Tittle :
Semua Tak Sama #2 ( Tetap Awal Cerita )
Genre : Enmity, Friendship, Love, Sad, etc. (maybe)
Cast :
Ify Alyssa, Gabriel Stev, Rio Stevadit, Ashilla Zee, Cakka Nuraga, Agni
Trinubuwati, Alvin Jo, Sivia Azizah, Ray
Prasetya, Deva Ekada, Ozy Ardiansyah, Lintar Morgen and other cast.
Author : Yanti L Ayuningsih | Line, Twitter, Ig :
@yanti_lestariA
“I’ve
been set free
I am hypnotized by your destiny
You are magical, lyrical, beautiful
You are and I want you to know”
( Selena Gomez- Love you like a love song )
**<3**
“Rio...
aku gak mau kamu putusin. Aku masih cinta sama kamu,” rajuk seorang gadis
cantik dengan suara yang dibuat-buat membuat Rio jengah. Apalagi sejak Rio
memutuskannya, wanita ini terus mengikuti kemana pun Rio pergi dan jujur buat
Rio kesal sendiri.
Rio
pun menghentikan langkahnya. Kemudian menatap Dea –wanita yang mengikuti Rio-
dengan malas. “Dea, stop ikutin gue. Gue risih lo ikutin gue mulu.”
Dea
pun mengerucutkan bibirnya. “Tapi, kita gak jadi putus kan Yo.”
Rio
pun memutar bola matanya kemudian melongos kentara. “Gue itu udah bosen sama
elo De.”
“Tap—“
Rio pergi meninggalkan Dea. Capek juga dengerin cicitnya Dea yang itu itu aja.
“Yo..
Rioo,” Dea pun berlari mengikuti Rio. “Ishh Rioo kok aku ditinggal sih. Rio
kita gak jadi putus kan?” harap Dea dan bergelayut manja dilengan Rio. Rio
menghembuskan nafasnya mencoba menahan emosinya. Tiba-tiba saja matanya
menangkap satu sosok yang diam-diam menarik perhatiannya.
“Hai
sayang..” sapa Rio. Ify yang memang melihat Rio menatapnya pun mengerenyitkan
dahinya bingung. Matanya kemudian menatap Via yang berada disampingnya.
Sedangkan Via, sibuk menatap Ify dan Rio
secara bergantian. Tak lupa juga ekspresi bingung dan keponya tercetak jelas di
wajahnya.
“Lo
ngomong sama siapa ya Yo?” tanya Via yang ternyata tak bisa menahan
kekepoannya.
“Sama
pacar gue yang paling cantik dong,” ucap Rio dengan senyum mautnya. Tangannya
pun mulai merangkul Ify sedangkan gelayutan Dea ditangannya yang lain mulai
terlepas dengan sendirinya.
“What
pacar?” shock Via dengan suara toanya. Ify yang tersadar pun mulai melepas
rangkulan Rio dibahunya.
“Gak
gak,” bantah Ify cepat. Ify pun menatap Rio tajam sedangkan Rio malah
memberikan senyuman mautnya yang sama sekali tidak memberikan efek ke Ify.
“Udahlah
sayang. Udah saatnya mereka tau kalau kamu pacar aku,” Ify membulatkan matanya
kesal. Via tercengang tidak percaya. Matanya menatap Ify dan Rio berrgantian.
“Gak
Vi, gue gak pacaran sama dia.”
“Aku
gak percaya Yo. kamu pasti bohong kan,” tanya Dea.
“Gue
gak butuh kepercayaan elo. Yang terpenting sekarang lo tau kalau gue udah punya
Ify. Jadi, stop gamggu gue,” ucap Rio dengan entengnya. Dea pun berlari
meninggalkan Rio, Ify, Via dan mahasiswa yang entah sejak kapan menjadi
penonton drama kacangan secara gratis.
“Aishh
cowok Afrika, maksud lo apa hah?” protes Ify. Rio pun merangkul Ify (lagi) yang
langsung dilepas oleh Ify.
“Gak
maksud apa apa sih. Tapi, kalau lo mau, lo boleh kok jadi pacar gue,” jawab Rio
tak lupa dengan seringainya. Ify membulatkan matanya menatap tak percaya cowok
Afrika yang ada disampingnya ini. Astaga cowok Afrika ini benar benar...
Ify
menatap tajam cowok Afrika menurut versinya ini. dengan satu hentakan Ify
melepas tangan Rio yang berada di pinggangnya kemudian menyeret Via yang sepertinya terkena kutukan maling
kundang. Diam seperti patung.
“Hmm
cewek aneh,” gumam Rio tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya lalu
meninggalkan TKP yang dikerubungi oleh
sebagian mahasiswa.
***
“Hmm
Fy, semua meja udah penuh nih,” Ify menganggukkan kepalanya setuju. Benar kata
Via. Semua meja sudah penuh oleh pasukan manusia kelaparan. Ify melongos. Masa
iya cewek secantik dia harus makan sambil berdiri. Bisa sih ia makan ditaman
belakang kampus tapi, ia juga tak mau harus bolak balik mengembalikan piring
kafe.
Senyum Ify
mengembang tak kala melihat ada dua kursi kosong disalah satu meja ditengah
tengah kafe. Wahh sepertinya rejeki cewek cantik gak bakal kemana.
“Vi,
Vi kita makan disana aja yok. Masih ada dua kursi kosong noh,” Via
membelalakkan matanya melihat meja yang ditunjuk oleh Ify. Iya sih ada dua
kursi kosong tapi, sang penghuninya itu loh yang buat Via tak percaya akan ide
Ify. Bisa bisa bukannya kenyang yang ia dapat tapi, mules minta ke toilet iya.
“Lo
gila ya Fy. Itu mej--”
“Yaelah
Vi, vi. Disana kan ada pacar elo. So, gak mungkin kan pacar lo biarin lo yang
cantik ini harus makan sambil berdiri,” potong Ify cepat. Via menepuk jidat Ify
saking kesalnya.
“Eh
lo kata k--”
“Tapi,
gak usah nepuk jidat gue juga kali. kalo jidat gue lebar gimana? Bisa bisa
pesawat terbang malah mendarat dijidat gue saking dikiranya lapangan bandara.”
Cerocos Ify. Via memutar bola matanya kesal. Nih cewek kadang-kadang oon ya.
Astaga apa salahnya ya Tuhan sampai-sampai ia harus mempunyai sepupu seperti
Ify.
“Elo
lama-lama jayus deh Fy. Ah lebih baik kita ketaman belakang aja,” Via pun
menarik tangan Ify. Tapi, Ify buru-buru menahannya.
“Viaa
gue males harus balikin nih piring kesini lagi. Lagian apa salahnya sih makan
disana. Kita Cuma join doang bukan mau malak makanan mereka,” komentar Ify.
Lagian bukannya Via harus senang bisa makan sama pujaan hati nah ini malah...
Via
menggaruk kepalanya frustasi. Sebenarnya ia juga malas jika harus bolak balik
tapi, masalahnya ia takut kesana. Takut kalau ia...
“Ayo
ah Vi, bentar lagi gue ada jam nih,” Ify pun menarik tangan Via secara paksa.
Sedangkan Via yang ditarik pun hanya pasrah dan menyiapkan mentalnya.
“Hmm
haii.. kita boleh gabung kan disini,” sapa Ify dan langsung duduk disalah satu
kursi kursi kosong. Tak lupa pula tangannya menarik Via yang masih berdiri
mematung untuk duduk disampingnya.
Semua
penghuni meja yang merupakan genk BB pun menghujati Ify dengan tatapan tajam
tapi, toh Ify tetap cuek bebek dan memakan pastanya dengan tenang, nyaman dan
tidak peduli terhadap lingkungannya. Dan sebagai ganjarannya semua tatapan genk
BB beralih kearah Via yang diam kaku seperti mayat. Tapi, yang berbeda matanya
masih melek dan tentunya masih bernafas.
Via
menegukkan ludahnya dengan susah payah. Oh astaga tatapan para penghuni meja
ini seperti ingin memakannya hidup-hidup. Apalagi Alvin, natapnya tajam banget.
Via meringis sambil menyenggol kaki Ify menggunakan kakinya. Ify pun mendongak
menatap Via, Via pun melirik kearah genk BB. Seolah-olah memberikan peringatan
kalau malaikat maut sudah dekat.
Ify
pun menolehkan wajahnya kearah genk BB. Oh astaga kenapa para genk BB ini
melotot seperti itu. Apakah ada pertandingan gede-gedean mata?? Terus kenapa
juga si sipit atau lebih tepatnya kekasih Via juga ikut melotot. Apakah ia
tidak tau kalau matanya tidak berubah sama sekali. Sekali sipit ya tetap sipit.
Ify
pun menyunggingkan senyum simpulnya. Kemudian menyodorkan tangannya kearah
Alvin.
“Kenalin
nama gue Ify. sepupu Via. Lo Alvin kan pacarnya Via,” Via menepuk jidatnya
pelan. Astaga Ify sumpah udah bosen hidup kali ya. Terus kayaknya udah bosen lihat
sepepunya ini hidup. Lihat aja nanti Alvin pasti akan menggeretnya dan terus
menatapnya secara tajam. Ya Cuma ditatap secara tajam, tapi efeknya itu yang
gak enak.
Alvin
menatap Ify dan Via secara bergantian kemudian melanjutkan makannya yang tertunda.
Begitupula dengan para member genk BB yang lain.
Ify
pun menarik tangannya dengan kikuk. Kemudian menatap Via yang juga menatapnya.
Via meringis kemudian menyantap sotonya yang sudah dingin.
“Hai
Gabriel...” Ify dan Via langsung mendongakkan kepala ketika gendang telinga
mereka menangkap suara seorang wanitayang tidak asing bagi Via tapi, asing bagi
Ify. Ify menatap wanita itu. Sepertinya ia mengenalinya. Hmm oh ya cewek itu
kan satu jurusan sama gue, ingat Ify. Sedangkan Via membualatkan matanya. Astaga
sepertinya sebentar lagi sang singa bakal ngamuk, gidiknya.
Gabriel
meletakkan gelas minumannya dengan keras dimeja. Matanya beralih kesebuah
kantong kertas yang dibawa oleh gadis dihadapannya. Bentuk benda apa lagi yang
bakal diberikan gadis itu kepadanya. Bukan ia sok tau tapi, ia sudah sangat
yakin kalau benda yang dibawa gadis itu pasti akan diberikan kepadanya. Kenapa
ia sangat yakin ya karena setiap hari gadis itu selalu memberikannya apa saja
dan ujungnya ia selalu menolaknya. Betapa bodohnya gadis itu.
“Gabriel
ini buat kamu. Kemarin aku habis dari mall terus lihat topi ini. Aku rasa ini
cocok deh buat kamu,” Shilla –gadis itu- pun menyerahkan sebuah topi berwarna
hitam dan sedikit putih dengan senyum yang tetap mengembang.
Gabriel
menatap topi itu sekilas kemudian berdiri dari duduknya. “Gue gak butuh,”
Gabriel menepis topi itu sehingga terjatuh kemudian berjalan meninggalkan meja.
Tak lam kemudian Alvin pun ikut berdiri diikuti oleh para pengikutnya dan
berjalan kearah dimana Gabriel pergi tadi.
Shilla
menatap topi itu nanar. Ia menundukkan kepalanya. Air matanya sudah jatuh bebas
membasahi pipinya. Sudah tak ada malu yang ia rasakan. Malu karena perlakuan
Gabriel didepan umum. Ia sudah terbiasa. Sungguh ia sudah terbiasa menanggung
malu karena akibatnya ia terus mengejar Gabriel. Tapi, kenapa hatinya belum
terbiasa? Belum terbiasa dengan sikap Gabriel terhadap dirinya?
Ify
pun berdiri dari duduknya tetapi dengan sigap Via langsung menahan tangannya,
“Gak usah ikut campur deh Fy.”
“Hah?
Ikut campur apaan sih? Gue udah telat nih,” Via pun segera melepas cekalan
tangannya dari tangan Ify dan menampilkan cengiran anehnya.
“Sorry...”
“Aneh
loh,” Ify pun berjalan meninggalkan Via yang masih sibuk menghabiskan sisa-sisa
terakhir sotonya.
Shilla
pun menghapus air matanya dengan kasar kemudian berjongkok mengambil topi yang
dijatuhkan oleh Gabriel. Shilla berdiri dari jongkoknya, menghela nafas dan
tersenyum. Ia akan tetap berusaha merebut hati seorang Gabriel Damanik.
Bagaimanapun cranya. Karena yakin Gabriel adalah jodoh yang dikirimkan Tuhan
olehnya.
Via
menatap kepergian Shilla dengan prihatin. Dulu ia juga pernah maerasakan apa
yang dirasakan Shilla. Sakit? Tentu saja. Siapa pun pasti akan merasakan sakit
jika berada dalam kondisinya dulu. Ya dulu saat ia masih mengejar-ngejar Alvin.
Tapi, kenapa sakitnya masih ada sampai sekarang? Padahal jelas-jelas Alvin
sudah menjadi kekasihnya. Ya tentu saja itu semua hanya sebagai gelar. Gelar
kalau ia sebagai kekasih Alvin. Tapi, intinya tidak sama sekali. Memiliki
Raganya saja ia tidak bisa, apalagi hatinya. Bagaimana rasanya?? Sakit? Jelas.
Dan sakitnya pun bertambah besar. Ah sudahlah. Biarkan semua ini berjalan
sebagai mestinya. Ia yakin suatu saat nanti ia kakan mendapatkan kebahagiannya
sendiri.
***
BRAKK
“Aduh
sorry sorry,” ucap Shilla sambil membereskan bukunya dan buku orang yang
ditabraknya. Astaga akibat ia melamun akhirnya ia menabrak orang.
“Gpp
kok Shill. Santai aja kali,” Shilla pun tersenyum kemudian berdiri dari
jongkoknya lalu menyerahkan buku kepad sang empunya.
“Sekali
lagi maaf ya Kka. Gue gak sengaja,” Cakka tersenyum lalu mengacak pelan puncak
rambuk Shilla.
“No
problem Shilla. Lagian elo kayak sama siapa aja,” ucap Cakka lalu menyerahkan
buku-buku Shilla dan juga topi yang ia pungut hasil tabrakan tadi. “Topi siapa
Shill? Keren banget.”
Shilla
tersenyum tipis, “Kalau lo suka, buat elo aja.”
Cakka
melebarkan matanya kemudian tersenyum senang. “Beneran Shill? Wah makasih
banget ya,” kata Cakka dan segera memakai topi tersebut kearah belakang.
Shilla
mengangguk sambil tersenyum, “Lo tambah keren deh kalau gitu.”
Kata
sederhana tapi, jujur membuat Cakka senang bukan main. Bahkan walaupun ia
menang lotre rasa senangnya pasti tidak seberapa dengan hari ini. Huhh
sepertinya sebentar lagi ia bisa menaklukkan Shilla. Ya tentu saja. Dua tahun
pengerbonannya pasti akan terbayar sudah.
Cakka
tersenyum mengingat kejadian tadi sore. Sungguh tidak pernah terbayang didalam
otaknya kalau hukuman Mr. Doyo tadi membuat ia dengan Shilla bertambah dekat.
Oh astaga, ia masih mengingat jelas bagaimana Shilla tersenyum, tertawa,
cemberut atau pun segala ekspresi yang belum pernah lihat dari Shilla. Sungguh
menakjubkan.
TOK
TOK TOK..
Cakka
menghembuskan nafasnya kesal. Siapa sih malam-malam begini bertamu dan
mengganggu kesenangannya.
Dengan
kesal ia membuka kaca kamarnya. “Agni...”
“Haii,”
Agni tersenyum dengan lebar kemudian melompat melewati pembatas kaca dengan
kamar Cakka. “Sorry ya malam-malam gue main kerumah elo.”
Cakka
tersenyum kemudian duduk di king springbednya sedangkan Agni memilih duduk di
sofa kamar Cakka. “Gpp kali. Sama gue gak usah sungkan-sungkan gitu. Gini-gini
gue kan sahabat elo,” Agni pun mengangguk dan tersenyum senang.
“Ngomong-ngomong gue belum nyuruh elo duduk loh Ag,” dengan reflek Agni pun
berdiri dari duduknya dan nyengir minta maaf kearah Cakka.
“Hahahahaha,
gpp kok Ag, lo duduk aja gue gak ngelarang kok. Tadi, gue Cuma bercanda,” Agni
merengut kemudian dengan kesal duduk kembali ketempatnya semula.
“Jangan
cembetut gitu dong Ag. Suerr lo tambah jelek kalo gini.”
“Aishh
Cakka...” dengan kesal Agni pun melempar
bantal sofa kearah Cakka/
Cakka
pun menangkap hasil lemparan Agni, “Sorry sorry Ag. Oh ya lo ada apa
malam-malam kesini?”
“Oh
gue gak boleh kesini gitu. Oke Fix,” Agni berdiri dari duduknya dan mengambil
tas cangklongnya yang sempat ia lepas tadi.
Cakka
yang melihat itu pun berdiri dari duduknya dan menghalangi jalan Agni, “Alaahh
Ag, gitu aja lo marah. PMS neng.”
“Tauk
ah..,” Agni pun menghempaskan kembali tubuhnya ke sofa. Tangannya pun bergerak
liar mengambil topi berwarna hitam dan sedikit putih yang tergeletak manis di
meja didepan sofa.
“Ciyee
topi baru,” goda Agni dan memakai topi itu ke kepalanya *yaiyalah*
“Eitzz
jangan asal make lo,” Cakka langsung merebut topi yang ada dikepala Agni. “Ini
topi pemberian dari Shilla taukk.”
Agni
tersenyum miris bagaimana Cakka memperlakukan barang pemberian Shilla. Apa
sebegitu berhargakah topi itu sampai-sampai Cakka terus memeluknya. Apakah
Cakka membayangkan kalau topi itu adalah Shilla??
“Hmm
Yaudah Kka gue pulang dulu ya. Gue takutnya bokap nyokap gue nanti nyariin
lagi,” pamit Agni berdiri dari duduknya. Ia takut nanti bakal kelepasan kalau
melihat Cakka seperti itu terus. Bagaimanapun ia punya hati yang bakal sakit
jika dilukain walaupun sekecil apapun.
“Loh
Ag, kok cepet banget pulangnya. Lo marah ya?”
“Gak
kok Kka. Ini udah malam. Kan gak baik cewek pulang malam-malam.”
“Gue
anter ya?” tawar Cakka. jujur ia tak tega membiarkan Agni pulang sendiri dihari
yang malam seperti ini. walapun ia tau Agni bisa beladiri, tapi rasa khawatir
itu tetap ada.
“Gak
usah Kka. Gue bukan anak kecil yang perlu diantar pulang segala,” ucap Agni
dengan nada candaan. Ia tau kalau Cakka khawatir dengan dirinya tapi, ia tidak
mau merepotkan Cakka.
“Tapi,
Ag—“
“Udah
Kka. Gue gpp kok. Gue bisa jaga diri. Jadi, elo tenang aja. Oke!”
Cakka
pun mengangguk ragu membiarkan Agni pulang sendiri kerumahnya.
***
Ify
menguap untuk kesekian kalinya. Sudah dua jam ia duduk dikursi tunggu bandara
soekarnohatta. Disampingnya ada Via yang tidur bersandar dibahu Lintar (adik
Via). Sedangkan Lintar lebih memilih bermain pspnya.
Ify
mengangkat tangannya melihat jam tangan bermerk ‘Daniel Welling’ yang melingkar
manis di pergelangan tangannya. Jarum jam pendeknya kearah angka 11 serong
sedikit dan jarum panjangnya kearah angka 7, berarti sekarang sudah hampir
tengah malam dan pesawat yang membawa orang yang ditunggu-tunggu belum datang
juga. Ahh Astagaaaa!!!
“IFYYYYY!!!”
Ify tersentak kaget mendengar teriakan memekan telinga dan dengan sigap berdiri
dari duduknya dan menyambut orang yang ditunggunya sejak tadi.
“Ify
gue kangen banget sama elo,” Ify mencoba melepas pelukan orang yang ada
dihadapannya. Sungguh orang ini sepertinya memang berniat membunuhnya
hidup-hidup.
“Astaga
Deva, santai aja kali. Perasaan lo sama Ify terakhir ketemu belum ada seminggu
deh, Eh sekarang udah kangen aja,” celetuk Via yang entah sejak kapan sudah
bangun dari tidur cantiknya.
“Tapi,
nyatanya gue udah kangen tuh sama Ify,” Via pun mencibir mendengar tuturan
Deva. Dasar emang Deva kelewat alay, pikirnya.
“Lo
baek-baek kan disini Fy?” tanya Ray sambil memeluk Ify ringan. Untung saja
setelah mengancam Deva mau melepaskan pelukannya.
“Gue
baek-baek aja kok. Seperti yang elo lihat.”
“Gak
ada yang nguntit elo kan?” kali ini Ozy yang bertanya. Ify pun tersenyum sambil
mengangguk.
“Tenang
Zy, selama ada gue Ify pasti aman,” jawab Lintar membanggakan diri. Ck ck ck.
Ify
tersenyum menatap ketiga adik kembarnya Ozy, Deva dan Ray yang tengah berjalan
didepannya. Sungguh, ketiga adiknya yang berbeda fisik maupun sifat itu yang
telah mengisi hari-harinya. Semenjak insiden pengusiran itu sifat bunda Ify yang
awalnya ceria berubah menjadi dingin. Ya bundanya saat itu masih mengurusnya
tapi, rasanya hampa. Ia sama sekali tidak merasakan kasih sayang seorang bunda
lagi. Terlebih saat ketiga adiknya lahir. Bundanya langsung bekerja siang malam
tiada henti selayaknya robot. Tiada lagi rasa kasih sayang yang ditumpahkan
kepadanya dan juga ketiga adiknya. Untungnya masih ada neneknya yang mengurusnya dan juga ketiga adiknya. Dan
sekarang ia berada diIndonesia dengan satu tujuan yaitu mencari Ayahnya.
Mencari kebahagian bundanya. Karena ia tau kalau kebahagian bundanya ada di
Ayahnya dan ia sangat yakin itu.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar