindir seorang siswi membuat suara sorakan tambah membahana (?)
“HUUUUUUU”
“Sudah sudah anak anak. Kalian berempat boleh duduk disana,” SIVA pun mengangguk kemudian berjalan ke meja yang dimaksud.
***
“Kenapa mereka bisa sekolah disini,” Gabriel menunjuk SIVA yang tengah berdiri mematung disamping Aren dan juga Zahra.
“Emang ada yang salah? Toh mereka tunangan lo pada,” kata Day membuat D’Stattlich emosi.
“Apa lo bilang? Tunangan? Sejak kapan gue tunangan sama dia. Cewek jelek, cerewet dan nyablak kayak dia. Cish dimana pikiran lo? Cewek yang oke aja gue tolak apalagi cewek seperti dia,” Via menundukkan kepalanya dalam dalam. Mencoba meredam rasa sesak dihatinya ini. Kenapa rasanya sesakit ini tuhan? Seharusnya ia marah mendengar ucapan Alvin. Tapi, sekarang kenapa ia tidak bisa membalas kata kata orang yang mengatainya. Kenapa juga harus Alvin yang harus mengucapkan ini semua. Percuma saja ia menjaga hatinya selama dua tahun ini. Menunggu orang yang bernama Alvin yang menjadi tato dipunggungnya ini.
“Rio, Gabriel, Alvin, Cakka, mereka sekolah disini atas suruan Uncle Kaal,” ucap Riko meredakan emosi D’Stattlich.
“Terus kenapa harus sekelas dan juga duduk dibelakang gue. Emang gak ada kelas lain? Dikelas beasiswa gitu,” kali ini Cakka membuka suara dan jujur kata katanya begitu memohok dihati SIVA. Kelas Baesiswa sama aja mereka nanti pasti dikucilkan dan diolok olok. Astaga betapa teganya mereka.
“Kan gue tadi udah bilang kalau ini semua sudah diatur sama Uncle Kaal,” ucap Riko.
“Tapi bisa gak dia pindah tempat duduk,” Riko memutar bola matanya gemas.
“Terus fans fans lo yang duduk dibelakang lo gitu. Lo maunya gitu,” Rio mengacak rambutnya kesal lalu menatap SIVA tajam.
“Gimana?” tanya Day penasaran. Gak mungkin kan Pria berwajah malaikat berhati iblis itu mau meja belakang mereka harus dihuni oleh para fans fanatiknya. Day yakin pasti cowok cowok itu membiarkan SIVA duduk dibelakang mereka.
“Baiklah. Asalkan mereka berempat bisa menjaga sikap,” ucap Rio membuat Riko dan Day tersenyum senang.
***
“Eh lo berempat mau kemana?” tanya Agni ketika melihat D’Stattlich berpakaian lebih rapi dan berjalan keluar dari rumah.
D’Sttatlich menghentikan langkah mereka lalu berbalik menatap Agni yang tengah duduk manis memakan cemilan.
“Bukan urusan lo,” jawab Cakka dingin.
“Tapi, lo gak boleh keluar dari rumah ini. Lagian ini udah malam.”
“Suka suka gue. Emang lo siapa? Jangan mentang mentang lo udah jadi pasangan gue lo bisa seenaknya ngatur ngatur gue,” Agni meletakkan toples cemilannya dimeja lalu berdiri dan berjalan kearah Cakka. Mendengar kata kata Cakka sudah cukup membuat tubuhnya sesak nafas menahan sakit dihatinya. Ya tuhan kenapa aku bisa jatuh cinta dengan cowok berhati iblis ini. Kenapa tuhan beri rasa cinta ini untuknya. Kenapa juga dulu aku bisa jatuh cinta dengan sosok manusia yang belum pernah aku temui. Jadi, ini semua percuma menjaga haatiku untuk sosok dihadapanku ini, batin Agni sedih.
“Gue emang bukan siapa siapa elo. Gue juga tau kalau elo gak mau dipasangin sama gue. Tapi apa lo kira gue juga mau sama cowok yang gak punya hati kayak lo. NGGAK PERNAH. Mimpi aja gue gak pernah,” Agni menumpahkan seluruh kekesalannya. Mencoba agar air matanya tidak jatuh didepan manusia yang telah mengisi hatinya ini.
Cakka mencengkram bahu Agni kuat kuat membuat Agni kesakitan dan terdorong ke tembok. “Jaga ucapan lo kalau lo masih mau hidup,” desis Cakka kemudian menghempaskan tubuh Agni kemudian meninggalkan Agni yang tengah menahan sakit dipunggung dan juga bahunya.
Agni tersenyum kecut bersamaan dengan air mata yang mulai membasahi air matanya. “Sikap lo ke gue buat gue sakit Kka.”
***



