Jumat, 09 September 2016

Semua Tak Sama #3



Tittle   : Semua Tak Sama #3 ( Permulaan yang rumit )
            Genre : Enmity, Friendship, Love, Sad, etc. (maybe)
            Cast    : Ify Alyssa, Gabriel Stev, Rio Stevadit, Ashilla Zee, Cakka Nuraga, Agni Trinubuwati, Alvin Jo,  Sivia Azizah, Ray Prasetya, Deva Ekada, Ozy Ardiansyah, Lintar Morgen and other cast.
            Author: Yanti L Ayuningsih | Line, Twitter, Ig : @yanti_lestariA

            “I just wanna hold you
             I just wanna kiss you
I just wanna love you all my life
            I normally wouldn’t say this
            But I Just can’t contain it
            I want you forever right here by my side..”
            (Maudy Ayunda ft. David Choi – By My Side)
**<3**
            Sudah tak dapat terhitung berapa kali Ify menguap pagi ini. Semenjak tadi hingga sekarang ia terus saja menguap. Secangkir kopi susu sudah habis diminumnya dan cangkirnya sudah tergelatak tak berdaya didepannya. Ini gara-gara semalam ia bermainan monopoli bersama adik kembarnya. Ketiga adiknya itu bersikeras mengajaknya main dan ia tak bisa menolaknya. Dan disini lah ia sekarang. Duduk seorang diri dikafetaria kampusnya –menurutnya, padahal masih ada segelintir mahasiswa dikafetaria itu-. Via masih ada jam sedangkan dirinya tak mengenal siapapun kecuali Via.
            “Hai Fy.. Gue lihat-lihat sibuk benget lo dari pagi,” Ify menatap Via yang tengah duduk dihadapannya. Salah satu alisnya terangkat bertanda ia tidak mengerti perkataan Via.
            “Sibuk?”
            “Ya... sibuk menguap,” Ify menatap Via malas. Via sudah tertawa terbahak-bahak karena guyonannya sendiri yang menurut Ify sangat tidak jelas.
            “Ngantuk banget ya Fy?” tanya Via kemudian. Ify pun mengangguk kemudian menidurkan kepalanya di meja kafe. “Lagian, elo juga mau nurutin kemauan tuh bocah. Jadi ngantuk kan lo..”
            “Gue gak bisa nolak...” jawab Ify dan mengangkat kepalanya. “Ah, gue laper. Lo mau nitip Vi?”
            Via mengangguk senang, “Gue pesen bakso sama green tea ya Fy.”
            Ify mengangguk kemudian ia segera memesan pesanan mereka.
            ***
            Via menatap Ify yang sedang mangap-mangap kepedesan. Sudah dua gelas aqua yang dihabiskan Ify dan mie setannya masih sisa setengah. Via menggeleng-gelengkan kepalanya. Menurutnya Ify sudah gila. Ya gila. Ify memesan mie setan level 5. Level 2 aja Via udah mengap-mengap bagaimana level 5. Lagian, Ify ada-ada aja sih. Dengan alasan menghilangkan kantuk Ify rela kepedasan seperti itu.
            “Hah hah hah... pedes banget Vi. Lo mau coba,” tawar Ify yang langsung ditoak mentah-mentah oleh Via.
            “Lagian lo kok aneh banget. Kira-kira dong kalau mau beli. Beli kok yang level lima,” ucap Via sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
            “Tapi, ngantuk gue langsung hilang seketika. Suer..”
            “Terus, kalau elo sakit perut gimana?”
            “Ya tinggal minum obat. Gitu aja kok repot..” Via menatap Ify tak percaya. Sungguh ajaib gadis yang ada dihadapannya. Daripada lihatin Ify yang mangap-mangap kayak ikan koi, lebih baik ia melanjutkan memakan baksonya.
            “Siapa yang nyuruh elo duduk disini,” seketika Ify dan Via menolehkan wajahnya kesudut kanan kafetaria. Disana ada Rio dan Cakka. Dan baru saja yang berteriak-teriak  adalah Rio.
            Sambil mengunyah makanannya Via mulai berkomentar, “Lagian salah tuh cewek sih. Udah tau itu meja keramat eh malah didudukin..”
            “Emang ada penunggunya ya Vi?” tanya Ify polos. Via pun melongo dan sejurus kemudian tanganna dengan lihai menjitak kepala Ify.
            “Sakit Via..” rajuk Ify sambil mengelus-ngelus kepalanya.
            “Lagian lo bego banget sih. Maksud gue meja itu udah ada disitu khusus buat genk TM..”
            Ify mengangguk-anggukkan kepalanya. Via pun lebih memilih melanjutkan memakan baksonya.
            “Uhuk uhuk,” Via keselek baksonya. Gimana gak keselek tiba-tiba saja Cakka duduk disampingnya dan Rio disamping Ify. Tentu saja Via shock. Ada apa gerangan pentolan dari genk TM duduk bersamanya.
            “Ngapain elo duduk disini..” protes Ify menghiraukan Via yang masih terbatuk-batuk. Untung saja ada Cakka yang memberikannya minum.
            “Suka-suka gue. Gue kan pacar elo,” jawab Rio dengan santainya.
            Ify pun membulatkan matanya. Cakka menatap Ify dan Rio bergantia dengan tatapan tidak percaya. Sedangkan Via menggeleng-gelengkan kepalanya. Sebentar lagi pasti ada peraang kampus pertama, pikirnya.
            “Pacar hidung lo pesek. Sejak kapan gue mau jadi pacar elo. Sorry aja ya,” cerocos Ify. Astaga, sepertinya rencananya menjadi wanita cuek gagal sudah.
            “Terserah elo deh. Gue mau makan,” ucap Rio yang mulai melahap mie gorengnya. Ify pun mengerucutka bibirnya dan beralih menatap Cakka.
            “Lo kok betah sih temenan sama nih cowok Afrika,” ujar Ify. Cakka pun menatap Ify bingung.
            “Ini nih cowok disamping gue,” Cakka pun membulatkan mulutnya lalu terkekeh pelan. Baru kali ini ia melihat ada cewek yang menolak Rio terang-terangan. Biasanya sang cewek lah yang mengeja Rio blak-blakan.
            “Ya dibetah-betahin,” jawab Cakka asal. Rio pun menatap Cakka tajam sedangkan Cakka hanya senyum mengejek kearah Rio.
            “Oh ya, nama gue Ify. Lo?”
            Cakka pun menyambut uluran tangan Ify, “Cakka. Cakka Nuraga..”
            “Gak usah lama-lama pegangan sama pacar gue,” protes Rio dan menampik tangan Cakka dari tangan Ify. Ify pun menatap tajam Rio sedangkan Cakka menggeleng-gelengkan kepalanya.
            “Gue bukan pacar elo cowok Afrika..” kesal Ify.
            “Gak denger..” ucap Rio acuh. Ify pun mengerucutkan bibirnya dan menatap Rio sebal.   
            “Oh ya nama lo siapa?” tanya Cakka ke Via.
            Via pun tersenyum. Lalu membalas uluran tangan Cakka. “Alvia Umari. Tapi lo cukup panggil gue Via..”
            “Cakka..”
            “Gue udah tau..”
            Cakka pun membulatkan mulutnya. Wajar sih kalau seluruh mahasiswa/mahasiswi mengenalnya. Yang tidak wajar itu kalau mereka tidak mengetahui siapa dirinya.
            “Kalian sahabatan?” tanya lagi Cakka.
            Via pun menggeleng, “ Kita sepupuan. Dia Gabrify Umari anak dari adik bokap gue,” jawab Via sambil menatap Ify yang tengah menatap Rio dengan tatapan ntahlah..
            “Mengagumi ketampanan gue sayang..” Ify yang tertangkap basah tengah menatp Rio pun gelagapan sendiri.
            “Tampan apanya.. Muka lo kayak nampan baru iya. Rata..”
            “Udah deh ngaku aja. Lo terpesona kan sama gue..”
            “Sorry ya cowok Afrika.  Bagi gue terpesona sama elo itu kutukan. So, Gue gak bakal terpesona sama elo.”
            “Terus kenapa lo lihatin gue kalau bukan karena terposona?” tanya Rio sambil memainkan kedeua alisnya.
            “Gue baru aja kenapa badan lo bisa kayak triplek gini. Soalnya, lo makan mie instan.. Mie instan itu gak ada gizinya cowok Afrika..”
            Rio tersenyum manis, “Ternyata elo perhatian banget ya sama gue. Makin cinta deh gue sama elo.”
            “Yakk Cowok Afrika, siapa bilang gue perhatian sama elo. Gue itu Cuma... Cum--”
            “Tuh kan elo gak bisa jawab. I Love You sayang..”
            Ify menatap Rio bringas karena merasa kalah. “I HATE YOU COWOK AFRIKA,” ucap Ify penuh tekanan membuat Rio terkekeh dan mengacak puncak kepala Ify.
            “Berantakan cowok Afrika..”
            “Tetap cantik kok..” pipi Ify memerah antara malu dengan marah. Melihat itu, Cakka, Rio, bahkan Via tertawa puas menatap Ify.
            “Cie Ify salting..” goda Via. Ify pun menatap Via tajam. Kenapa Via tidak membelanya. Bukannya Via yang melarangnya untuk tidak jatuh dalam pesona Rio. Tapi, kenapa sekarang Via seperti mendukung Rio. Aihhh..
            Ify pun menatap ketiga makhluk berjenis manusia itu dengan kesal. Dengan satu hentakan Ify memundurkan kursinya lalu berdiri dari duduknya. Daripada ia disini makan rempelo (?) lebih baik ia pergi.
            “Gue bilang pergi lo dari hadapan gue..” Ify diam membatu melihat dengan jelas salah satu member genk BB yang Ify sendiri tidak ketahui namanya baru saja mendorong Shilla -teman satu jurusannya- hingga jatuh dilantai.
            Via, Rio dan Cakka sontak menghentikan tawanya dan beralih menatap meja yang berada di tengah-tengah kafetaria. Tampak Gabriel dengan muka merah menatap Shilla –yang telah terjatuh dilantai- dengan sengit.
            Tiba-tiba saja Cakka berdiri dari tempatnya dan menghampiri meja yang menjadi pusat perhatian tersebut. Rio menatap Cakka cemas. Dengan segera Rio ikut menghampiri meja tersebut. Sedangkan Ify dan Via msih terpaku melihat kejadian tersebut.
            Semua mahasiswa yang berada dikafetaria menahan nafas mereka. Mereka yakin, bakal terjadi adu tonjok diantara mereka. Yang ada difikiran mereka, tidak usah ikut campur atau kematian menghampiri mereka.
            “Lo bisa sopan gak sama cewek..” ucap Caka dingin sambil membantu Shilla berdiri. Cakka pun merangkul Shilla yang telah menangis.
            “Cewek kayak dia gak pantas disopanin,” Shilla menatap Gabriel dengan tatapan terluka. Hatinya sakit mendengar ucapan Gabriel.
            Cakka mengepalkan tangannya kuat-kuat. “Jaga ucapan lo,” desis Cakka tajam. Gabriel hanya tersenyum miring menanggapi Cakka.
            “Sebaiknya lo bawa cewek itu dari hadapan gue. Gue muak lihatnya..” ucap Gabriel merendahkan. Cakka langsung menatap tajam Gabriel dan..
            BUGH
            Satu pukulan mendarat tepat diwajah Gabriel. Gabriel menatap Cakka dengan senyum miring dibibirnya. Tangannya sibuk menyeka darah disudut bibirnya.
            BUGH
            Pukulan kembali mendarat diwajah Gabriel. Gabriel menatap tajam Cakka.
            “Gue ada salah apa sama elo, hah,” marah Gabriel. Dirinya tidak terima dipukul dua kali oleh Cakka.
            “Salah elo itu banyak. Tapi, yang paling gue gak suka lo ngatai-ngatain Shilla,” ucap Cakka. Gabriel tersenyum mengejek kali ini.
            “Dia emang pantas dikatain,” ucap  Gabriel dengan memandang Shilla dengan tatapan merendahkan.
            Dengan geram Cakka langsung memukul Gabriel berkali-kali. Gabriel pun tak mau kalah ia juga memukul balik Cakka. Rio pun mencoba menarik Cakka tapi percuma, begitupula dengan Alvin yang mencoba memisahkan mereka. Shilla sudah menangis tersedu-sedu sambil memanggil nama Cakka.
            Ify yang melihat itu tiba – tiba merasakan sakit disekujur tubuhnya. Entah kenapa. Tapi, Ify merasakan kalau dirinya juga terkena pukulan. Dengan mengikuti kata hatinya Ify pun berjalan ke tempat dimana Gabriel dan Cakka adu tonjok.
            “Stop...” Ify mencoba melerai mereka berdua. Tapi, percuma kedua ksatria itu masih bergelut. Ify terus mencoba sampai tangan Rio menariknya menjauhi Cakka dan Gabriel.
            “Lo jangan gila. Lo bisa kena tonjok,” ucap Rio kesal.
            “Tapi mere—“
            “Biarin. Nanti mereka akan berhenti sendiri kalau salah satu diantara mereka mengaku kalah..” Ify menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian melepaskan cekalan tangan Rio pada tangannya.
            “Cakka stop berhenti..” teriak Ify sambil menarik baju Cakka sehingga Cakka mundur belakang. Cakka pun menatap Ify sengit.
            “Lo gak usah ikut campur Fy. Ini urusan gue..”
            Ify menatap memohon ke Cakka, “Kalo lo mukul dia gue ngerasain sakit Kka. Please berhenti buat mukulin dia...”
            Cakka menatap Ify heran. Sedangkan Ify masih menatap Cakka memohon. Cakka pun menghembuskan nafasnya kasar kemudian menatap Gabriel tajam.
            “Untung ada Fy. Kalau nggak mati lo ditangan gue..” ucap Cakka kemudian membawa Shilla pergi dari tempat itu.
            Ify pun menoleh kebelakang dan mendapati Gabriel yang tengah menatapnya. Mata itu... sepertinya ia sangat mengenalnya.
            “Lo gpp kan?” tanya Ify sambil menyentuh sudut bibir Gabriel.
            Gabriel pun menepis tangan Ify dengan kasar kemudian pergi meninggalkan kafetaria diikuti para pengikutnya.
            Via pun datang kemudian menarik tangan Ify untuk menjauhi tempat kejadian perkara. Ify hanya diam saja ditarik seperti itu oeh Via. Lagian kalau bukan Via yang menariknya siapa lagi? Pasti ia akan tetap diam mematung.
***
             “Maksud lo tadi apa Fy?” tanya Via sesampainya mereka ditaman belakang kampus. Ify pun lebih memilih duduk selonjoran diatas rerumputkan dan menatap danau buatan didepannya.
            “Entah. Gue juga gak tau..” jawab Ify seadanya. Toh memang benar ia tidak mengetahui penyebab ia tadi bersikap seperti itu.
            “Lo gak lagi---“
            “Lagi apa maksud lo?” potong Ify langsung. Via pun memutar bola matanya gemas.
            “Jangan dipotong dulu omongan gue,” kesal Via. “Lo gak lagi jatuh cinta kan sama Gabriel?” tanya Via membuat Ify langsung membulatkan matanya.
            “Gabriel siapa maksud lo?” tanya Ify balik.
            “Gabriel. Itu cowok yang tonjok sama Cakka,” Ify pun mangut-mangut.
            “Oh namanya Gabriel,” Via pun menatap Ify sebal. Kemana saja Ify selama ini sampai-sampai nama pentolan genk TM Ify tidak tau.
            “Jadi..”
            “Jadi apa?” Via menatap Ify gemas. Tangannya gatal ingin menjedok-jedokin kepala Ify ke batu.
            “Lo jatuh cinta sama Gabriel?”
            Ify nampak berfikir kemudian menggeleng-gelangkan kepalanya. “Ini bukan rasa cinta. Tapi, seperti rasa familiar bagi gue..”
            Via mengerutkan keningnya tanda tidak mengerti akan ucapan Ify. “Maksud lo? Gue gak ngerti deh bahasa ajaib lo itu.”
            Ify pun menghela nafasnya, “Intinya gue gak jatuh cinta sama Gabriel. Tapi, ini rasa ingin ngelindungin Gabriel. Karena apa yang dirasakan Gabriel pasti gue juga rasain,” jelas Ify.
            Via pun mangut-mangut, “Jadi kesimpulannya?”
            “Gue gak jatuh cinta sama Gabriel, ALVIAAA.”
            Via pun cengengesan dan menampilkan jari telunjuk dan tengahnya berbentuk huruf ‘V’
***
            Angin berhembus dengan kencang menerpa wajah sembab Shilla. pohon-pohon menari-nari karena ulah tangan nakal sang angin. Shilla menghembuskan nafasnya. Sudah hampir satu jam ia duduk ditaman sudut kampus bersama Cakka. Cakka yang mengajaknya kesini. Tatapi, Cakka sama sekali belum membuka suara sedari tadi. Padahal tubuhnya sedari berteriak minta diistirahatkan. Akhirnya....
            “Sorry..” buka Shilla. Cakka pun menatap tepat dimata Shilla. Cakka melihat banyak luka pada tatapan mata itu.
            “Atas apa?”
            “Karena gue lo jadi luka-luka gini,” jawab Shilla. Cakka pun tersenyum. Sungguh sedari tadi sakit difisiknya sama sekali tidak terasa. Yang ada sakit dihatinya yang terus menerus bertambah.
            “Gpp kok Shill..” jawab Cakka sambil tersenyum. Shilla pun mengangguk lantas menyenderkan kepalanya dibahu Cakka.
            “Gue cinta sama Gabriel Kka. Sudah dua tahun lebih gue nyimpan rasa itu buat Gabriel,” cerita Shilla. Tanpa sadar tangan Cakka sudah mengepal mendengar pengakuan Shilla. “Menurut lo gue harus gimana Kka?” tanya Shilla sambil mengangkat kepalanya dari bahu Cakka.
            Cakka menatap Shilla dan memegang kedua bahu gadis ayu itu. “Lo harus lupain dia. Lupain Gabriel. Dan lo bisa cari yang lain yang jelas-jelas sayang sama elo,” ucap Cakka. Jujur menurutnya ia egois menyuruh gadis dihadapannya ini untuk merelakan Gabriel. Dia tidak munafik. Ia juga mengingankan Shilla bersamanya.
            Shilla menggelengkan kepalanya, “Gue gak bisa Kka. Gue udah coba berkali-kali. Yang ada rasa ini semakin subur.”
            Cakka menghembuskan nafasnya lelah, “Lo coba terus Shill. Gue yakin lo bisa.”
            Shilla kembali menggeleng, “Gak bisa Kka. Gue gak bisa,” jawab Shilla dengan penuh keyakinan.
***
            “Fy besok ada jam dikampus?” tanya Via sambil memakan cemilan dan duduk disamping Ify. Ify sedang menulis nada balok yang Via sendiri tidak mengerti artinya.
            Ify mengangguk, “emang kenapa?” tanya Ify tanpa mengalihkan matanya dari buku partitur (?) nadanya.
            “Gpp sih. Jam berapa?”
            “Jam setengah 8” jawab Ify. Via pun mangut-mangut.
            “Jadi, besok kita berangkat bareng. Gue juga ada jam pagi soalnya,” Ify pun memilih tidak mengubris ucapan Via dan lebih memilih mengerjakan tangga nada yang ada dihadapannya dan mengumpulkannya besok.
            “Jadi, lo besok gak nganterin kita daftar dong Fy?” celetuk Ray tiba-tiba. Ify pun mengelihkan perhatiannya ke arah Ray yang tengah berjalan dan duduk dihadapannya.
            Ify pun menatap Ray dengan tatapan bersalah. “Sorry Ray. Tapi, gue harus ngumpulin tugas besok.”
            Ray pun mengangguk, “Gpp Fy. Udah biasa kok.”
            Ify tercekat mendengar ucapan Ray. Ya, tidak ada yang salah dengan ucapan Ray. Tapi, menurutnya ucapan Ray seperti menyindirnya. Memang semenjak ia kuliah, adik-adiknya tidak terurus lagi. Apa-apa sendiri. Daftar SMA sewaktu di Rusia sendiri. Ambil Raport sendiri. Dan jujur Ify merasa bahwa ia adalah seorang kakak yang tidak becus mengurus adik-aadiknya. Ia tak pantas dipanggil kakak. Mengurus hal kecil seperti mengantarkan daftaran untuk sekolah SMA baru mereka pun ia tidak bisa.
            “Fy, besok lo anterin kita daftar di SMA Lintar kan?” tanya Deva yang datang bersama Ozy dan Lintar. Ify, lebih memilih menundukkan kepalanya. Air matanya mulai menetes menedengar pertanyaan sama dari mulut Deva.
            “Fy..” Deva menyenggol lengan Ify. Ify tetap menundukkan wajahnya
            “Ify gak bisa nganterin kita. Besok pagi Ify ada jam,” jawab Ray sambil memainkan psp-nya. Terdengar biasa, tapi bagi Ify ini sebuah sindiran kalau ia tak pantas jadi seorang kakak.
            “Oh..” Deva menghela nafas kemudian menyenderkan tubuhnya disandaran sofa.
            “Maafin gue hiks..” ucap Ify sambil menangis. Sontak saja Deva menegakkan badannya dan menatap Ify. Begitupula dengan Via, Ray, Deva dan Lintar, menatap Ify khawatir. Ify tidak pernah menangis selama ini.
            “Fy lo kenapa?” tanya Deva sambil menyibakkan rambut sebahu Ify.
            Ify menggeleng-gelengkan kepalanya,”Maafin gue..”
            Ozy yang pertamanya duduk disamping Ray pun pindah disamping Ify dengan menyuruh Via bergeser. Ozy pun langsung memeluk Ify.
            “Lo kenapa, hm,” tanya Ozy sambil menyenderkan kepala Iy ke dada bidangnya.
            Ify pun menggeleng-gelengkan kepalanya, “Maafin gue hiks...”
            “Maaf utuk apa? Lo gak ada salah sama kita..”
            Ify kembali menggelenng-gelengkan kepalanya, “Gue gak becus jadi kakak buat kalian. Gue gak pantas jadi kakak. Gue gak bisa bahagian kalian gue.. gue..” Ify menangis sejadi-jadinya. Ozy pun langsung memeluknya erat, mencoba menenangkan kakak semata wayangnya ini. Sungguh Ozy tidak menyangka kalau Ify berfikiran seperti ini.
            “Ify, lo itu kakak terbaik buat Gue, Ray dan juga Deva. Lo itu segalanya buat kami Fy,” ucap Ozy. Ray pun segera menghampiri saudar-saudaraya dan memilih berdiri dihadapan Ify.
            “Iya Fy. Lo itu kakak yang palingggg baik buat kami. Kita sayang sama elo,” ucap Ray kemudian memeluk Ify yang dipeluk oleh Ozy.
            “Iya Fy kita sayang sama elo,” ucap Deva dan juga ikut-ikut berpelukan bersama kakak-kakaknya.
            Via menatap haru keempat saudara yang tengah berpelukan itu. Ia tau rasa sayang antara mereka begitu besar. Ia sangat tau itu. ia merupakan saksi bagaimana kehidupan mereka dulu. Ify yang merawat sikembar hingga rela homeschooling. Ify juga lah yang mengantarkan sikembar dan juga Lintar sekolah saat mereka berempat masih duduk ditaman kanak-kanak. Bahkan Via yakin rasa sayang Lintar lebih besar ke Ify dibandingkan dirinya. Itu karena sosok ibu telah mereka pada diri Ify sejak kecil, sejak bunda Ify berubah. Via tidak tau betul bagaimana kronologis masa lalu keluarga Ify. Tapi, yang ia ingat Ify masih mempunyai kakak laki-laki yang dulu juga sangat dekat dengan dirinya. Dan ia juga tau kalau kakak laki-laki Ify ikut dengan ayah Ify.
            ***
            “Kenapa muka lo ditekuk kayak gitu?” tanya Via Ke Ify yang baru saja datang dan memilih duduk disamping Via yang sedang memakan siomay.
            “Gue ada tugas berat, huh,” ucap Ify kesal kemudian meminum jus jeruk Via higga tandas.
            “Ify jus gue...” rajuk Via menatap nanar gelas kosong dihadapannya kemudian menatap Ify sengit.
            “Pelit banget sih lo sama gue. Tambah gendut rasain lo,” ucap Ify asal membuat Via merengut kesal.
            “Emang hubunganya apa coba?”
            “Ada. Kalau lo minum sendiri, nanti lo tambah lebar,” jawab Ify tetap ngasal. Via pun menjitak kepala Ify saking kesalnya.
            JTAK
            “Aw.. sakit Pia..” sungut Ify. Via pun lebih memilih mengacuhka Ify dan kembali memakan siomaynya yang sempat menganggur.
            “Vi...” panggil Ify kemudian. Via pun mendongak mennati lanjutan ucapan Ify. “Lo mau gak bantu gue?”
            Salah saru alis Via terangkat, “Bantu apa?”
            “Lo mau kan duet nyanyi sama gue minggu depan diacara pensi?” Via membulatkan matanya? Apa tadi? Duet? Apakah ia tak salah dengar? Astaga, ia akan bernyanyi diacara pensi yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali itu? Acara yang tamunya adalah orang-orang penting yayasan Indonesia International School. Oh God, ini suatu keajaiban..
            “Lo beneran Fy? Diacara pensi itu?” tanya Via kurang yakin.
            Ify mengangguk, “Iya. tadi itu Miss Clara nyuruh semua mahasiswa fakultas musik untuk nyari pasangan duet dari fakultas lain. Nah, karena yang gue kanal Cuma elo, makanya gue ngajak elo. Lagian suara lo kan gak jelek-jelek amat,” ucap Ify menjelaskan.
            “Tapi, ini acara besar Fy. Gue takut malu-maluin diri gue sendiri,” sangsi Via. Ify pun menghembuskan nafasnya kasar.
            “Gue gak peduli itu. Yang penting gue dapat nilai,” ucap Ify menghiraukan ketakutan Via.
            JTAK
            Satu jitakan kembali mendarat di kepala Ify. Ify menatap Via dengan bengis.
            “Enak aja lo. Kalau gue malu-maluin lo juga ikut malu Gabrify,” ucap Via penuh penekanan.
            “Yakin deh sama gue, lo pasti gak bakal malu-maluin. Suara lo cukup oke kok untuk di dengar,” yakin Ify.
            Via nampak berfikir panjang sampai-sampai ia tidak sadar kalau ada tikus berkepala hitam telah mengambil siomaynya.
            “Tapi, gue takut Fy. Kalo lo mah enak, suara lo gak usah diragukan lagi,” ucap Via sedih.
            Ify pun mencomot kembali siomay Via kemudian mengunyahnya lalu menelannya. Via yang melihat itupun melotot karena piring siomaynya sudah tak berpenghuni lagi. “Tenaang aja, ada Ozy sama gue. Gue sama Ozy bakal ngajarin lo nyanyi dengan baik, benar dan cetar membahana.”
            “Iya gue tau. Tapi, gak usah makan siomay gue juga kali,” kesal Via.
            “Loh kalau lo tau, seharusnya lo gak usah khawatir gitu dong. Slow mbk bro,” ucap Ify tanpa menyinggung sindiran tentang siomay Via. Yang terpenting perutnya kenyang.
            “Okedeh. Tapi, nyanyi lagu apa?”
            “Hmm, gue juga gak tau. Ntar aja tanya sama Ozy. Dia kan paling pintar tuh milih lagu,” ucap Ify dan diangguki oleh Via.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar