Kamis, 08 September 2016

Semua Tak Sama #2



Tittle   : Semua Tak Sama #2 ( Tetap Awal Cerita )
            Genre : Enmity, Friendship, Love, Sad, etc. (maybe)
            Cast    : Ify Alyssa, Gabriel Stev, Rio Stevadit, Ashilla Zee, Cakka Nuraga, Agni Trinubuwati, Alvin Jo,  Sivia Azizah, Ray Prasetya, Deva Ekada, Ozy Ardiansyah, Lintar Morgen and other cast.
            Author            : Yanti L Ayuningsih | Line, Twitter, Ig : @yanti_lestariA

            “I’ve  been set free
             I am hypnotized by your destiny
             You are magical, lyrical, beautiful
             You are and I want you to know”
             ( Selena Gomez- Love you like a love song )
**<3**

            “Rio... aku gak mau kamu putusin. Aku masih cinta sama kamu,” rajuk seorang gadis cantik dengan suara yang dibuat-buat membuat Rio jengah. Apalagi sejak Rio memutuskannya, wanita ini terus mengikuti kemana pun Rio pergi dan jujur buat Rio kesal sendiri.
            Rio pun menghentikan langkahnya. Kemudian menatap Dea –wanita yang mengikuti Rio- dengan malas. “Dea, stop ikutin gue. Gue risih lo ikutin gue mulu.”
            Dea pun mengerucutkan bibirnya. “Tapi, kita gak jadi putus kan Yo.”
            Rio pun memutar bola matanya kemudian melongos kentara. “Gue itu udah bosen sama elo De.”
            “Tap—“ Rio pergi meninggalkan Dea. Capek juga dengerin cicitnya Dea yang itu itu aja.
            “Yo.. Rioo,” Dea pun berlari mengikuti Rio. “Ishh Rioo kok aku ditinggal sih. Rio kita gak jadi putus kan?” harap Dea dan bergelayut manja dilengan Rio. Rio menghembuskan nafasnya mencoba menahan emosinya. Tiba-tiba saja matanya menangkap satu sosok yang diam-diam menarik perhatiannya.
            “Hai sayang..” sapa Rio. Ify yang memang melihat Rio menatapnya pun mengerenyitkan dahinya bingung. Matanya kemudian menatap Via yang berada disampingnya. Sedangkan Via, sibuk  menatap Ify dan Rio secara bergantian. Tak lupa juga ekspresi bingung dan keponya tercetak jelas di wajahnya.
            “Lo ngomong sama siapa ya Yo?” tanya Via yang ternyata tak bisa menahan kekepoannya.
            “Sama pacar gue yang paling cantik dong,” ucap Rio dengan senyum mautnya. Tangannya pun mulai merangkul Ify sedangkan gelayutan Dea ditangannya yang lain mulai terlepas dengan sendirinya.
            “What pacar?” shock Via dengan suara toanya. Ify yang tersadar pun mulai melepas rangkulan Rio dibahunya.
            “Gak gak,” bantah Ify cepat. Ify pun menatap Rio tajam sedangkan Rio malah memberikan senyuman mautnya yang sama sekali tidak memberikan efek ke Ify.
            “Udahlah sayang. Udah saatnya mereka tau kalau kamu pacar aku,” Ify membulatkan matanya kesal. Via tercengang tidak percaya. Matanya menatap Ify dan Rio berrgantian.
            “Gak Vi, gue gak pacaran sama dia.”
            “Aku gak percaya Yo. kamu pasti bohong kan,” tanya Dea.
            “Gue gak butuh kepercayaan elo. Yang terpenting sekarang lo tau kalau gue udah punya Ify. Jadi, stop gamggu gue,” ucap Rio dengan entengnya. Dea pun berlari meninggalkan Rio, Ify, Via dan mahasiswa yang entah sejak kapan menjadi penonton drama kacangan secara gratis.
            “Aishh cowok Afrika, maksud lo apa hah?” protes Ify. Rio pun merangkul Ify (lagi) yang langsung dilepas oleh Ify.
            “Gak maksud apa apa sih. Tapi, kalau lo mau, lo boleh kok jadi pacar gue,” jawab Rio tak lupa dengan seringainya. Ify membulatkan matanya menatap tak percaya cowok Afrika yang ada disampingnya ini. Astaga cowok Afrika ini benar benar...
            Ify menatap tajam cowok Afrika menurut versinya ini. dengan satu hentakan Ify melepas tangan Rio yang berada di pinggangnya kemudian menyeret Via  yang sepertinya terkena kutukan maling kundang. Diam seperti patung.
            “Hmm cewek aneh,” gumam Rio tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya lalu meninggalkan TKP  yang dikerubungi oleh sebagian mahasiswa.
***
            “Hmm Fy, semua meja udah penuh nih,” Ify menganggukkan kepalanya setuju. Benar kata Via. Semua meja sudah penuh oleh pasukan manusia kelaparan. Ify melongos. Masa iya cewek secantik dia harus makan sambil berdiri. Bisa sih ia makan ditaman belakang kampus tapi, ia juga tak mau harus bolak balik mengembalikan piring kafe.
Senyum Ify mengembang tak kala melihat ada dua kursi kosong disalah satu meja ditengah tengah kafe. Wahh sepertinya rejeki cewek cantik gak bakal kemana.
            “Vi, Vi kita makan disana aja yok. Masih ada dua kursi kosong noh,” Via membelalakkan matanya melihat meja yang ditunjuk oleh Ify. Iya sih ada dua kursi kosong tapi, sang penghuninya itu loh yang buat Via tak percaya akan ide Ify. Bisa bisa bukannya kenyang yang ia dapat tapi, mules minta ke toilet iya.
            “Lo gila ya Fy. Itu mej--”
            “Yaelah Vi, vi. Disana kan ada pacar elo. So, gak mungkin kan pacar lo biarin lo yang cantik ini harus makan sambil berdiri,” potong Ify cepat. Via menepuk jidat Ify saking kesalnya.
            “Eh lo kata k--”
            “Tapi, gak usah nepuk jidat gue juga kali. kalo jidat gue lebar gimana? Bisa bisa pesawat terbang malah mendarat dijidat gue saking dikiranya lapangan bandara.” Cerocos Ify. Via memutar bola matanya kesal. Nih cewek kadang-kadang oon ya. Astaga apa salahnya ya Tuhan sampai-sampai ia harus mempunyai sepupu seperti Ify.
            “Elo lama-lama jayus deh Fy. Ah lebih baik kita ketaman belakang aja,” Via pun menarik tangan Ify. Tapi, Ify buru-buru menahannya.
            “Viaa gue males harus balikin nih piring kesini lagi. Lagian apa salahnya sih makan disana. Kita Cuma join doang bukan mau malak makanan mereka,” komentar Ify. Lagian bukannya Via harus senang bisa makan sama pujaan hati nah ini malah...
            Via menggaruk kepalanya frustasi. Sebenarnya ia juga malas jika harus bolak balik tapi, masalahnya ia takut kesana. Takut kalau ia...
            “Ayo ah Vi, bentar lagi gue ada jam nih,” Ify pun menarik tangan Via secara paksa. Sedangkan Via yang ditarik pun hanya pasrah dan menyiapkan mentalnya.
            “Hmm haii.. kita boleh gabung kan disini,” sapa Ify dan langsung duduk disalah satu kursi kursi kosong. Tak lupa pula tangannya menarik Via yang masih berdiri mematung untuk duduk disampingnya.
            Semua penghuni meja yang merupakan genk BB pun menghujati Ify dengan tatapan tajam tapi, toh Ify tetap cuek bebek dan memakan pastanya dengan tenang, nyaman dan tidak peduli terhadap lingkungannya. Dan sebagai ganjarannya semua tatapan genk BB beralih kearah Via yang diam kaku seperti mayat. Tapi, yang berbeda matanya masih melek dan tentunya masih bernafas.
            Via menegukkan ludahnya dengan susah payah. Oh astaga tatapan para penghuni meja ini seperti ingin memakannya hidup-hidup. Apalagi Alvin, natapnya tajam banget. Via meringis sambil menyenggol kaki Ify menggunakan kakinya. Ify pun mendongak menatap Via, Via pun melirik kearah genk BB. Seolah-olah memberikan peringatan kalau malaikat maut sudah dekat.
            Ify pun menolehkan wajahnya kearah genk BB. Oh astaga kenapa para genk BB ini melotot seperti itu. Apakah ada pertandingan gede-gedean mata?? Terus kenapa juga si sipit atau lebih tepatnya kekasih Via juga ikut melotot. Apakah ia tidak tau kalau matanya tidak berubah sama sekali. Sekali sipit ya tetap sipit.
            Ify pun menyunggingkan senyum simpulnya. Kemudian menyodorkan tangannya kearah Alvin.
            “Kenalin nama gue Ify. sepupu Via. Lo Alvin kan pacarnya Via,” Via menepuk jidatnya pelan. Astaga Ify sumpah udah bosen hidup kali ya. Terus kayaknya udah bosen lihat sepepunya ini hidup. Lihat aja nanti Alvin pasti akan menggeretnya dan terus menatapnya secara tajam. Ya Cuma ditatap secara tajam, tapi efeknya itu yang gak enak.
            Alvin menatap Ify dan Via secara bergantian kemudian melanjutkan makannya yang tertunda. Begitupula dengan para member genk BB yang lain.
            Ify pun menarik tangannya dengan kikuk. Kemudian menatap Via yang juga menatapnya. Via meringis kemudian menyantap sotonya yang sudah dingin.
            “Hai Gabriel...” Ify dan Via langsung mendongakkan kepala ketika gendang telinga mereka menangkap suara seorang wanitayang tidak asing bagi Via tapi, asing bagi Ify. Ify menatap wanita itu. Sepertinya ia mengenalinya. Hmm oh ya cewek itu kan satu jurusan sama gue, ingat Ify. Sedangkan Via membualatkan matanya. Astaga sepertinya sebentar lagi sang singa bakal ngamuk, gidiknya.
            Gabriel meletakkan gelas minumannya dengan keras dimeja. Matanya beralih kesebuah kantong kertas yang dibawa oleh gadis dihadapannya. Bentuk benda apa lagi yang bakal diberikan gadis itu kepadanya. Bukan ia sok tau tapi, ia sudah sangat yakin kalau benda yang dibawa gadis itu pasti akan diberikan kepadanya. Kenapa ia sangat yakin ya karena setiap hari gadis itu selalu memberikannya apa saja dan ujungnya ia selalu menolaknya. Betapa bodohnya gadis itu.
            “Gabriel ini buat kamu. Kemarin aku habis dari mall terus lihat topi ini. Aku rasa ini cocok deh buat kamu,” Shilla –gadis itu- pun menyerahkan sebuah topi berwarna hitam dan sedikit putih dengan senyum yang tetap mengembang.
            Gabriel menatap topi itu sekilas kemudian berdiri dari duduknya. “Gue gak butuh,” Gabriel menepis topi itu sehingga terjatuh kemudian berjalan meninggalkan meja. Tak lam kemudian Alvin pun ikut berdiri diikuti oleh para pengikutnya dan berjalan kearah dimana Gabriel pergi tadi.
            Shilla menatap topi itu nanar. Ia menundukkan kepalanya. Air matanya sudah jatuh bebas membasahi pipinya. Sudah tak ada malu yang ia rasakan. Malu karena perlakuan Gabriel didepan umum. Ia sudah terbiasa. Sungguh ia sudah terbiasa menanggung malu karena akibatnya ia terus mengejar Gabriel. Tapi, kenapa hatinya belum terbiasa? Belum terbiasa dengan sikap Gabriel terhadap dirinya?
            Ify pun berdiri dari duduknya tetapi dengan sigap Via langsung menahan tangannya, “Gak usah ikut campur deh Fy.”
            “Hah? Ikut campur apaan sih? Gue udah telat nih,” Via pun segera melepas cekalan tangannya dari tangan Ify dan menampilkan cengiran anehnya.
            “Sorry...”
            “Aneh loh,” Ify pun berjalan meninggalkan Via yang masih sibuk menghabiskan sisa-sisa terakhir sotonya.
            Shilla pun menghapus air matanya dengan kasar kemudian berjongkok mengambil topi yang dijatuhkan oleh Gabriel. Shilla berdiri dari jongkoknya, menghela nafas dan tersenyum. Ia akan tetap berusaha merebut hati seorang Gabriel Damanik. Bagaimanapun cranya. Karena yakin Gabriel adalah jodoh yang dikirimkan Tuhan olehnya.
            Via menatap kepergian Shilla dengan prihatin. Dulu ia juga pernah maerasakan apa yang dirasakan Shilla. Sakit? Tentu saja. Siapa pun pasti akan merasakan sakit jika berada dalam kondisinya dulu. Ya dulu saat ia masih mengejar-ngejar Alvin. Tapi, kenapa sakitnya masih ada sampai sekarang? Padahal jelas-jelas Alvin sudah menjadi kekasihnya. Ya tentu saja itu semua hanya sebagai gelar. Gelar kalau ia sebagai kekasih Alvin. Tapi, intinya tidak sama sekali. Memiliki Raganya saja ia tidak bisa, apalagi hatinya. Bagaimana rasanya?? Sakit? Jelas. Dan sakitnya pun bertambah besar. Ah sudahlah. Biarkan semua ini berjalan sebagai mestinya. Ia yakin suatu saat nanti ia kakan mendapatkan kebahagiannya sendiri.
***
            BRAKK
            “Aduh sorry sorry,” ucap Shilla sambil membereskan bukunya dan buku orang yang ditabraknya. Astaga akibat ia melamun akhirnya ia menabrak orang.
            “Gpp kok Shill. Santai aja kali,” Shilla pun tersenyum kemudian berdiri dari jongkoknya lalu menyerahkan buku kepad sang empunya.
            “Sekali lagi maaf ya Kka. Gue gak sengaja,” Cakka tersenyum lalu mengacak pelan puncak rambuk Shilla.
            “No problem Shilla. Lagian elo kayak sama siapa aja,” ucap Cakka lalu menyerahkan buku-buku Shilla dan juga topi yang ia pungut hasil tabrakan tadi. “Topi siapa Shill? Keren banget.”
            Shilla tersenyum tipis, “Kalau lo suka, buat elo aja.”
            Cakka melebarkan matanya kemudian tersenyum senang. “Beneran Shill? Wah makasih banget ya,” kata Cakka dan segera memakai topi tersebut kearah belakang.
            Shilla mengangguk sambil tersenyum, “Lo tambah keren deh kalau gitu.”
            Kata sederhana tapi, jujur membuat Cakka senang bukan main. Bahkan walaupun ia menang lotre rasa senangnya pasti tidak seberapa dengan hari ini. Huhh sepertinya sebentar lagi ia bisa menaklukkan Shilla. Ya tentu saja. Dua tahun pengerbonannya pasti akan terbayar sudah.
            Cakka tersenyum mengingat kejadian tadi sore. Sungguh tidak pernah terbayang didalam otaknya kalau hukuman Mr. Doyo tadi membuat ia dengan Shilla bertambah dekat. Oh astaga, ia masih mengingat jelas bagaimana Shilla tersenyum, tertawa, cemberut atau pun segala ekspresi yang belum pernah lihat dari Shilla. Sungguh menakjubkan.
            TOK TOK TOK..
            Cakka menghembuskan nafasnya kesal. Siapa sih malam-malam begini bertamu dan mengganggu kesenangannya.
            Dengan kesal ia membuka kaca kamarnya. “Agni...”
            “Haii,” Agni tersenyum dengan lebar kemudian melompat melewati pembatas kaca dengan kamar Cakka. “Sorry ya malam-malam gue main kerumah elo.”
            Cakka tersenyum kemudian duduk di king springbednya sedangkan Agni memilih duduk di sofa kamar Cakka. “Gpp kali. Sama gue gak usah sungkan-sungkan gitu. Gini-gini gue kan sahabat elo,” Agni pun mengangguk dan tersenyum senang. “Ngomong-ngomong gue belum nyuruh elo duduk loh Ag,” dengan reflek Agni pun berdiri dari duduknya dan nyengir minta maaf kearah Cakka.
            “Hahahahaha, gpp kok Ag, lo duduk aja gue gak ngelarang kok. Tadi, gue Cuma bercanda,” Agni merengut kemudian dengan kesal duduk kembali ketempatnya semula.
            “Jangan cembetut gitu dong Ag. Suerr lo tambah jelek kalo gini.”
            “Aishh Cakka...”  dengan kesal Agni pun melempar bantal sofa kearah Cakka/
            Cakka pun menangkap hasil lemparan Agni, “Sorry sorry Ag. Oh ya lo ada apa malam-malam kesini?”
            “Oh gue gak boleh kesini gitu. Oke Fix,” Agni berdiri dari duduknya dan mengambil tas cangklongnya yang sempat ia lepas tadi.
            Cakka yang melihat itu pun berdiri dari duduknya dan menghalangi jalan Agni, “Alaahh Ag, gitu aja lo marah. PMS neng.”
            “Tauk ah..,” Agni pun menghempaskan kembali tubuhnya ke sofa. Tangannya pun bergerak liar mengambil topi berwarna hitam dan sedikit putih yang tergeletak manis di meja didepan sofa.
            “Ciyee topi baru,” goda Agni dan memakai topi itu ke kepalanya *yaiyalah*
            “Eitzz jangan asal make lo,” Cakka langsung merebut topi yang ada dikepala Agni. “Ini topi pemberian dari Shilla taukk.”
            Agni tersenyum miris bagaimana Cakka memperlakukan barang pemberian Shilla. Apa sebegitu berhargakah topi itu sampai-sampai Cakka terus memeluknya. Apakah Cakka membayangkan kalau topi itu adalah Shilla??
            “Hmm Yaudah Kka gue pulang dulu ya. Gue takutnya bokap nyokap gue nanti nyariin lagi,” pamit Agni berdiri dari duduknya. Ia takut nanti bakal kelepasan kalau melihat Cakka seperti itu terus. Bagaimanapun ia punya hati yang bakal sakit jika dilukain walaupun sekecil apapun.
            “Loh Ag, kok cepet banget pulangnya. Lo marah ya?”
            “Gak kok Kka. Ini udah malam. Kan gak baik cewek pulang malam-malam.”
            “Gue anter ya?” tawar Cakka. jujur ia tak tega membiarkan Agni pulang sendiri dihari yang malam seperti ini. walapun ia tau Agni bisa beladiri, tapi rasa khawatir itu tetap ada.
            “Gak usah Kka. Gue bukan anak kecil yang perlu diantar pulang segala,” ucap Agni dengan nada candaan. Ia tau kalau Cakka khawatir dengan dirinya tapi, ia tidak mau merepotkan Cakka.  
            “Tapi, Ag—“
            “Udah Kka. Gue gpp kok. Gue bisa jaga diri. Jadi, elo tenang aja. Oke!”
            Cakka pun mengangguk ragu membiarkan Agni pulang sendiri kerumahnya.
***
            Ify menguap untuk kesekian kalinya. Sudah dua jam ia duduk dikursi tunggu bandara soekarnohatta. Disampingnya ada Via yang tidur bersandar dibahu Lintar (adik Via). Sedangkan Lintar lebih memilih bermain pspnya.
            Ify mengangkat tangannya melihat jam tangan bermerk ‘Daniel Welling’ yang melingkar manis di pergelangan tangannya. Jarum jam pendeknya kearah angka 11 serong sedikit dan jarum panjangnya kearah angka 7, berarti sekarang sudah hampir tengah malam dan pesawat yang membawa orang yang ditunggu-tunggu belum datang juga. Ahh Astagaaaa!!!
            “IFYYYYY!!!” Ify tersentak kaget mendengar teriakan memekan telinga dan dengan sigap berdiri dari duduknya dan menyambut orang yang ditunggunya sejak tadi.
            “Ify gue kangen banget sama elo,” Ify mencoba melepas pelukan orang yang ada dihadapannya. Sungguh orang ini sepertinya memang berniat membunuhnya hidup-hidup.
            “Astaga Deva, santai aja kali. Perasaan lo sama Ify terakhir ketemu belum ada seminggu deh, Eh sekarang udah kangen aja,” celetuk Via yang entah sejak kapan sudah bangun dari tidur cantiknya.
            “Tapi, nyatanya gue udah kangen tuh sama Ify,” Via pun mencibir mendengar tuturan Deva. Dasar emang Deva kelewat alay, pikirnya.
            “Lo baek-baek kan disini Fy?” tanya Ray sambil memeluk Ify ringan. Untung saja setelah mengancam Deva mau melepaskan pelukannya.
            “Gue baek-baek aja kok. Seperti yang elo lihat.”
            “Gak ada yang nguntit elo kan?” kali ini Ozy yang bertanya. Ify pun tersenyum sambil mengangguk.
            “Tenang Zy, selama ada gue Ify pasti aman,” jawab Lintar membanggakan diri. Ck ck ck.
            Ify tersenyum menatap ketiga adik kembarnya Ozy, Deva dan Ray yang tengah berjalan didepannya. Sungguh, ketiga adiknya yang berbeda fisik maupun sifat itu yang telah mengisi hari-harinya. Semenjak insiden pengusiran itu sifat bunda Ify yang awalnya ceria berubah menjadi dingin. Ya bundanya saat itu masih mengurusnya tapi, rasanya hampa. Ia sama sekali tidak merasakan kasih sayang seorang bunda lagi. Terlebih saat ketiga adiknya lahir. Bundanya langsung bekerja siang malam tiada henti selayaknya robot. Tiada lagi rasa kasih sayang yang ditumpahkan kepadanya dan juga ketiga adiknya. Untungnya masih ada neneknya  yang mengurusnya dan juga ketiga adiknya. Dan sekarang ia berada diIndonesia dengan satu tujuan yaitu mencari Ayahnya. Mencari kebahagian bundanya. Karena ia tau kalau kebahagian bundanya ada di Ayahnya dan ia sangat yakin itu.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar