Jumat, 09 September 2016

OBLIGATIE PART 10 [END]



Tittle    : Obligatie part 10 [END]
Cast     : Ify | Rio | Via | Alvin | Shilla | Gabriel | Agni | Cakka |
Genre  : Romance, Friendship, Action, etc,- | Maybe
Author : Yanti Lestari | @yanti_lestariA | IG: @yanti_lestariA

            “APA!! Ify diculik oleh kaum hitam?” tanya Uncle Albert kaget. Jujur berita yang disampaikan oleh The Hits Boys dan juga SSA hampir saja membuatnya serangan jantung. Ia tak habis fikir kenapa bisa mereka lengah dan membuat salah satu dari mereka diculik.
            Rio menganggukkan kepalanya. Ia menundukkan kepalanya. Ini semua salahnya. Ya memang ini semua salahnya. Kalau saja dua hari yang lalu ia tidak kelepasan pasti ini semua tidak akan terjadi. Astaga kenapa penyesalan harus datang terakhir kali.
            “Kenapa kalian bisa tidak saling menjaga. Bukannya Uncle sudah memberitahu kalian untuk saling menjaga. Terus, kenapa juga kalian berbohong pada Uncle kalau kalian belum mengetahui siapa kaum hitam?”
            “Itu salah saya Uncle. Saya sengaja tidak memberitahu Uncle karena saya dan Ify masih mencari tau kebenarannya,” Shilla menundukkan kepalanya takut. Takut dengan tatapan Uncle Albert yang tajam dan menusuk itu.
            “Seharusnya kamu memberitahu saya. Kita bisa cari tau bersama-sama. tidak sendiri-sendiri seperti ini. Sekarang lihat akibatnya kan? Ify diculik oleh kaum hitam,” The Hits Boys dan SSA hanya menundukkan kepalanya mendengar kemarahan Uncle Albert. Terlebih Shilla. “Astaga pasti mereka akan membunuh Ify.”
            The Hits Boys dan SSA mendongakka kepala mereka. Menatap Uncle Albert yang sedang menyandarkan tubuhnya disofa dan memijat pelipisnya.
            “Benarkah Uncle?” tanya Rio. Uncle Albert pun menegakkan tubuhnya kembali dan menatap Rio lalu mengangguk. “Ya, karena dengan itu kaum hitam bisa menguasai bumi. Itu berarti ketidaklengkapan kalian itu sudah tidak berarti apa apa lagi.”
            Ria mengepalkan tangannya kuat kuat. Ini tidak boleh terjadi. Ia harus menyelamatkan Ify segera. Ya harus.
            “Uncle beritahu saya dimana markas kaum hitam,” paksa Rio. Uncle Albert menggelngkan kepalanya.
            “Kau tak boleh kesana. Malam hari, kekuatan kaum hitam semakin kuat. Jadi percuma saja kau kesana dengan formasi tidak lengkap,” jelas Uncle Abert.
            “Tidak Uncle. Saya harus kesana. Saya harus menyelamatkan Ify,” kekeh Rio membuat Uncle Albert kembali emosi.
            “Rio!!! Kau tak boleh kesana atau kau akan mati disana. Lebih baik esok kita menyelamatkan Ify,” seru Uncle Albert meninggikan suaranya. “Sebaiknya kalian pulang. Istirahlah. Besok kita akan menyelamatkan Ify,” usir halus Uncle Albet. “Tidak ada tapi-tapian,” ujar Uncle Albert ketika melihat Rio hendak mengelak.
            Dengan terpaksa The Hits Boys dan SSA keluar dari rumah Uncle Albert tetapi, mereka tak langsung pulang.
            “Lo yang sabar Bro. Sebaiknya lo istirahat. Lo dari kemarin belum makan juga kan,” saran Alvin sambil menepuk pundak Rio. Rio memndang sengit Alvin. Rahangnya mengeras. Tangannya terkepal di sisi kanan kiri tubuhnya.
            “Coba lo rasain kalo lo berada diposisi gue. Apa lo akan tetap tidur mengistirahatkan diri disaat nyawa Via sedang terancam. Iya. JAWAB VIN JAWAB!!!”
            Alvin menghela nafasnya. Ya benar kata Rio. Ia pasti akan melakukan apa yang Rio lakukan. Tapi, bukannya Uncle Albert tadi sudah mengatakan kalau itu semua percuma. Malah bisa saja salah satu diantara mereka akan tertangkap oleh kaum hitam.
            “Tapi Y—“
            “Kalau kalian gak mau nolongin gue, oke gue yang akan cari Ify sendiri,” tekad Rio lalu menaiki motornya.
            “Yo lo jangan gila. Lo bisa dibunuh langsung sama mereka,” Gabriel menghalangi jalan Rio. Ia akan mencoba membujuk Rio agar Rio membatalkan niatnya mencari keberadaan Ify.
            “Gue gak peduli. Sekarang lo minggir,” usir Rio membuat Gabriel frustasi sendiri.
            BUGH
            Tubuh Rio tiba tiba ambruk. Dengan segera Alvin menangkap tubuh Rio dan cakka menjaga motor Rio agar tidak ambruk. Ya, baru saja Cakka memukul tengkuk Rio.
            “Lo pinter juga Kka,” puji Alvin sambil memapah Rio bersama Gabriel.
            “Yaiyalah. Daripada berdebat yang ujung ujungnya percuma lebih baik melakukan tindakan kan,” ucap Cakka sambil memberhentikan sebuah taksi.
***
            Rio membuka matanya perlahan-lahan, membiasakan cahaya lampu yang memasuki matanya. Arghh.. kepalanya tiba tiba pusing. Rio bangun dari tidurnya sambil memegang kepanya. Matanya menyapu ruangan. Ternyata ia sekarang berada dikamarnya sendiri. Ia pun mencoba mengingat kembali kejadian kejadian dan membuat ia tiba tiba berada disini. Yang ia ingat terakhir ia berada didepan rumah Uncle Albert dan berdebat dengan sahabat sahabatnya. Tapi, kenapa ia bisa berada disini? Aishh.. seharusnya ia tidak perlu memikirkan ini. Sebaiknya ia harus mencari keberadaan Ify sekarang.
            Rio pun berdiri dengan sempoyongan karena tiba tiba saja kepalanya pusing dan pemandangannya buram. Rio menggeleng-gelengkan kepalanya lalu berjalan keluar dari kamarnya.
            Saat ia akan menutup pintu kamarnya tiba-tiba hanphonenya berbunyi tanda sms masuk. Rio pun segera mengecek dan tiba tiba saja hatinya mencolos syok.
            From : 08********
            Kalau lo mau Ify selamat, sekarang lo datang ke Jl. Mawar Melati nomor 34.
            [image]
            Rio segera berjalan menuruni tangga dengan tergesa gesa. Sudah tidak ada waktu lagi menunggu besok, besok dan besok. Diruang tengah ia bertemu dengan sahabatnya. Ia tidak peduli dengan panggilan sahabatnya. Yang ada difikirannya adalah Ify, Ify Ify dan semuanya Ify.
            “Rio lo mau kemana?” tanya Gabriel menghentikan langkahnya.
            “Gue mau nyelamatin Ify.”
            “Astaga Rio. Besok kan bisa,” kesal Cakka.
            “Dan lo akan lihat sahabat lo ini mempunyai istri tak bernyawa,” ucap Rio dingin dan menaiki motor cagivanya.
            “Maksud lo apa Kak?” tanya Via.
            Rio pun tersenyum kecut lalu menyerahkan MMS orang misterius tadi.
            “Apaa?” Via menutup mulutnya menahan tangis. Shilla dan Agni yang sebenarnya kepo pun mengambil alih hp milik Rio. Seketika mata mereka membulat Ify yang akan dijatuhkan dari lantai entahlah.. yang mereka tahu bangunan itu sangat tinggi. Shilla langsung menangis dan dengan sigap Gabriel langsung memeluknya.
            “Ini beneran Kak?” Rio mengangguk lalu mengambil Hp nya dari Agni.
            “Gue ikut Kak,” seru Via melihat Rio berjalan keluar dari rumah.
***
            “Lo yakin Vi tempatnya disini?” tanya Shilla ngeri melihat sebuah bangunan tua yang membuat bulu kuduknya langsung merinding.
            “Iya, gue yakin. Gue udah lacak dan Ify emang ada disini,” ucap Via seraya memperlihatkan tabletnya ke Shilla. The Hits Boys dan SA pun langsung menatap tablet Via yang berada dihadapan Shilla.
            “Tapi, kok tempatnya serem gini ya?” gumam Shilla.
            Rio pun langsung memasuki bangunan tua itu dengan muka datar dan terkesan dingin. Dibelakanganya diikuti Agni, Cakka, Via dan Shilla yang memegang erat lengan Alvin dan Gabriel.
            Suara derit pintu menyambut kedatangan mereka yang sontak saja membuat Via langsung memeluk erat lengan Alvin. Mereka pun berjalan masuk dipimpin oleh Rio.
            BRAKKK
            Pintu langsung tertutup sendiri. Gabriel yang notabanenya berada paling belakang bersama Shilla segera berlari kearah pintu dan mencoba membuka pintu. Shilla yang ditinggal beberapa langkah dari Gabriel pun langsung menggandeng lengan Via
            “Sial, pintunya kekunci,” umpat Gabriel sambil menggebrak pintu.
            “Terus kita keluar gimana?” tanya Via takut.
            “Apa jangan-jangan kita Cuma dijebak?” kata Agni sambil menatap teman temannya satu persatu.
            “Gak mungkin. Ify pasti disini. Gue tadi lacak dari ID Hp Ify,” jawab Via.
            “Tap—“
            “Gue percaya sama elo kok Vi,” ucap Rio memotong ucapan Agni. Agni pun melongos kesal sedangkan Rio hanya melirik Agni sekilas.
            “Yaudah ayo kita naik. Gue yakin Ify pasti ada dilantai atas,” ucap Shilla memecah keheningan kemudian.
***
            “AHHHHH.” Gabriel tersentak kaget ketika Shilla langsung memeluknya dengan erat ditambah lagi teriakan Shillaa yang memekak telinga membuat jantungnya hampir copot.
            “Lo kenapa Shill?” tanya Gabriel khawatir.
            “Disitu ada orang serem kak,” jawab Shilla yang masih membenamkan wajahnya didada bidang Gabriel.
            The Hits Bosy dan SA pun langsung mengikuti arah tunjuk Shilla kemudian menatap kembali Shilla dengan kesal. “Gak ada kali Shill. Mungkin itu Cuma ilusi lo aja.”
            “Benaran Kak Rio. Gue gak bohong. Tuh orang tadi bawa kapak dipundaknya,” kali ini tubuh Shilla sudah gemetar karena menangis. Gabriel pun mengelus kepala Shilla dan membisiikkannya dengan kata kata penenang.
            Shilla pun mengangkat wajahnya kemudian menghapus air matanya dibantu okeh Gabriel. Dengan nafas masih sesenggukan ia membalikkan tubuhnya mengarah kearah Alvin, Rio Gabriel, Via dan juga Agni. “Iya, mungkin gue tadi emang Cuma berhalusinasi.”
            ***
            “BERHENTII,” The Hits Boys dan juga SSA pun menghentikan langkah mereka dan secara kompak menolehkan kepala mereka disudut ruangan. Shilla, Via dan Agni langsung memeluk lengan suami mereka masing masing. Mata mereka menatap awas pada benda berwarna hitam dengan permukaan yang sangat tajam pada matanya (?) yang tengah berada dipundak orang tersebut. Hhh, sepertinya ucapan Shilla tadi sangat benar dan orang yang dimaksud Shilla yang memakai jubah hitam dan topeng penutup wajah sudah berdiri dengan gagahnya dan tatapan mematikan dihadapan mereka.
            “Dimana Ify,” Seru Rio emosi. Tidak ada sedikitpun rasa takut yang menghantuinya. Malah emosi yang sekarang menguasai dirinya.
            “Hmm, elo nyari Istri lo?” Rio tersentak. Kenapa orang ini bisa mengetahui kalau Ify adalah istrinya.
            “Iya. Sekarang dimana Ify?” orang berjubah tersebut pun melangkah maju mendekati Rio dengan kapak yang tergantung bebas ditangannya.
            “Lawan gue dulu, kalau elo mau tau dimana Ify,” tantang pemuda berjubah itu membuat SSA, Gabriel, Alvin dan juga Cakka syok bukan main. Beda lagi dengan Rio. Dengan angkuhnya ia mengangkat salah satu alisnya seolah mengejek orang berjubah itu. “Oke kalau itu mau lo.”
            “Yo lo jangan gila,” sergah Cakka khawatir.
            Rio pun menatap Cakka sebentar lalu tersenyum miring. “Gue gak peduli.”
***
Pertandingan sengit pun terjadi. Satu lawan satu yang membuat siapa saja ngeri melihatnya. Rio yang sedari cuma menghindari kapak orang berjubah tersebut pun membuat Gabriel, Cakka dan tentunya Alvin geram sndiri. Ini namanya tidak adil buat Rio. Rio yang notabanenya tanpa senjata pun pasti kewalahan melawan pemuda berjubah itu yang membawa kapak yang sekali tebas membuat kepala dengan tubuh terpisah secara sempurna. SADIS!!
Rio tersungkur dengan lengan yang mengeluarkan darah akibat tergores kapak. Gabriel, Alvin, Cakka dan juga SSA pun segera menghampiri Rio.
            “Yo lo gpp kan?” tanya Alvin. Rio menggeleng sebagai jawaban. Ia pun berdiri kemudian bersiap melawan pemuda berjubah itu.
            “Yo lo mau ngapain?” tanya Gabriel was-was. Bukannya ia bodoh seolah ia tidak tau kalau Rio mau melawan pemuda berjubah itu. Tapi, hanya itu yang dapat keluar dari mulutnya. Dasar bodoh!!    
“Lo jangan bodoh Rio!!” bentak Alvin. Sedangkan Rio tidak menghiraukan ucapan Alvin dan tetap maju melawan pemuda berjubah itu.
Cakka pun maju membantu Rio. Ia sudah geram melihat Rio yang berusaha sendiri. Toh, mereka kesini bersama-sama berarti sama saja kita melawan musuh secara bersama-sama.
Gabriel dan Alvin yang melihat Cakka maju pun ikut-ikutan maju. Tanpa mereka sadari dibalik topeng pemuda berjuba tersenyum kemenangan.
SSA pun menatap ngeri pertandingan itu. Ternyata pemuda berjubah itu sangat pandai dalam action. Lihat saja pemuda berjuba itu sama sekali tidak berpengaruh dengan serangan keroyokan The Hits Boys. Malah terlihat santai tapi menakutkan.
Tanpa sadar dari belakang ada yang membekap SSA dan membuat mereka bertiga tak sadarkan diri. The Hits Boys mereka terlalu sibuk bertarung sehingga tanpa mereka sadari SSA sudah menghilang entah kemana.
***
Nafas The Hits Boys terengah-engah. Pertarungan ini sungguh membuat mereka merasakan sesak nafas untuk pertama kalinya. Sungguh! Pemuda berjubah itu sangat tangguh sampai sampai mereka berempat tidak sanggup melawannya ah ralat hanya sanggup menghindari kapak yang dilayangkan.
“Masih berani lawan gue tuan muda?” pemuda berjubah itu tertawa sinis membuat The Hits Boys terbakar emosi. Mereka pun menegakkan badan mereka angkuh seolah mereka masih memiliki keberanian yang tinggi.
“Ck ck..” pemuda berjubah itu menggeleng gelengkan kepalanya tak percaya. Bukan karena keberanian The Hits Boys tapi, kepekaan mereka terhadap sekitarnya. Apakah keempat pemuda itu tidak mengetahui kalau ketiga gadis yang datang bersama mereka tadi sudah tidak ada ditempat. Apakah harus ia yang harus repot-repot memberitahunya?
The Hits Boys menatap bingung pemuda berjubah itu. Kenapa pemuda itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Sebaiknya gue pergi dari sini. Selamat mencari istri kalian masing masing,” pemuda berjubah itu pun melenggangkan kaki mereka. Rio pun mengejar pemuda berjubah itu tapi, sayangnya badannya tidak bisa diajak berlari. Alvin, Cakka dan Gabriel diam mematung mencoba mencerna kalimat yang diucapkan oleh pemuda berjubah itu. Apa maksudnya ‘mencari istri masing-masing?’.
“Astaga Agni mana?” suara Cakka yang menggelegar membangunkan kesadaran Alvin dan Gabriel. Mereka bertiga –RioAlvinGabriel- pun menoleh ketempat dimana SSA tadi berada.
“Viaaa,” teriak Alvin heboh. Pikirannya sudah tak tenang sekarang. Dimana Via sekarang. Bagaiman kalau istrinya yang cerewet itu dibunuh oleh kaum hitam?
“Jangan main main sama gue kalau lo belum bosen hidup. Dimana elo sembunyiin Shilla. Keluar lo. Keluar kalau lo bukan pengecut. Keluar!!!” teriak Gabriel frustasi.
***
             The Hits Boys berjalan mengililingi rumah tua itu dengan kesal. Sudah berkali-kali mereka mengelilingi rumah tuai ini tetapi, mereka sama sekali belum menemukan Ify, Via, Agni dan juga Shilla.
            “Arghhh..” geram Gabriel. Kesal, marah, takut, frustasi bercampur jadi satu. Sungguh ia takut terjadi apa-apa sama Gabriel. Apa jadinya kalau ia kehilangan Shilla?. “Ini semua gara-gara elo,” tuding Gabriel ke Rio. Rio yang sama frustasinya seperti Gabriel pun ikut-ikutna emosi.
            “Kenapa elo nyalahin gue? Emang gue nyuruh elo ikut sama gue?”
            Gabriel langsung menubruk tubuh Rio sehingga badan Rio langsung terhimpit ditembok dengan Gabriel didepannya. “Itu emang salah elo Mario. Coba kalau elo—“
            “Kenapa lo berdua malah berntem sih,” teriak Cakka sambil memisahkan Gabriel dengan Rio. “Bisa gak sih kalian fokus buat nyari Agni, Ify, Shilla sama Via. Lo berdua fikir gue gak kesel, gak takut, gak frustasi? Gue sama kayak kalian. Gue juga takut kalau terjadi apa-apa sama Agni.”
            Rio dan Gabriel pun saling menatap satu sama lain. Saling memberikan tatapan tajam melepaskan emosi. Untung saja tadi Cakka langsung memisahkan mereka. Kalau tidak pasti kebenaran kata Cakka pasti akan terjadi sekarang. Adu jotos.
            “Udahlah Gab, Yo. sebaiknya kita cari istri kita sebelum terlambat. Lo mau mereka terjadi apa-apa?” Alvin menrik tangan Gabriel dan Rio agar saling berdekatan. Gabriel pun mengulurkan tangannya.
            “Maaf,” Rio pun menyambut jabatan tangan Gabriel kemudian mengangguk. “Gue juga.”
***
            “Apa ini semua dari awal emang sudah direncanakan?” tanya Via shock sambil menatap satu persatu semua orang yang sedang duduk dihadapannya. “Apa jangan-jangan lo juga telibat Fy?”
            “No!! Gue gak terlibat. Sebelumnya gue juga sempat bingung. Taksi yang gue tumpangi tiba tiba bawa gue kesini dan menyuruh gue masuk. Gue yang gak mau pun harus diseret masuk oleh orang sangar dan menemukan mama gue dan juga Rio. Dan kemudian mereka pun menceritakan semuanya,” jelas Ify jujur. Ya, tadi pagi sewaktu Ify berangkat sekolah tiba-tiba saja ia diantarkan ke rumah ini. sontak saja Ify bingung. Sang sopir taksi yang mengerti kebingungan Ify pun menyuruh Ify masuk. Pertama, Ify waspada. Jangan-jangan ia dijebak oleh orang jahat atau yang lebih parahnya kaum hitam. Sontak saja Ify menolaak kemudian sang sopir tersenyum lalu mengatakan kalau mamanya telah menunggunya didalam. Ify tetap tidak percaya dan akhirnya pintu taksinya dibuka secara paksa oleh dua orang lelaki yang menurut Ify sangar dan menakutkan. Ify yang kekuatannya tak ada bandingannya dengan kedua lelaki ini pun dengan mudda menarik Ify masuk. Dan tadaa, Ify menemukan mamanya mama mertuanya tengah bergosip ria.
            “Sebenarnya ini belum saatnya kalian tau rencana kita. Tapi, karena sebelumnya Ify dan Shilla sudah mengetahuinya jadi papa terpaksa mempercepatnya.”
            “Saya sama Shilla baru mengetahui kalau kaum hitam itu adalah orang-orang yang menyerang sewaktu acara musik lima hari yang lalu om,” komen Ify.
            “Tapi, sebenarnya kamu tau kan sayang kalau om Husein ikut terlibatkan?” tanya papa Ify.
            “Om Husein orang kepercayaan papa kan?” papa Ify pun mengangguk. “Iya pah.”
            “Makanya kamu merasa dibuntuti oleh kaum hitam kan?” Ify pun kembali mengangguk. Papa Ify pun tertawa. “Lagian papa menyuruh om Husein mengikutimu gara-gara  papa takut kamu bunuh diri sayang.”
            “Bunuh diri? Bunuh didi buat apa?” tanya Ify bingung.
            “Papa tau kamu ppunya masalah dengan Rio. Jadi, papa mengira kamu akan bunuh diri gara-gara Rio ingin meninggalkanmu,” jawab papa Ify sambil tertawa puas. Ify pun merengut melihat papanya dan juga yang lainnya yang ikut menertawakannya.
“Siapa bilang Ify mau bunuh diri.”
            “Haha melihatmu berjalan seperti mayat hidup itu namanya kamu mau bunuh diri Ify. siapa tau saja kamu terpeleset atau disrempet motor gara gara kamu tidak fokus dan tidak ada menolongmu bagaimana? Hahaha Ify Ify sepertinya pilihan papa tidak salah. Kamu begitu mencintai Rio rupanya.”
            “Ihh Papa,” merengut Ify. Sungguh saat ini ia sangat kesal, kesal, kesal dan kesal. Papanya memang sangat suka menggodanya habis-habisan dan akan berhenti kalau Ify menangis. Jangan pernh berfikir kalau Ify cengeng. Sungguh ia tidak bermaksud cengeng hanya saja coba kalian bayangkan bagaimana perasaan Ify. Ify malu, marah kesal. Dan sekarag Ify bisa apa? tidak mungkin kan ia menangis didepan semua orang.
            “Sudahlah pah.. Nanti Ify nangis lagi,” kata mama Ify. Pertama Ify senang karena mamanya mau membelanya. Tapi, akhirnya sama saja. Ini sama saja menhujami Ify dengan seribu piasau didadanya.
            Ify mengerucutkan bibirnya. Ia marah sekarang. Terserahlah Ify disangka durhaka kepada orang tuanya. Apakah mama dn papanya tidak tau kalau skarang ia sangat sangat malu. Karena kesal Ify pun mulai menutup wajahnya dan menangis sesenggukan.
            “Loh Fy kok lo nangis?” tanya Shilla yang memang duduk disampingnya. “Wah sebaiknya om sama tante membujuk Ify daripada kita kebanjiran nanti.”
            Ify pun menaikkan kakinya disopa dan menekuknya mencoba menyembunyikan wajahnya. Ia manambakan volume (?) nangisnya. Badan Ify mulai bergetar tanda Ify sedang menangis hebat (?)
            “Udah sayang. Jangan nangis dong,” mama Ify pun meminta Shilla pindah dan ia duduk disamping Ify. Mama Ify pun mengelus pelan rambut Ify yang masih menangis.
            “Ify mau apa? Pasti mama belikan,” rayu mama Ify akhirnya. Ya, dengan cara ini biasanya Ify akan berhenti menangis dan meminta aneh aneh. Contohnya dulu Ify meminta Martabak yang harus dipesan lagsung dari Semarang. ASTAGA!! Semoga saja Ify tidak meminta yang macam-macam.
            “Kak Rio...” Ify berkata lirih. Mama Ify pun tersenyum lalu menoleh kepada suaminya.
            “Nanti Rio akan kesini sayang. Tapi, kita harus bermain-main dulu dengan mereka,” jawab papa Ify. Ify pun mengangkat wajahnya lalu menghapus air matanya.
            “Maksud papa?”
            “Kita akan memberikan kejutan kecil baut mereka berempat,” SISA pun menatap papa Ify dengan bingung. Maksudnya kejutan untuk The Hits Boys??
            “Untuk mereka berempat? Emang ada apa om?” tanya Agni mewakili yang lain.
            “Lihat saja nanti---”
            BRAKK
***
            Cakka menyandarkan tubuhnya pada tembok. Tubuhnya sudah lelah sekarang. Sudah berulang kali ia dan juga ketiga sahaatnya mengelilingi rumah ini sedari tadi tetapi belum membuahkan hasil. Sempat terfikir dalam otaknya kalau istrinya dan juga istri para sahabatnya dibawa keluar dari rumah ini. Tapi, itu semua ia tepik karena tidak mungkin orang tersebut membawa Agni pergi dari sini tanpa ia ketahui. Bangunan ini sangat sepi, maka keributan sekecil apapun pasti ia dengar. Ditambah, pintu utama yang merupakan satu-satunya jalan keluar akan berbunyi bila dibuka.
            “Dimana orang itu menyembunyikan istri kita?” Gabriel membuka suara. Semua mata pun langsung menatap Gabriel sendu.
            “Gak tau. Tapi, gue yakin pasti masih dirumah ini,” jawab Cakka.
            Alvin pun menumpu tangannya disebuah nakas kecil disebelahnya. Tanpa diduga tiba tiba sebuah rak buku bergeser terbuka. Sontak saja The Hits Boys yang berdiri tepat didepan nakas itupun terlonjak kaget dan menatap rak tersebut dengan bingung.
            “Kenapa bis—“
            “Kayaknya ini salah satu jalan untuk menemukan istri kita,” ucap Rio memotong ucapan Cakka. Rio pun segera memasuki ruangan tersebut tanpa ragu. Cakka, Alvin dan Gabriel pun saling pandang kemudian mengikuti jejak Rio.
***
            “Bunuh diri? Bunuh didi buat apa?” tanya Ify bingung.
            “Papa tau kamu punya masalah dengan Rio. Jadi, papa mengira kamu akan bunuh diri gara-gara Rio ingin meninggalkanmu,” jawab papa Ify sambil tertawa puas. Ify pun merengut melihat papanya dan juga yang lainnya yang ikut menertawakannya.
“Siapa bilang Ify mau bunuh diri.”
            “Haha melihatmu berjalan seperti mayat hidup itu namanya kamu mau bunuh diri Ify. siapa tau saja kamu terpeleset atau disrempet motor gara gara kamu tidak fokus dan tidak ada menolongmu bagaimana? Hahaha Ify Ify sepertinya pilihan papa tidak salah. Kamu begitu mencintai Rio rupanya.”
            “Ihh Papa,” merengut Ify.
            “Sudahlah pah.. Nanti Ify nangis lagi,” kata mama Ify.
            “Loh Fy kok lo nangis?” tanya Shilla yang memang duduk disampingnya. “Wah sebaiknya om sama tante membujuk Ify daripada kita kebanjiran nanti.”
                        “Udah sayang. Jangan nangis dong,” mama Ify pun meminta Shilla pindah dan ia duduk disamping Ify. Mama Ify pun mengelus pelan rambut Ify yang masih menangis.
            “Ify mau apa? Pasti mama belikan,” rayu mama Ify akhirnya
            “Rio...” Ify berkata lirih. Mama Ify pun tersenyum lalu menoleh kepada suaminya.
            “Nanti Rio akan kesini sayang. Tapi, kita harus bermain-main dulu dengan mereka,” jawab papa Ify. Ify pun mengangkat wajahnya lalu menghapus air matanya.
            “Maksud papa?”
            “Kita akan memberikan kejutan kecil baut mereka berempat,” SISA pun menatap papa Ify dengan bingung.
            “Kejutan untuk mereka berempat? Emang ada apa om?” tanya Agni mewakili yang lain.
            “Lihat saja nanti...”
            BRAKK
            Rio membuka pintu dengan emosi. Pupil matanya yang semula berwarna biru legam berubah menjadi sangat menakutkan. Disampingnya ada Gabriel yang menatap dengan tatapan membunuh. Cakka dan Alvin yang berdiri dibelakang Rio dan Gabriel pun tak kalah emosinya sampai-sampai Alvin menggeretakkan (?) rahangnya saking emosinya. *mbulet*
            “Kak Rio..” Ify yang tersadar duluan dari keterkejutannya pun segera berlari kearah Rio dengan senyum yang mengembang dibibirnya. Dirinnya sudah sangat rindu dengan pemuda itu.
            “Stop it,” Ify pun menurunkan rentangan tangannya ketika mendengar ucapan dingin Rio. Maksud hati ingin memeluk Rio untuk menyenangkan hati, malah sakit yang ia dapatkan.
            “Kak Ri—“
            “Puas lo ngerjain gue. Puas lo buat gue khawatir. Puas lo buat gue sakit. IYAA. KENAPA LO LAKUIN INI KEGUE FY. LO MAU BALAS DENDAM KE GUE. IYA,” Ify menatap Rio dengan sedih. Matanya mulai berkaca-kaca mendengar bentakan Rio. Hatinya perih mendengar kata-kata Rio. Ia berfikir kalau Rio sudah memaafkannya. Tapi ternyata, ia salah besar. Rio belum memaafkannya bahkan sekarang tambah membencinya.
            “Dan selamat Fy. Lo berhasil. Lo berhasil buat gue ngerasain sakit yang mungkin tidak seberapa dibandingkan gue yang telah nyakitin elo,” Ify menangis. Dirinya sudah tidak kuat mempertahankan. Ify berjalan mendekat hendak memeluk Rio. Tapi tiba-tiba Rio menahannya.
            “Jangan sentuh gue Fy,” ucap Rio dingin. Ify menggeleng-gelengkan kepalanya.
            “Tapi Kak...”
            “JANGAN SENTUH GUE,” bentak Rio membuat Ify terlonjak kaget.
            “Cukup Rio,” buka papa Rio. Papa Rio pun berdiri dari duduknya kemudian berjalan mendekati Rio. “Papa tidak pernah mengajarkanmu untuk membentak wanita. Apalagi membentak istrimu. Pa—“
            “Oh papa belain dia,” potong Rio sambil menunjuk Ify yang tengah menangis hebat (?).
            “Jangan potong ucapan papa!!,” bentak papa Rio. Rio pun tersenyum miris dan melirik Ify sinis. “Ini semua rencana papa Rio. Dari awal pertemuanmu dengan Ify juga rencana papa.”
            The Hits Boys tersentak kaget mendengar perkataan papa Rio. “Maksud papa?”
            “Papa yang membuat skenario ini untuk mempertemukanmu dengan Ify. Begitupun dengan Gabriel, Cakka dan Alvin.”
            “Tapi, ini semua untuk apa om?” tanya Alvin membuka suara. Tangannya yang tadi terkepal mulai longgar mendengar ucapan papa Rio.
            “Papa dan juga papa kalian memang sudah merencakan perjodohan kalian dengan anak sahabat kami. Tapi, melihat tipikal kalian yang membenci wanita pun membuat papa harus memutar otak agar kalian bisa menerima calon kalian. Dan Akhirnya papa menggunakan cara ini,” jelas papa Rio membuat The Hits Boys melongo tidak percaya. Bahkan SSA yang baru tau cerita aslinya pun ikut-ikutan melongo.
            “Tapi, bagaimana dengan kalung ini?” tanya Rio sambil menyentuh kalungnya.
            “Haha. Sebenarnya itu kalaung couple biasa. Hanya saja papa memberikan sebangsa pendeteksi. Jika kalian berpisah maka kalian akan merasa kesakitan.”
            “Tapi, kenapa setelah kami berpelukan rasa sakitnya langsung hilang?” tanya Ify yang masih sesenggukan. Kontan saja semua menatap Ify kemudian menatap papa Rio meminta penjelasan. Tetapi, tidak dengan Rio. Tiba-tiba rasa bersalah tiba tiba menggelayutinya.
            “Karna kalung ini sanagt berdekatan. Ya kira kira hanya berjarak 20 cm saja setelahnya pendeteksi itu pun berhenti berfungsi. Tetapi kalau kalian berdekatan lagi, kalung tersebut pun aktif kembali.”
            “Bagaimana dengan sinar ketika katanya ‘kaum hitam’ berada didekat kami,” tanya Via mengingat kejadian saat itu.
            “Karna kaum hitam yang kau maksud adalah suruan om. Om telah memberikan sebuah remot untuk menyalakannya.”
            “Terus kenapa setelah saya merasa kesakitan?” tanya Via lagi.
            “Karna tanpa sepengetahuan kamu, lelaki tersebut telah menempelkan alat seperti alat pada kalung kalian,” Via pun mangut-mangut mengerti.
            “Kalau kemunculan Uncle Albert yang tiba-tiba?” tanya Shilla kini. Shilla ingat betul kejadian itu. Saat Shilla mengetahui kebenarannya.
            “Itu Cuma hologram,” jawab papa Rio terkekeh. Shilla pun membulatkan matanya tak percaya. Kok bisa? Padahal saat itu Uncle Albert seperti orang sungguhan.
            “Penculikan itu?” papa Rio menatap Gabriel kemudian mengehela nafas.
            “Itu asli. Kalian memang diculik oleh musih kita,” jawab papa Rio sedih.
            Selamat ulang tahun...
            Selamat ulang tahun...
            Selamat ulang tahun Ify..
            Selamat ulang tahun...
            Ify menoleh kebelakang mendapati mamanya membawa sebuah kue kecil dengan lilin angka 17 diatasnya diikuti oleh sahabatnya dan juga orang tua sang sahabat *mbuletlagi*. Ify pun menangis (lagi). Tapi, kali ini menangis bahagia.
            “Tiup lilinnya sayang,” ucap mama Ify.
            “Jangan lupa make wish Fy,” seru Agni yang diangguki oleh Ify. Ify pun memejamkan matanya dan merapalkan doa untuk kebahagian orang-orang yang disayanginya.
            “Yeee,” semua orang pun bertepuk tangan senang setelah Ify meniup lilinnya. Ify pun menerima pisau kue yang diserahkan oleh mama Rio kemudian memotong kuenya.
            “First Cake nya baut siapa Fy,” seru Via heboh. “Pasti buat gue,” Shilla dan Agni pun menoyor kepala Via.  Via pun cemberut.
            Ify pun tersenyum kemudian meyerahkan kue pertamanya buat kedua orang tuanya dan juga mertuanya.
            “Dan ini buat Viaa,” seru Ify sambil meyerahkan kue ulengtahunnya yang hilang sedikit. Via pun tersenyum dan menerima kue itu dengan senang hati.
            “Makasih Ify sayong. Moga keiinginan lo dapat terkabul di tahun ini,” ucap Via sambil mencium pipi Ify.
            “Ihh Via...” seru Ify sambil menghapus bekas ciuman Via menggunakan tangannya. Via pun tertawa sambil menatap Ify jahil.
            “Hmm Fy, Rio gak lo kasih?” tanya Cakka.
            Ify pun menatap Cakka dengan bingung. “Rio siapa ya kak?”
            “Wah Yo, dirimu dilupakan oleh Ify,” Rio pun menatap tajam Ify. Ify pun membuang muka kemudian menatap orang tuanya dengan muka imut.
            “Ma, Pa kado buat Ify mana?”
            “Tuh Rio udah ada. Itu kado buat kamu sayang,” Ify pun cemberut sambil menggelengkan kepalanya.
            “Tapi, Ify gak mau ma, pa.”
            “Terus kamu mau apa, hm?” tanya papa Rio.
            “Ify maunya suami baru,” Ify melirik Rio dengan senyum menggoda. “Gpp kan ma, pa.”
            “Apapun buat kamu asalkan kamu bahagia pasti papa turutin.”
            “Yee suami baruuu,” seru Ify senang. “Eh lo mau kan jadi saksi pernikahan gue nanti?” tanya Ify ke Rio. Rio jangan ditanya tiba-tiba mukanya merah karena kesal.
            “IFYYYYYY”
***
            Ify berjalan ke springbed tempat diman suaminya tengah tertidur lelap. Ify menatap suaminya dengan senyum kebahagian yang tecetak jelas dibibrnya. Wajah suaminya yang tampan berlipat dua ketika sedang tidur seperti ini. Sungguh. Jujur saja kalau setiap hari Ify wajah tampan suaminya maka, ia akan berfikir dua kali untuk mencari selingkuhan dan pastinya itu takkan pernah terjadi. Karena apa, pasti suaminya ini akan membunuhnya hidup-hidup.
            “Mangagumiku?” Ify tersentak kaget mendengar ucapan tiba-tiab Rio. Sejak kapan Rio membuka matanya?
            “Sejak kapan kamu bangun?” tanya Ify.
            “Sejak istriku menatapku dengan tatapan menggoda,” Ify membulatkan matanya. Kapan dirinya menatap Rio dengan tatapan menggda. “Dan kau tau.. aku tergoda sekarang,” Rio menarik tangan Ify agar berbaring dan kemudian menindihnya dengan sikunya sebagai penyangga.
            “Ka—“
            “Sstt,” Rio meletakkan jari telunjukkan didepan bibir Ify. “Biarkan aku menikmatimu dear.”
            “Tapi kak...”
            Rio mengindahkan ucapan Ify malah mendekatkan wajahnya. Rio pun menutup matanya dan membuat Ify ikut tersugesti sehingga ia juga menutup matanya.
            Sudah hampir tiga menit ia tidak merasakan apa-apa sama sekali. Ify pun membuka matanya perlahan-lahan dan menemukan Rio yang menatapnya geli.
            Ify pun mendorong tubuh Rio dengan kasar dan membuat Rio tertawa terbahak-bahak. Ify jangan ditanya lagi. Saat ini mulutnya sudah maju 5 cm.
            “Hahaha. Sepertinya kamu sudah tak sabar Fy. Tapi, sayangnya papa melarangku sebelum kau lulus kuliah,” Rio tertawa sangat puas sekali. Sampai-sampai tawanya masih terdengar saat ia masuk kekamar mandi.
***
            Ify berjalan duluan meninggalkan Rio. Sungguh kejadian tadi masih membuatnya keki setengah mati. Huh dasar Rio emang nyebelin, batin Ify kesal.
            “Fy, tunggu,” ucap Rio mencoba menyamai langkah Ify. Tapi, semakin dekat ia dengan Ify maka semakin cepat Ify berjalan. Dengan kesal, Rio pun menarik tangan Ify dan mengunci tubuh Ify ditembok.
            “Aishh kak, gak usah main-main deh. Kta udah ditungguin nih di loby,” ucap Ify mencoba memberontak. Tapi, semakin Ify memberontak maka makin dekat pula jaraknya dengan Rio.
            “Kamu marah?” tanya Rio menghiraukan ucapan Ify.
            “Siapa yang marah sih kak?”
            “Terus kenapa kamu gak mau jalan disamping ku?” tanya balik Rio.
            “Karena kakak jalannya lelet. Padahal kita udah ditunggu dibawah.”
            “Kamu gak usah bohong Fy. Aku hidup sama kamu itu hampir satu tahun. Jadi, aku tau giman tingkah kamu kalau marah, kesal, berbohong ataupun senang,” TELAK. Jawaban Rio memang benar.
            “Terus ngapain nanya?” tanya Ify keki.
            “Ify, bukannya aku tidak mau menyen—“
            “Bukan itu maksud aku kak,” potong Ify cepat. Ify tau jalan cerita Rio dan itu membuat pipinya nanti memerah. “Aku kesal karena kak Rio jailin aku kayak gitu. Kak Rio gak tau kan efeknya  ke Ify gimana. aku gak biasa kak.”
            Rio terkekeh mendengar tuturan Ify. “Yaudah nanti malam aku bantu kamu biasain. Bagaimana dengan ciu—“
            “Kak Rio!!” seru Ify kesal.
            “Hahaha baiklah-baiklah,” ucap Rio kemudian mencium bibir Ify sekilas. Ify langsung shock menatap Rio. Beberapa detik kemudian Ify pun mencak-mencak gak jelas.
            “AHH Kak Rio nyebelin.”
            ***
            “Wahh sunsetnya keren banget,” seru Via heboh. Astaga Via kayak orang katro aja.
            “Viaa lo malu-maluin deh,” seru Shilla kesal. Gimana gak malu-maluin. Dengan hebohnya Via teriak kayak gitu. Jadinya semua orang jadi lihatin mereka aneh deh.
            “Ini yang gue kagenin dari pantai Kuta,” kata Agni dan sontak saja Ify, Via dan Shilla menatap Agni kemudian mengangguk sambil tersenyum.
            “Ya bener banget. Apalagi saat kaki gue disentuh oleh air. Wahh seneng banget.”
            “Hahaha bener banget. Rasanya gue mau banget lomba sama air,” Ify, Agni, dan juga Shilla menatap Via aneh.
            “Lomba apa Vi?” tanya Agni.
            “Lomba lari.”
            “Eh lo kat air punya kaki sampai lo ajakin lomba lari,” jawab Shilla geli.
            “Aihh masa iya lo gak tau sih maksud gue,” ucap Via cemberut.
            “Ngerti kok Vi. Ngerti,” ucap Ify dan membuat Via tersenyum senang.
            “I LOVE YOU,” sontak saja SISA menolehkan kepala mereka kearah kanan tempat sumber suara tersebut. Mate mereka membulat ketika mengetahui kalau suami mereka lah yang mengucapkan kata itu. SISA pun berlari kearah suami mereka.
            “Hayoo itu tadi buat siapa?” tuding Via.
            “Buat cewek-cewek bule yang ada disini,” kompak The hits boys dan membuat SISA membulatkan mata mereka kesal. Dan tanpa hitungan detik, sebuah cubitan mendarat di perut rata The Hits Boys.
            “Tadi, kalian ngomong apa? oke Fix Mr. Gabriel malam ini kau tidak akan mendapatkan jatah dariku,” ucap Shilla kemudian berjalan menjauh dari tempat kejadian.
            “Shilla,” Gabriel pun berlari menegkar Shilla.
            “Oke malam ini Via akan ke pub dan bakal cari cowok baru,” ucap Via.
            “Yaudah silahkan kalau kamu masih betah hidup,” ucap Alvin dingin. Nah kicep deh Via.
            “Ahh kak Alvin ngeselin,” Via menutup wajahnya dan akhirnya nangis deh. Alvin pun berjalan maju mendekati Via kemudian memeluknya.
            “Apa lo lihat-lihat,” garang Agni.      
            Cakka pun tersenyum kemudian merangkul Agni. “Kata I Love You tadir jujur buat kamu sayang,” dan langsung saja rona merah jambu menghiasi pipi Agni dan membuat Cakka terkekeh.
            “sstt,” jari telunjuk Rio pun mendarat dibibir Ify saat Ify ingin membuka mulutnya. “I LOVE YOU,” Ify tersenyum kemudian memeluk tubuh Rio erat.
            “I Love You Too.”

#END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar