Kamis, 08 September 2016

Semua Tak Sama #1



Tittle   : Semua Tak Sama #1 ( Awal Cerita )
            Genre : Enmity, Friendship, Love, Sad, etc. (maybe)
            Cast    : Ify Alyssa as Gabrify Umari, Gabriel Stev as Gabriel Damanik, Rio Stevadit as Sandrio Haling, Ashilla Zee as Nayshilla Wijaya, Cakka Nuraga as Cakka Nuraga, Agni Trinubuwati as Agniya Anggara, Alvin Jo as Calvin Sindhunata, and Sivia Azizah as Alvia Umari.
            Author            : Yanti L Ayuningsih | Line, Twitter, Ig : @yanti_lestariA

            “Tak pernah kusangka
             Aku bisa merasakan cinta sejati
             Dan tak pernah benar-benar
             Mencintai manusia di bumi ini”
            ( Mahadewa-Immortal Love )

            **<3**
            Sebuah mobil jazz berwarna putih mulai memasuki area parkir Indonesia University. Salah satu wanita mulai menuruni mobil dengan tergesa-gesa. Ia berdecak kesal melihat wanita yang masih duduk manis dibangku penumpang. Dengan kesal, wanita itu pun berjalan ke sisi penumpang dan membuka pintunya.
            “Ify, cepetan lo keluar,” Ify -wanita yang duduk dibangku penumpang- hanya menatap wanita yang berada didepannya dan membuat wanita yang ditatapnya itu menatapnya balik dengan kesal.
            Wanita itu pun menarik Ify dengan kasar. “Ishh Via santai dong,” Via hanya mencebikkan bibirnya kearah Ify.
            “Lo sih gak keluar-keluar dari mobil gue. Gue ini udah telat tauk,” protes Via yang dianggap angin lalu oleh Ify.
            “Yaudah anterin gue keruang rektor,” Via membulatkan matanya kemudian menjitak kepala Ify.
            “Gue kan udah bilang, gue itu—“
            “Udah telat. Iya kan,” potong Ify sambil menatap Via yang tidak bosan-bosannya bercicit ria.
            “Nah tu elo udah tau. Yaudah gu—“
            “Lah kok elo gitu sih sama gue. Gue kan orang baru disini,” potong Ify kembali membuat Via melongos kesal.
            “Sorry ya Fy, bukannya gue gak mau nganterin elo keruang rektor tapi gue udah telat setelat telatnya. Lagian elo kan udah gede masa iya elo gak bisa ke ruang redaksi sendiri. Oh ya kalau elo gak tau jalan elo tinggal tanya tanya sama mahasiswa mahasiwa yang elo liat. Mahasiswa disini baek baek kok,” cerocos Via kemudian mengangkat tangannya untuk menatap jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya. “Oh Gosh.. Gue udah telat. Yuadah Fy gue duluan ya,” pamit Via sambil berlari memasuki loby kampus.
            Ify menatap Via dengan sebal. Tangannya mulai memijat kepalanya yang mulai pusing karena mendengar ceramahan Via yang seperti kereta api ekspres (?). Ify pun menggeleng gelengkan kepalanya kemudian berjalan memasuki loby dengan cuek.
***
            Ify berjalan dengan santai dan sesekali bersenandung kecil mengikuti lagu yang ia dengarkan melalui headset yang sudah ia tancapkan (?) ke hpnya. Kata mahasiswa yang ia temui tadi ruang rektor berada dilantai 4 digedung ini. Matanya menatap keatas. Oh ternyata ia sekarang berada di fakultas ekonomi. Hmm kira-kira fakultas musik ada dimana ya, pikirnya.
            Entah salah siapa tiba-tiba ada seorang pria yang menabraknya dan membuat bokongnya harus berciuman dengan lantai koridar kampus. Tangannya pun bergerak mengelus pinggang bagian bawahnya. Untung aja tuh koridor sepi kalau rame mau ditaro diamana nih muka.
            “Eh lo bisa jalan gak sih?” Ify mendongakkan kepalanya ketika gendang telinganya menangkap suara sengak ngajak berantem.
            “What? Lo buta ya. Jelas jelas gue bisa jalan pake acara nanya juga lo,” nyolot Ify. salah cowok didepannya sih. Udah tau dia bukan balita yang baru belajar berjalan, eh malah pake nanya gitu.
            “Terus kenapa lo nabrak gue, hah,” Ify menatap cowok yang ada dihadapannya ini. Cowok ini bisa bisa mebuat ia melepas topengnya. Oke Ify lo harus cuek. Ingat itu, batinnya menyemangati.
            Ify berlalu begitu saja tanpa menanggapi perkataan cowok sengak itu. Ia tidak mau topengnya terbuka begitu saja dihari kedua ia di Indonesia. Dan cowok jelek itu hampir membuatnya hampir kelepasan.
            “Eh cewek cungkring lo punya gangguan telinga ya,” Ify berhenti melangka. Kedua tangannya mengepal disisi tubuhnya. Ia paling benci dipanggil cungkring. Apakah cowok Afrika itu tidak mengetahui kalau badannya ini langsing. Bukan cungkring.
            Ify menarik nafas kemudian dikeluarkan. Menarik nafas lagi kemudian dikeluarkan. Begitu saja berulang kali sampai emosinya hilang. Ify membalikkan badannya kemudian menatap cowok  itu dengan datar. “Sory, gue gak punya urusan sama elo cowok Afrika.”
            Cowok itu membulatkan matanya menatap Ify yang sudah berjalan meninggalkan TKP. Cowok Afrika? Apa maksudnya? Aishh sekarang ia mengerti maksud cewek cungkring itu. Awas saja lo cewek cungkring, batinnya berapi-api.
***
            Kafe kecil yang meupakan kantin kampus berubah menjadi senyap gara gara dua genk pentolan kampus memasuki kafe secara bersamaan dengan dua arah yang saling berlawanan. Semua penghuni kampus mulai mempersiapkan mental untuk menyelamatkan diri kalau kalau dua genk ini melakukan adu fisik.
            Genk TM dan Genk BB. Dua genk pentolan kampus yang saling bermusuhan. Entah karena apa mereka selalu beradu mulut, mata maupun fisik ketika mereka saling bertemu. Entah itu masalah kecil maupun masalah besar. Masalah kecil dibesar besarin, masalah besar tambah dibesarin.
            Genk TM terdiri dari Sandrio Haling, Cakka Nuraga dan pengikut-pengikut mereka. Sandrio Haling cowok brandal sempurna. Merupakan masternya para Playboy. Jangan ditanya semuajenis cerwek sudah pernah dipacarinya. Dan menurut densus sekarang Sandrio Haling memiliki 7 orang pacar. Ck ck ck. Cakka Nurga. Cowok sempurna seperti Sandrio Haling. Cakka si cowok temperental (?). Jangan pernah mencari masalah dengan Cakka kalau lo lo semua masih pengen hidup. Last, pengikut gent TM yang semuanya adalah para penghuni fakultas ekonomi
            Genk BB terdiri dari Gabriel Damanik, Calvin Sindhunata dan pengikutnya yang merupakan dari fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Gabriel Damanik cowok sempurna yang tidak suka disentuh. Tidak menyukai wanita. Jadi, wahai para wanita jangan pernah mendekti Gabriel kalau tidak ingin didaprat dan dipermalukan didepan umum. Calvin Jonathan, ya hampir sama sifatnya dengan Gabriel. Ya 21 22 lah #biargakmainstream. Tapi, yang diherankan ia sudah mempunyai pacar. Waduhh gimana tuh nasib pacarnya.
            Masih saling tatap tatapan tajam mereka saling melewati dan duduk ditempat mereka masing masing. Penghuni kafe pun menghembuskan nafas lega. Tumben-tumbenan sih tapi mereka bersyukur. Setidaknya makan siang mereka kali ini mereka  makan dengan tenang.
            “Vi mereka siapa sih?” tanya Ify sambil menghembuskan nafasnya. Astaga ternyata ia ikut terintimidasi juga.
            “Mereka genk pentolannya sini,” jawab Via dan matanya menatap satu titik.
            “Terus kenapa kayak tom and jerry gitu?”
            “Gak tau,” jawab Via senyum-senyum.
            Ify mangut-mangut. “Terus kepanjangan TM sama BB itu apa?” tanya Ify yang tadi sempat mendengar para mahasiswi menyebutkan kata kata itu.
            Via menoleh kearah Ify dengan muka sebal. Sumpah Ify ini cerewet banget sih. “TM itu troubelmaker dan BB itu bad boy.”
            “Hah? Apa bedanya trobelmaker sama bad boy? Kenapa gak digabungin jadi satu coba. Pake acara dipecah pecahin jadi dua gini,” cerocos Ify.
            “Suka- suka mereka lah Fy. Kalau lo gak sayang nyawa tanya sendiri gih. Orang kok ganggu kesenangan aja,” gerutu Via.
            Ify pun mengangkat bahunya kemudian memakan makanannya yang terlantar sejak tadi. Ify pun menatap Via heran yang mebiarkan makanannya begitu saja. Biasanya ia semangat sekali kalau didepannya ada makanan. Enth itu jenis apa. Nah sekarang dianggurin aja.
            Ify pun mengikuti arah pandang Via. Alis Ify terangkat yang melihat cowok sipit itu kemudian matanya teralih kearah Via kembali. Ditambah Via yang senyum senyum sendiri membuat Ify bergidik ngeri. Punggung tangan Ify pun menyentuh jidat Via.
            “Aishh Ify, lo kok jadi rese gini sih.”
            “Ngapain elo lihatin tuh cowok sipit?”
            “What? Jadi itu cowok yang lo tembak tiga bulan yang lalu?” tanya Ify tidak percaya. Kepalanya geleng kanan geleng kiri mendukung ketidakpercayaannya.
            “Lah emang kenapa? Asal lo tau gue cewek pertama yang langsung diterima sama dia dan tentunya bakal yang terakhir,” jawab Via dengan pedenya.
            “Pede gila lo. Palingan tuh cowok bosan gara gara lo tembak terus,” opini Ify.
            “Hm iya sih,” kepala Via mangut-mangut. “Tapi, setidaknya gue gak kayak Shilla yang terus deketin Gabriel sampai-sampai urat malunya putus.”
            “Sama aja,” kata Ify datar.
            “Beda Fy.”
            “Sama Via/”
            “Beda Fy.”
            “Aishh terserah lo deh,” serah Ify. Matanya menyipit menatap seorang cowok yang sedang menatapnya.
            “Ngapain tuh cowok Afrika liatin gue,” gumam Ify.
            “Eh Fy, ngapain tuh sih Rio liatin lo segitunya?” bisik Via dan matanya menatap pria yang duduk disudut kantin.
            “Tau tuh si cowok Afrika. Terpesona kali sama kcantikan gue,” jawab Ify sekenanya.
            “Wah jangan-jangan lo korban berikutnya lagi,” kata Via gak nyante.
            “Maksud lo apa sih Vi?” tanya Ify gak ngeh.
            “Aduh si Rio itu rajanya playboy. Jangan jangan lo jadi mangsanya yang ke 8 lagi,” jawab Via membuat Ify mengangkat salah satu alisnya.
            “Hah ke 8?”
            “Iya yang ke 8,” jawab Via sambil menunjukkan kedelapan jarinya.
            “Ck ck. Baru segitu aja udah rajanya playboy. Kurang banyak tuh kalau mau jadi raja,” kata Ify remeh.
            “Aww, Via lo jahat banget sih,” keluh Ify sambil mengelus kepalanya yang menjadi korban keganasan tangan Via.
            “Pokoknya jangan sampe lo jatuh sama pesonanya Rio. Gue gak mau jadi korbannya Rio.”
            “What?? Gue terpesona sama cowok Afrika itu. Sorry aja ya selera gue gak serendah itu,” kata Ify sambil menatap Via yang sedang melongo tak percaya.
            “Ck ck ck mata elo katarak ya Fy,” kata Via sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
            “Ck ck ck lama-lama elo jadi playgirl ya. Udah punya pacar tetep aja ngelirik cowok lair,” kata Ify mengikuti Via.
            Via mencebikkan bibirnya. “Terserah elo deh Fy. Capek gue ngomong sama elo.”
***
            “Hai guys,” sapa seorang gadis berambut sebahu dengan senyum manisnya.
            “Hai Ag. Duduk gih,” balas seorang pemuda sambil menggeser duduknya.
            “Tumben nih pada ayem,” tanya gadis itu heran.
            “Lagi gak mood beranten Ag,” jawab pemuda itu.
            “Elo? Gak mood berantem? Gak percaya gue Kka,” tanya Agni tak percaya yang dibuat buat.
            “Cakkanya lagi PMS Ag. Jadi maklumin aja,” jawab salah satu seorang pemuda.
            “Wahh sialan lo Yo,” kata Cakka tak terima. Tak lupa pula tangannya menjitak kepala pemuda itu.
            “Eh Yo, bukannya kalau PMS itu malah lagi galak galaknya ya?” tanya Agni dengan senyum yang ia tahankan.
            “Oh iya ya,” jawab Rio sambil menepuk jidatnya sendiri.
            “Cih, bukannya lo punya pacar banyak ya Yo. Tapi, kok gitu aja lo gak tau. ck ck,” kata Cakka sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
            “Bodo amat,” jawab Rio cuek. Cakka pun menaikkan salah satu alisnya melihat Rio memandang seorang wanita sampe segitunya.
            “Eh Yo lo lihat apaan sih?” tanya Agni sambil mengikuti arah pandang Rio.
            “Biasa lihatin cewek Ag,” jawab Cakka.
            “Wahh elo mau jadiin tuh cewek korban lo selanjutnya ya Yo?” tanya Agni.
            “Hmm ntahlah. Tapi, kayaknya gak gampang.”
            “Katanya masternya playboy. Gitu aja lo nyerah,” ejek Cakka membuat Rio langsung menatap tajam Cakka.
            “Gue gak bakal nyerah. Lihat aja nanti. Gue bakal buat dia bertekuk lutut sama gue.” jawab Rio penuh ambisi. Agni pun menatap Cakka yang juga menatapnya dan secara kompak mereka berdua megedikkan bahu mereka.
***
            “Alvin Alvin,” Alvin dan Gabriel pun mengentikan langkah mereka kemudian menolehkan kepala mereka kebelakan. Seorang gadis Chubby tengah berlari-lari kecil menghampiri mereka.
            “Hosh hosh hai Alvin, Hai Gabriel,” Gabriel pun membalas dengan anggukan kecil kemudian mengalihkan pandangannya kearah Alvin.
            “Gue duluan,” kata Gabriel kemudian berlalu meninggalkan Alvin dan Via.
            Via tersenyum kearah Alvin. “Vin nanti sore kamu ada waktu nggak. Nanti—“
            “Gue sibuk,” potong Alvin. Via menganggukan kepalanya dengan wajah kecewa tetapi langsung ditutupi dengan senyum manisnya.
            “Oh yaudah kalau kamu sibuk.”
            “Udah?” Via pn mengangguk.
            Alvin pun berjalan meninggalkan Via sendiri. Via pun tersenyum miris. Matanya mulai memanas. Kapan ia akan mersakan pacaran seperti orang normal yang lain. Tidak seperti ini. Rasanya ini semua percuma. Buang buang waktu dan tentunya nyakitin hati sendiri.  Tapi, ia tidak boleh menyerah. Ia yakin ia pasti bisa meluluhkan hati seorang Calvin Sindhunata.
***
            “Hai Gabriel,” sapa seorang gadis berbehel kemudian duduk disamping Gabriel. Gabriel pun melirik sebentar lalu melanjutkan kembali aktivitasnya  yaitu menenangkan diri.
            “Kamu tau gak Gab, aku kangen banget sama kamu. Tadi aku gak sempet ke kantin gara gara harus nyari buku lagu klasik tahun 80-an,” cerita gadis itu dengan semangat.
            “Gabriel, aku sekarang udah belajar main piano loh. Katanya kamu suka dengerin musik dari piano kan. Nah, kalau kamu mau nanti aku mainin buat kamu. Tapi, nunggu aku bisa dulu yaaa,” gadis itu tertawa sumbang. Sungguh hatinya mulai sakit kembali. Jujur ia sudah terbiasa seperti ini. Tapi, mengapa hatinya belum bisa terbiasa.
            “Gabriel, kamu mau kan?” tanya gadis itu menyentuh pundak Gabriel. Gabriel pun membuka matanya kemudian menegakkan badannya dan menatap Shilla tajam.
            “Bisa gak sih lo gak ganggu gue barang sehari?” tanya Gabriel dingin.
            “Sorry Gab kalau aku ganggu. Tapi, aku kangen sama kamu. Kita kan be—“
            “Stop. Sekarang lo pergi dari hadapan gue. Gue muak lihat elo,” potong Gabriel.
            “Tapi Gab—“
            “Cih.. kalau lo gak mau pergi biar gue yang pergi,” Gabriel pun meninggalkan Shilla yang sudah menangis sesenggukan.
            Shilla menekan dadanya kuat. Sesak. Itu yang dirasakannya saat ini. Bernafas saja ia susah. Sudah dua tahun ia merasakan namanya virus merah jambu ini dan sudah dua tahun juga ia merasakan sakit seperti ini. Kenapa rasa ini harus terjatuh kepada Gabriel. Kenapa bukan ke pria lain yang jelas jelas mencintainya.
            “Aku tau cinta tak harus memiliki. Tapi, hati ini yang memintamu untuk menjadi miliknya.” Gumam gadis itu.
            “Shilla,” lirih seorang pemuda dan duduk disamping Shilla –gadis berbehel-
            “Eh Cakka” ucap Shilla sambil menghapus air matanya. Tak lupa senyum manis yang tercetak dibibirnya.
            “Gabriel lagi?” tanya Cakka. Shilla diam tidak menjawab. Cakka menghela nafas kesal.
            “Astaga Shilla, sampai kapan sih lo mikirin si Gabriel. Lupain dia Shill. Masih banyak cowok lain yang bakal nerima elo.”
            “Kalau gue bisa Kka, gue pasti bakal lakuin dari dulu. Tapi, apa daya gue gak bisa. Hati gue udah tercetak khusus buat Gabriel,” jawab Shilla sendu.
            “Setidaknya lo nyoba dulu Shill.”
            “Gue udah nyoba Kka. Tapi, gak bisa.”
            “Gue pengen lo bahagia Shill. Gak seperti ini menangis setiap hari,” kata Cakka sambil menatap Shilla dalam.
            “Gue bahagia Kka. Gue bahagia selamu gue lihat dia bahagia,” Cakka membisu dan memilih menatap kearah lain.
            “Hm, Kka gue duluan ya,” pamit Shilla dan berdiri dari duduknya. Cakka pun mengangguk tanda mengiyakan.
            Selepas kepergian Shilla, Cakka berteriak marah. Tangannya terkepal dan meninju pohon yang tepat berada dibelakangnya.
            “Kapan lo bisa lihat gue Kka,” lirih seorang gadis dari balik tembok. Badannya luruh. Tangannya menekan dadanya sendiri.
            “Gue tau, gue gak sesempurna dia Kka. Gue emang gak cocok buat elo Kka. Gue cukup sadar diri. Tapi, kenapa hati gue milih elo Kka. Kenapa?” tangan gadis itu mulai memukul dadanya sendiri. Seakan akan dengan begitu seluruh rasa sakitnya akan hilang.
            “Sampai kapan gue merasakan sakit yang tak berujung ini. Apa gue harus menunggu suatu yang mustahil?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar