Tittle : Obligatie part 10 [END]
Cast : Ify | Rio | Via |
Alvin | Shilla | Gabriel | Agni | Cakka |
Genre : Romance, Friendship,
Action, etc,- | Maybe
Author : Yanti Lestari |
@yanti_lestariA | IG: @yanti_lestariA
“APA!! Ify diculik oleh kaum hitam?”
tanya Uncle Albert kaget. Jujur berita yang disampaikan oleh The Hits Boys dan
juga SSA hampir saja membuatnya serangan jantung. Ia tak habis fikir kenapa
bisa mereka lengah dan membuat salah satu dari mereka diculik.
Rio menganggukkan kepalanya. Ia
menundukkan kepalanya. Ini semua salahnya. Ya memang ini semua salahnya. Kalau
saja dua hari yang lalu ia tidak kelepasan pasti ini semua tidak akan terjadi.
Astaga kenapa penyesalan harus datang terakhir kali.
“Kenapa kalian bisa tidak saling
menjaga. Bukannya Uncle sudah memberitahu kalian untuk saling menjaga. Terus,
kenapa juga kalian berbohong pada Uncle kalau kalian belum mengetahui siapa
kaum hitam?”
“Itu salah saya Uncle. Saya sengaja
tidak memberitahu Uncle karena saya dan Ify masih mencari tau kebenarannya,”
Shilla menundukkan kepalanya takut. Takut dengan tatapan Uncle Albert yang
tajam dan menusuk itu.
“Seharusnya kamu memberitahu saya.
Kita bisa cari tau bersama-sama. tidak sendiri-sendiri seperti ini. Sekarang
lihat akibatnya kan? Ify diculik oleh kaum hitam,” The Hits Boys dan SSA hanya
menundukkan kepalanya mendengar kemarahan Uncle Albert. Terlebih Shilla.
“Astaga pasti mereka akan membunuh Ify.”
The Hits Boys dan SSA mendongakka
kepala mereka. Menatap Uncle Albert yang sedang menyandarkan tubuhnya disofa
dan memijat pelipisnya.
“Benarkah Uncle?” tanya Rio. Uncle
Albert pun menegakkan tubuhnya kembali dan menatap Rio lalu mengangguk. “Ya,
karena dengan itu kaum hitam bisa menguasai bumi. Itu berarti ketidaklengkapan
kalian itu sudah tidak berarti apa apa lagi.”
Ria mengepalkan tangannya kuat kuat.
Ini tidak boleh terjadi. Ia harus menyelamatkan Ify segera. Ya harus.
“Uncle beritahu saya dimana markas
kaum hitam,” paksa Rio. Uncle Albert menggelngkan kepalanya.
“Kau tak boleh kesana. Malam hari,
kekuatan kaum hitam semakin kuat. Jadi percuma saja kau kesana dengan formasi
tidak lengkap,” jelas Uncle Abert.
“Tidak Uncle. Saya harus kesana.
Saya harus menyelamatkan Ify,” kekeh Rio membuat Uncle Albert kembali emosi.
“Rio!!! Kau tak boleh kesana atau
kau akan mati disana. Lebih baik esok kita menyelamatkan Ify,” seru Uncle
Albert meninggikan suaranya. “Sebaiknya kalian pulang. Istirahlah. Besok kita
akan menyelamatkan Ify,” usir halus Uncle Albet. “Tidak ada tapi-tapian,” ujar
Uncle Albert ketika melihat Rio hendak mengelak.
Dengan terpaksa The Hits Boys dan
SSA keluar dari rumah Uncle Albert tetapi, mereka tak langsung pulang.
“Lo yang sabar Bro. Sebaiknya lo
istirahat. Lo dari kemarin belum makan juga kan,” saran Alvin sambil menepuk
pundak Rio. Rio memndang sengit Alvin. Rahangnya mengeras. Tangannya terkepal
di sisi kanan kiri tubuhnya.
“Coba lo rasain kalo lo berada
diposisi gue. Apa lo akan tetap tidur mengistirahatkan diri disaat nyawa Via
sedang terancam. Iya. JAWAB VIN JAWAB!!!”
Alvin menghela nafasnya. Ya benar
kata Rio. Ia pasti akan melakukan apa yang Rio lakukan. Tapi, bukannya Uncle
Albert tadi sudah mengatakan kalau itu semua percuma. Malah bisa saja salah
satu diantara mereka akan tertangkap oleh kaum hitam.
“Tapi Y—“
“Kalau kalian gak mau nolongin gue,
oke gue yang akan cari Ify sendiri,” tekad Rio lalu menaiki motornya.
“Yo lo jangan gila. Lo bisa dibunuh
langsung sama mereka,” Gabriel menghalangi jalan Rio. Ia akan mencoba membujuk
Rio agar Rio membatalkan niatnya mencari keberadaan Ify.
“Gue gak peduli. Sekarang lo
minggir,” usir Rio membuat Gabriel frustasi sendiri.
BUGH
Tubuh Rio tiba tiba ambruk. Dengan
segera Alvin menangkap tubuh Rio dan cakka menjaga motor Rio agar tidak ambruk.
Ya, baru saja Cakka memukul tengkuk Rio.
“Lo pinter juga Kka,” puji Alvin
sambil memapah Rio bersama Gabriel.
“Yaiyalah. Daripada berdebat yang
ujung ujungnya percuma lebih baik melakukan tindakan kan,” ucap Cakka sambil
memberhentikan sebuah taksi.
***
Rio membuka matanya perlahan-lahan,
membiasakan cahaya lampu yang memasuki matanya. Arghh.. kepalanya tiba tiba
pusing. Rio bangun dari tidurnya sambil memegang kepanya. Matanya menyapu
ruangan. Ternyata ia sekarang berada dikamarnya sendiri. Ia pun mencoba
mengingat kembali kejadian kejadian dan membuat ia tiba tiba berada disini.
Yang ia ingat terakhir ia berada didepan rumah Uncle Albert dan berdebat dengan
sahabat sahabatnya. Tapi, kenapa ia bisa berada disini? Aishh.. seharusnya ia
tidak perlu memikirkan ini. Sebaiknya ia harus mencari keberadaan Ify sekarang.
Rio pun berdiri dengan sempoyongan
karena tiba tiba saja kepalanya pusing dan pemandangannya buram. Rio
menggeleng-gelengkan kepalanya lalu berjalan keluar dari kamarnya.
Saat ia akan menutup pintu kamarnya
tiba-tiba hanphonenya berbunyi tanda sms masuk. Rio pun segera mengecek dan
tiba tiba saja hatinya mencolos syok.
From : 08********
Kalau lo mau Ify selamat, sekarang
lo datang ke Jl. Mawar Melati nomor 34.
[image]
Rio segera berjalan menuruni tangga
dengan tergesa gesa. Sudah tidak ada waktu lagi menunggu besok, besok dan
besok. Diruang tengah ia bertemu dengan sahabatnya. Ia tidak peduli dengan
panggilan sahabatnya. Yang ada difikirannya adalah Ify, Ify Ify dan semuanya
Ify.
“Rio lo mau kemana?” tanya Gabriel
menghentikan langkahnya.
“Gue mau nyelamatin Ify.”
“Astaga Rio. Besok kan bisa,” kesal
Cakka.
“Dan lo akan lihat sahabat lo ini
mempunyai istri tak bernyawa,” ucap Rio dingin dan menaiki motor cagivanya.
“Maksud lo apa Kak?” tanya Via.
Rio pun tersenyum kecut lalu
menyerahkan MMS orang misterius tadi.
“Apaa?” Via menutup mulutnya menahan
tangis. Shilla dan Agni yang sebenarnya kepo pun mengambil alih hp milik Rio.
Seketika mata mereka membulat Ify yang akan dijatuhkan dari lantai entahlah..
yang mereka tahu bangunan itu sangat tinggi. Shilla langsung menangis dan
dengan sigap Gabriel langsung memeluknya.
“Ini beneran Kak?” Rio mengangguk
lalu mengambil Hp nya dari Agni.
“Gue ikut Kak,” seru Via melihat Rio
berjalan keluar dari rumah.
***
“Lo yakin Vi tempatnya disini?”
tanya Shilla ngeri melihat sebuah bangunan tua yang membuat bulu kuduknya
langsung merinding.
“Iya, gue yakin. Gue udah lacak dan
Ify emang ada disini,” ucap Via seraya memperlihatkan tabletnya ke Shilla. The
Hits Boys dan SA pun langsung menatap tablet Via yang berada dihadapan Shilla.
“Tapi, kok tempatnya serem gini ya?”
gumam Shilla.
Rio pun langsung memasuki bangunan
tua itu dengan muka datar dan terkesan dingin. Dibelakanganya diikuti Agni,
Cakka, Via dan Shilla yang memegang erat lengan Alvin dan Gabriel.
Suara derit pintu menyambut
kedatangan mereka yang sontak saja membuat Via langsung memeluk erat lengan
Alvin. Mereka pun berjalan masuk dipimpin oleh Rio.
BRAKKK
Pintu langsung tertutup sendiri.
Gabriel yang notabanenya berada paling belakang bersama Shilla segera berlari
kearah pintu dan mencoba membuka pintu. Shilla yang ditinggal beberapa langkah
dari Gabriel pun langsung menggandeng lengan Via
“Sial, pintunya kekunci,” umpat
Gabriel sambil menggebrak pintu.
“Terus kita keluar gimana?” tanya
Via takut.
“Apa jangan-jangan kita Cuma
dijebak?” kata Agni sambil menatap teman temannya satu persatu.
“Gak mungkin. Ify pasti disini. Gue
tadi lacak dari ID Hp Ify,” jawab Via.
“Tap—“
“Gue percaya sama elo kok Vi,” ucap
Rio memotong ucapan Agni. Agni pun melongos kesal sedangkan Rio hanya melirik
Agni sekilas.
“Yaudah ayo kita naik. Gue yakin Ify
pasti ada dilantai atas,” ucap Shilla memecah keheningan kemudian.
***
“AHHHHH.” Gabriel tersentak kaget
ketika Shilla langsung memeluknya dengan erat ditambah lagi teriakan Shillaa
yang memekak telinga membuat jantungnya hampir copot.
“Lo kenapa Shill?” tanya Gabriel
khawatir.
“Disitu ada orang serem kak,” jawab
Shilla yang masih membenamkan wajahnya didada bidang Gabriel.
The Hits Bosy dan SA pun langsung
mengikuti arah tunjuk Shilla kemudian menatap kembali Shilla dengan kesal. “Gak
ada kali Shill. Mungkin itu Cuma ilusi lo aja.”
“Benaran Kak Rio. Gue gak bohong.
Tuh orang tadi bawa kapak dipundaknya,” kali ini tubuh Shilla sudah gemetar
karena menangis. Gabriel pun mengelus kepala Shilla dan membisiikkannya dengan
kata kata penenang.
Shilla pun mengangkat wajahnya
kemudian menghapus air matanya dibantu okeh Gabriel. Dengan nafas masih sesenggukan
ia membalikkan tubuhnya mengarah kearah Alvin, Rio Gabriel, Via dan juga Agni.
“Iya, mungkin gue tadi emang Cuma berhalusinasi.”
***
“BERHENTII,” The Hits Boys dan juga
SSA pun menghentikan langkah mereka dan secara kompak menolehkan kepala mereka
disudut ruangan. Shilla, Via dan Agni langsung memeluk lengan suami mereka
masing masing. Mata mereka menatap awas pada benda berwarna hitam dengan
permukaan yang sangat tajam pada matanya (?) yang tengah berada dipundak orang
tersebut. Hhh, sepertinya ucapan Shilla tadi sangat benar dan orang yang
dimaksud Shilla yang memakai jubah hitam dan topeng penutup wajah sudah berdiri
dengan gagahnya dan tatapan mematikan dihadapan mereka.
“Dimana Ify,” Seru Rio emosi. Tidak
ada sedikitpun rasa takut yang menghantuinya. Malah emosi yang sekarang
menguasai dirinya.
“Hmm, elo nyari Istri lo?” Rio
tersentak. Kenapa orang ini bisa mengetahui kalau Ify adalah istrinya.
“Iya. Sekarang dimana Ify?” orang
berjubah tersebut pun melangkah maju mendekati Rio dengan kapak yang tergantung
bebas ditangannya.
“Lawan gue dulu, kalau elo mau tau
dimana Ify,” tantang pemuda berjubah itu membuat SSA, Gabriel, Alvin dan juga
Cakka syok bukan main. Beda lagi dengan Rio. Dengan angkuhnya ia mengangkat
salah satu alisnya seolah mengejek orang berjubah itu. “Oke kalau itu mau lo.”
“Yo lo jangan gila,” sergah Cakka
khawatir.
Rio pun menatap Cakka sebentar lalu
tersenyum miring. “Gue gak peduli.”
***
Pertandingan sengit pun terjadi. Satu lawan satu yang membuat
siapa saja ngeri melihatnya. Rio yang sedari cuma menghindari kapak orang
berjubah tersebut pun membuat Gabriel, Cakka dan tentunya Alvin geram sndiri.
Ini namanya tidak adil buat Rio. Rio yang notabanenya tanpa senjata pun pasti
kewalahan melawan pemuda berjubah itu yang membawa kapak yang sekali tebas
membuat kepala dengan tubuh terpisah secara sempurna. SADIS!!
Rio tersungkur dengan lengan yang mengeluarkan darah akibat
tergores kapak. Gabriel, Alvin, Cakka dan juga SSA pun segera menghampiri Rio.
“Yo lo gpp kan?” tanya Alvin. Rio
menggeleng sebagai jawaban. Ia pun berdiri kemudian bersiap melawan pemuda
berjubah itu.
“Yo lo mau ngapain?” tanya Gabriel
was-was. Bukannya ia bodoh seolah ia tidak tau kalau Rio mau melawan pemuda
berjubah itu. Tapi, hanya itu yang dapat keluar dari mulutnya. Dasar bodoh!!
“Lo jangan bodoh Rio!!” bentak Alvin. Sedangkan Rio tidak
menghiraukan ucapan Alvin dan tetap maju melawan pemuda berjubah itu.
Cakka pun maju membantu Rio. Ia sudah geram melihat Rio yang
berusaha sendiri. Toh, mereka kesini bersama-sama berarti sama saja kita
melawan musuh secara bersama-sama.
Gabriel dan Alvin yang melihat Cakka maju pun ikut-ikutan maju.
Tanpa mereka sadari dibalik topeng pemuda berjuba tersenyum kemenangan.
SSA pun menatap ngeri pertandingan itu. Ternyata pemuda berjubah
itu sangat pandai dalam action. Lihat saja pemuda berjuba itu sama sekali tidak
berpengaruh dengan serangan keroyokan The Hits Boys. Malah terlihat santai tapi
menakutkan.
Tanpa sadar dari belakang ada yang membekap SSA dan membuat mereka
bertiga tak sadarkan diri. The Hits Boys mereka terlalu sibuk bertarung
sehingga tanpa mereka sadari SSA sudah menghilang entah kemana.
***
Nafas The Hits Boys terengah-engah. Pertarungan ini sungguh
membuat mereka merasakan sesak nafas untuk pertama kalinya. Sungguh! Pemuda
berjubah itu sangat tangguh sampai sampai mereka berempat tidak sanggup
melawannya ah ralat hanya sanggup menghindari kapak yang dilayangkan.
“Masih berani lawan gue tuan muda?” pemuda berjubah itu tertawa
sinis membuat The Hits Boys terbakar emosi. Mereka pun menegakkan badan mereka
angkuh seolah mereka masih memiliki keberanian yang tinggi.
“Ck ck..” pemuda berjubah itu menggeleng gelengkan kepalanya tak
percaya. Bukan karena keberanian The Hits Boys tapi, kepekaan mereka terhadap sekitarnya.
Apakah keempat pemuda itu tidak mengetahui kalau ketiga gadis yang datang
bersama mereka tadi sudah tidak ada ditempat. Apakah harus ia yang harus
repot-repot memberitahunya?
The Hits Boys menatap bingung pemuda berjubah itu. Kenapa pemuda
itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Sebaiknya gue pergi dari sini. Selamat mencari istri kalian
masing masing,” pemuda berjubah itu pun melenggangkan kaki mereka. Rio pun
mengejar pemuda berjubah itu tapi, sayangnya badannya tidak bisa diajak
berlari. Alvin, Cakka dan Gabriel diam mematung mencoba mencerna kalimat yang
diucapkan oleh pemuda berjubah itu. Apa maksudnya ‘mencari istri
masing-masing?’.
“Astaga Agni mana?” suara Cakka yang menggelegar membangunkan
kesadaran Alvin dan Gabriel. Mereka bertiga –RioAlvinGabriel- pun menoleh
ketempat dimana SSA tadi berada.
“Viaaa,” teriak Alvin heboh. Pikirannya sudah tak tenang sekarang.
Dimana Via sekarang. Bagaiman kalau istrinya yang cerewet itu dibunuh oleh kaum
hitam?
“Jangan main main sama gue kalau lo belum bosen hidup. Dimana elo
sembunyiin Shilla. Keluar lo. Keluar kalau lo bukan pengecut. Keluar!!!” teriak
Gabriel frustasi.
***
The Hits Boys berjalan mengililingi rumah tua
itu dengan kesal. Sudah berkali-kali mereka mengelilingi rumah tuai ini tetapi,
mereka sama sekali belum menemukan Ify, Via, Agni dan juga Shilla.
“Arghhh..” geram Gabriel. Kesal,
marah, takut, frustasi bercampur jadi satu. Sungguh ia takut terjadi apa-apa
sama Gabriel. Apa jadinya kalau ia kehilangan Shilla?. “Ini semua gara-gara
elo,” tuding Gabriel ke Rio. Rio yang sama frustasinya seperti Gabriel pun
ikut-ikutna emosi.
“Kenapa elo nyalahin gue? Emang gue
nyuruh elo ikut sama gue?”
Gabriel langsung menubruk tubuh Rio
sehingga badan Rio langsung terhimpit ditembok dengan Gabriel didepannya. “Itu
emang salah elo Mario. Coba kalau elo—“
“Kenapa lo berdua malah berntem
sih,” teriak Cakka sambil memisahkan Gabriel dengan Rio. “Bisa gak sih kalian
fokus buat nyari Agni, Ify, Shilla sama Via. Lo berdua fikir gue gak kesel, gak
takut, gak frustasi? Gue sama kayak kalian. Gue juga takut kalau terjadi
apa-apa sama Agni.”
Rio dan Gabriel pun saling menatap
satu sama lain. Saling memberikan tatapan tajam melepaskan emosi. Untung saja
tadi Cakka langsung memisahkan mereka. Kalau tidak pasti kebenaran kata Cakka
pasti akan terjadi sekarang. Adu jotos.
“Udahlah Gab, Yo. sebaiknya kita
cari istri kita sebelum terlambat. Lo mau mereka terjadi apa-apa?” Alvin menrik
tangan Gabriel dan Rio agar saling berdekatan. Gabriel pun mengulurkan
tangannya.
“Maaf,” Rio pun menyambut jabatan
tangan Gabriel kemudian mengangguk. “Gue juga.”
***
“Apa ini semua dari awal emang sudah
direncanakan?” tanya Via shock sambil menatap satu persatu semua orang yang
sedang duduk dihadapannya. “Apa jangan-jangan lo juga telibat Fy?”
“No!! Gue gak terlibat. Sebelumnya
gue juga sempat bingung. Taksi yang gue tumpangi tiba tiba bawa gue kesini dan
menyuruh gue masuk. Gue yang gak mau pun harus diseret masuk oleh orang sangar
dan menemukan mama gue dan juga Rio. Dan kemudian mereka pun menceritakan
semuanya,” jelas Ify jujur. Ya, tadi pagi sewaktu Ify berangkat sekolah
tiba-tiba saja ia diantarkan ke rumah ini. sontak saja Ify bingung. Sang sopir
taksi yang mengerti kebingungan Ify pun menyuruh Ify masuk. Pertama, Ify
waspada. Jangan-jangan ia dijebak oleh orang jahat atau yang lebih parahnya
kaum hitam. Sontak saja Ify menolaak kemudian sang sopir tersenyum lalu
mengatakan kalau mamanya telah menunggunya didalam. Ify tetap tidak percaya dan
akhirnya pintu taksinya dibuka secara paksa oleh dua orang lelaki yang menurut
Ify sangar dan menakutkan. Ify yang kekuatannya tak ada bandingannya dengan
kedua lelaki ini pun dengan mudda menarik Ify masuk. Dan tadaa, Ify menemukan
mamanya mama mertuanya tengah bergosip ria.
“Sebenarnya ini belum saatnya kalian
tau rencana kita. Tapi, karena sebelumnya Ify dan Shilla sudah mengetahuinya
jadi papa terpaksa mempercepatnya.”
“Saya sama Shilla baru mengetahui
kalau kaum hitam itu adalah orang-orang yang menyerang sewaktu acara musik lima
hari yang lalu om,” komen Ify.
“Tapi, sebenarnya kamu tau kan
sayang kalau om Husein ikut terlibatkan?” tanya papa Ify.
“Om Husein orang kepercayaan papa
kan?” papa Ify pun mengangguk. “Iya pah.”
“Makanya kamu merasa dibuntuti oleh
kaum hitam kan?” Ify pun kembali mengangguk. Papa Ify pun tertawa. “Lagian papa
menyuruh om Husein mengikutimu gara-gara
papa takut kamu bunuh diri sayang.”
“Bunuh diri? Bunuh didi buat apa?”
tanya Ify bingung.
“Papa tau kamu ppunya masalah dengan
Rio. Jadi, papa mengira kamu akan bunuh diri gara-gara Rio ingin meninggalkanmu,”
jawab papa Ify sambil tertawa puas. Ify pun merengut melihat papanya dan juga
yang lainnya yang ikut menertawakannya.
“Siapa bilang Ify mau bunuh diri.”
“Haha melihatmu berjalan seperti
mayat hidup itu namanya kamu mau bunuh diri Ify. siapa tau saja kamu terpeleset
atau disrempet motor gara gara kamu tidak fokus dan tidak ada menolongmu
bagaimana? Hahaha Ify Ify sepertinya pilihan papa tidak salah. Kamu begitu
mencintai Rio rupanya.”
“Ihh Papa,” merengut Ify. Sungguh
saat ini ia sangat kesal, kesal, kesal dan kesal. Papanya memang sangat suka
menggodanya habis-habisan dan akan berhenti kalau Ify menangis. Jangan pernh
berfikir kalau Ify cengeng. Sungguh ia tidak bermaksud cengeng hanya saja coba
kalian bayangkan bagaimana perasaan Ify. Ify malu, marah kesal. Dan sekarag Ify
bisa apa? tidak mungkin kan ia menangis didepan semua orang.
“Sudahlah pah.. Nanti Ify nangis
lagi,” kata mama Ify. Pertama Ify senang karena mamanya mau membelanya. Tapi,
akhirnya sama saja. Ini sama saja menhujami Ify dengan seribu piasau didadanya.
Ify mengerucutkan bibirnya. Ia marah
sekarang. Terserahlah Ify disangka durhaka kepada orang tuanya. Apakah mama dn
papanya tidak tau kalau skarang ia sangat sangat malu. Karena kesal Ify pun
mulai menutup wajahnya dan menangis sesenggukan.
“Loh Fy kok lo nangis?” tanya Shilla
yang memang duduk disampingnya. “Wah sebaiknya om sama tante membujuk Ify
daripada kita kebanjiran nanti.”
Ify pun menaikkan kakinya disopa dan
menekuknya mencoba menyembunyikan wajahnya. Ia manambakan volume (?) nangisnya.
Badan Ify mulai bergetar tanda Ify sedang menangis hebat (?)
“Udah sayang. Jangan nangis dong,”
mama Ify pun meminta Shilla pindah dan ia duduk disamping Ify. Mama Ify pun
mengelus pelan rambut Ify yang masih menangis.
“Ify mau apa? Pasti mama belikan,”
rayu mama Ify akhirnya. Ya, dengan cara ini biasanya Ify akan berhenti menangis
dan meminta aneh aneh. Contohnya dulu Ify meminta Martabak yang harus dipesan
lagsung dari Semarang. ASTAGA!! Semoga saja Ify tidak meminta yang macam-macam.
“Kak Rio...” Ify berkata lirih. Mama
Ify pun tersenyum lalu menoleh kepada suaminya.
“Nanti Rio akan kesini sayang. Tapi,
kita harus bermain-main dulu dengan mereka,” jawab papa Ify. Ify pun mengangkat
wajahnya lalu menghapus air matanya.
“Maksud papa?”
“Kita akan memberikan kejutan kecil
baut mereka berempat,” SISA pun menatap papa Ify dengan bingung. Maksudnya
kejutan untuk The Hits Boys??
“Untuk mereka berempat? Emang ada
apa om?” tanya Agni mewakili yang lain.
“Lihat saja nanti---”
BRAKK
***
Cakka menyandarkan tubuhnya pada
tembok. Tubuhnya sudah lelah sekarang. Sudah berulang kali ia dan juga ketiga
sahaatnya mengelilingi rumah ini sedari tadi tetapi belum membuahkan hasil.
Sempat terfikir dalam otaknya kalau istrinya dan juga istri para sahabatnya
dibawa keluar dari rumah ini. Tapi, itu semua ia tepik karena tidak mungkin
orang tersebut membawa Agni pergi dari sini tanpa ia ketahui. Bangunan ini
sangat sepi, maka keributan sekecil apapun pasti ia dengar. Ditambah, pintu
utama yang merupakan satu-satunya jalan keluar akan berbunyi bila dibuka.
“Dimana orang itu menyembunyikan
istri kita?” Gabriel membuka suara. Semua mata pun langsung menatap Gabriel
sendu.
“Gak tau. Tapi, gue yakin pasti
masih dirumah ini,” jawab Cakka.
Alvin pun menumpu tangannya disebuah
nakas kecil disebelahnya. Tanpa diduga tiba tiba sebuah rak buku bergeser
terbuka. Sontak saja The Hits Boys yang berdiri tepat didepan nakas itupun
terlonjak kaget dan menatap rak tersebut dengan bingung.
“Kenapa bis—“
“Kayaknya ini salah satu jalan untuk
menemukan istri kita,” ucap Rio memotong ucapan Cakka. Rio pun segera memasuki
ruangan tersebut tanpa ragu. Cakka, Alvin dan Gabriel pun saling pandang
kemudian mengikuti jejak Rio.
***
“Bunuh diri? Bunuh didi buat apa?”
tanya Ify bingung.
“Papa tau kamu punya masalah dengan
Rio. Jadi, papa mengira kamu akan bunuh diri gara-gara Rio ingin
meninggalkanmu,” jawab papa Ify sambil tertawa puas. Ify pun merengut melihat
papanya dan juga yang lainnya yang ikut menertawakannya.
“Siapa bilang Ify mau bunuh diri.”
“Haha melihatmu berjalan seperti
mayat hidup itu namanya kamu mau bunuh diri Ify. siapa tau saja kamu terpeleset
atau disrempet motor gara gara kamu tidak fokus dan tidak ada menolongmu
bagaimana? Hahaha Ify Ify sepertinya pilihan papa tidak salah. Kamu begitu
mencintai Rio rupanya.”
“Ihh Papa,” merengut Ify.
“Sudahlah pah.. Nanti Ify nangis
lagi,” kata mama Ify.
“Loh Fy kok lo nangis?” tanya Shilla
yang memang duduk disampingnya. “Wah sebaiknya om sama tante membujuk Ify
daripada kita kebanjiran nanti.”
“Udah sayang. Jangan
nangis dong,” mama Ify pun meminta Shilla pindah dan ia duduk disamping Ify.
Mama Ify pun mengelus pelan rambut Ify yang masih menangis.
“Ify mau apa? Pasti mama belikan,”
rayu mama Ify akhirnya
“Rio...” Ify berkata lirih. Mama Ify
pun tersenyum lalu menoleh kepada suaminya.
“Nanti Rio akan kesini sayang. Tapi,
kita harus bermain-main dulu dengan mereka,” jawab papa Ify. Ify pun mengangkat
wajahnya lalu menghapus air matanya.
“Maksud papa?”
“Kita akan memberikan kejutan kecil
baut mereka berempat,” SISA pun menatap papa Ify dengan bingung.
“Kejutan untuk mereka berempat?
Emang ada apa om?” tanya Agni mewakili yang lain.
“Lihat saja nanti...”
BRAKK
Rio membuka pintu dengan emosi.
Pupil matanya yang semula berwarna biru legam berubah menjadi sangat
menakutkan. Disampingnya ada Gabriel yang menatap dengan tatapan membunuh.
Cakka dan Alvin yang berdiri dibelakang Rio dan Gabriel pun tak kalah emosinya
sampai-sampai Alvin menggeretakkan (?) rahangnya saking emosinya. *mbulet*
“Kak Rio..” Ify yang tersadar duluan
dari keterkejutannya pun segera berlari kearah Rio dengan senyum yang
mengembang dibibirnya. Dirinnya sudah sangat rindu dengan pemuda itu.
“Stop it,” Ify pun menurunkan
rentangan tangannya ketika mendengar ucapan dingin Rio. Maksud hati ingin
memeluk Rio untuk menyenangkan hati, malah sakit yang ia dapatkan.
“Kak Ri—“
“Puas lo ngerjain gue. Puas lo buat
gue khawatir. Puas lo buat gue sakit. IYAA. KENAPA LO LAKUIN INI KEGUE FY. LO
MAU BALAS DENDAM KE GUE. IYA,” Ify menatap Rio dengan sedih. Matanya mulai
berkaca-kaca mendengar bentakan Rio. Hatinya perih mendengar kata-kata Rio. Ia
berfikir kalau Rio sudah memaafkannya. Tapi ternyata, ia salah besar. Rio belum
memaafkannya bahkan sekarang tambah membencinya.
“Dan selamat Fy. Lo berhasil. Lo
berhasil buat gue ngerasain sakit yang mungkin tidak seberapa dibandingkan gue
yang telah nyakitin elo,” Ify menangis. Dirinya sudah tidak kuat
mempertahankan. Ify berjalan mendekat hendak memeluk Rio. Tapi tiba-tiba Rio
menahannya.
“Jangan sentuh gue Fy,” ucap Rio
dingin. Ify menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Tapi Kak...”
“JANGAN SENTUH GUE,” bentak Rio
membuat Ify terlonjak kaget.
“Cukup Rio,” buka papa Rio. Papa Rio
pun berdiri dari duduknya kemudian berjalan mendekati Rio. “Papa tidak pernah
mengajarkanmu untuk membentak wanita. Apalagi membentak istrimu. Pa—“
“Oh papa belain dia,” potong Rio
sambil menunjuk Ify yang tengah menangis hebat (?).
“Jangan potong ucapan papa!!,”
bentak papa Rio. Rio pun tersenyum miris dan melirik Ify sinis. “Ini semua
rencana papa Rio. Dari awal pertemuanmu dengan Ify juga rencana papa.”
The Hits Boys tersentak kaget
mendengar perkataan papa Rio. “Maksud papa?”
“Papa yang membuat skenario ini
untuk mempertemukanmu dengan Ify. Begitupun dengan Gabriel, Cakka dan Alvin.”
“Tapi, ini semua untuk apa om?”
tanya Alvin membuka suara. Tangannya yang tadi terkepal mulai longgar mendengar
ucapan papa Rio.
“Papa dan juga papa kalian memang sudah
merencakan perjodohan kalian dengan anak sahabat kami. Tapi, melihat tipikal
kalian yang membenci wanita pun membuat papa harus memutar otak agar kalian
bisa menerima calon kalian. Dan Akhirnya papa menggunakan cara ini,” jelas papa
Rio membuat The Hits Boys melongo tidak percaya. Bahkan SSA yang baru tau
cerita aslinya pun ikut-ikutan melongo.
“Tapi, bagaimana dengan kalung ini?”
tanya Rio sambil menyentuh kalungnya.
“Haha. Sebenarnya itu kalaung couple
biasa. Hanya saja papa memberikan sebangsa pendeteksi. Jika kalian berpisah
maka kalian akan merasa kesakitan.”
“Tapi, kenapa setelah kami
berpelukan rasa sakitnya langsung hilang?” tanya Ify yang masih sesenggukan.
Kontan saja semua menatap Ify kemudian menatap papa Rio meminta penjelasan.
Tetapi, tidak dengan Rio. Tiba-tiba rasa bersalah tiba tiba menggelayutinya.
“Karna kalung ini sanagt berdekatan.
Ya kira kira hanya berjarak 20 cm saja setelahnya pendeteksi itu pun berhenti
berfungsi. Tetapi kalau kalian berdekatan lagi, kalung tersebut pun aktif
kembali.”
“Bagaimana dengan sinar ketika
katanya ‘kaum hitam’ berada didekat kami,” tanya Via mengingat kejadian saat
itu.
“Karna kaum hitam yang kau maksud
adalah suruan om. Om telah memberikan sebuah remot untuk menyalakannya.”
“Terus kenapa setelah saya merasa
kesakitan?” tanya Via lagi.
“Karna tanpa sepengetahuan kamu,
lelaki tersebut telah menempelkan alat seperti alat pada kalung kalian,” Via
pun mangut-mangut mengerti.
“Kalau kemunculan Uncle Albert yang
tiba-tiba?” tanya Shilla kini. Shilla ingat betul kejadian itu. Saat Shilla
mengetahui kebenarannya.
“Itu Cuma hologram,” jawab papa Rio
terkekeh. Shilla pun membulatkan matanya tak percaya. Kok bisa? Padahal saat
itu Uncle Albert seperti orang sungguhan.
“Penculikan itu?” papa Rio menatap Gabriel
kemudian mengehela nafas.
“Itu asli. Kalian memang diculik
oleh musih kita,” jawab papa Rio sedih.
Selamat ulang tahun...
Selamat ulang tahun...
Selamat ulang tahun Ify..
Selamat ulang tahun...
Ify menoleh kebelakang mendapati
mamanya membawa sebuah kue kecil dengan lilin angka 17 diatasnya diikuti oleh
sahabatnya dan juga orang tua sang sahabat *mbuletlagi*. Ify pun menangis
(lagi). Tapi, kali ini menangis bahagia.
“Tiup lilinnya sayang,” ucap mama
Ify.
“Jangan lupa make wish Fy,” seru
Agni yang diangguki oleh Ify. Ify pun memejamkan matanya dan merapalkan doa
untuk kebahagian orang-orang yang disayanginya.
“Yeee,” semua orang pun bertepuk
tangan senang setelah Ify meniup lilinnya. Ify pun menerima pisau kue yang
diserahkan oleh mama Rio kemudian memotong kuenya.
“First Cake nya baut siapa Fy,” seru
Via heboh. “Pasti buat gue,” Shilla dan Agni pun menoyor kepala Via. Via pun cemberut.
Ify pun tersenyum kemudian
meyerahkan kue pertamanya buat kedua orang tuanya dan juga mertuanya.
“Dan ini buat Viaa,” seru Ify sambil
meyerahkan kue ulengtahunnya yang hilang sedikit. Via pun tersenyum dan
menerima kue itu dengan senang hati.
“Makasih Ify sayong. Moga keiinginan
lo dapat terkabul di tahun ini,” ucap Via sambil mencium pipi Ify.
“Ihh Via...” seru Ify sambil
menghapus bekas ciuman Via menggunakan tangannya. Via pun tertawa sambil
menatap Ify jahil.
“Hmm Fy, Rio gak lo kasih?” tanya
Cakka.
Ify pun menatap Cakka dengan
bingung. “Rio siapa ya kak?”
“Wah Yo, dirimu dilupakan oleh Ify,”
Rio pun menatap tajam Ify. Ify pun membuang muka kemudian menatap orang tuanya
dengan muka imut.
“Ma, Pa kado buat Ify mana?”
“Tuh Rio udah ada. Itu kado buat
kamu sayang,” Ify pun cemberut sambil menggelengkan kepalanya.
“Tapi, Ify gak mau ma, pa.”
“Terus kamu mau apa, hm?” tanya papa
Rio.
“Ify maunya suami baru,” Ify melirik
Rio dengan senyum menggoda. “Gpp kan ma, pa.”
“Apapun buat kamu asalkan kamu
bahagia pasti papa turutin.”
“Yee suami baruuu,” seru Ify senang.
“Eh lo mau kan jadi saksi pernikahan gue nanti?” tanya Ify ke Rio. Rio jangan
ditanya tiba-tiba mukanya merah karena kesal.
“IFYYYYYY”
***
Ify berjalan ke springbed tempat
diman suaminya tengah tertidur lelap. Ify menatap suaminya dengan senyum
kebahagian yang tecetak jelas dibibrnya. Wajah suaminya yang tampan berlipat
dua ketika sedang tidur seperti ini. Sungguh. Jujur saja kalau setiap hari Ify
wajah tampan suaminya maka, ia akan berfikir dua kali untuk mencari selingkuhan
dan pastinya itu takkan pernah terjadi. Karena apa, pasti suaminya ini akan
membunuhnya hidup-hidup.
“Mangagumiku?” Ify tersentak kaget
mendengar ucapan tiba-tiab Rio. Sejak kapan Rio membuka matanya?
“Sejak kapan kamu bangun?” tanya
Ify.
“Sejak istriku menatapku dengan
tatapan menggoda,” Ify membulatkan matanya. Kapan dirinya menatap Rio dengan
tatapan menggda. “Dan kau tau.. aku tergoda sekarang,” Rio menarik tangan Ify
agar berbaring dan kemudian menindihnya dengan sikunya sebagai penyangga.
“Ka—“
“Sstt,” Rio meletakkan jari
telunjukkan didepan bibir Ify. “Biarkan aku menikmatimu dear.”
“Tapi kak...”
Rio mengindahkan ucapan Ify malah
mendekatkan wajahnya. Rio pun menutup matanya dan membuat Ify ikut tersugesti
sehingga ia juga menutup matanya.
Sudah hampir tiga menit ia tidak
merasakan apa-apa sama sekali. Ify pun membuka matanya perlahan-lahan dan
menemukan Rio yang menatapnya geli.
Ify pun mendorong tubuh Rio dengan
kasar dan membuat Rio tertawa terbahak-bahak. Ify jangan ditanya lagi. Saat ini
mulutnya sudah maju 5 cm.
“Hahaha. Sepertinya kamu sudah tak
sabar Fy. Tapi, sayangnya papa melarangku sebelum kau lulus kuliah,” Rio
tertawa sangat puas sekali. Sampai-sampai tawanya masih terdengar saat ia masuk
kekamar mandi.
***
Ify berjalan duluan meninggalkan
Rio. Sungguh kejadian tadi masih membuatnya keki setengah mati. Huh dasar Rio
emang nyebelin, batin Ify kesal.
“Fy, tunggu,” ucap Rio mencoba
menyamai langkah Ify. Tapi, semakin dekat ia dengan Ify maka semakin cepat Ify
berjalan. Dengan kesal, Rio pun menarik tangan Ify dan mengunci tubuh Ify
ditembok.
“Aishh kak, gak usah main-main deh.
Kta udah ditungguin nih di loby,” ucap Ify mencoba memberontak. Tapi, semakin
Ify memberontak maka makin dekat pula jaraknya dengan Rio.
“Kamu marah?” tanya Rio menghiraukan
ucapan Ify.
“Siapa yang marah sih kak?”
“Terus kenapa kamu gak mau jalan
disamping ku?” tanya balik Rio.
“Karena kakak jalannya lelet.
Padahal kita udah ditunggu dibawah.”
“Kamu gak usah bohong Fy. Aku hidup
sama kamu itu hampir satu tahun. Jadi, aku tau giman tingkah kamu kalau marah,
kesal, berbohong ataupun senang,” TELAK. Jawaban Rio memang benar.
“Terus ngapain nanya?” tanya Ify
keki.
“Ify, bukannya aku tidak mau
menyen—“
“Bukan itu maksud aku kak,” potong
Ify cepat. Ify tau jalan cerita Rio dan itu membuat pipinya nanti memerah. “Aku
kesal karena kak Rio jailin aku kayak gitu. Kak Rio gak tau kan efeknya ke Ify gimana. aku gak biasa kak.”
Rio terkekeh mendengar tuturan Ify.
“Yaudah nanti malam aku bantu kamu biasain. Bagaimana dengan ciu—“
“Kak Rio!!” seru Ify kesal.
“Hahaha baiklah-baiklah,” ucap Rio
kemudian mencium bibir Ify sekilas. Ify langsung shock menatap Rio. Beberapa
detik kemudian Ify pun mencak-mencak gak jelas.
“AHH Kak Rio nyebelin.”
***
“Wahh sunsetnya keren banget,” seru
Via heboh. Astaga Via kayak orang katro aja.
“Viaa lo malu-maluin deh,” seru
Shilla kesal. Gimana gak malu-maluin. Dengan hebohnya Via teriak kayak gitu.
Jadinya semua orang jadi lihatin mereka aneh deh.
“Ini yang gue kagenin dari pantai
Kuta,” kata Agni dan sontak saja Ify, Via dan Shilla menatap Agni kemudian
mengangguk sambil tersenyum.
“Ya bener banget. Apalagi saat kaki
gue disentuh oleh air. Wahh seneng banget.”
“Hahaha bener banget. Rasanya gue
mau banget lomba sama air,” Ify, Agni, dan juga Shilla menatap Via aneh.
“Lomba apa Vi?” tanya Agni.
“Lomba lari.”
“Eh lo kat air punya kaki sampai lo
ajakin lomba lari,” jawab Shilla geli.
“Aihh masa iya lo gak tau sih maksud
gue,” ucap Via cemberut.
“Ngerti kok Vi. Ngerti,” ucap Ify
dan membuat Via tersenyum senang.
“I LOVE YOU,” sontak saja SISA menolehkan
kepala mereka kearah kanan tempat sumber suara tersebut. Mate mereka membulat
ketika mengetahui kalau suami mereka lah yang mengucapkan kata itu. SISA pun
berlari kearah suami mereka.
“Hayoo itu tadi buat siapa?” tuding
Via.
“Buat cewek-cewek bule yang ada
disini,” kompak The hits boys dan membuat SISA membulatkan mata mereka kesal.
Dan tanpa hitungan detik, sebuah cubitan mendarat di perut rata The Hits Boys.
“Tadi, kalian ngomong apa? oke Fix
Mr. Gabriel malam ini kau tidak akan mendapatkan jatah dariku,” ucap Shilla
kemudian berjalan menjauh dari tempat kejadian.
“Shilla,” Gabriel pun berlari
menegkar Shilla.
“Oke malam ini Via akan ke pub dan
bakal cari cowok baru,” ucap Via.
“Yaudah silahkan kalau kamu masih
betah hidup,” ucap Alvin dingin. Nah kicep deh Via.
“Ahh kak Alvin ngeselin,” Via
menutup wajahnya dan akhirnya nangis deh. Alvin pun berjalan maju mendekati Via
kemudian memeluknya.
“Apa lo lihat-lihat,” garang Agni.
Cakka pun tersenyum kemudian
merangkul Agni. “Kata I Love You tadir jujur buat kamu sayang,” dan langsung
saja rona merah jambu menghiasi pipi Agni dan membuat Cakka terkekeh.
“sstt,” jari telunjuk Rio pun
mendarat dibibir Ify saat Ify ingin membuka mulutnya. “I LOVE YOU,” Ify
tersenyum kemudian memeluk tubuh Rio erat.
“I Love You Too.”
#END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar