Selasa, 08 Maret 2016

The Guardian Of Devangel Chap 1

Tittle : The Guardian of Devangel #1
Cast : Ify Alyssa as Gifyana Vita Pervetta | Sivia Azizah as Taviana Juniver | Ashilla Zee as Nashilla Vrijkan Gonzales | Agni Tri Nubuwati as Agnita Zoettav | Rio Stevadit as Micher Giorio Leanarda Haling | Alvin Jo as Jason Calvin Sindunatha | Gabriel Stev as Michel Gabriel Damanik | Cakka Nuraga as Reinardo Cakka Nuraga | Riko Anggara as Miriko Juan William | Zahra Damariva as Zahraya Guessti Alpha | Dayat Simbaia as Day Nikholas | Aren Nadya as Arenadya Kinomi Chan |
Genre : Friendship, Romance, Comedy, Hurt etc (maybe)
Rating : PG-13
Author : Yanti L Ayuningsih | @yanti_lestariA 

Suara dentuman musik menjadi baground di sebuah diskotik pribadi milik sebuah agen mata-mata. Agen mata mata ilegal yang ada dikota itu bernama ‘DARK SPY’. Pemiliknya adalah seorang pengusaha kaya yang biasanya para member agen Dark Spy menyebutnya dengan Mr. Dark dan sampai saat in belum ada yang bertemu dengan beliau, kecuali Uncle Kaal. Uncle Kaal adalah pengurus di Dark Spy yang berkepala pelontos. Ya seperti namanya ‘Kaal’ yang dalam bahasa indonesia berarti botak.
Sistem di Dark Spy adalah bekerja secara kelompok dan terdiri dari empat sampai enam pasangan. 1 pasangan terdiri dari pria dan wanita. Sistem pemilihannya yaitu dipilih langsung oleh Mr. Dark. Jadi, siapa pun pasangannya para member Dark Spy harus menerimanya dengan hati. Pasti kalian bingung dengan kata hati. Hmm maksudnya secara tidak langsung pasangan yang terpilih itu adalah sepasang kekasih. Dalam artian Mr. Dark bukan saja mencari pasangan bekerja, tetapi pasangan hidup_-.
Setiap member wanita harus WAJIB memiliki tato di punggung yang berbatasan dengan pundak sebelah kiri bertuliskan nama pasangan mereka sedangkan member lelaki di bagian dada sebelah kiri. Emang kelihatan ekstrim tapi.. itu sudah menjadi konsekuensinya.
Diujung sudut ruangan terdapat empat orang wanita yang sedang duduk seperti cacing kepanasan. Berdiri, duduk, berdiri duduk berulang ulang kali tanpa bosan.
Salah satu diantara mereka akhirnya menghela nafas kesal. Sudah 3 jam mereka menunggu Uncle Kaal yang tidak datang juga dan membuat mereka menjadi tidak sabar menunggu. Pasalnya Uncle Kaal akan datang bersama pasangan kerja mereka.
Sebenarnya mereka berempat sudah lama memiliki tato pada punggung atas mereka. Ya, mereka memang tau siapa nama pasangan mereka, tapi soal wajah dan rupanya mereka sama sekali belum mengetahuinya. Itu terjadi karena keempat pria itu dulu belum siap untuk masuk ke Dark Spy dan itu membuat Ify, Via, Shilla, dan Agni –Keempat wanita itu- naik pitam karena selama dua tahun ini mereka bekerja sendiri tanpa bantuan siapa pun.
“Kenapa lo pada?” Ify lalu menghela nafas berat lalu menatap wanita yang tadi bertanya padaya.
“Kita lagi nunggu Uncle Kaal,” wanita itu pun mengangguk kemudian lalu tersenyum menggoda kearah SIVA –Shilla, Ify, Via dan Agni-.
“Udah deh, lo berempat gak usah khawatir. Gue yakin cowok yang jadi pasangan lo pada pasti keren-keren.”
“Bukan itu masalahnya Ren. Tapi, gue Cuma tegang aja,” jawab Via memberi alasan. Sebenarnya Via penasaran siapa sih keempat pemuda itu? Sampai sampai Uncle Kaal memberikan mereka waktu membiarkan keempat pemuda itu siap.
Tiba-tiba pintu utama terbuka. Muncullah Uncle Kaal diikuti empat orang pemuda dibelakangnya. Pemuda pertama bertubuh tinggi dan badan atletis, berkulit putih, pupil berwarna biru bening, hidung mancung, bibir tipis, rambut yang acak acakan dan ditambah lagi sebuah tindik ditelinga kirinya menambah aura ketampanannya. Pemuda kedua memiliki postur sama dengan pemuda pertama tetapi tidak dengan dengan bentuk matanya. Kalau Pemuda kedua memiliki mata yang sipit dan pupil berwarna hazel. Pemuda ketiga memiliki warna kulit yang coklat kearah eksotis, mempunyai ginsul dan pupil mata berwarna biru legam. Untuk yang lainnya ya sama dengan pemuda pertama dan kedua, termasuk tindik yang sama sama berwarna hitam dan disebelah kiri. Sepertinya mereka berempat memesan jenis tindik yang sama. Pemuda keempat memiliki kulit seperti pemuda yang ketiga, memiliki postur yang sama dengan ketiga temannya, dan mata berwarna hitam pekat. *janganngencesyakakak*
“What,” pekik Shilla membulatkan matanya dan tangan kanannya menutup mulutnya yang terbuka. “Mereka kan D’ Sttatlich.”
“Wah-wah ternyata pasangan kalian, most wantednya sekolah gue deh,” bisik Aren ke Ify sebelum pergi meninggalkan kursi yang ditempati SIVA.
Uncle Kaal pun duduk di kursi satu satunya yang masih kosong. Uncle Kaal pun menatap SIVA dengan tatapan yang hanya dimengerti oleh SIVA. SIVA pun melongos kemudian berdiri dari duduknya dan bergeser lebih dekat dengan Uncle Kaal. Kemudian dengan santainya Keempat lelaki itu duduk di kursi yang tadi ditempati oleh SIVA.
“Hadeh kenapa ceweknya disuruh berdiri,” gumam Shilla kesal.
“Tadi, kamu bilang apa Shilla?” Uncle Kaal menatap tajam Shilla menyuruhnya diam. Shilla melongos ketara dengan sengaja.
“NASHILLA,” tegas Uncle Kaal dan tetap menatap tajam Shilla. “Kamu yang sopan didepan mereka.”
“Hmm,” Shilla menganggukkan kepalanya dengan malas lalu menolehkan wajahnya kearah lain.
Uncle Kaal pun berdehem sebelum memulai pembicaraan yang pastinya sangat penting itu. Agni menyikut Shilla untuk memerhatikan Uncle Kaal sebelum beliau marah dan pembicaraan ini tidak akan dimulai-mulai.
“Ify, Agni, Via dan Shilla, mereka adalah pasangan kalian. Ify kau dengan Rio, Shilla dengan Gabriel, Agni dengan Cakka serta kau Via dengan Alvin,” kata Uncle Kaal sambil menunjuk pemuda ketiga, keempat, pertama dan terakhir pemuda kedua secara bergantian.
SIVA menganggukkan kepala mereka sekali. Kemudian menatap pasangan mereka masing-masing yang tengah mentap mereka datar tapi tajam. SIVA meneguk ludah mereka dalam-dalam lalu mengalihkan pandangan mereka, karena tak kuat ditatap seperti itu. Sebenarnya mereka tidak terlalu mengetahui tentang mereka-D’Stattlich’, yang mereka ketahui hanyalah keempat lelaki itu adalah siswa troubelmaker dan juga anak geng motor, dan satu lagi mereka juga dikenal dengan ‘BERWAJAH MALAIKAT NAMUN BERHATI IBLIS’. SIVA yang membayangkannya aja sudah merinding, apalagi kalau jadi nyata. MATILAH MEREKA!!!
“Baiklah, Uncle pergi dulu. Kalian temani mereka disini,” perintah Uncle ke SIVA lalu berdiri dari dudukya.
“Tapi, Uncl—“
“Tak ada tapi-tapian,” potong Uncle Kaal cepat lalu pergi meninggalkan mereka. Via pun melongos lalu duduk di kursi yang ditempati Uncle Kaal disusul Ify. Jadilah mereka dempet dempetan.
“IFYYY ngapain lo duduk disini sih. Sempit nih!!” Ify mengidahkan ucapan Via, malah menggeser bokongnya agar duduk dengan sempurna.
“IFYYYYY,” pekik Via mengeluarkan suara toanya.
“VIAAA JANGAN TERIAK TERIAK NAPA!! SUARA LO KAYAK KALENG ROMBENG!!,” teriak salah satu member Dark Spy yang tak jauh dari situ.
“Udah deh Vi. Sesama teman itu harus saling berbagi,” ucap Ify sebelum Via mengeluarkan suara toa mautnya itu.
Via memanyunkan bibirnya menatap Ify kesal. Ify melirik Via kemudian kembali fokus ke hp nya.
“Lo berdua gak setia kawan sih. Masa lo berdua duduk sedangkan gue sama Agni disuruh berdiri sih,” cemberut Shilla. Ify menatap sekilas Shilla, kemudian asyik sendiri dengan dunianya.
“Udah nasib lo kali Shill,” cablak Via membuat Shilla tambah mengerucutkan bibirnya.
“Gak usah dimonyong monyongin tuh bibir. Gak bakal seksi juga. Malah tambah tebal(?). Ihhh,” Ify dan Via pun terkikih geli mendengar candaan Agni sedangkan sang korban sudah berubah menjadi manusia bertanduk dengan muka merah siap meledak.
Baru saja Shilla ingin membuka mulutnya, tiba-tiba saja D’Stattlich berdiri dari duduk mereka dan berjalan menuju pintu keluar. SIVA melongo kemudian dengan kompak mereka salin pandang.
“Sopan banget tuh orang,” gumam Ify meledek yang diangguki persetujuan oleh Via, Shilla dan Agni.
***
“CECANSS PULANG,” teriak dua orang wanita memasuki rumah dan sontak saja SIVA yang berada disitu menutup telinga mereka rapat rapat.
“Ck.. suara lo ngalah ngalahin suaranya Afgan tau gak,” kesal Agni sambil menatap kedua wanita tadi yang sekarang sudah duduk dihadapan mereka.
“Yaiyalah Ag. Bandingin kok sama suaranya Afgan. Hadehh,” ucap Via gemas. Agni Cuma mengangkat bahunya doang.
“Tumben lo pulang terlambat?” tanya Ify tanpa mengalihkan pandangannya dari rumus rumus Fisika yang ia tulis.
“Gue tadi abis latihan cheers,” jawab Aren –salah satu dari dua wanita tadi, memiliki mata yang sipit-.
Ify menegakkan kepalanya kemudian mengerenyitkan dahi melihat Aren dan Zahra pulang Cuma berdua.
“Bang Riko sama Day mana?” tanya Ify.
“Kerumah pacar lo,” jawab Zahra sambil melepas kaos kakinya lalu menyimpannya didalam sepatunya.
“Pacar?” Zahra menghela nafasnya kesal mendengar jawaban Ify. Ify ini pura-pura gak tau atau sengaja gak tau? *samaaja
“Pasangan kerja lo,” Ify menganggukkan kepalanya mengerti kemudian melanjutkan kegiatannya menyusun rumus-rumus Fisika itu agar menemukan jawaban dari soal yang dikerjakannya.
“Ngapain? Maho?” tanya Shilla ikut-ikutan.
Zahra dan Aren lantas membulatkan mata mereka mendengar pertanyaan Shilla yang jujur minta di loundry extra terlebih dahulu.
“Enak aja lo ngatain Day maho. Day itu cowok tulen tauk,” kesal Aren. Kemudian melirik jail kearah Zahra. “Tapi, kalau bang Riko bisa aja sih.”
JTAK
“Enak banget lo ngomong Ren,” semprot Zahra ke Aren yang tengah meringis menahan sakit akibat jitakan Zahra.
“Kan bisa aja kan Ra,” ringis Aren kemudian mengangkat salah satu tangannya dan jarinya membentuk huruf V ketika melihat Zahra yang siap siap melayangkan kembali jitakan mautnya.
“Kenapa tuh muka. Jelek banget,” ucap Riko yang tiba tiba sudah berdiri dengan coolnya bersama Day dan juga D’Stattlich.
“Bang Rikooooo,” pekik toanya Via. “Lo kalau datang salam kek. Gak langsung njelujuk (?) kayak gini. Lihat nih pensil gue jadi patah kan,” cerocos Via dan tak lupa memamerkan pensil patahnya kearah Riko.
“Hehe sory Vi,” maaf Riko yang dibalas dengusan sebal dari Via.
“Muka kamu kenapa kok ditekuk gitu?” tanya Riko yang duduk disamping Zahra. Day sudah duduk disamping Aren sedangkan D’Stattlich duduk disofa dibelakang SIVA. SIVA sendiri duduk ngeleseh (?) dengan meja sofa yang berada didepannya.
“Tadi, Aren ngatain Bang Riko maho. Jadinya Zahra marah deh,” kata Shilla menjawab pertanyaan Riko dengan muka polosnya. Riko langsung saja menghadiahi Aren dengan tatapan tajamnya.
“Loh kok gue sih? Si Shilla duluan tuh,” bela Aren menunjuk Shilla yang sedang menulis ah lebih tepatnya menyalin pekerjaan Ify. *hadeh*tepokjidat.
“Loh, gue kan gak ngatain Bang Riko maho, tapi Cuma tanya doang Bang Riko sama Day itu maho ya,” jawab Shilla sambil tetap menyalin pekerjaan Ify.
“Udah Ren. Kamu kalau ngomong sama salah satu dari mereka pasti kalah. Gak usah diladenin lagi,” saran Day menenangkan Aren.
“Yaiyalah, kita kan selalu diajarin untuk selalu menang dan membuat lawan kalah telak,” kata Agni dengan sombongnya.
“Cih,” cibir Day kemudian berdiri dari duduknya diikuti Riko dan berjalan menuju kamar mereka.
“Eh, Vi lo nyium bau kecut gak?” tanya Ify sambil menutup bukunya. Sepertinya pekerjaannya udah selesai alias finish alias ending.
“Hu’uh nih,” jawab Via sambil tangan kirinya menutup hidunganya dan tangan kananya mengibas-ngibas didepan wajahnya.
“Eh lo berdua disindir sindir kok gak peka sih,” nyablak Agni ke Aren dan Zahra yang belum bergerak dari duduk mereka.
Aren dan Zahra pun mendengus sebal lalu berdiri dari duduk mereka dan berjalan kelantai atas menuju kamar mereka.
“Dari tadi kek,” ucap Shilla lalu berjalan kedapur. Ify, Via dan Agni pun berjalan kekursi kosong yang ditempati dua pasangan tadi.
“Akhirnya selesai juga,” lega Via lalu menyandarkan kepalanya dibadan sofa.
“Nyeh.. lo kan Cuma nyalin jawaban Ify sama gue. Mana mikir lo,” ejek Agni yang kemudian dibalas senyuman yang diimut imutkan ala Via.
Agni bergidik ngeri kemudian menidurkan sejenak matanya. Begitupa dengan Via. Sedangkan Ify menatap satu persatu para personil D’Stattlich. Dahinya berkerut heran melihat benda berwarna hitam yang menempel di telinga mereka. Gak mungkin kan mereka memakai benda itu diarea sekolah. Mereka saja saat ini masih menggunakan pakaian basket kebanggaan mereka.
“Kenapa lo liat gue segitunya,” Ify langsung kelabakan karna salah satu personil D’Stattlich yang memiliki mata biru legam mengetahui tingkah bodoh Ify dan sialnya pemuda itu adalah pasangan kerja Ify. Hadehh tengsin booo.
“Hehehe gak apa apa,” jawab Ify gugup lalu mengambil toples berisi kripik pisang yang berada dimeja kemudian memakannya.
Shilla pun datang sambil meminum es jeruk yang dibawanya kemudian duduk disamping Via.
“Eh gue minta minum lo,” ucap personil D’Stattlich yang memiliki mata hitam pekat ke Shilla. Shilla.. jangan ditanya, ia hanya menatap melongo pemuda itu.
“Hah? Yaudah gue buatin yang baru aja,” tawar Shilla. Pemuda itu mendengus sebal lalu menahan tangan kiri Shilla lalu mengambil paksa minuman Shilla yang terdapat ditangan kanan Shilla kemudian meneguknya sampai habis dan meletakkan gelas kosong itu dimeja.
Lagi-lagi Shilla melongo menatap lelaki. Ralat bukan Cuma Shilla tapi, Ify juga. Tapi, dengan cepat Ify sadar ketika melihat pemilik mata biru legam menatapya dengan tajam. hedehh tensin dua kali gue, batin Ify.
“Shill duduk,” sindir Ify menyadarkan kebodohan Shilla. Shilla langsung menggeleng gelengkan kepalanya kemudian melempar badannya disamping Via.
“Ya Tuhaan Shilla... Lo bisa nyantai gak sih. Bisa bisa gue kena serangan jantung usia muda gara gara dikagetin mulu,” kesal Via menggunakan suaran toanya (lagi).
“Via lo kalau ngomong bisa gak sih gak pake toa,” kesal Agni setelah melemparkan bantal sofa kearah Via tapi meleset kearah Shilla.
“Agni kena gue tauk,” ucap Shilla manyun. Agni langsung mengusap wajahnya berulangkali menghilangkan rasa kantuknya kemudian menatap Shilla dan tak lama kemudian Agni menampilkan cengirannya khusus buat Shilla.
Shilla mendengus sebal lalu menatap kearah depan yang tengah menampilkan pandangan menegukkan ludah para kaum hawa.You know you know, para D’Stattlich mengganti baju basket mereka didepan SIVA yang tengah melongo. Body atletis mereka terlihat lebih err.. sexy bagi SIVA ditambah lagi sebuah tato didada kiri mereka yang menuliskan nama SIVA sesuai pasangan masing masing. Aishhh.. banjir dah... (Cuma baju doang ya)
Ify langsung menyadarkan dirinya sebelum ia kena tengsin untuk ketiga kalinya. Ia langsung memainkan hpnya dan bernyanyi gaje.
“Ayo goyang duyu, senangkanlah hatimu,” Via, Agni dan Shilla pun segera tersadar kemudian langsung menolehkan kepala mereka kearah Ify dengan tatapan ‘lo-ngenganggu-kesenangan-gue’.
“Kenapa lo pada ngelihatin gue segitunya. Terpesona dengan kecantikan gue ya,” narsis Ify yang dengusan sebal oleh Via, Agni dan Shilla.
***
“Bang gak ada tugas ya?” tanya Shilla yang lebih memilih duduk didepan pintu menuju kolam renang dan juga taman daripada duduk dibawah lelaki yang menjadi pasangannya itu.
“Nggak,” jawab Riko yang lagi bermesraan dengan Zahra.
“Kok sekarang kita gak pernah dapat tugas sih?” tanya Shilla.
“Nggak tauk,” jawab Riko lagi.
“Kok lo gak tau sih?? Gue lagi bokek nih sekarang,” kesal Shilla sambil sedikit memanyunkan bibirnya.
Riko berdecak kesal kemudian mengangkat kepalanya dari bahu Zahra. “Ya emang gue gak tau kalee. Lo tanya langsung tanya aja sama Uncle Kaal.”
“Ya elo dong yang nanya. Elo kan ketuanya.”
“Yang butuh siapa?” tanya Riko.
“Emang lo gak bokek ya??” tanya balik Shilla.
“Nggak kok,” jawab Riko nyantai.
“Terus elo dapat duit darimana? Lo jual tubuh elo ya?” tanya Shilla berbondong membuat Zahra, Aren, Day, Ify, Via, Agni dan tentunya menatap Shilla sambil membulatkan matanya.
“Asem lo Shill. Lo kira gue apaan,” kesal Riko sambil melemparkan bantal sofa tepat di muka Shilla.
“La terus, elo dapat uang dari mana?” tanya Shilla manyun sambil memeluk bantal yang dilemparkan Riko tadi.
“Kepo lo.”
“Atau jangan jangan lo main sama tante tante genit terus yang kaya ya,” celetuk Ify ikut ikutan. “Kalau lo gitu, gue juga ikut ikutan. Tapi, gue sam—“
“Apa elo mau sama om om Fy?” shock Via menata Ify tak percaya.
Ify langsung menoyor kepala Via. “Enak aja. Bukan lah. Tapi, sama cogans.”
“Kalau gitu, gue juga mau,” kata Agni gak nyantai.
“Ingat woy ingat lo lo pada iu udah punya pasangan. Gak boleh main main,” peringat Aren.
“Bilang aja lo iri,” celetuk Via.
“Tenang aja Ren. Kalo lo mau, gue cariin yang gans dari Day banyak loh,” tawar Shilla. Kayaknya sebentar lagi, bakal diadain perdagangan manusia.
“Gak usah aneh aneh deh lo pada,” kesel Day.
“Hihihi dia cemburu,” kikik Agni sambil menatap Day gemas membuat Day langsung memeluk Aren dan menyembunyikan kepalanya di leher Aren.
“Gue pengen ngomong sama lo berempat. Ikut gue,” perintah Riko lalu berdiri dari duduknya diikuti SIVA dibelakanganya.
***
“Ada apa bang?” Agni pun bertanya setelah mendudukkan bokongnya dikursi kesayangannya.
“Lo berempat mau tau kan, kenapa akhir akhir ini gak ada tugas buat kalian?” tanya Riko yang membuat SIVA mengangguk kompak.
Riko pun tersenyum misterius kemudian melemparkan sebuah berkas ke meja yang dilingkupi oleh SIVA.
“Itu adalah surat kontrak kerja yang dimana isinya adalah kita dipindah tugaskan untuk menjaga D’Stattlich,” SIVA membulatkan matanya mendengarkan penuturan Riko. Mereka kaget dan juga bingung. Siapa sebenarnya D’Stattlich??
“Kenapa bisa gitu bang?” lagi dan lagi Riko hanya tersenyum misterius.
“Udah deh lo pada gak usah tau. Sebaiknya lo tanda tanganin tuh surat.”
“Ogah, sebelum lo kasih tau dulu alasannya,” Ify menggelengkan kepalanya dan menggeser berkas berkas itu dari hadapannya.
“Yaudah terserah kalian. Tapi, jangan harap kalian akan mendapatkan gaji dari Dark Spy,” ucapan dari Miriko Juan William membuat SIVA membulatkan matanya (lagi). Astaga ini sama saja membunuh mereka secara perlahan.
“OMG. Seriusan bang?” tanya Shilla gak nyante. Riko pun mengangguk dan tak lupa senyum miring terbentuk dibibirnya.
SIVA pun mendengus kesal dan dengan segala keterpaksaan mereka menandatangani kontrak tersebut.
Riko pun tersenyum puas melihat SIVA mau menandatangani kontrak kerja tersebut. Ia pun mengambil kontrak tersebut kemudian menyimpannya didalam laci dan menyerahkan besok ke Uncle Kaal.
“Oh ya, kontrak tersebut berlaku seumur hidup,” lagi lagi dan lagi SIVA membulatkan mata mereka shock. “Tapi, berlaku hanya untuk lo berempat,” Riko pun berjalan meninggalkan keempat gadis itu yang tengah mendapatkan serangan jantung mendadak.
***
“Hai semua nama saya Taviana Juniver. Kalian bisa manggil saya Via,” Via menatap seluruh calon teman teman barunya itu. Tak lupa sebuah senyuman tercetak dibibir tipisnya.
“Saya Gifyana Vita Pervetta. Panggil aja Ify.”
“Saya Nashilla Vrijkan Gonzales atau panggil aja Shilla.”
“Nama saya Agnita Zoettav. Panggil Agni aja,” Ify, Shilla dan juga Agni pun meniru perbuatan Via, tersenyum manis dihadapan murid XII-MIA 1 atau calon teman teman barunya. Ya, untuk mempermudah tugasnya mereka akhirnya pindah disekolah yang sama dengan D’Stattlich.
“Baiklah, kalian boleh duduk dibangku yang kosong,” SIVA pun tersenyum kemudian melangkahkan kaki mereka kemeja yang dimaksud. Tapi, baru saja kaki mereka melangkah tiba tiba sebuag celetukan mebuat langkah merka terhenti.
“Bu, kenapa mereka duduk dibelakang D’Stattlich?” siswi tersebut tidak terima jika murid baru apalagi wanita duduk dibelakang D’Stattlich. Meja tersebut adalah meja keramat.
“Terus mereka mau duduk dimana?” tanya Bu Winda wali kelas XII-MIA 1
“Ya mereka duduk disini. Biar saya yang duduk disana,” tiba tiba saja suara sorakan memenuhi ruang kelas tersebut.
“Itu mah mau-nya elo,” sindir seorang siswi membuat suara sorakan tambah membahana (?)
“HUUUUUUU”
“Sudah sudah anak anak. Kalian berempat boleh duduk disana,” SIVA pun mengangguk kemudian berjalan ke meja yang dimaksud.
***
“Kenapa mereka bisa sekolah disini,” Gabriel menunjuk SIVA yang tengah berdiri mematung disamping Aren dan juga Zahra.
“Emang ada yang salah? Toh mereka tunangan lo pada,” kata Day membuat D’Stattlich emosi.
“Apa lo bilang? Tunangan? Sejak kapan gue tunangan sama dia. Cewek jelek, cerewet dan nyablak kayak dia. Cish dimana pikiran lo? Cewek yang oke aja gue tolak apalagi cewek seperti dia,” Via menundukkan kepalanya dalam dalam. Mencoba meredam rasa sesak dihatinya ini. Kenapa rasanya sesakit ini tuhan? Seharusnya ia marah mendengar ucapan Alvin. Tapi, sekarang kenapa ia tidak bisa membalas kata kata orang yang mengatainya. Kenapa juga harus Alvin yang harus mengucapkan ini semua. Percuma saja ia menjaga hatinya selama dua tahun ini. Menunggu orang yang bernama Alvin yang menjadi tato dipunggungnya ini.
“Rio, Gabriel, Alvin, Cakka, mereka sekolah disini atas suruan Uncle Kaal,” ucap Riko meredakan emosi D’Stattlich.
“Terus kenapa harus sekelas dan juga duduk dibelakang gue. Emang gak ada kelas lain? Dikelas beasiswa gitu,” kali ini Cakka membuka suara dan jujur kata katanya begitu memohok dihati SIVA. Kelas Baesiswa sama aja mereka nanti pasti dikucilkan dan diolok olok. Astaga betapa teganya mereka.
“Kan gue tadi udah bilang kalau ini semua sudah diatur sama Uncle Kaal,” ucap Riko.
“Tapi bisa gak dia pindah tempat duduk,” Riko memutar bola matanya gemas.
“Terus fans fans lo yang duduk dibelakang lo gitu. Lo maunya gitu,” Rio mengacak rambutnya kesal lalu menatap SIVA tajam.
“Gimana?” tanya Day penasaran. Gak mungkin kan Pria berwajah malaikat berhati iblis itu mau meja belakang mereka harus dihuni oleh para fans fanatiknya. Day yakin pasti cowok cowok itu membiarkan SIVA duduk dibelakang mereka.
“Baiklah. Asalkan mereka berempat bisa menjaga sikap,” ucap Rio membuat Riko dan Day tersenyum senang.
***
“Eh lo berempat mau kemana?” tanya Agni ketika melihat D’Stattlich berpakaian lebih rapi dan berjalan keluar dari rumah.
D’Sttatlich menghentikan langkah mereka lalu berbalik menatap Agni yang tengah duduk manis memakan cemilan.
“Bukan urusan lo,” jawab Cakka dingin.
“Tapi, lo gak boleh keluar dari rumah ini. Lagian ini udah malam.”
“Suka suka gue. Emang lo siapa? Jangan mentang mentang lo udah jadi pasangan gue lo bisa seenaknya ngatur ngatur gue,” Agni meletakkan toples cemilannya dimeja lalu berdiri dan berjalan kearah Cakka. Mendengar kata kata Cakka sudah cukup membuat tubuhnya sesak nafas menahan sakit dihatinya. Ya tuhan kenapa aku bisa jatuh cinta dengan cowok berhati iblis ini. Kenapa tuhan beri rasa cinta ini untuknya. Kenapa juga dulu aku bisa jatuh cinta dengan sosok manusia yang belum pernah aku temui. Jadi, ini semua percuma menjaga haatiku untuk sosok dihadapanku ini, batin Agni sedih.
“Gue emang bukan siapa siapa elo. Gue juga tau kalau elo gak mau dipasangin sama gue. Tapi apa lo kira gue juga mau sama cowok yang gak punya hati kayak lo. NGGAK PERNAH. Mimpi aja gue gak pernah,” Agni menumpahkan seluruh kekesalannya. Mencoba agar air matanya tidak jatuh didepan manusia yang telah mengisi hatinya ini.
Cakka mencengkram bahu Agni kuat kuat membuat Agni kesakitan dan terdorong ke tembok. “Jaga ucapan lo kalau lo masih mau hidup,” desis Cakka kemudian menghempaskan tubuh Agni kemudian meninggalkan Agni yang tengah menahan sakit dipunggung dan juga bahunya.
Agni tersenyum kecut bersamaan dengan air mata yang mulai membasahi air matanya. “Sikap lo ke gue buat gue sakit Kka.”
***

Obligatie Part 9

OBLIGATIE PART 9
Tittle : Obligatie part 9
Cast : Ify | Rio | Via | Alvin | Shilla | Gabriel | Agni | Cakka |
Genre : Romance, Friendship, Action, etc,- | Maybe
Author : Yanti Lestari | @yanti_lestariA | IG: @yanti_lestariA

SISA berdiri dihalte bus dengan kesal. Sudah dua jam mereka menunggu bus, tapi tak datang juga. Padahal mereka sudah telat 20 menit dari jam ditentukan untuk berkumpul dirumah Uncle Albert. Katanya sih, Uncle Albert mau ngomong penting. Ck ck.. kapan coba nih bus lewatnya.
Sebenarnya SISA pengen nelpon The Hits Boys untuk menjemput mereka. Tapi kan, mereka saat ini masih perang sama The Hits Boys. Jadi, gak mungkin kan kalau SISA harus menelpon keempat suami mereka. Apalagi, belum tentu juga kalau suami mereka itu mau menjemput mereka. Nganter aja gak mau apalagi jemput_-.
Ify menghela nafas berat. Kepalanya pusing mikir ini mikir itu. Huhuhu kayaknya bentar lagi Ify bakal terjangkit darah tinggi atau lebih parahnya stroke. Huwaaa gue gak mau, batin Ify mencak mencak.
***
“Permisi,” ucap Shilla setelah memencet bel rumah Uncle Albert. Tak lama kemudian keluarlah Uncle Albert menyambut mereka dan mempersilahkan mereka masuk. SISA pun masuk mengikuti Uncle Albert yang memimpin mereka.
“Cish..darimana aja lo. Lo pikir gue gue gak sibuk,” semprot Rio tanpa basa basi. Padahal SISA belum juga mendaratkan bokong mereka eh udah disemprot aja.
“Lo pikir nunggu bus lewat itu cepet,” jawab Ify sengit dan tak lupa sebuah senyum miring tercetak dibibirnya. Ify lagi badmood malah dimarahin. Tambah kesel dirinya.
“Kenapa lo gak nebeng sama temen cowok lo itu,” sindir Rio tajam. Tanpa sadar Ify berdiri dari duduknya kemudian mengmbil gelas berisi sirup di meja lalu menumpahkannya ketubuh Rio. Dirinya sudah sangat sangat kesal sekarang.
“Maksud lo apa hah?” marah Rio sambil berdiri dari duduknya. Baru kali ini ia diperlakukan seperti itu. Marahnya sudah diubun ubun sekarang.
“Biar otak udang lo itu bisa mikir,” cela Ify tajam dan membuat gigi Rio menggeretuk (?) saking marahnya.
“Lo...” Rio menatap tajam Ify. Kalau saja Ify ini bukan pemilik hatinya mungkin sudah habis Ify ditangan Rio.
“Apa?? Lo mau bunuh gue. Silahkan,” ucap Ify sambil menatap Rio yang tengah berdiri dihadapannya. Hanya saja dibatasi sebuah meja sofa didepan mereka.
Rio mengepalkan tangannya. Menahan agar emosinya tidak keluar sekarang. Bisa bisa ia membunuh Ify sekarang jika emosinya tidak bisa ia kontrol.
“Kenapa? Lo gak berani. Cish..” cela Ify membuat Rio harus menahan kuat kuat emosinya.
“Ify, Rio duduk,” perintah Uncle Albert. Ify pun segera duduk, itupun karena tarikan Via ditangannya. Sedangkan Rio duduk setelah Gabriel membisikkan kata kata yang entahlah apa itu, kemudian Rio membersihkan bajunya menggunakan tissu yang tersedia di meja Uncle Albert
“Baiklah, Uncle mau bertanya. Apakah diantara kalian sudah tau siapa kaum hitam sebenarnya??” tanya Uncle Albert setelah melihat Ify dan Rio cukup tenang.
Ify dan Shilla langsung saling pandang mendengar pertanyaan Uncle Albert. Mereke saling berbicara melalui mata dan pada akhirnya Ify mengangguk mengakhiri percakapan mereka.
“Tidak Uncle,” jawab Cakka mewakili mereka berdelapan dan ddukung gelengan dari Agni dan Via.
“Benarkah??” tanya Uncle Albert ragu.
“Iya Uncle. Ada apa Uncle?” jawab dan tanya Gabriel.
“Menurut bayangan Uncle, diantara kalian sebenarnya sudah ada yang mengetahui siapa kaum hitam sebenarnya,” jelas Uncle Albert membuat Shilla dan Ify tegang sendiri. Mampus deh mereka. Padahal kan rencana kedua gadis ayu itu kan mencari tau kebenarannya kemudian memberitahu kepada Uncle Albert jika orang menyerang mereka kemarin itu kaum hitam.
“Siapa Uncle?” tanya Agni.
“Entahlah Uncle belum tau. Tapi, jika itu benar Uncle mohon ceritakan sebenarnya. Biar masalah ini cepat selesai,” jawab Uncle Albert.
Ify menggaruk kepalanya bingung kemudian membuka tasnya lalu mengsms Shilla dengan hpnya tetap berada didalam tasnya *hadehngertikan*.
To: Shilla
Shill gimana nih?
Shilla langsung mengambil hpnya saat merasakan getaran disaku bajunya. Shilla lmengerenyitkan keningnya lalu melirik Ify sebentar kemudian membuka pesan dari Ify.
From: Ify
Shill gimana nih?
To: Ify
Gue juga bingung Fy. Menurut lo gimana?
From: Ify
Hmm, kita cari tau kebenarannya aja dulu. Sesuai rencana awal aja deh.
To: Ify
Gue setuju Fy. Lagian kalau kita salah kasih info kaum hitam, nanti tuh cowok malah marah marah lagi ke kita berdua. Kayak gak tau sifat empat cowok kece itu aja.
From: Ify
Ya betul banget tuh. Huhh.. gue masih emosi sama Rio.
To: Ify
Lo tau, gue tadi malah takut kalau Kak Rio bunuh elo benaran.
From: Ify
Gak mungkin lahh. Gue tadi Cuma nantangin doang. Ngetes gitu. Hahahaha.
To: Ify
Klau benaran iya gimana?
From: Ify
Buktinya nggak kan?
To: Ify
Mungkin aja tadi ditahan gara gara ada Uncle Albert. Bisa jadi pulang nanti elo....
From: Ify
Do’a elo Shill minta diaminin. AMIN
To: Ify
Maksud elo apa Fy. Fy, elo jangan macam macam deh.
From: Ify
Kalau dia bahagia gue mati. Gue sih fine fine aja.
“IFYYYYYYY,” teriak Shilla menggelegar. “Gue kagak rela taukkk.”
“Asem lo Shill. Ngapain juga elo teriek teriak sih. Ify disini Cuma beda 2 meter dari elo juga,” kata Agni kesal. Sedangkan The Hits Boys menatap sengit Shilla
“Si Ify ngeselin Ag,” bela Shilla sambil menunjuk Ify yang duduk diojokan disamping Via.
Ify mengangkat alisnya pura pura bingung. “Gue salah apa coba? Perasaan gue dari tadi anteng disini.”
“Tau nih si Shilla. Ify itu dari tadi duduk anteng kok,” bela Via.
“Elo gak tau sih gimana...” Ucap Shilla terpotong. Ingin rasanya Shilla memberitahu sms Ify barusan tetapi, kan ada sms rahasianya. Ughh... Ify ngeselin.
***
“Baiklah Uncle, kita pulang dulu,” pamit Alvin berdiri dari duduknnya diikuti Rio, Gabriel, Cakka dan juga SISA.
“Hati-hati,” balas Uncle Albert mengantarkan kepergian mereka berempat didepan pintu.
SISA tersenyum membalas ucapan wanti wanti dari Uncle Albert. Tiba- tiba saja setelah Uncle Albert menutup pintu, Rio langsung mendorong tubuh Ify ke tembok dengan kasar.
Ify kaget bukan main. Hatinya ketar ketir kalau sampai beneran Rio akan membunuhnya. Oh, oh mampuslah riwayatnya hari ini.
Shilla menahan nafasnya. Berharap Rio tidak benar membunuh Ify. Ingin rasanya Shilla mencegahnya, tapi apa daya ia sendiri juga takut.
“Seharusnya gue gak pernah kenal sama elo. Seharusnya gue gak jutuh cinta sama elo. Seharusnya gue gak cinta mati sama elo,” kata Rio penuh penekanan sambil menatap tajam kedua mata Ify yang hanya berjarak 25 cm dari matanya. “Dan sekarang sebaiknya lo pergi dari hadapan gue, dari hati gue dan dari kehidupan gue. Gue.. Cin.. hm benci elo.”
Setelah mengucapkan kalimat menyakitkan itu, Rio langsung memeluk tubuh Ify lama lalu berlalu pergi meninggalkan Ify yang tinggal mematung menahan untuk laju air matanya.
***
“Hmm, Shill kayaknya gue gak gabung deh bareng kalian,” Shilla ikut berhenti dari jalannya kemudian menatap Ify yang juga mengikuti tingkah Shilla.
“Kenapa Fy?” tanya Shilla.
“Kayaknya nih ya, kaum hitam udah tau deh kalau gue salah satu pemegang kalung setengha bintang,” bisik Ify ditelinga Shilla.
“Apa!!! Kok bisa?” tanya Shilla shock.
“Dari tadi tuh kayaknya ada yang ngintai gue deh dan itu pasti kaum hitam,” kata Ify melanjutkan perjalannya. Shilla pun mengikuti Ify dan mensejajajrkan langkahnya dengan Ify.
“Terus hubungannya dengan gue, Via sama Agni apa?” tanya Shilla.
Ify menghentikan jalannya kemudian menghadap ke Shilla yang ikut ikutan berhenti. “Gue taku aja, kalau nanti kaum hitam juga tau kalau elo, Via dan Agni pemilik kalung setengah bintang itu. Kan bahaya,” kata Ify mengecilkan volume suaranya.
“Tapi Fy-“
“Udah deh. Lo sekarang ke kantin temuin Shilla sama Agni terus bilang kalau gue pulang duluan,” kata Ify dan sontak membuat Shilla kesal.
“Terus kalau mereka nanya gini ‘Ify ngapain pulang?’ Gue harus jawab apa dong?” tanya Shilla.
“Hmm elo tinggal bilang kalau gue sakit ket atau apa kek... terserah elo deh pokoknya,” jawab Ify dan membuat Shilla memutar bola matanya kesal.
“Kalo gue ngomong gitu, pasti si Via sama Agni juga bakal pulang nyusulin elo,” kata Shilla.
“Nah, makanya elo cari dong alasan yang logis diotak. Lagian gue lagi gak mood buat belajar hari ini,” kata Ify menghela nafas.
“Elo masih kepikiran yang kemarin ya?” tanya Shilla hati hati.
“Ya, seperti itu lah. Kayaknya gue harus pergi deh dari kehidupan Kak Rio,” curcol Ify.
“Udah lah Fy. Kayaknya kemarin Kak Rio itu ngomong kebawa emosi doang. Lagian elo sih nantang nantangin dia,” kikik Shilla.
“Nggak kok Shill. Kak Rio beneran kok nyuruh gue untuk pergi dari kehidupannya. Gue bisa tau kok,” jawab Ify membuat Shilla gak enak hati.
“Elo yang sabar aja ya Fy. Gue yakin Kak Rio itu gak marah beneran sama elo,” ucap Shilla yang dibalas senyuman manis oleh Ify.
“Yaudah Shill, elo kekantin gih. Nanti si Agni sama Via marah marah lagi kalo elo datangnya ngaret,” kata Ify.
“Oke Fy. Elo hati hati ya. Jaga diri. Kalo ada apa apa hubungin gue,” wanti Shilla.
“Oke. Gue titip Via sama Agni ya. Jangan lupa The Hits Boys juga. Jaga mereka. Kayaknya gue harus turutin kemauan Kak Rio. Biar dia bahagia,” kata Ify membuat Shilla menyipitkan matanya menatap Ify.
“Maksud lo?” tanya Shilla.
“Udah deh. Lo cepeta kekantin gih. Bye,” pamit Ify lalu berlari meninggalkan Shilla.
“Gue harap elo akan baik baik aja Fy,” lirih Shilla sambil menatap punggung Ify yang semakin mengecil ditelan oleh jarak.
***
“Ify mana Shill?” tanya Agni yang melihat Shilla yang datang hanya seorang diri.
“Pulang,” jawab Shilla singkat. Tiba tiba perasaannya tak enak.
“Kenapa? Ify sakit?” tanya Via khawatir.
“Nggak kok. Katanya mau nenangin diri aja. Palingan gara gara masalah kemarin,” ucap Shilla.
“Kayaknya malang banget ya nasib kita. Harus ditinggalin oleh lelaki yang kita cintai,” celetuk Via sendu, membuat Shilla dan Agni menoleh menatapnya.
“Hm Iya. Apalagi Ify. Dia yang paling ngerasain sakit,” tambah Shilla.
“Huss udahlah. Ngapain kita mikirin hal kemarin lagi. Udah lupan aja. Lebih baik kita mikirin buat surprise ultah Ify besok. Tadi, itu pak ketua udah nanya nanya ke gue tentang surprise Ify besok,” kata Agni langsung mengalihkan pembicaraan. Jujur hatinya masih sakit gara gara kejadian kemarin yang tiba tiba Cakka meninggalkannya.
“Oh iya ya. Yaudah elo telpon pak ketua sama temam teman yang lain. Kita buat rencanya sekarang. Mumpung Ify nggak disini sekarang,” ucap Via dan langsung diangguki oleh Agni lalu mengambil hpnya dan menghubung teman temannya.
***
“Aduh Ify kemana sih? Udah jam 7 kurang lima menit nih. Tapi, kok belum datang juga,” gelisah Shilla sambil menatap gerbang sekolah yang belum menandakan kedatangan Ify.
“Dik, tadi elo udah lihat Ify berangkat sekolah kan?” tanya Via yang juga khawatir.
“Udah kok. Gue tadi lihat Ify berhentiin taksi kok. Pake seragam juga,” jawab Dika.
“Terus kenapa gak lo ikutin?” tanya Agni.
“Ya gue kan juga harus buru buru kesini lewat jalan lain Ag. Masa iya gue ikutin dari belakang. Gue kan gak mau ketinggalan juga,” jawab Dika.
“Terus sekarang gimana dong? Malah udah bel lagi,” kata Via.
“Apa jangan jangan Ify udah tau rencna kita terus kabur lagi,” prasangkan Dika.
“Bisa jadi sih. Terus sekarang..”
“Kita kasih kejutan besok aja. Lagian Ify kan cerdas. Mana mau dia dibodoh bodohi untuk kedua kalinya,” saran Anjas sang ketua kelas.
***
“OMG Ify kemana sih. Udah jam 3 sore belum pulang pulang,” histeris Shilla membuat Agni menatap Shilla sebal.
“Gak usah histeris gitu juga kali Shill,” kesal Agni sambil menoyor kepala Shilla.
“Gue itu khawatir tau sama Ify,” kata Shilla sambil mengelus kepalanya yang sudah menjadi korban kegananasan tangan Agni.
“Ck, kok nomor Ify sekarang gak aktif sih,” celetuk Via tiba tiba yang datang dari balkon. “Padahal tadi kan masih aktif.”
“Beneran Vi?” tanya Shilla gak nyante.
“Iya Shill. Lagian perasaan gue tiba tiba gak enak gini,” jawab Via menghembuskan nafas, membuang pikiran negatifnya.
“Jangan jangan Ify....” Via dan Agni pun langsung menatap Shilla. “Gak mungkin, pasti gak mungkin. Ify pasti gak mungkin ditangkap sama kaum hitam. Gak mungkin gak mungkin,” Shilla menggeleng gelengkan kepalanya dan langsung jatuh terduduk dilantai. “Tapi...,” Shilla meneteskan air matanya. Otaknya langsung dipenuhi pikiran kalau Ify diculik oleh kaum hitam. Sekarang apa yang harus ia lakukan.
Via dan Agni menatp heran Shilla. Kenapa dengan Shilla?? Apa hubungan Ify dengan kaum hitam dan juga Shilla. Apa jangan jangan Shilla dan Ify sudah mengetahui keberadaan kaum hitam?
“Elo kenapa Shill?” tanya Via sambil memegang tangan Shilla yang coba memukul dirinya sendiri.
Shilla mendongakkan kepalanya lalu menatap Via. “Ify gak mungkin diculik sama kaum hitam kan?”
“Maksud lo apa? Atau jangan jangan elo udah tau semuanya ya?” tanya Agni berbondong.
Shilla menganggukkan kepalanya membuat Agni dan Via langsung melototkan mata mereka.
“Kenapa elo gak cerita kekita sih Shill?” tanya Agni emosi.
Shilla hanya menangis sesenggukan dipelukan Via. Pikirannya sudah kacau sekarang.
“Jawab Shil jawab. Elo nganggaep gue itu apa sebenarnya?”
“Udah Ag. Tenangin diri elo. Lo jangan salahin Shilla sampai segininya dong. kasihan..” ucap Via ketika merasakan pelukan Shilla erat kedirinya.
Agni menghembuskan nafasnya lalu melepas kacamatanya dan mendudukkan dirinya dibed. “Maafin gue Shill.”
Shilla langsung melepaskan pelukannnya lalu mengatur nafasnya. “Gpp Ag. Ini memang salah gue.”
“Coba elo ceritain semuanya Shill,” kata Via memohon dan erkesan memaksa.
Shilla langsung menghapus air matanya kemudian menceritakan kejadian dua hari yang lalu saat ia dan juga Ify melawan penyusup yang datang diacara musik dan dari situ ia dan Ify mengetahui kalau penyusup itu adalah kaum hitam. Kemudian Shilla menceritakan keanehan ucapan Ify kemarin membuat Via dan Agni membulatkan matanya.
“Ini gak bisa didiamin lagi. Kita harus beritahu The Hits Boys,” kata Agni lalu memakai kacamatanya kembal kemudian berdiri dari duduknya.
“Tapi—“
“Udah deh Shill. Masalah kalaung ini adalah tanggung jawab kita berlapan,” potong Via yang kemudian diangguki oleh Shilla.
***
“Mau ngapain kalian bertiga kesini??” tanya Dea yang langsung menghalangi langkah SSA yang akan mencari The Hits Boys.
“Gue mau ketemu The Hits Boys. Minggir lo,” jawab Agni ketus sambil berjalan maju tapi langsung dihalangi oleh dayang dayang Dea.
“Minggir gak elo semua atau..—“
“Atau apa?? Lo bertiga berani sama kita. IYAAA,” tantang Angel membuat SSA mengepalkan tangan mereka menahan emosi.
Tiba tiba mata Shilla menangkap The Hits Boys yang berjalan kearah area parkiran. “KAK GABRIELLL,” teriak Shilla sehinggan Via, Agni dan Dea beserta genknya menatap arah pandang Shilla.
Gabriel hanya menoleh sebentar lalu menaiki motornya dan bersiap meninggalkan area sekolah bersama sahabatnya.
Melihat itu SSA pun berlari ingin menyusul The Hits Boys. Tapi, sayang belum saja mereka sampai kearea parkir The Hits Boys sudah melajukan motor mereka.
“SIALL,” umpat Agni.
Via pun memberhentikan taksi yang kebetulan lewat didepan mereka lalu SSA pun menaiki taksi tersebut.
***
SSA pun berlari menyusul The Hits Boys yang memasuki sebuah gedung. Mereka terus meneriaki nama para member The Hits Boys tetapi member The Hits Boys tidak mengidahkan panggilan SSA. Mereka tetap saja berjalan memasuki gedung tersebut dengan tenang.
“Eh eh kalian mau kemana. Kalian tidak boleh masuk,” cegah salah satu petugas keamanan yang berada di loby utama gedung tersebut. SSA memandang tajam satpam tersebut kemudian tetap menerobos masuk. SSA pun berlari secepatnya sebelum pintu Lift tersebut tertutup.
Via menahan tangannya ke pintu Lift kemudian memasuki Lift tersebut diikuti Shilla dan Agni dibelakannya setelah itu Lift tertutup sempurna. SSA mengatur nafas mereka yang sudah senin kemis karena jantung mereka berpacu lebih cepat dari biasanya.
“Lo mau apa?” sebuah suara membuat SSA mendongakkan kepala kepalanya. Yap, suara Cakka yang memang mereka bertujuh saat ini sedang satu Lift.
“Ify diculik,” jawab Agni to the point.
Rio tersentak kaget dan langsung mengubah wajahnya menjadi datar kembali. “Terus hubungannya sama kita apa?”
“Ify diculik sama kau hitam,” jawab Shilla lirih.
“Gue tau elo bohong. Mana mungkin kaum hitam nyulik Ify. Gak usah buat cerita basi deh,” kata Rio memandang jijik SSA.
“Gue beneran Kak. Sebenarnya gue sama Ify udah tau siapa kaum hitam,” kata Shilla lirih membuat The Hits Boys langsung menatap Shilla tak percaya.
“Sejak kapan lo tau?” tanya Gabriel yang tau tau sudah mengunci pergerakan Shilla.
“Dua hari yang lalu kak,” jawab Shilla takut takut. Apalagi Gabriel langsung menatapnya tajam.
BUGHH
Shilla membuka matanya peralahan lahan dan didapatnya mata coklat almond yang menatapnya tajam menyala.
“APA MAKSUD LO HAH? KENAPA LO SEMBUNYIIN? KENAPA? KENAPA?” bentak Gabriel didepan muka Shilla. Shilla hanya meneguk ludahnya yang rasanya sangat susah sekali.
“Hm kar.. na gue sama Ify belum yakin kalau itu kaum hitam. Rencananya gue sama Ify mau cari tau dulu,” jawab Shilla nyaris berbisik tapi masih terdengar oleh Gabriel. Entahlah kenapa suaranya susah sekali untuk dikeluarkan.
BUGHH
Shilla menutup matanya untuk yang kedua kalinya. Lagi dan lagi Gabriel memukul dinding lift tepat disamping kirinya.
“Maaf kak,” lirih Shilla setelah membuka matanya.
“Hm,” jawab Gabriel cuek kembali berdiri seperti biasa.
“Kakak mau kan bantuin cari Ify,” pinta Shilla.
“Lo ceritain dulu kenapa Ify bisa diculik,” kata Rio dingin tapi tersirat sebuah ke khawatiran pada nadanya.
Shilla menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ya sebenarnya ia bingung mau jelasin kayak gimana. “Hmm, sebenarnya sih gue kurang yakin kalau Ify itu diculik sama kaum hitam...” semua mata pun langsung mebulat menatap Shilla. Shilla yang melihat itupun langsung melajutkan ucapannya. “Tapi, denger kata kata Ify kemarin, akhirnya gue berfikir kalau Ify diculik.”
“Kata kata Ify.. apa?”tanya Rio.
Shilla pun menceritan obrolannya kemarin dengan Ify dan sekali kali matanya melirik kearah Rio. Memastikan bagaimana ekspresi dari Rio.
“Yang jelas Ify kayaknya mau pergi dari kehidupan Kak Rio. Apalagi kata pamit dari Ify buat gue ngrasa Ify mau pergi deh,” ucap Shilla hati hati. “Gue titip Via sama Agni ya. Jangan lupa The Hits Boys juga. Jaga mereka. Kayaknya gue harus turutin kemauan Kak Rio. Biar dia bahagia,” Shilla menirukan ucapan Ify kemarin dan membuat Rio langsung...
BUGHH
Shilla meringis melihat darah yang keluar dari tangan Rio. Kalau tadi, Gabriel sekarang Rio. tapi, lebih parahan Rio. Kayaknya Rio benar benar emosi deh.
“Ini salah gue,” Rio langsung jatuh terduduk sambil mengacak ngacak kepalanya. “Ya ini salah gue. Gue bego bego. Lo bego Rio.”
“Udah Yo. Lo jangan salahin diri lo kayak gini,” kasihan Alvin yang melihat Rio memukul kepalanya sendiri.
“Iya Kak. Sebaiknya kita cari keberadaan Ify sekarang,” saran Via.
Alvin pun langsung memencet salah satu tombol agar lift yang mereka tunggangi (?) berjalan kembali ketempat tujuan awal.
***



Obligatie Part 8

Tittle : Obligatie Part 8
Cast : Ify | Rio | Via | Alvin | Shilla | Gabriel | Agni | Cakka |
Genre : Romance, Friendship, Action, etc,-
Author : Yanti Lestari | @yanti_lestariA


“Diem atau gue cium lo,” Ancam Rio kemudian memasukkan Ify kedalam mobilnya.

“Kita mau kemana Kak?” Tanya Ify.

“Diem,” Perintah Rio mengancam.

Ify pun diam membisu. Tak berani mengeluarkan suara. ‘Daripada dicium Rio lebih baik jadi batu’ Batinnya.

30 menit perjalan akhirnya mereka telah sampai. Rio pun kembali menggendong Ify.

“Kak ngapain kita kesini? Tanya Ify heran.

“Lo minta gue nikahin kan?” Tanya Rio yang tetap menggendong Ify memasuki sebuah butik terkenal di Jakarta.

Seketika mata Ify melebar mendengar ucapan Rio. “Heh siapa yang minta lo nikahin gue. Gue gak pernah minta tauk,” Kata Ify sambil membrontak dalam gendongan Rio.

“Lo bisa diam gak sih,” Gertak Rio tajam tapi Ify tetap aja memberontak digendongan Rio.

CHUP

Rio mencium sekilas bibir Ify yang membuat Ify langsung diam mematung. Shock mungkin itu yang dirasakan Ify.

Rio pun memasuki butik tersebut kemudian mendudukkan (?) Ify disalah satu sofa yang ada diruangan itu. Tak lama kemudian muncul seorang wanita berumur sekitar 35 an sambil membawa empat gaun elegan berwarna putih.

“Siapa nama calon anda tuan?” Tanya wanita itu sopan.

“Ify,” Balas Rio singkat.

Wanita itu pun langsung memberikan gaun berwarna putih tanpa lengan yang dihiasi berbagai macam pernak pernik yang membuat gaun itu semakin ‘WOW’.

Rio pun menerima gaun itu, kemudian menyerahkannya kepada Ify. “Pake,” Perintah Rio. Ify pun langsung mengambil gaun itu dengan wajah menunduk kemudian memasuki ruang ganti yang tak jauh dari situ.

Didalam ruang ganti Ify memegang bibirnya tidak percaya. Yang dilakukan Rio tadi padanya membuat jantungnya berdetak lebih kencang. Dan sekarang Rio ingin menikahinya. Wow sepertinya Ify sangat bahagia saat ini. Rasanya ia ingin berteriak sambil melompat lompat sperti orang gila di tengah tengah jalan. Entahlah kenapa ia kepikiran untuk melakukan itu. Apakah ia sudah gila? Ya, sepertinya ia sudah gila. Gila karena seorang Rio.

Diluar Rio merutuki kebodohannya tadi. Kenapa ia sampai kelepasan seperti itu? Aishh sepertinya pikiran dan hatinya berbeda jalan sekarang. Dan sekarang perasaan was was menghantui pikiran Rio. Ia takut Ify akan membencinya gara gara kelakuannya tadi. Lo bodoh Rio. rutuknya dalam hati.

Tiba tiba pintu masuk/keluar butik tersebut terbuka. Terlihat Shilla, Via, Agni, Cakka, Alvin dan Gabriel. Mereka kemudian duduk disofa tempat dimana Rio duduk. Bingung. Itu yang pertama kali merasuki pikiran mereka yang melihat Rio seperti orang frustasi.

Wanita tadi pun muncul sambil membawa 3 gaun ditangannya. Setelah menanyai nama ketiga gadis itu, wanita tersebut pun langsung menyerahkan gaun mereka masing masing. Via, Shilla dan Agni pun kemudian memasuki ruang ganti.

“Lo kenapa Yo?” Tanya Cakka sambil menatap Rio dengan bingung.

“Gpp,” Jawab Rio singkat kemudian mengacak ngacak rambutnya.

“Lo gugup atau lo takut?” Tanya Gabriel

“Gue takut,” Jawab Rio lirih.

“Lo takut nikah?” Tanya Cakka. Rio pun menggelang. “Terus?”

“Gue takut Ify benci sama gue.”

“Benci? Kenapa? Ia nolak nikah sama lo?” Tanya Alvin.

“Iya. Tapi penyebab utamanya karena tadi gue nyium Ify.” Kata Rio lirih pada akhir kalimat.

“Cium pipi kan? Gak masalah,” Kata Alvin enteng.

“Bukan pipi. Tapi....”

“Gila lo Yo. Lo nyium bibir?” Tanya Gabriel shock. Rio pun Cuma mengangguk kecil.

“Gue juga gak tau kenapa gue sampai kelepasan ngelakuin itu,” Kata Rio lirih.

“Lo gak nafsuan kan Yo?” Tanya Gabriel hati hati.

“Enggak lah. Kalau gue nafsuan gak mungkin tuh gue tolak cewek cewek cantik yang deketin gue,” Kata Rio keki. Ia kesal kalau dikatain nafsuan.

“Berarti lo udah jatuh cinta sama Ify,” Kata Cakka tersenyum menggoda.

“Gue juga udah sadar kali Kka,” Jawab Rio.

“Kalau lo nyium Ify berarti wajar karena hati lo yang minta atau Mungkin juga karena lo kangen sama Ify,” Kata Cakka bijaksana.

“Hmm bisa jadi tuh Yo. Kayak gue tadi kelepasan nyium pipi Via,” Kata Alvin.

“Lo mending reaksi Via biasa aja. Lah reaksi Ify kayak sedih gitu. Gue kan jadi takut kalau Ify itu....”

“Sebaiknya lo tanya langsung aja perasaannya Ify sama lo. Lo jangan paksa dia buat nikah sama lo,” Kata Gabriel menasehati.

“Dia nolak nikah sama gue kok Gab,” Jawab Rio.

“Tau darimana lo?” Tanya Cakka.

“Dia tadi berontak di gendongan pas gue ajakin masuk kesini. Nah pas berontak tadi gue nyium Ify,” Jawab Rio sendu. “Apa gue harus lepasin Ify?”

“Gue yakin Ify juga punya perasaan lebih sama lo,” Kata Cakka yakin.

“Gak usah hibur gue Kka kalau pada akhirnya nyakitin,” Kata Rio.

“Gue gak ngehibur lo Yo. Mungkin aja waktu berontak Ifynya minta berhenti dan minta kejelasan sama lo terlebih dahulu. Terus pas Ify nunduk mungkin itu bukan dari bentuk kesedihannya tapi, dia nyembunyiin kesaltingannya. Coba deh lo fikir kalau ada cowok yang cium cewek tanpa perasaan sedikitpun pasti tu cewek langsung nampar tu cowok. Sama juga kayak lo nyium Ify. Kalau Ify gak suka sama lo seharusnya lo tadi udah ditampar dan mungkin babak belur. Lo sendiri kan taukan kalau Ify bisa bela diri.”

“Hmm, pemikiran yang logis tuh,” Kata Gabriel.

“Gimana Yo, lo ngertikan maksud gue,” Kata Cakka. Rio pun mengangguk kemudian tersenyum kearah Cakka.

“Thanks Sob,” Kata Rio.

“Yaudah ayo kita ganti sekarang,” Ajak Gabriel.

***

Acara pernikahan sederhana mereka telah selesai. Acara itu hanya dihadiri oleh saudara saudara besar mereka dan dirahasiakan sementara dari publik.

Saat ini mereka tengah berada dirumah Ify. Mereka memang akan tinggal dirumah Ify bersama sama untuk sementara waktu. Alasnnya ya mereka gak bisa pisah satu sama lain. Apalagi yang ladys.

“Ngantuk,” Kata Shilla dan langsung berbaring di tempat tidur khusus untuknya saat bermalam dirumah Ify.

Gabriel pun yang melihat itupun tidur disamping Shilla kemudian memeluknya. Shilla yang merasakan ada yang memeluknya pun membuka matanya dan menolehkan wajahnya.

“Loh Kak Gabriel ngapain meluk gue?” Tanya Shilla sambil melepas pelukan Gabriel tapi, kenyataannya hanya sia sia karena Gabriel memeluknya semakin erat.

“Kenapa? Gue kan suami lo. Berarti ini hak gue,” Kata Gabriel sambil memejamkan matanya.

“Tapi Kak—“

“Udah ya sayang. Aku ngantuk,” Potong Gabriel cepat dan mau tak mau Shilla diam sambil memanyunkan bibirnya.

Ify dan Via yang sudah menyusun rencana pun langsung tidur berdua diranjang Ify. Mereka sengaja. Mereka belum siap.

“Via balik,” Perintah Alvin dingin dan ternyata Alvin sudah tiduran dikasur Via.

“Gak mau Kak. Gue mau tidur bareng Ify,” Tolak Via yang membuat Alvin lagsung membuka matanya lalu bangkit dari tidurnya.

Alvin langsung menghampiri Via dan langsung menggendongnya dan membawanya kekasurnya.

“Kak Al—“

“Diam atau malam ini menjadi malam pertama kita,” Ancam Alvin.

Seketika mata Via membulat mendengar ucapan Alvin. Bukannya Alvin dan juga sahabatnya itu berjanji gak akan macam macam sebelum lulus kuliah. Nah ini? }_{ . Alvin pun langsung membaringkan Via kemudian memeluknya dengan posesif.

“Yahh,” Ify menghembuskan nafasnya, kemudian menatap Rio yang tengah terduduk diseberangnya dan memainkan hp. Ify kemudian mengalihkan pandangannya kearah Agni yang ternyata sudah tertidur bersama Cakka disampingnya. Ify pun mengambil headsetnya lalu memasangnya ditelinganya dan menutup matanya. Tak lama kemudian, Ify merasakan tangan yang melepas headset yang bertengger ditelinganya.

“Gak baik tidur sambil headsetan,” Bisik Rio ditelinga Ify.

“Selamat malam sayang. Have nice dream,” bisik Rio (lagi) lalu mengecup kening Ify lama. Rio tersenyum melihat semburat merah jambu yang muncul di pipi Ify. Ia tau kalau Ify belum tidur.

***

“Kak bangun udah pagi,” Kata Shilla sambil menggoyang goyangkan badan Gabriel yang ditutupi oleh selimut tebal.

“Aishh gue masih ngantuk.”

“Lo gak kuliah kak?”

“Gak. Gue masuk siang.”

“Tapi, lo harus bangun. Anterin gue sekolah yah,” Shilla membuka selimut yang menutupi tubuh gabriel tapi, kemudian Gabriel menariknya lagi.

“Kak—“

“Lo kan udah gedekan. Ngapian pake diantar segala.”

“Yaudah kalau lo gak mau,” Shilla memanyunkan bibirnya. Tapi, itu semua tidak berlangsung lama. Tiba tiba Shilla tersenyum sinis sambil menatap Ify, Via dan Agni seolah olah mereka saling berbicara lewat mata. “Hmm terus kita berangkat sama siapa?”

“Fy, dekat sini ada anak yang sekolah di VINCOW INTERNASIONAL HIGH SCHOOL juga gak sih?” Tanya Agni.

“Gak ada Ag. Tapi, biasanya Riko lewat jalan sini sih,” Jawab Ify.

“Riko? Riko Sanjaya. Riko Sanjaya yang suka sama Shilla itu?” Tanya Agni. Ify pun mengangguk. “Ngapain? Terus lo kok tau?”

“Kan dia punya teman didaerah sekitar sini. Gue tau karena sering ketemu di perempatan didekat minimarket,” Jawab Ify sambil tersenyum geli kearah Shilla yang tengah mengumpat.

“Bareng boleh kali ya,” Kata Via.

“Mungkin boleh.”

“Tapi, kan tu anak bawa motor. Gak mungkin kan kita berempat gandengan dengan Riko,” Kata Shilla sambil memakai sepatunya.

“Tenang aja. Riko kan punya banyak teman. Pasti temannya mau lah.”

“Kau fikir aku percaya dengan kata katamu sayang,” Nyanyi Rio.

“Yaudah lo bertiga tunggu disini.” Kata Ify lalu berjalan kearah balkonnya.

“Mau kemana lo Fy?” Tanya Via.

“Lihat aja nanti,” Kata Ify tanpa menghentikan langkahnya.

“VANOOOOOOO” teriak Ify.

“Lo ngapain Fy teriak teriak gak jelas gitu sih?” Tanya Shilla yang sudah berdiri diambang pintu antara balkon dan kamar Ify bersama Via dan Agni.

“Katanya mau nebeng sama Riko. Nah salah satu teman Riko itu tetangga gue.”

“Apaan sih Py?” Keluarlah lelaki bertubuh tinggi dan berkulit putih. Tak lupa pula rambutnya ala ala boy band korea menambah kadar kegantengan diwajahnya.

“Sehun,” lirih Via terpesona.

“Gans banget,” kompak Shilla dan Agni.

“F Van bukan P. Ulang,” perintah Ify.

Terlihat Vano menghembuskan nafasnya kesal. “Ada apa Ify cantik.”

“Nah gitu dong. Hm gue boleh nebeng lo gak?”

“Nebeng? Kesekolah?.”

“Iya. Boleh nggak?”

“Boleh kok.”

“Huwaa thanks Vano. Tapi, gue nebeng bareng ketiga temen gue,” kata Ify sambil menatap sekilas Via, Shilla dan Agni yang tengah saling balas senyum dengan Vano.

“Yah, tapi gue bawa motor hari ini.”

“Hmm kira kira ada gak teman lo yang mau nebengin ketiga teman gue ini.”

“Ohh kalau soal itu mah gampang. Nanti gue telpon teman gue buat mampir kesini,” kata Vano sambil tersenyum. “Oh ya kayaknya gue tau deh sama teman lo yang itu.”

“Shilla? Yaiyalah lo tau. Shilla kan cewek yang disuka sama Riko.”

“Oh pantesan kayak familiar gitu sama wajahnya. Yaudah siap siap gih, gue mau sarapan dulu.”

“Oke.”

Ify, Via, Shilla dan Agni pun berjalan memasuki kamar. Tapi, tiba tiba mereka membeku menemukan The Hits Boys yang menatap mereka secara tajam dengan pakaian yang sudah rapi.

“Gue antar lo kesekolah,” kata Gabriel lalu berdiri mengambil kunci motornya.

“Gak usah kak. Kita udah nebeng sama temannya Ify,” kata Shilla ragu.

“Apa? jadi, lo lebih mau dianter kesekolah sama orang lain daripada sama gue.”

“Bukan gitu kak. Tapi, kan kakak masih ngantuk. Gue gak mau ganggu tidur kakak.”

“Terus lo pikir gue lebih milih tidur saat lo goncengan (?) sama cowok lain gitu. Lo berempat itu childish tau gak. Hal gini aja lo udah cari cowok lain apalagi kalau hal yang lebih dari ini.”

Hening. Tidak ada yang membuka suara lagi. Mereka sedang terhanyut kedalampikiran mereka masing masing. SISA mencoba untuk menahan tangisnya. Mereka tidak mau menangis didepan cowok keren ini. Bisa bisa mereka diledekin habis habisan yang pada akhirnya nyut dihati.

“Ayo kita antar lo kesekolah,” ucap Rio membuka suara.

“Gak usah Kak. Kita berangkat sendiri aja,” jawab Ify.

“Bagus kalau gitu. Tapi, awas kalau lo sampai nebeng sama cowok lain,” ancam Alvin dingin.

“Iya kak,” kompak SISA.

SISA berjalan keluar rumah tanpa melakukan kewajiban mereka. Jadi, mau tidak mau SISA harus melepas kalung mereka dan menambah sakit di fisik maupun dibatin mereka. Selanjutnya mereka menyetop taksi yang baru saja lewat. Sebelumnya Ify sudah meng sms Vano kalau ia tidak jadi nebeng dengannya.

***
 lanjut?

maaf cerbung Obligatie baru muncul...

InsyaAllah cerbung yang lain bakal menyusul dilain hari...

:-D

Obligatie Part 7

Ify membuka matanya karena menyadari ada tangan yang melingkar di pinggangnya dari belakang. ‘Tumben Via meluk gue,’ Batin Ify kemudian berbalik badan. “Huwaaaaaaaaaaaaa,” Teriak Ify saat melihat wajah Rio dekat dengan wajahnya.
Mendengar teriakan Ify semua orang yang ada disitu terbangun. Dan tiba tiba layaknya paduan suara, Via, Agni dan Shilla ikut ikutan berteriak kompak. “Ahhhhhhhhhhhh” Teriak Via, Agni dan Shilla kompak.
“Kakak Apain gue,” Kata Shilla dan menjauh dari Gabriel.
“Huwaa Kak Alvin gak apa apain gue kan?” Tanya Via dengan mata yang mulai berkaca kaca.
“Gue gak apa apain lo kok Vi. Sumpah? Gue juga gak tau kalau gue udah disini.”
“Kok gue bisa ada disini sih. Perasaan tadi pagi gue tidurnya bareng Via deh,” Kata Ify mulai ketakutan.
“Kak Cakka lo kenapa bisa disini?” Tanya Agni.
“Seharusnya yang nanya itu gue, kenapa lo bisa tidur disini?” Tanya Cakka heran.
“Terus sekarang gimana dong?” Tanya Agni ketakutan.
“Hiks.....” Tangis Shilla.
“Oke kita bakal nikahin kalian sekarang,” Kata Gabriel tegas dan diangguki setuju oleh Rio, Alvin dan juga Cakka.
“WHATTT,” Shock Ify dan Agni sedangkan Shilla dan Via hanya membulatkan matanya karena shock. “Lo sehat kan Kak?” Tanya Ify.
“Terus lo maunya apa hah?” Tanya Rio.
“Aishh......” Frustasi Ify.
“Emang orang tua kita setuju?” Tanya Agni.
“Biar kita yang ngomong,” Kata Gabriel sambil mengambil hpnya yang tergeletak dimeja yang berada disampingnya.
Terdengar suara panggilan tersambung. Sepertinya Gabriel serius dengan kata katanya.
“Halo,” Sapa pemilik suara berat dari ujung telpon. Sepertinya Gabriel sengaja menloudspeaker hpnya.
“Halo pah,” Sapa balik Gabriel.
“Kamu sekarang dimana Gabriel?” Tanya Pak Ilham ayah Gabriel. “Kata penjaga, semalam kamu pergi dengan dua orang wanita. Mereka bukan selingkuhanmu kan?” Tanyanya lagi yang membuat Ify dan Agni shock mendengarnya sedangkan Gabriel membulatkan matanya. Apa yang difikirkan oleh ayahnya itu? Teganya ayahnya mengatai dirinya tukang selingkuh.
“Gue kelihatan banget ya kayak cabe cabean,” Gumam Ify yang dihadiahi delik’an mata dari Rio.
“Apa apan Papa ini. Mereka itu Ify dan Agni. Pacarnya Rio sama Cakka,” Balas Gabriel jengkel.
“Oh kirain,” Kata Pak Ilham tanpa dosa. “Terus sekarang kamu dimana?” Tanyanya.
“Dirumah Ify. Shilla sakit,” Kata Gabriel.
“Oh,” Kata Pak Ilham ber-o-ria. “Sebenarnya papa mau ngomong penting sama Kamu,” Kata Pak Ilham.
“Apa pa?” Tanya Gabriel penasaran.
“Papa sama Pak Dirga sudah merencanakan acara pertunanganmu dengan Shilla. bareng dengan Acara pertunangan Rio Ify, Alvin Via, dan Cakka Agni,” Kata Pak Ilham serius.
“Langsung nikah aja Pah,” Kata Gabriel langsung tanpa basa basi.
“Apa?” Shock Pak Ilham.
“Kenapa Pah? Bukannya itu lebih baik.”
“Gabriel, umurmu itu masih 19 tahun. Terus kamu dengan mudahnya minta nikah,” Kata Pak Ilham tak percaya.
“Tak apalah pah. Rio, Alvin, dan Cakka juga,” Kata Gabriel.
“Yaampun,” Frustasi Pak Ilham.
“Pokoknya gabriel bakal nikah sama Shilla SEKARANG,” Kata Gabriel sambil menekan kata berlapslock.
“Apa? Sekarang?” Tanya Pak dengan nada berteriak.
“Iya pah. Kita berempat akan nikahin mereka sekarang,” Kata Gabriel jelas. “Jadi Papa, Om Martin, Om Guntur dan Om Kim harap ngomong dengan orang tua Shilla, Ify, Agni dan Via sekarang juga,” Terang Gabriel.
“Kamu jangan gila Gabriel,” Kata Pak Ilham.
“Gabriel emang udah gila Pah,” Jawab Gabriel seenaknya.
“Aishh, baiklah. Ingat kalian jangan nikah dulu. Kita harus minta persetujuan orang tua mereka,” Kata Pak Ilham.
“Iya Pah,” Balas Gabriel kemudian percakapan tersebut telah selesai.
“Kalian berempat udah dengar sendiri kan,” Kata Gabriel sambil tersenyum kemenangan.
“Gila lo Kak,” Kata Agni kemudian masuk kekamar mandi dan menutup pintu kamar mandi dengan sekali bantingan.
“Kenapa harus nikah sih Kak? Lagian kakak gak nyentuh kita kan?” Tanya Ify.
“Gue meluk lo Fy,” Jawab Rio sedangkan Alvin, Cakka, dan Gabriel Cuma menggeleng.
“Maksud gue bukan gitu Kak. Lagian lo udah sering meluk gue terus gue gpp kan. Jadi, kita gak usah nikah,” Kata Ify.
“Betul tuh kata Ify Kak,” Kata Via mendukung, sedangkan Shilla Cuma mengangguk setuju.
“Tapi, gue kan udah ngomong sama bokap gue,” Kata Gaabriel tanda tidak setuju.
“Lagian kenapa kalau gue nikahin lo? Lo gak suka?” Tanya Alvin dengan nada tak bersahabat.
“Bukannya gitu Kak, umur Via itu masih 17 tahun ditambah lagi Via juga masih sekolah,” Kata Via menjelaskan.
“Terus kenapa?” Tanya Alvin sinis.
“Kita itu masih muda Kak. Masih mau ngecengin cowok cowok ganteng nan ketjeh yang berkeliyaran di bumi ini,” Kata Ify sambil terseyum lebar. Maksud hati ingin bercanda eh malah dianggap beneran oleh The Hits Boys.
“Betu tuh,” Kata Via dan Shilla kompakan.
“Kenapa Kak. Kok lihatin gue kayak gitu?” Tanya Ify ke Rio yang tengah menatapnya tajam. “Gue emang cantik Kak. Tapi, gak usah natap gue segitunya,” Tambah Ify yang membuat Rio tambah menatap Ify lebih tajam.
CKLEK..
Suara pintu kamar mandi yang terbuka. Terlihat Agni yang keluar dari kamar mandi dengan seragam sekolahnya. Baju berwarna putih dengan rok diatas lutut dengan corak kotak kotak hitam abu abu.
“Lo mau sekolah Ag?” Tanya Via.
“Yaiyalah. Gue kan mau lomba,” Kata Agni.
“Oh iya ya,” Kata Ify menepuk jidatnya. “Bisa digorok gue sama Dayat kalau gue gak masuk,” Kata Ify bergegas masuk kekamar mandi.
“Lo berdua gak usah masuk kalau masih sakit,” Kata Agni sambil menyisiri rambut hitamnya.
“Nggak deh Ag. Gue mau masuk. Mau nonton lo berdua,” Kata Via dan diangguki oleh Shilla.
“Yaudah terserah kalian,” Kata Agni yang telah selesai mengikat rambutnya.
Via pun masuk kekamar mandi yang kosong. Ya, dikamar Ify yang luas itu terdapat dua kamar mandi. Ify sengaja. Katanya sih kalau yang satunya rusak masih ada yang lain. (ada ada saja sih Ify ini)
“Eh Shill gue ikut,” Kata Shilla sambil berlari masuk kekamar mandi.
Hening! Tidak ada yang membuka suara lagi. Agni yang sibuk dengan gitarnya sedangkan The Hits Boys yang sibuk dengan pikiran mereka masing masing.
CKLEK!
Suara 2 pintu terbuka secara bersamaan. Tiga wanita cantik keluar denga seragam mereka. Ify kemudian berjalan ke meja riasnya kemudian menyisiri rambutnya dan mengikatnya ekor kuda. Begitupula Via dan Shilla.
“Tumben kita kompakan,” Kata Shilla sambil memperhatikan dirinya dan ketiga sahabatnya.
“Iya ya. Tumben rambut kita dikuncir kuda semua,” Jawab Via.
“Hehehe,” Cengir mereka kompak.
“Udah hapal Ag sama kunci nadanya?” Tanya Ify.
“Udahlah. Agni gitu---“
Tiba tiba suara hp berbunyi memotong ucapan Agni. Gabriel yang merasakan hpnya berbunyi pun langsung mengangkat hpnya dan menloudspeakernya.
“Halo Gabriel.”
“Iya Pah”
“Kita semua setuju dengan rencana kalian,” Kata Pak Ilham to the point.
“Tapi Pah----“
“Apa lagi Gabriel? Papa udah pusing mikirin tingkah aneh kamu,” Kata Pak Ilham kesal. “Sebaiknya Kalian ketempat pernikahan kalian. Nanti papa kiri alamatnya,” Kata Pak Ilham dan langsung menutup telponnya.
“ARGGH...” Geram Gabriel sambil membanting hpnya kekasur.
“Aishh. Kenapa sih tuh orang?” Gumam Ify.
“Gak tau. Bukannya tadi kayak seneng banget ya. Disetujuin malam kayak orang stress gitu,” Bisik Via ke Ify.
“Kenapa Kak hpnya dibanting?” Tanya Via yang udah penasaran dengan berubahnya sikap Gabriel.
Gabriel tidak menjawab pertanyaan Via malah menatap tajam Via kemudian Shilla. Shilla yang ditatap tajm begitu bingung sendiri. ‘Perasaan yang nanya tadi Via deh. Kok mala gue yang ditatap tajam gitu,’ Batin Shillaa kemudian menundukkan kepalanya karena takut sendiri dipandang begitu.
Tiba tiba hp Ify berbunyi dan memecah keheningan diruangan itu. Ify pun langsung mengangkat telpon tersebut.
“Halo,” Sapa Ify terlebih dahulu.
“...........”
“Belum. Kenapa? Lo mau jemput?” Tanya Ify.
“..........”
“Kenapa?”
“...............”
“Oh. Syukur deh,” Kata Ify sambil terssenyum.
“......................”
“Apa? Gila lo. Kenapa gak bilang dari semalam sih,” Maki Ify.
“...................”
“Oke oke,”
“.....”
“Hmmm” Balas Ify kemudian membanting hpnya kelantai. Untung saja hpnya tak apa apa. kalau rusak Ify mau pake apa?
“Lo kenapa Fy?” Tanya Via. “Gue heran deh kenapa pagi pagi gini banyak banget orang yang banting hpnya,” Tambahnya sambil geleng geleng.
“Hari ini kita gak masuk sekolah,” Kata Ify.
“Yah baguslah neng,” Kata Shilla. “Terus kenapa lo marah marah gitu?” Tanya Shilla heran.
“Iya sih bagus. Tapi, lagunya diganti neng,” Kata Ify cemberut.
“Diganti?” Tanya Agni shock.
“Iya Ag. Pake acara lagu pegantinya belum tau lagi.”
“Itu mah derita lo,” Kata Via mengejek.
“Lo jangan seneng dulu Vi.”
“Kenapa?”
“Lo nanti juga ikut neng bareng Shilla,” Kata Ify sambil tersenyum miring.
“Kok bisa?” Tanya Via dan Shilla barengan.
“Sistemnya dirubah. Group Band berkaloborasi dengan boy/girl band. Nah lo berdua kepilih deh jadi girl bandnya,” Kata Ify.
“Terus lo?” Tanya Shilla.
“Dengan terpaksa gue sama Agni masuk girl band,” Kata Ify.
“Terus lagunya apa?” Tanya Via.
“Ya mana gue tau,” Kata Ify sambil mengedikkan bahunya.
“Kita pergi dulu,” Kata Gabriel bangkit mengambil hpnya kemudian langsung memeluk Shilla. Begitupula dengan Rio, Alvin dan Cakka yang langsung memeluk Ify, Via dan Agni tanpa sepotong kata apa pun. Setelah itu, mereka pergi begitu aja.
“Mereka kenapa?” Tanya Via bingung.
“Gak tau,” Jawab Ify mengedikkan bahunya.
“Kita jadi nikah gak sih?” Tanya Shilla.
“Gak tau,” Jawab Agni.
“Huwaa kita digantung,” Kata Via histeris.
“Kalau sampai Kak Gabriel gak nikahin gue, gue bakal bunuh Kak Gabriel,” Kata Shilla kesal.
“Kalau lo bunuh Kak Gabriel, terus ayah dari anak diperut lo siapa?” Tanya Ify tersenyum menggoda kearah Shilla.
“IFYYYYY” Pekik Shilla sambil melemparkan bantal kearah Ify yang sama sekali tidak mengenai Ify.
“Wlek... :-p.”
“Hahhaha,” Tawa Agni dan Via memenuhi ruangan.
***
“Apa maksud kalian berempat membatalkan pernikahan kalian?” Tanya Pak Ilham geram.
“Gak apa apa pah,” Kata Gabriel santai.
“GABRIEL,” Marah Pak Ilham. “Kamu jangan main main sama hal seperti ini. Papa udah mempersiapkan semuanya Gabriel.”
“Sudahlah Ilham. Tak apa apa,” Kata Pak Dirga.
“Maafkan Gabriel Dirga. Saya juga tak tahu apa yang ada dipikiran bocah bodoh itu,” Kata Ilham meminta maaf ke ayah Shilla.
Gabriel yang dikatai bodoh oleh papanya pun mencoba menahan emosinya. Sungguh siapa pun orangnya pasti bakal marah jika dikatai bodoh oleh orang tuanya padahal kenyataannya nggak.
“Tak apa Ilham. Sebaiknya kita kembali kerencana awal kita. Tunangan,” Kata Pak Dirga.
“Tidak usah om,” Jawab Gabriel.
“Kenapa?” Tanya Pak Dirga heran.
“Shilla tidak mencintai saya om. Jadi, tidak ada pertunangan maupun pernikahan,” Kata Gabriel kemudian berjalan naik ke lantai atas atau lebih tepatnya kamarnya. Rio, Alvin, dan Cakka ikut ikutan naik kekamar Gabriel. Tapi, langkah mereka terhenti karena orang tua mereka.
“Rio”
“Alvin”
“Cakka”
“Jawabannya sama dengan Gabriel,” Jawab Cakka kemudian melanjutkan perjalanannya ke lantai atas diikuti Rio dan Alvin.
“Maafkan anak kami,” Maaf Pak Guntur.
“Tak apa. Sepertinya anakmu tidak bisa diajan bercanda,” Kata Pak Juna.
“Iya. Mereka tak bisa diajak bercanda. Mereka selalu serius. Maksud dari perkataanmu apa?” Tanya Pak Guntur.
“Anak kami suka sekali bercanda. Mereka kalau bercanda tidak pernah melihat siklon. Dan mungkin saja anak kami tadi berkata sesuatu yang membuat anakmu salah paham,” Jelas Pak Gunawan.
“Yah mungkin saja. Biarkan. Nanti pasti baikan sendiri,” Kata Pak Martin.
***
“Aishh siapa sih yang nelpon,” Kata Shilla sambil mencari cari hpnya di meja disamping tempat tidurnya. Betapa kesalnya dirinya pada orang yang mengganggu tidurnya. Tak tahukah kalau semalam dirinya tidak bisa tidur.
“Halo,” Sapa Shilla ketus tanpa melihat siapa yang menelpon.
“........”
“Eh maaf mah,” Kata Shilla setelah mengecek siapa yang menelponnya.
“..........”
“Ngapain mah?”
“..........”
“Kok gara gara Shilla,”
“.........”
“Iya iya mah,” Kata Shilla.
“............”
“Iya mah bye,” Kata Shilla kemudian menggeletakkan hpnya kembali ketempat semula.
“WOY BANGUN WOY,” Teriak Shilla.
“Ada apa sih shill?” Tanya Ify kemudian mengucek ngucek kedua matanya.
“Yaampu Shilla gak pake pake teriak kali,” Marah Agni.
“Hoammmm,” Kata Via.
“Woy kita disuruh kerumahnya kak Gabriel, SEKARANG,” Kata Shilla menekankan kata berlcapslock.
“Ngapain sih?” Tanya Agni yang masih mengantuk.
“Kata nyokap gue Kak Gabriel, Kak Alvin, Kak Rio sama Kak Cakka belum makan dari kemarin. Katanya mereka gitu gara gara kita,” Jelas Shilla.
“Kok gara gara kita sih?” Tanya Ify bingung.
“Gak tauk,” Kata Shilla sambil mengedikkan bahunya keatas. “Jadi, sekarang kita harus ke rumah Kak Gabriel,” Kata Shilla kemudian berjalan memasuki kamar mandi untuk mengganti bajunya.
***
“Permisi,” Sapa Ify memasuki rumah Gabriel.
“Eh, Kalian udah datnag. Duduk sini,” Kata Pak Ilham ramah.
“Iya Pak,” Kata SISA kompak kemudian duduk berhadapan dengan orang tua mereka.
“Gimana kabar kalian?” Tanya Pak Ilham.
“Baik pak,” Jawab SISA kompak.
“Eh, kalian tadi ngajak bercanda pacar kalian?” Tanya Mama Shilla.
“Bercanda? Nggak kok tante,” Jawab Agni.
“Gak mungkin. Kalian tau tadi mereka membatalkan pernikahan kalian dan juga menolak pertunangan kalian,” Kata Mama Via.
“Via ingat mah,” Kata Via yang membuat semua orang menatap Via. “Ini semua gara gara Ify,” Tambahnya.
“Hah kok gara gara Ify,” Kata Ify bingung.
“Coba deh lo inget inget apa yang lo katakan tadi pagi,” Kata Via.
“Apaan sih?” Tanya Ify bingung+frustasi.
“Gue ingat Vi,” Kata Shilla.
“Apaan sih Shill?” Tanya Ify bingung.
“Masa lo gak inget waktu lo ngomong gini ‘Kita itu masih muda Kak. Masih mau ngecengin cowok cowok ganteng nan ketjeh yang berkeliyaran di bumi ini’ “ Kata Shilla meniru ucapan Ify.
“Oh iya ya,” Kata Ify cengengesan. “Tapi kan, gue Cuma bercanda,” Tambahnya.
JLETAK
“Kamu ini ada ada saja. Sudah tau pacar mu gak bisa diajak bercanda, eh kamu malah ngajakin bercanda,” Kata Pak Hendra setelah menjitak Ify.
“Ih mana Ify tau pah,” Kata Ify cemberut sambil mengelus ngelus pelipisnya yang habis dijitak oleh papanya.
“Sekarang kalian bujuk mereka sampai mereka mau makan,” Kata Pak hendra oteriter.
“Iya pah/Om,” Kata SISA kompak.
***
“Kak..” Panggil Ify sambil mengetuk pintu kamar Gabriel.
“Kakak....”Panggil Shilla.
“Kakak Ganteng...” Panggil Via.
“Woy kak buka pintunya. Nih kita bawain makanan,” Kata Agni tak ada manis manisnya.
“Kak Alvin buka pintunya dong,” Panggil Via sambil mengetuk ngetuk pintunya.
“Kak Rio makan dong,” Kata Ify yang terus menerus membujuk.
“Kak ayo dong dibuka. Kita juga mau makan tauk. Lo kata kita udah makan apa. kita juga belum makan dari kemarin,” Cerocos Agni kesal.
“Kak Gab, buka pintunya gue udah lemes nih. Gue juga mau makan,” Kata Shilla.
SISA lama lama kesal sendiri. Mereka sudah capek membujuk manusia es yang ada didalam kamar itu. Apa The Hits Boys gak mikir kalau mereka sudah lemas dan membutuhkan asupan gizi. Dasar manusia batu!!!
“Tauk ah. Terserah lo. Mau makan kek. Nggak kek. Gue gak peduli. Gue udah capek. Gue juga perlu makan,” Kata Agni dan duduk dilantai kemudian memakan nasi yang sebetulnya untuk Cakka.
“Eh, Ag kenapa lo makan?” Tanya Via.
“Gue udah laper Vi. Lo gak lihat tahngan gue udah gemeteran,” Kata Agni sambil menyupkan nasi ke mulutnya.
CKLEK
Pintu kamar terbuka. Agni yang memang duduk meyender di pintu itu pun hampir saja terjengkang kebelakang. Untung saja ada Cakka yang langsung menahannya. Bagaimana nasibnya kalau Agni beneran terjengkang kebelakang? Mungkin mukanya atau badannya sudah penuh dengan nasi yang dipegangnya.
“Yaampun Kak, kalau buka pintu itu ngomong dong. Untung aja gue gak kejengkang (?)” Kata Agni lalu berdiri dari duduknya.
“Masuk,” Suruh Gabriel dingin.
SISA pun berjalan masuk kekamar Gabriel kemudian duduk disofa yang ada disudut kamar Gabriel. Agni pun melanjutkan kembali makannya yang sempat tertunda.
“Siapa yang nyuruh lo duduk?” Tanya Gabriel dingin dan tajam.
“Yaelah Kak,” Kata Shilla cemberut sambil berdiri dari duduknya.
“Ganggu aja lo kak,” Kata Agni kesal karena kegiatan makannya harus terganggu.
“Eh ini nasi gue kan. Kenapa lo makan?” Kata Cakka sambil merebut piring yang berisi nasi dari tangan Agni kemudian memakannya sambil duduk disofa yang tadi diduduki SISA.
“Aishh Kak Cakka,” Kata Agni lalu melemparkan bantal sofa sembarangan. “Gue ini lapar kak. Dari kemarin belum makan,” Kata Agni sambil mencak mencak.
Cakka pun langsung menarik tangan Agni agar duduk disampingnya.
“Nih makan,” Kata Cakka sambil mengarahkan sendok yang berisi nasi ke mulut Agni.
“Gak. Buat lo aja,” Jawab Agni menolak.
“Makan,” Gertak Cakka sambil menatap Agni tajam. Entah kenapa Agni langsung menurutinya.
“Kak makan,” Kata Ify kemudian meletakkan piring berisi nasi tersebut disebelah Rio.
“Gue gak lapar,” Kata Rio tanpa menatap Ify.
“Yaudah terserah lo,” Kata Ify lalu duduk dilantai dan menyandarkan diri ke tembok. Kemudian mengambil I-Phonenya yang berada disaku celananya.
“Kak Ini makanan lo,” Kata Via sambil menyerahkan piring yang dipegangnya.
Alvin hanya menatap nasi yang diserahkan Via sebentar kemudian mengalihkan pandangannya kembali. “Buat lo aja,” Kata Alvin datar.
“Gue masih kenyang Kak. Lo makan ya Kak,” Kata Via membujuk Alvin. Kemudian Via duduk disamping Alvin. Setelah itu mengarahkan sendok berisi nasi ke Alvin. “Kak makan ya. Via suapin,” Kata Via.
Alvin menggelengkan kepalanya. “Gue gak lapar.”
Via menghela nafasnya kasar. ‘Yaampun kenapa ada manusia batu kayak gini’ Batinnya.
“Kak Gab lo makan gak?” Tanya Shilla.
“......”
“Woy Kak gue nanya nih lo makan apa nggak?” Tanya Shilla kesal.
“.......”
“Tauk ah,” Kata Shilla kemudian duduk disamping Ify.
“Lo lagi ngapain Fy?” Tanya Shilla.
“Yang lo lihat gimana?” Tanya balik Ify datar.
“Sms.”
“Udah tau nanya,” Kata Ify tanpa menatap Shilla.
“Kenapa Dayat sms lo?” Tanya Shilla sambil melihat layar I-Phone Ify.
“Ngajakin latihan sekalian glady bersih,” Jawab Ify.
“Terus?”
“Ya gue bilang kalau kita lagi sibuk,” Jawab Ify sambil menggeletakkan hpnya di lantai.
“Oh. Bagus bagus bagus,” Kata Shilla.
“Kenapa?”
“Lagi males,” Jawab Shilla.
“Gue juga males,” Kata Via ikutan nimbrung dan duduk dihadapan Shilla dan Ify.
“Males mulu pikiran lo bertiga,” Kata Agni yang ikut ikutan nimbrung.
“Emang kenapa?” Tanya Via sinis.
“Gak pa pa sih. Tapi, gue kesel aja lo bertiga maels gak ngajak ngajak gue,” Kata Agni ketika selesai mengucapkan kalimat terakhirnya.
“Gak lucu,” Kompak SIS.
“Emang yang bilang lucu siapa?” Tanya Agni.
“Gak ada,” Jawab Ify.
“AHHHHHHH,” Teriak Via sambil membanting hpnya. Kemudian ia langsung memeluk Shilla sambil nangis sesenggukan.
“Lo kenapa Vi?” Tanya Shilla. Sedangkan Ify berjalan mengambil I-Phone Via yang sudah terbagi menjadi tiga. CRAG dan Agni menatap Via bingung.
Via tidak menjawab pertanyaan Shilla malah tambah nangis sesenggukan.
“Via kenapa?” Tanya Agni.
“Gak tau,” Kata Shilla sambil menggelengkan kepalanya.
“Urusan kemarin,” Jawab Ify sambil melemparkan Hp Via ke Agni dan ditangkap dengan sempurna oleh Agni.
“Gambar pocong,” Kata Cakka yang memang melihat apa yang dilihat Agni karena masih duduk disamping Agni.
“Oh cari gara gara ternyata,” Kata Agni sambil tersenyum miring.
“Udah Vi. Lo jangan nangis. Ada kita disini,” Kata Ify membujuk Via.
“Fy gue takut,” Kata Via masih sesenggukan.
“Udah deh. Biar hp lo yang bawa Agni,” Kata Ify. “Lo masih ada hp yang lain kan?” Tanya Ify kemudian.
Via pun mengangguk kemudian melap air matanya. “Nanti lo tidur bareng gue ya Fy,” Mohon Via.
“Iya,” Jawab Ify sambil tersenyum.
“Yaudah kita pulang ya,” Ajak Via.
“Oke,” Kata Ify lalu berdiri dari duduknya.
“Kak kita pulang,” Pamit Ify.
Rio pun berdiri dari duduknya kemudian memeluk Ify dan mencium puncak kepala Ify dengan kilat dan tanpa sepengetahuan Ify. Begitupula dengan Alvin, Gabriel dan juga Cakka yang langsung memeluk Via, Shilla dan Agni.
***
“Day, masih lama ya tampilnya?” Tanya Shilla.
“Kita terakhir neng,” Jawab Dayat.
“Terakhir? Masih lama dong,” Kata Shilla.
“Hmm” Jawab Dayat.
“Eh Fy, temenin gue kekamar mandi Yok,” Ajak Shilla ke Ify yang duduk dihadapannya.
“Ayok,” Kata Ify sambil mengangguk.
“Gue ikut,” Kata Via.
“Yudah lo berdua aja,” Kata Ify.
“Gak mau Fy. Harus sama lo juga. Gue masih takut,” Kata Via memohon.
“Iya ya,” Jawab Ify.
***
“Eh lo denger orang lagi ngomong nggak?” Tanya Ify lalu berhenti berjalan dan menajamkan pendengarannya.
“Iya Fy. Kayaknya dari sana deh,” Kata Via lalu menunjuk tembok yang ada diujung koridor.
Ify, Via dan Shilla berjalan mengendap ngendap menghampiri tembok tersebut.
“Bagaimana bom itu udah kamu simpan ditempat yang tersembunyi?”
“Rekam Fy,” Suruh Shilla berbisik. Ify pun mengambil hpnya lalu merekamnnya.
“Sudah tuan.”
“Bagus. Sekarang kita bergerak untuk membunuh Pak Ilham beserta keluarganya. Terutama Gabriel.”
“Baik tuan.”
“Sekalian kalian bunuh semua orang yang ada disini. Kebanyakan dari mereka adalah pengusaha pengusaha terkenal.”
“Baik Tuan.”
“Vi, cepat kamu kasih tau orang orang yang ada disini untuk segera untuk pergi dari sini,” Suruh Ify ke Via. Via pun mengangguk lalu berlari meninggalkan Ify dan Shilla.
“Fy, kok kalung gue bersinar ya?” Tanya Shilla.
“Gue juga Shill,” Kata Ify setelah mengecek kalungnya. “Jangan jangan mereka itu kaum hitam Shill.”
“Iya Fy.”
“Ingat. Jika kalian ketahuan aktifkan bom yang kalian sembunyikan.”
“Baik tuan.”
Semua orang yang memakai jubah hitam pun mulai menyebarkan diri. Melihat itu Ify dan Shilla pun keluar dari tempat persembunyiannya.
“Ekhem,” Dehem Ify.
Semau yang ada disitu pun memberhentikan langkahnya dan menatap Ify dan Shilla kaget.
“Siapa kalian?” Tanya Shilla.
“Kamu tak perlu tau siapa kami.” Kata ketua penyusup itu kemudian menghampiri Shilla dan Ify. “Yang perlu kalian lakukan sekarang yaitu, tutup mulut kalian atau..” Sambungnya sambil menodongkan pistol dikepala Ify dan Shilla. “..... kalian akan mati.”
“Lo pikir kita takut,” Kata Shilla dengan nada menantang untuk menutupi ketakutannya. “Jangan mimpi lo,” Sambungnya sambil tersenyum sinis.
“Oh jadi kalian ingin beneran mati. Oke kalau itu mau kalian,” Kata ketua penyusup tersebut dan perlahan lahan menarik peletuk kedua pistolnya. Shilla dan Ify yang melihat itu pun langsung menendang ketua penyusup tersebut secara bersamaan sehingga tembakannya meleset.
DORR
DORR
“Bagaimana?” Tanya Ify sambil menatap ketua penyusup tersebut yang masih tersungkur ditanah dengan tatapan meremehkan. “Anda jangan pernah meremehkan kita berdua.”
“bunuh mereka berdua,” Suruh ketua penusup tersebut kepada anak buahnya. Semua penyusup yang berjumlah kurang lebih 20 orang itu pun langsung menyerang Ify dan Shilla. Ify dan Shilla pun sempat kewalahan sehingga mendapat beberapa pukulan ditangan dan kaki mereka.
***
Via terus berlari sekuat tenaganya. Ia harus segera memberitahukan semua orang yang ada disini untuk segera meninggalkan tempat ini dan segera kembali untuk menyelamatkan kedua temannya.
Via pun naik keatas panggung yang tengah diisi oleh MC yang sedang bercocot (?) kata. Via pun langsung merebut mic dari tangan MC tersebut.
“VIA HARAP SEMUA YANG ADA DISINI SEGERA MENINGGALKAN TEMPAT INI,” Suruh Via dengan nafas senin-kamis.
“ADA APA VIA,” Teriak Pak Gunawan.
“PAPA SEGERA TINGGALIN TEMPAT INI PAH. ADA PENYUSUP.”
Semua orang yanga ada ditempat itupun berlari keluar ruangan. Via pun menghampiri kedua orang tuanya, Ortu SIA, Ortu The Hits Boys dan tentu juga teman temannya.
“Pah, mah cepetan pergi dari sini. Tante, Om, Kak ayo kalian pergi dari sini,” Suruh Via panik.
“Terus Ify sama Shilla mana?” Tanya Agni.
“Ify sama Shilla yang handle penyusup itu,” Jawab Via yang sudah sangat panik.
“Pah, mah, ayo kalian pulang. Tante, om, kak, Day pokoknya kalian semua pulang,” Kata Via yang sudah mulai menangis. “Disini juga ada bomnya.”
“Apa? Kamu gak bohong kan Vi,” Tanya pak Gunawan.
“Via gak bohong pah. Papa sama Mama pulang ya. Biar Via, Agni, Shilla dan Ify yang handel disini,” Kata Via memohon.
“Tapi Vi----“
DORR
DORRR
“Ify, Shilla,” Kata Via dan Agni kompak. Tanpa ba bi bu lagi mereka segera berlari dan menghiraukan panggilan kedua orang tua mereka. Tapi, baru saja beberapa meter mereka berlari tiba tiba mereka merasakan sakit didada mereka.
“Auw,” Kata mereka berdua kompak.
Melihat itu Cakka dan Alvin pun segera menghampiri Agni dan Via yang sedang terduduk sambil menahan sakit. Cakka dan Alvin pun langsung memeluk pemilik pasangan kalung mereka.
“Lo nggak apa apa kan?” Tanya Cakka sambil melepaskan pelukannya.
“Nggak apa apa kok kak,” Kata Agni kemudian berdiri dari duduknya.
“Lepas kak,” Kata Via sambil mendorong tubuh Alvin. Kemudian beranjak pergi menyusus Ify dan Shilla.
“Tunggu Vi,” Kata Alvin sambil menarik tangan Via sehingga kembali kepelukannya.
“Biar gue temenin lo,” Bisik Alvin ditelinga Via kemudian melepaskan pelukannya dan menggandeng tangan Via meninggalkan Agni dan Cakka yang diam mematung memperhatikan tingkah mereka.
“Kak Cakka mau ikut?” Tanya Agni.
“Yaudah ayo,” Kata Cakka ke Agni. “Bro iku nggak lo,” Teriak Cakka ke Gabriel dan Rio.
Gabriel dan Rio pun langsung menghampiri Cakka dan Agni kemudian mereka meninggalkan tempat tersebut untuk menyusul teman mereka.
***
“Aw,” Rintih Ify dan tersungkur ditanah.
“Ify” Pekik Shilla lalu menghampiri Ify. “Fy lo gpp kan?” Tanya Shilla khawatir.
“Gue gpp kok,” Kata Ify sambil menahan sakitnya. “Shill awas,” Pekik Ify saat tak sengaja matanya melihat salah satu penyusup akan memukul punngung Shilla menggunakan balok kayu. Shilla sudah pasrah dan memejamkan matanya.
BRAKKK
“Kalau lo cowok lawan gue. Jangan beraninya Cuma lawan cewek,” Kata Alvin setelah menendang penyusup yang akan memukul Shilla.
“Lo berdua nggak apa apa kan?” Tanya Via menghampiri Shilla dan Ify.
“Nggak kok,” Kata Shilla sedangkan Ify Cuma menggeleng lemah.
“Ify kenapa?” Tanya Agni yang baru saja datang bersama Cakka, Rio, dan Gabriel.
“Ify kakinya kena tendang,” Jawab Shilla.
“Kak, sebaiknya lo bantu kak Alvin deh,” Saran Agni yang melihat Cakka dan Gabriel diam saja. Sedangkan Rio sudah duduk disamping Ify dan mengurut kaki Ify.
“Yalah yalah,” Jawab Cakka dan segera membantu Alvin bersama Gabriel.
“Yaudah Kak Rio jagain Ify ya. Gue, Via sama Shilla mau bantu mereka,” Kata Agni dan segera membantu Alvin, Gabriel dan Cakka diikuti Via dan Shilla.
“Sakit kak,” Rintih Ify saat Rio memijit luka keseleonya.
“Habis ini tahan dikit. Lumayan sakit,” Kata Rio datar.
“Iya kak,” Kata Ify.
“Arghhhhhhh” Geram Ify. Tak terasa air matanya jatuh mengalir dipipinya.
“Udah. Besok juga sembuh,” Kata Rio datar kemudian ikut membantu sahabatnya.
“Aishh. Gue ditinggal disini. Kalau gue tiba tiba diserang gimana,” Dumel Ify.
“Tauk ah. Lebih baik gue cari bom itu. Kayaknya bom itu udah diaktifin deh,” Kata Ify dan berdiri dari duduknya.
“Tapi, gimana caranya? Masa iya gue kesana langsung meluk Kak Rio. nggak mungkin banget deh,” Kata Ify tampak berfikir. “Oh ya,” Kata Ify dan langsung melepas kalungnya dan segera berjalan meninggalkan sahabatnya dengan menahan sakit didadanya sambil jalan tertatih tatih. (ceritanya ify udah tau caranya ya)
***
“Aishh sakit banget,” Kata Ify lalu segera memakai kalungnya. “Leganya.”
“Gue harus cari dimana ya,” Kata Ify.
“Hmmm,” Gumam Ify sambil berfikir.
“Dasar Ify bego’ “ Kata Ify sambil menepok jidatnya sendiri. “Gue kan punya aplikasi pendeteksi bom. Kenapa gak kepikiran dari tadi coba,” Kata Ify sambil mengeluarkan hpnya dari saku celananya.
“Nah ketemu,” Kata Ify sambil menzoom gambar yang ada dilayar i-phonenya. “Dimana nih?” Gumam Ify. “Sebaiknya gue ikutin arahnya aja,” Kata Ify dan kembali melanjutkan perjalanannya.
***
“Mau kabur kemana lo,” Teriak Gabriel dan hendak mengejar ketua dari penyusup tersebut.
“Udah Kak gak usah dikejar,” Tahan Shilla.
“Sepertinya tu penyusup nafsu banget bunuh lo Gab,” Kata Alvin.
“Gue juga gak tau,” Kata Gabriel.
“Emang mereka ngincer nyawa Pak Ilham sekeluarga. Terlebih Kak Gabriel,” Kata Shilla menjelaskan.
“Lo kok tau Shill?” Tanya Shilla.
“Gue? Gak tau. Gak benget sista. Secara gue miss up date,” Kata Shilla mulai ngelantur.
“Gue beneran loh Shill,” Kata Agni datar dan dingin.
“Nyantai Ag,” Kata Shilla takut sendiri. “Tadi tuh gue, Ify sama Via gak sengaja denger,” Tambahnya.
“Eh ngomong soal Ify, tu anak ya?” Tanya Via tiba tiba.
“Iya ya Ify mana?” Tanya Shilla panik.
“Aish kak Rio tadi disuruh jagain Ify malah ikut bantuin kita. Kalau Ify diculik gimana,” Cerocos Agni.
“Eh Ag lo jangan nething dulu dong. Sebaiknya lo nelpon Ify deh. Siapa tau tuh anak udah balik duluan.” Sran Cakka.
“Iya kak,” Kata Agni nurut. Kemudian ia langsung menghubungi Ify.
“Ag loudspeaker,” Suruh Via. Agni pun menekan tanda loudspeaker di hpnya. Terdengar suara telpon tersambung.
“Halo,” Sapa Ify.
“Ipongg lo dimana sih,” Maki Shilla.
“Eitss biasa memg. Gue sekarang ada ditaman belakang,” Kata Ify.
“Ngapain lo ketaman belakang. Ngedate lo,” Kata Via polos.
“Iya gue lagi ngedate sama om gundoruwo. Puas,” Kata Ify jengkel.
“Canda Fy. Terus lo ngapain disana,” Tanya Via.
“Lagi jinakin bom nih,” Kata Ify. “Eh, Shilla suruh kesini dong. Bantuin gue,” Tambahnya.
“Yaudah kita segera kesana,” Kata Agni menutup telpon lalu segera berlari ketaman belakang disusul oleh The Hits Boys, Via dan juga Shilla.
***
“Ify gimana?” Tanya Shilla dan segera membantu Ify.
“Tinggal mutusin kabel ini doang Shill,” Kata Ify dengan nada menahan sakit.
“Yaudah lo istirahat gih. Biar gue yang nyelesain,” Kata Shilla yang kasihan pada Ify.
Ify pun segera menyingkir dari Shilla dan mulai mengelus ngelus kakinya yang kembali terasa sakit.
“Sakit?” Tanya Rio sambil tersenyum miring.
“Gak,” Jawab Ify ketus.
“Selesai,” Kata Shilla senang.
“Yee tugas hari ini dinyatakan....”
“SELESAI,” Jawab SISA kompak sambil berpelukan satu sama lain.
“Tapi Fy, lo yang terluka,” Kata Via menatap Ify sedih.
“Gak apa apa kok,” Kata Ify meyakinkan Via. “Ini udah sekuensinya Vi,” Tambahnya.
“Yah yang penting lo selamat,” Kata Via seneng.
“Yaudah pulang yok udah malam,” Ajak Ify dan berdiri dari duduknya.
“Kak makasih ya udah bantuin kita,” Kata Shilla sambil tersenyum.
“Iya kak. Makasih banget,” Dukung Ify.
“Kita pamit kak,” Kata Via. Tapi setelah mengucapkan kata kata tersebut The Hits Boys tidak bergerak sama sekali.
“Oh iya kita tau diri kok,” Kata Shilla lalu ingin melepas kalungnya. Tapi kemudian Gabriel langsung memeluknya dengan erat.
“Jangan lepas kalung lo. Gue gak suka lihat lo kesakitan,” Kata Gabriel berbisik ditelinga Shilla.
“Tapi, kakak yang buat Shilla sakit,” Lirih Shilla dan ternyata shilla sudah menangis.
“Maafin gue,” Kata Gabriel.
“Shilla tau diri kok kak kalau Shilla itu gak pantes buat kakak. Tapi, jangan siksa Shilla dengan sikap kakak yang selalu berubah ke shilla.”
“Maafin gue.”
“Kakak gak usah minta maaf. Emang Shilla aja yang ke PD an,” Kata Shilla dan mencoba melepas pelukan Gabriel.
“Please jangan lepas. Gue kangen sama lo,” Kata Gabriel mempererat pelukannya.
“Ini buat Shilla tambah sakit Kak,” Kata Shilla.
“Gue bakal nikahin lo malam ini juga,” Kata Gabriel tegas.
Shilla pun mendongakkan kepalanya dan menatap Gabriel yang tengah menatapnya dalam.
“Beneran kak. Nanti kakak Cuma PHP-in Shilla kayak tadi lagi,” Kata Shilla dengan nada meremehkan.
“Emang yang mau PHP-in lo siapa? Gue tadi beneran kali,” Kata Gabriel lalu melepaskan pelukannya.
“Terus tadi acara penolakannya apa coba?” Tanya Shilla.
“Gue tadi Cuma kesel aja,” Kata Gabriel kembali datar.
“Yaudah terserah kakak. Gue mau pulang dulu. Mau nyambut Le min Ho,” Kata Shilla.
“Le min Ho udah gue pesen Shill. Cari yang lain,” Kata Via.
“Ekhem, apa wajah gue kurang mirip sama Le min Ho, hmm,” Kata Alvin mendekatkan wajahnya ke wajah Via.
“Ishh kakak. Jauhin wajah lo,” Kata Via sambil melangkah mundur karena Alvin selalu mendekat padanya.
“Jawab pertanyaan gue,” Kata Alvin dingin.
Via yang sudah tidak bisa kemana mana Cuma menunduk menahan takut.
“Yaampun Kak Alvin, masa kakak gak ngerti maksud Via sih,” Kata Ify sambil geleng geleng kepala. “ Lee min Ho yang dimaksud Via itu kakak,” Kata Ify menahan tawa.
“Huaa Ify ember,” Kata Via tambah sadar.
“Tuh kan Vianya ngaku sendiri,” Kata Ify sambil tersenyum menggoda kearah Via.
“Oh gitu. Kenapa gak ngaku, hmm” Kata Alvin tersenyum manis ke arah Via. Via pun tertegun melihat senyum Alvin.
‘Yaampun kak Alvin gans banget’ Batin Via.
CHUP
Alvin langsung mencium pipi Via. Via yang tersadar pun langsung menunduk malu menyembunyikan rona merah jambu pada wajahnya.
“Pulang yok. Daripada disini nonton drama kacangan,” Kata Agni lalu berjalan kearah Cakka.
“Ngapain lo deket deket gue?” Tanya Cakka.
“Lo gak meluk gue Kak?” Tanya Balik Agni.
“Lo berharap banget ya gue peluk,” Kata Cakka sambil tersenyum miring.
“Oke. Gue tau diri kok,” Kata Agni dan langsung menarik kalungnya dengan sadis. Gak mikirkah Agni nanti kalau sampai kalungnya rusak bagaimana nasibnya nanti.
“Auw..” Rintih Agni dan tetap berjalan meningglkanteman temannya.
“Agni,” Peluk Cakka dari belakang.
“Kak lepas Kak. Ini tambah dada gue semakin sakit,” Kata Agni dengan nada menahan sakit. Cakka pun melepas pelukannya lalu mengambil kalung dari tangan Agni dan memasangnya kembali. Untung saja kalungnya tak rusak.
Setelah itu Cakka langsung membalik tubuh Agni dan memeluknya dengan erat.
“Jangan lakuin itu lagi. Itu buat lo tersiksa,” Kata Cakka.
“Lo sih yang cari gara gara,” Kata Agni.
“Oke gue minta maaf ya sayang,” Kata Cakka setelah melepaskan pelukannya.
“Ngapain lo manggil manggil gue sayang,” Kata Agni ketus.
“Kenapa? Gak boleh. Lo kan calon istri gue. Jadi gak masalah kan,” Kata Cakka tersenyum manis ke Agni.
“Terserah lo deh. Gue mau pulang,” Kata Agni lalu berjalan duluan.
“Agni tungguin gue,” Teriak Cakka dan mengejar Agni.
“Shill bantuin gue jalan dong,” Tolong Ify.
“Yaudah sini gue bantu,” Kata Shilla menghampiri Ify.
“Gak usah Shill, biar gue aja,” Kata Rio dan langsung menggendong Ify.
“Huwaa kak Rio turunin gue,” Teriak Ify meronta ronta.
“Diem atau gue cium lo,” Ancam Rio kemudian memasukkan Ify kedalam mobilnya.
“Kita mau kemana Kak?” Tanya Ify.
“Diem,” Perintah Rio mengancam.
Ify pun diam membisu. Tak berani mengeluarkan suara. ‘Daripada dicium Rio lebih baik jadi batu’ Batinnya.
30 menit perjalan akhirnya mereka telah sampai. Rio pun kembali menggendong Ify.
“Kak ngapain kita kesini? Tanya Ify heran.