Tittle :
Semua Tak Sama #1 ( Awal Cerita )
Genre : Enmity, Friendship, Love, Sad, etc. (maybe)
Cast :
Ify Alyssa as Gabrify Umari, Gabriel Stev as Gabriel Damanik, Rio Stevadit as
Sandrio Haling, Ashilla Zee as Nayshilla Wijaya, Cakka Nuraga as Cakka Nuraga,
Agni Trinubuwati as Agniya Anggara, Alvin Jo as Calvin Sindhunata, and Sivia
Azizah as Alvia Umari.
Author : Yanti L Ayuningsih | Line, Twitter, Ig :
@yanti_lestariA
“Tak
pernah kusangka
Aku bisa merasakan cinta sejati
Dan tak pernah benar-benar
Mencintai manusia di bumi ini”
( Mahadewa-Immortal Love )
**<3**
Sebuah
mobil jazz berwarna putih mulai memasuki area parkir Indonesia University.
Salah satu wanita mulai menuruni mobil dengan tergesa-gesa. Ia berdecak kesal
melihat wanita yang masih duduk manis dibangku penumpang. Dengan kesal, wanita
itu pun berjalan ke sisi penumpang dan membuka pintunya.
“Ify,
cepetan lo keluar,” Ify -wanita yang duduk dibangku penumpang- hanya menatap
wanita yang berada didepannya dan membuat wanita yang ditatapnya itu menatapnya
balik dengan kesal.
Wanita itu pun menarik Ify dengan
kasar. “Ishh Via santai dong,” Via hanya mencebikkan bibirnya kearah Ify.
“Lo
sih gak keluar-keluar dari mobil gue. Gue ini udah telat tauk,” protes Via yang
dianggap angin lalu oleh Ify.
“Yaudah
anterin gue keruang rektor,” Via membulatkan matanya kemudian menjitak kepala
Ify.
“Gue
kan udah bilang, gue itu—“
“Udah
telat. Iya kan,” potong Ify sambil menatap Via yang tidak bosan-bosannya
bercicit ria.
“Nah
tu elo udah tau. Yaudah gu—“
“Lah
kok elo gitu sih sama gue. Gue kan orang baru disini,” potong Ify kembali
membuat Via melongos kesal.
“Sorry
ya Fy, bukannya gue gak mau nganterin elo keruang rektor tapi gue udah telat
setelat telatnya. Lagian elo kan udah gede masa iya elo gak bisa ke ruang
redaksi sendiri. Oh ya kalau elo gak tau jalan elo tinggal tanya tanya sama
mahasiswa mahasiwa yang elo liat. Mahasiswa disini baek baek kok,” cerocos Via
kemudian mengangkat tangannya untuk menatap jam tangan yang melingkar
dipergelangan tangannya. “Oh Gosh.. Gue udah telat. Yuadah Fy gue duluan ya,”
pamit Via sambil berlari memasuki loby kampus.
Ify
menatap Via dengan sebal. Tangannya mulai memijat kepalanya yang mulai pusing
karena mendengar ceramahan Via yang seperti kereta api ekspres (?). Ify pun
menggeleng gelengkan kepalanya kemudian berjalan memasuki loby dengan cuek.
***
Ify
berjalan dengan santai dan sesekali bersenandung kecil mengikuti lagu yang ia
dengarkan melalui headset yang sudah ia tancapkan (?) ke hpnya. Kata mahasiswa
yang ia temui tadi ruang rektor berada dilantai 4 digedung ini. Matanya menatap
keatas. Oh ternyata ia sekarang berada di fakultas ekonomi. Hmm kira-kira
fakultas musik ada dimana ya, pikirnya.
Entah
salah siapa tiba-tiba ada seorang pria yang menabraknya dan membuat bokongnya
harus berciuman dengan lantai koridar kampus. Tangannya pun bergerak mengelus
pinggang bagian bawahnya. Untung aja tuh koridor sepi kalau rame mau ditaro
diamana nih muka.
“Eh
lo bisa jalan gak sih?” Ify mendongakkan kepalanya ketika gendang telinganya
menangkap suara sengak ngajak berantem.
“What?
Lo buta ya. Jelas jelas gue bisa jalan pake acara nanya juga lo,” nyolot Ify.
salah cowok didepannya sih. Udah tau dia bukan balita yang baru belajar
berjalan, eh malah pake nanya gitu.
“Terus
kenapa lo nabrak gue, hah,” Ify menatap cowok yang ada dihadapannya ini. Cowok
ini bisa bisa mebuat ia melepas topengnya. Oke Ify lo harus cuek. Ingat itu,
batinnya menyemangati.
Ify
berlalu begitu saja tanpa menanggapi perkataan cowok sengak itu. Ia tidak mau
topengnya terbuka begitu saja dihari kedua ia di Indonesia. Dan cowok jelek itu
hampir membuatnya hampir kelepasan.
“Eh
cewek cungkring lo punya gangguan telinga ya,” Ify berhenti melangka. Kedua
tangannya mengepal disisi tubuhnya. Ia paling benci dipanggil cungkring. Apakah
cowok Afrika itu tidak mengetahui kalau badannya ini langsing. Bukan cungkring.
Ify
menarik nafas kemudian dikeluarkan. Menarik nafas lagi kemudian dikeluarkan.
Begitu saja berulang kali sampai emosinya hilang. Ify membalikkan badannya
kemudian menatap cowok itu dengan datar.
“Sory, gue gak punya urusan sama elo cowok Afrika.”
Cowok
itu membulatkan matanya menatap Ify yang sudah berjalan meninggalkan TKP. Cowok
Afrika? Apa maksudnya? Aishh sekarang ia mengerti maksud cewek cungkring itu.
Awas saja lo cewek cungkring, batinnya berapi-api.
***
Kafe
kecil yang meupakan kantin kampus berubah menjadi senyap gara gara dua genk
pentolan kampus memasuki kafe secara bersamaan dengan dua arah yang saling
berlawanan. Semua penghuni kampus mulai mempersiapkan mental untuk
menyelamatkan diri kalau kalau dua genk ini melakukan adu fisik.
Genk
TM dan Genk BB. Dua genk pentolan kampus yang saling bermusuhan. Entah karena
apa mereka selalu beradu mulut, mata maupun fisik ketika mereka saling bertemu.
Entah itu masalah kecil maupun masalah besar. Masalah kecil dibesar besarin,
masalah besar tambah dibesarin.
Genk
TM terdiri dari Sandrio Haling, Cakka Nuraga dan pengikut-pengikut mereka.
Sandrio Haling cowok brandal sempurna. Merupakan masternya para Playboy. Jangan
ditanya semuajenis cerwek sudah pernah dipacarinya. Dan menurut densus sekarang
Sandrio Haling memiliki 7 orang pacar. Ck ck ck. Cakka Nurga. Cowok sempurna
seperti Sandrio Haling. Cakka si cowok temperental (?). Jangan pernah mencari
masalah dengan Cakka kalau lo lo semua masih pengen hidup. Last, pengikut gent
TM yang semuanya adalah para penghuni fakultas ekonomi
Genk
BB terdiri dari Gabriel Damanik, Calvin Sindhunata dan pengikutnya yang
merupakan dari fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik. Gabriel Damanik cowok sempurna yang tidak suka disentuh.
Tidak menyukai wanita. Jadi, wahai para wanita jangan pernah mendekti Gabriel
kalau tidak ingin didaprat dan dipermalukan didepan umum. Calvin Jonathan, ya
hampir sama sifatnya dengan Gabriel. Ya 21 22 lah #biargakmainstream. Tapi,
yang diherankan ia sudah mempunyai pacar. Waduhh gimana tuh nasib pacarnya.
Masih
saling tatap tatapan tajam mereka saling melewati dan duduk ditempat mereka
masing masing. Penghuni kafe pun menghembuskan nafas lega. Tumben-tumbenan sih
tapi mereka bersyukur. Setidaknya makan siang mereka kali ini mereka makan dengan tenang.
“Vi
mereka siapa sih?” tanya Ify sambil menghembuskan nafasnya. Astaga ternyata ia
ikut terintimidasi juga.
“Mereka
genk pentolannya sini,” jawab Via dan matanya menatap satu titik.
“Terus
kenapa kayak tom and jerry gitu?”
“Gak
tau,” jawab Via senyum-senyum.
Ify
mangut-mangut. “Terus kepanjangan TM sama BB itu apa?” tanya Ify yang tadi
sempat mendengar para mahasiswi menyebutkan kata kata itu.
Via
menoleh kearah Ify dengan muka sebal. Sumpah Ify ini cerewet banget sih. “TM
itu troubelmaker dan BB itu bad boy.”
“Hah?
Apa bedanya trobelmaker sama bad boy? Kenapa gak digabungin jadi satu coba.
Pake acara dipecah pecahin jadi dua gini,” cerocos Ify.
“Suka-
suka mereka lah Fy. Kalau lo gak sayang nyawa tanya sendiri gih. Orang kok
ganggu kesenangan aja,” gerutu Via.
Ify
pun mengangkat bahunya kemudian memakan makanannya yang terlantar sejak tadi.
Ify pun menatap Via heran yang mebiarkan makanannya begitu saja. Biasanya ia
semangat sekali kalau didepannya ada makanan. Enth itu jenis apa. Nah sekarang
dianggurin aja.
Ify
pun mengikuti arah pandang Via. Alis Ify terangkat yang melihat cowok sipit itu
kemudian matanya teralih kearah Via kembali. Ditambah Via yang senyum senyum
sendiri membuat Ify bergidik ngeri. Punggung tangan Ify pun menyentuh jidat
Via.
“Aishh
Ify, lo kok jadi rese gini sih.”
“Ngapain
elo lihatin tuh cowok sipit?”
“What?
Jadi itu cowok yang lo tembak tiga bulan yang lalu?” tanya Ify tidak percaya.
Kepalanya geleng kanan geleng kiri mendukung ketidakpercayaannya.
“Lah
emang kenapa? Asal lo tau gue cewek pertama yang langsung diterima sama dia dan
tentunya bakal yang terakhir,” jawab Via dengan pedenya.
“Pede
gila lo. Palingan tuh cowok bosan gara gara lo tembak terus,” opini Ify.
“Hm
iya sih,” kepala Via mangut-mangut. “Tapi, setidaknya gue gak kayak Shilla yang
terus deketin Gabriel sampai-sampai urat malunya putus.”
“Sama
aja,” kata Ify datar.
“Beda
Fy.”
“Sama
Via/”
“Beda
Fy.”
“Aishh
terserah lo deh,” serah Ify. Matanya menyipit menatap seorang cowok yang sedang
menatapnya.
“Ngapain
tuh cowok Afrika liatin gue,” gumam Ify.
“Eh
Fy, ngapain tuh sih Rio liatin lo segitunya?” bisik Via dan matanya menatap
pria yang duduk disudut kantin.
“Tau
tuh si cowok Afrika. Terpesona kali sama kcantikan gue,” jawab Ify sekenanya.
“Wah
jangan-jangan lo korban berikutnya lagi,” kata Via gak nyante.
“Maksud
lo apa sih Vi?” tanya Ify gak ngeh.
“Aduh
si Rio itu rajanya playboy. Jangan jangan lo jadi mangsanya yang ke 8 lagi,”
jawab Via membuat Ify mengangkat salah satu alisnya.
“Hah
ke 8?”
“Iya
yang ke 8,” jawab Via sambil menunjukkan kedelapan jarinya.
“Ck
ck. Baru segitu aja udah rajanya playboy. Kurang banyak tuh kalau mau jadi
raja,” kata Ify remeh.
“Aww,
Via lo jahat banget sih,” keluh Ify sambil mengelus kepalanya yang menjadi
korban keganasan tangan Via.
“Pokoknya
jangan sampe lo jatuh sama pesonanya Rio. Gue gak mau jadi korbannya Rio.”
“What??
Gue terpesona sama cowok Afrika itu. Sorry aja ya selera gue gak serendah itu,”
kata Ify sambil menatap Via yang sedang melongo tak percaya.
“Ck
ck ck mata elo katarak ya Fy,” kata Via sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
“Ck
ck ck lama-lama elo jadi playgirl ya. Udah punya pacar tetep aja ngelirik cowok
lair,” kata Ify mengikuti Via.
Via
mencebikkan bibirnya. “Terserah elo deh Fy. Capek gue ngomong sama elo.”
***
“Hai
guys,” sapa seorang gadis berambut sebahu dengan senyum manisnya.
“Hai
Ag. Duduk gih,” balas seorang pemuda sambil menggeser duduknya.
“Tumben
nih pada ayem,” tanya gadis itu heran.
“Lagi
gak mood beranten Ag,” jawab pemuda itu.
“Elo?
Gak mood berantem? Gak percaya gue Kka,” tanya Agni tak percaya yang dibuat
buat.
“Cakkanya
lagi PMS Ag. Jadi maklumin aja,” jawab salah satu seorang pemuda.
“Wahh
sialan lo Yo,” kata Cakka tak terima. Tak lupa pula tangannya menjitak kepala
pemuda itu.
“Eh
Yo, bukannya kalau PMS itu malah lagi galak galaknya ya?” tanya Agni dengan
senyum yang ia tahankan.
“Oh
iya ya,” jawab Rio sambil menepuk jidatnya sendiri.
“Cih,
bukannya lo punya pacar banyak ya Yo. Tapi, kok gitu aja lo gak tau. ck ck,”
kata Cakka sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Bodo
amat,” jawab Rio cuek. Cakka pun menaikkan salah satu alisnya melihat Rio
memandang seorang wanita sampe segitunya.
“Eh
Yo lo lihat apaan sih?” tanya Agni sambil mengikuti arah pandang Rio.
“Biasa
lihatin cewek Ag,” jawab Cakka.
“Wahh
elo mau jadiin tuh cewek korban lo selanjutnya ya Yo?” tanya Agni.
“Hmm
ntahlah. Tapi, kayaknya gak gampang.”
“Katanya
masternya playboy. Gitu aja lo nyerah,” ejek Cakka membuat Rio langsung menatap
tajam Cakka.
“Gue
gak bakal nyerah. Lihat aja nanti. Gue bakal buat dia bertekuk lutut sama gue.”
jawab Rio penuh ambisi. Agni pun menatap Cakka yang juga menatapnya dan secara
kompak mereka berdua megedikkan bahu mereka.
***
“Alvin
Alvin,” Alvin dan Gabriel pun mengentikan langkah mereka kemudian menolehkan kepala
mereka kebelakan. Seorang gadis Chubby tengah berlari-lari kecil menghampiri
mereka.
“Hosh
hosh hai Alvin, Hai Gabriel,” Gabriel pun membalas dengan anggukan kecil
kemudian mengalihkan pandangannya kearah Alvin.
“Gue
duluan,” kata Gabriel kemudian berlalu meninggalkan Alvin dan Via.
Via
tersenyum kearah Alvin. “Vin nanti sore kamu ada waktu nggak. Nanti—“
“Gue
sibuk,” potong Alvin. Via menganggukan kepalanya dengan wajah kecewa tetapi
langsung ditutupi dengan senyum manisnya.
“Oh
yaudah kalau kamu sibuk.”
“Udah?”
Via pn mengangguk.
Alvin
pun berjalan meninggalkan Via sendiri. Via pun tersenyum miris. Matanya mulai
memanas. Kapan ia akan mersakan pacaran seperti orang normal yang lain. Tidak
seperti ini. Rasanya ini semua percuma. Buang buang waktu dan tentunya nyakitin
hati sendiri. Tapi, ia tidak boleh
menyerah. Ia yakin ia pasti bisa meluluhkan hati seorang Calvin Sindhunata.
***
“Hai
Gabriel,” sapa seorang gadis berbehel kemudian duduk disamping Gabriel. Gabriel
pun melirik sebentar lalu melanjutkan kembali aktivitasnya yaitu menenangkan diri.
“Kamu
tau gak Gab, aku kangen banget sama kamu. Tadi aku gak sempet ke kantin gara
gara harus nyari buku lagu klasik tahun 80-an,” cerita gadis itu dengan semangat.
“Gabriel,
aku sekarang udah belajar main piano loh. Katanya kamu suka dengerin musik dari
piano kan. Nah, kalau kamu mau nanti aku mainin buat kamu. Tapi, nunggu aku
bisa dulu yaaa,” gadis itu tertawa sumbang. Sungguh hatinya mulai sakit
kembali. Jujur ia sudah terbiasa seperti ini. Tapi, mengapa hatinya belum bisa
terbiasa.
“Gabriel,
kamu mau kan?” tanya gadis itu menyentuh pundak Gabriel. Gabriel pun membuka
matanya kemudian menegakkan badannya dan menatap Shilla tajam.
“Bisa
gak sih lo gak ganggu gue barang sehari?” tanya Gabriel dingin.
“Sorry
Gab kalau aku ganggu. Tapi, aku kangen sama kamu. Kita kan be—“
“Stop.
Sekarang lo pergi dari hadapan gue. Gue muak lihat elo,” potong Gabriel.
“Tapi
Gab—“
“Cih..
kalau lo gak mau pergi biar gue yang pergi,” Gabriel pun meninggalkan Shilla yang
sudah menangis sesenggukan.
Shilla
menekan dadanya kuat. Sesak. Itu yang dirasakannya saat ini. Bernafas saja ia
susah. Sudah dua tahun ia merasakan namanya virus merah jambu ini dan sudah dua
tahun juga ia merasakan sakit seperti ini. Kenapa rasa ini harus terjatuh
kepada Gabriel. Kenapa bukan ke pria lain yang jelas jelas mencintainya.
“Aku
tau cinta tak harus memiliki. Tapi, hati ini yang memintamu untuk menjadi miliknya.”
Gumam gadis itu.
“Shilla,”
lirih seorang pemuda dan duduk disamping Shilla –gadis berbehel-
“Eh
Cakka” ucap Shilla sambil menghapus air matanya. Tak lupa senyum manis yang
tercetak dibibirnya.
“Gabriel
lagi?” tanya Cakka. Shilla diam tidak menjawab. Cakka menghela nafas kesal.
“Astaga
Shilla, sampai kapan sih lo mikirin si Gabriel. Lupain dia Shill. Masih banyak
cowok lain yang bakal nerima elo.”
“Kalau
gue bisa Kka, gue pasti bakal lakuin dari dulu. Tapi, apa daya gue gak bisa.
Hati gue udah tercetak khusus buat Gabriel,” jawab Shilla sendu.
“Setidaknya
lo nyoba dulu Shill.”
“Gue
udah nyoba Kka. Tapi, gak bisa.”
“Gue
pengen lo bahagia Shill. Gak seperti ini menangis setiap hari,” kata Cakka
sambil menatap Shilla dalam.
“Gue
bahagia Kka. Gue bahagia selamu gue lihat dia bahagia,” Cakka membisu dan
memilih menatap kearah lain.
“Hm,
Kka gue duluan ya,” pamit Shilla dan berdiri dari duduknya. Cakka pun
mengangguk tanda mengiyakan.
Selepas
kepergian Shilla, Cakka berteriak marah. Tangannya terkepal dan meninju pohon
yang tepat berada dibelakangnya.
“Kapan
lo bisa lihat gue Kka,” lirih seorang gadis dari balik tembok. Badannya luruh.
Tangannya menekan dadanya sendiri.
“Gue
tau, gue gak sesempurna dia Kka. Gue emang gak cocok buat elo Kka. Gue cukup
sadar diri. Tapi, kenapa hati gue milih elo Kka. Kenapa?” tangan gadis itu
mulai memukul dadanya sendiri. Seakan akan dengan begitu seluruh rasa sakitnya
akan hilang.
“Sampai
kapan gue merasakan sakit yang tak berujung ini. Apa gue harus menunggu suatu
yang mustahil?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar