Sabtu, 21 Mei 2016

The Guardian Of Devangel Chap 2



Tittle                : The Guardian of Devangel Chapter 2
Cast                 : Ify Alyssa as Gifyana Vita Pervetta | Sivia Azizah as Taviana Juniver | Ashilla Zee as Nashilla Vrijkan Gonzales | Agni Tri Nubuwati as Agnita Zoettav | Rio Stevadit as Micher Giorio Leanarda Haling | Alvin Jo as Jason Calvin Sindunatha | Gabriel Stev as Michel Gabriel Damanik | Cakka Nuraga as Reinardo Cakka Nuraga | Riko Anggara as Miriko Juan William | Zahra Damariva as Zahraya Guessti Alpha | Dayat Simbaia as Day Nikholas | Aren Nadya as Arenadya Kinomi Chan |
Genre              : Friendship, Romance, Comedy, Hurt etc (maybe)
Author             : Yanti L Ayuningsih | @yanti_lestariA

            <3 -D’STATTLICH- <3
           

 <3 -SIVA- <3
“Lo kenapa Ag?” tanya Aren yang baru saja datang bersama Day, Riko dan juga Zahra. Tentu saja Aren bertanya seperti itu melihat mata Agni yang sembab.
“Gue gpp kok Ren,” jawab Agni mencoba tersenyum terpaksa. Aren menatap Agni dan Agni membalasnya dengan senyumam dan gelengan kepala. Aren pun menghembuskan nafasnya pasrah.
“Kok sepi Ag?” tanya Riko heran.
“Ify, Via sama Shilla lagi ke minimarket. Terus D’Stattlich....” Agni menjeda kalimatnya dan membuat Riko, Day, Aren dan juga Zahra menatap Agni kepo.
“Terus...”
“Mereka pergi bang. Gue gak bisa nahan mereka,” Riko berdecak kesal mendengar tuturan Agni. Astaga kenapa ke empat pemuda itu sangat sangat keras kepala.
“Terus gimana? Apa kita biarin mereka diluar tanpa kita?” Dayat angkat suara. Apalagi melihat raut wajah Riko yang sudah frustasi sendiri membuat dia ikut ikutan frustasi.
“Ini gak bisa dibiarin. Bisa bahaya. Belum lagi emosi mereka yang tidak bisa dikontrol. Bisa bisa besok kita dapat panggilan dari polisi karna ulah mereka lagi,” ucap Riko yang mengingat kejadian dua minggu lalu. Ia ditelpon polisi karna Gabriel telah menghajar anak polisi yang merupakan lawan balapan motor D’Stattlich. Untung saja saat itu Riko berhasil meyakinkan polisi dan berakhir damai.
“Terus gimana Bang? Kita tau mereka kemana aja nggak,” komen Aren. Riko mengacak rambutnya frustasi. Benar kata Aren. Ia sendiri juga tidak mengetahui dimana keberadaan lelaki Iblis itu.
“Emang tadi mereka gak bilang mau kemana gitu Ag?”
Agni tersenyum miring lalu menggelengkan kepalanya. “Gak Bang. Lagian gue siapa mereka,” Agni beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju kamarnya dilantai atas.
***
“Eh eh stop stop,” Shilla menepuk nepuk pundak Via yang memang sedang mengemudikan motor. Via yang mendengar teriakan Shilla memekakkan telinga pun menghentikan laju motornya secara mendadak.
“Astaga Vi lo bisa naik motor gak sih,” ucap Ify kesal. Pasalnya hampir saja Ify menabrak motor Via dari belakang.
“Salahin tuh Shilla,” kata Via tak terima kemudian menoleh kebelakang menatap Shilla. “Emang ada apaan sih Shill?”
“Eh itu tadi gue D’ Stattlich lewat. Cepetan kejar mereka. Mereka Cuma berempat,” perintah Shilla.
“Hah?” Via dan Ify cengo tidak mengerti ucapan Shilla yang begitu cepat. Shilla yang melihat itupun langsung mengambil alih motor dan untungnya Via ntah sadar atau tidak menyerahkan motornya ke Shilla kemudian duduk dibelakang Shilla.
Shilla pun memutar balikkan motornya lalu melajukan dengan kecepatan tinggi. Ify pun akhirnya sadar dan mengikuti Shilla dari belakang.
***
“Ngaapain kita ketempat ginian Shill?” tanya Via dan turun dari motor.
“D’Stattlich ada disini,” ucap Shilla sambil melepas helmnya dan mencabut kunci motor  kemudian berjalan masuk kedalan sebuah diskotik terkenal dikota. Diskotik yang terkenal tempat para pria hidung belang melepas penak. Ya, karena disini sarangnya para perempuan malam.
“Vi, Shilla ngapain ajak kita kesini?” tanya Ify yang tau tau sudah berdiri disamping Via. Via tersentak kaget kemudian menoleh kearah Ify.
“D’Stattlich ada disini,” jawab Via kemudian menggeret tangan Ify masuk kedalam diskotik.
“Darker club,” gumam Ify yang sempat membaca nama diskotik itu.
***
Suara dentuman musik yang merusak telinga menyambut kedatangan Shilla, Via dan Ify. Bukan Cuma itu, kelakuan bejat para anak manusia sudah tersuguh begitu menjijikkaan dimata mereka. Bau minumal alkohol ditambah pemandangan ‘itu’ membuat mereka ingin muntah ditempat. Astaga ini lebih menjijikkan dari sampah.
Mata mereka mulai menyapu ruangan sarang neraka itu. Mereka harus segera menemukan D’Stattlich dan menyeret mereka pulang. *kayakberaniaja
“Eh itu mereka,” tunjuk Via membuat Shilla dan Ify mengalihkan pandangan mereka kearah yang dimaksud Via.
“Gabriel...” seru Shilla dan langsung berjalan kearah Gabriel. Ify dan Via hanya saling pandang sebentar kemudian berjalan mengikuti Shilla.
Gabriel menoleh mendengar sebuah suara yang menembus gendang telinganya. Shock, tapi dengan pandainya ia merubah wajahnya menjadi dingin kembali. Begitupula dengan Rio, Alvin dan Cakka.
“Oke, dia taruhan gue,” ucap Gabriel setibanya Shilla, Via dan Ify.
Shilla seketika membulatkan matanya mendengar kata ‘taruhan’. Apakah para lelaki ini sedang bertaruh??
“Dia?” tanya lelaki yang berdiri dihadapan Gaabriel sambil menatap Shilla.
“Iya. Lo boleh milikin dia kalau gue kalah dari balapan ini,” ucap Gabriel datar membuat Shilla menganga tidak percaya. Jadi, ia akan menjadi bahan taruhan Gabriel?? Tega-teganya Gabriel melakukan ini kepadanya. Apa sebenarnya salahnya?
“Oke gue terima,” ucap lelaki tersebut sambil memandang Shilla dengan tatapan ewhhh... pengen ditabok.
“Gue gak mau,” seru Shilla. Air matanya mulai jatuh. Ia takut. Sangat-sangat takut. apalagi lelaki itu menatapnya dengan tatapan lapar. “Gue gak mau sama dia,” isaknya sambil menunjuk pemuda yang ada dihadapan Gabriel.
Gabriel langsung menarik lengan Shilla menjauh. Setibanya di lorong sempit, Gabriel langsung mengunci pergerakan Shilla ditembok. Sepi, gelap dan jauh dari keramain menambah betapa tegangnya keadaan dilorong itu.
“Mau gak mau lo harus mau Nashilla,” ucap Gabriel dingin. Matanya menatap tajam Shilla. Shilla dengan beraninya menatap balik mata berpupil biru legam itu.
“Gak. Gue gak mau jadi bahan taruhan elo,” kata Shilla berani. Perasaan marah, kesal dan takut campur jadi satu. Air matanya tetap setia mengalir membasahi pipinya. “Lo pikir lo siapa, hah,” ujarnya  kemudian.
Gabriel tersenyum miring, “Bukannya gue ini tunangan lo Nashilla. So, gue berhak atas lo.”
Shilla mengepalkan tangannya mendengar perkataan Gabriel. Sungguh, Gabriel sudah keterlaluan pada dirinya. Menjajah Shilla seenaknya sendiri. Menjadikannya bahan taruhan tanpa memikirkan nasib Shilla nantinya. Emang brengsek Gabriel!! Batinnya.
“Da-shffffttt,” ucapan Shilla terpotong. Mulutnya terkunci oleh bibir Gabriel yang mulai bermain dibibirnya. Shilla mencoba memberontak tapi, tidak bisa. Tangannya digenggap erat oleh Gabriel. Sekarang Shilla hanya pasrah dilecehkan oleh Gabriel. Ya, dicium secara paksa merupakan sebuah pelecehan??
Gabriel melepas ciumannya kemudian mengusap bibir bawah Shilla menggunakan ibu jarinya. “Anggap aja itu hadiah buat elo karena lo mau jadi bahan taruhan gue.”
PLAKK
“Lo brengsek Gabriel!!” maki Shilla menatap Gabriel tajam. Gabriel hanya tersenyum miring menanggapinya. “Lo cowok paling brengsek yang pernah gue temuin!! Lo gak punya hati gabriel!!!”
“Udah,” ucap Gabriel dengan santainya sambil bersandar didinding tepat disamping Shilla. Sebuah senyum tersungging dibibirnya. Shilla, ia hanya melirik sekilas dan tertegun ketika melihat Gabriel tersunyum. Jujur baru kali ini ia melihat Gabriel tersenyum. Wajahnya yang tampan berlipat dua kali tampannya. Tidak seperti biasanya yang memasang wajah tembok tetapi tetap mempesona. *eh
“Terpesona, heh?” Shilla merutuki dirinya sendiri yang melamun sambil memandangi wajah Gabriel. Terlihat Gabriel tersenyum mengejek kearahnya. Shilla menegakkan badannya kemudian menggeser sisi kiri tubuh kirinya 45 derajak kedepan. Jadinya, ia meniru sikap Gabriel. Bedanya Shilla tidak bersandar pada tembok.
“Terserah lo deh.” Ucap Shilla kemudian berjalan meninggalkan Gabriel.
Gabriel segera mencekal tangan Shilla kemudian menariknya sehingga Shilla sekarang berdiri dihadapannya.
Gabriel menegakkan badannya dan menatap Shilla tajam. “Mau kemana lo?!”
Shilla berdecak, “Ya pulang lah. Ngapain disini.”
“Lo tetap jadi bahan taruhan gue Nashilla,” ucap Gabriel kembali dingin. Astaga cepat sekali mood pria ini berubah.
“Gue gak mau Gabriel. Gue gak mau sama dia.”
“Lo nyuruh lo jadi bahan taruhan gue Shill, bukan ngasih lo ke dia.”
“Terus apa bedanya? Lo kalah gue jadi jalang-nya cowok itu Gabriel,” ucap Shilla kesal. Mengatai dirinya sendiri jalang, astaga!
“Gue gak akan kalah! Lo akan tetap jadi milik gue,” ucap Gabriel penuh penekanan. Tangan Gabriel terulur  menyentuh pipi Shilla. tanpa disadari kini Shilla didalam pelukannya. “Percaya sama gue Shilla. Lo akan tetap menjadi Nashilla Damanik,” bisik Gabriel ditelinga Shilla kemudian menciumnya.
***
Ify dan Via menatap kepergian Gabriel yang tengah menyeret Shilla entah kemana. Didalam otak mereka  Gabriel sudah gila karena menjadikan Shilla jadi bahan taruhan. Melakukan taruhan dengan cowok-cowok hidung belang yang tengah berdiri dihadapan D’Stattlich –minus Gabriel tentunya- dan menatap Ify dan Via dengan tatapan lapar.
“Teman lo udah gila tau gak,” buka Ify sambil menatap Rio yang tengah menatap dirinya tajam.
“Gue juga bakal lakuin hal yang sama sepeti Gabriel kalau posisi gue seperti dia,” Rio tersenyum miring setelah mengucapkan kata-kata itu. Ify membelalakkan matanya. Dasar cowok berwajah malaikat berhati iblis!! Batin Ify kesal.
“Kalau cewek-ceweknya kayak mereka gue juga mau Yo,” celetuk salah satu cowok yang memiliki rambut berwarna pirang.
Ify menatap cowok tersebut. Keren sih, tapi kelakuannya itu yang membuat Ify membatalkan memasukkan cowok tersebut ke playlist cowok terkeren versinya. Cih, cowok kayak gini mah dibuang kelaut aja, batinnya.
“Dan gue yakin, takdir hidup lo akan berubah,” ucap Rio dingin.
‘Yaiyalah takdir hidup dia berubah, secara sama gue, Gifyana Pervetta,” batin Ify jengkel.
***
BROM BROM BROM BROOOMMM
Suara saut-sautan deruman (?) motor menjadi backsound di sirkuit yang letaknya dibelakang Darker Club. Ditengah jalan (?) Gabriel dan lawannya telah duduk dimotor mereka masing-masing. Rio, Alvin dan Cakka berdiri disisi kiri jalan sedangkan Shilla, Ify dan Agni berdiri disisi kanan.
Shilla sedari tadi sudah komat-kamit tidak jelas. Perutnya mules mau muntah. Keringat dingin mulai menghinggapi dirinya. Pikiran-pikiran gak baik mualai merasuki otaknya. Aduh, bisa mampus dirinya kalau Gabriel kalah.
Ify melirik Via yang berdiri disamping kanannya. Wajahnya begitu semangat. Tentu saja, Via paling menggilai balapan. Entah itu balapan mobil maupun motor. F1 maupun motogp. Didalam kamar mereka punbanyak poster Valentino Rossi. Helm morornya pun ada stiker angka 46 dan the doctor. Seminggu yang lalu pun Via membeli poster foto Rio Hariyanto pembalap muda F1 dari Indonesia. Dan betapa sebalnya Via, setelah tau kalau posternya itu hilang entah kemana.  Katanya sih, disimpan dimeja ruang tengah. Akhirnya umpatan-umpatan sehari penuh keluar dari mulut Via.
Ify mengalihkan pandangannya kearah Shilla yang berdiri disamping kirinya. Terlihat Shilla tengah gelisah, galau, merana alias gegana *eh. Ify tau, Shilla pasti khawatir kalau Gabriel kalah. Jujur saja ia juga khawatir.
“Tenang aja Shill, gue yakin Gabriel pasti menang,” ucap Ify sambil memegang bahu Shilla. Shilla menoleh menampakkan wajah tegangnya membuat Ify tambah kasihan.
Shilla tersenyum tipis kemudian menatap Gabriel dengan penuh keyakinan. Ia yakin Gabriel pasti menang. Lagian Gabriel sudah janji kalau dia pasti akan memenangkan balapan ini. Huft, tenang Shilla, batin Shilla.
“Lagian kalau Gabriel kalah ya, kita langsung kabur aja,” celetuk Via tiba-tiba. Ify dan Shilla menatap Via cengo.
“Hmm, boleh juga sih,” jawab Shilla polos. Ify pun ikut-ikutan mengangguk.
“Waah tumben lo cerdas Vi,” ucap Ify membuat Via mendengus sebal. Via pun lebih memilih menatap kedepan karena sebentar lagi balapan akan dimulai.
***
“One, Two Three,” cewek yang berdiri didepan kedua pembalap itupun mengangkat bendera bermotif caturnya. Tanpa hitungan detik kedua motor itupun melaju dengan cepat meninggalkan garis start.
Suara sorakan mulai terdengar. Suara teriakan para pendukung kedua pembalap itu mulai terdengar memekakkan telinga. Kepala mereka juga mengikuti kemana perginya kedua manusia pembalap itu. Apalagi salip-menyalip mewarnai adu balap tersebut.
Shilla menggigit bawah bibirnya melihat kalau lelaki itu yang memimpin balapan. Shilla melihat jarak Gabriel dengan lelaki itu cukup jauh. Sepertinya Gabriel sengaja. Entahlah.
“Wah gawat Shill, sebaiknya kita kabur,” ujar Ify tiba-tiba. Shilla langsung menatap Ify takut. matanya mulai berair.
Ify menepuk pundak Via, “Vi, ayo kita pulang.”
Via menoleh dan menatap Ify merengut. “Ihh Fy, bentar lagi napa. Udah hampir finish juga.”
“Nah karena itu kita harus cepat pulang Via sayang. Lo gak liat kalau yang mimpin sakarang cowok lawannya si Gabriel. Lo ma—“ belum sempat Ify menyelesaikan ucapannya Via langsng menariknya dan juga Shilla. Mereka berlari cepat kearah parkiran.
“Eh ngapain lo bertiga kesini?” Ify, Via dan Shilla menghentikan lari mereka. Mereka bertiga menatap dua orang pemuda yang menatap mereka bingung.
“Em mau pulang bang,” balas Via yang hendak akan berlari lagi tapi, segera ditahan oleh Ify.
“Ishh ayo Fy,” ucap Via. Shilla hanya mematung ingin menangis. Riko dan Dayat yang merupakan dua pemuda tadi menatap ketiga wanita itu dengan tatapan bingung.
“Disirkuit ada D’Stattlich,” ucap Ify kemudian meninggalkan Riko dan Dayat. Apa daya kekuatan Via lebih kuat darinya.
Tanpa berfikir lagi, Riko dan Dayat pun berlari kearah sirkuit. Sebelum terjadi apa-apa mereka harus segera kesana.
***
Shilla segera berlari kekamar yang berada dilantai atas. Aren dan Zahra yang duduk diruang keluarga menatap Shilla bingung. Sepertinya Shilla menangis.
Tak lama kemudian Ify dan Via datang dan berjalan kearah Zahra dan Aren.
“Eh si Shilla kenapa nangis?” tanya Aren. Ify dan Via saling pandang kemudian dengan kompak mereka mengangkat bahu mereka kompak. Zahra dan Aren pun mentap mereka berdua tajam.
“Panjang ceritanya,” ucap Via akhirnya.
“Yaudah ceritain,” buru Zahra. Via menggeleg kemudian menguap.
“Huh besok aja ya gue ngantuk,” kata Via dan berjalan kearah tangga.
“Oh ya ni belanjaannya. Lo tata sendiri ya? Gue udah ngantuk,” ucap Ify kemudian mengikuti jejak Via menaiki tangga menuju kamar mereka.
***
Agni membuka matanya ketika merasakan suara isakan yang berada disampingnya. Ia pun memutar kepalanya kebelakang dan mendapati Shilla yang berbareng memunggunginya. Bahunya bergetar membuat Agni mengerenyikan keningnya.
“Lo kenapa Shill?” tanya Agni yang sudah mengubah posisinya menjadi duduk. Matanya menatap Shilla yang juga menatapnya shock.
“Eh Sorry Ag, gue ganggu elo ya?” ucap Shilla sambil menghapus air matanya dan segera mengubah posisinya menjadi duduk.
“Lo kenapa nangis?” tanya Agni. Shilla tersenyum tipis kemudian menggelengkan kepalanya.
“Gue gpp kok Ag,” jawab Shilla beserta gelengan sebagai pendukung.
“Tap—“
“Lo tanang aja Ag, gue gpp kok. Lebih baik kita tidur. Besok kan kita sekolah,” ucap Shilla sambil tersenyum kemudian membaringkan kembali tubuhnya.
Agni menatap Shilla prihatin. Ada sebuah rasa sakit dimata Shilla. Jujur ia penasaran kenapa Shilla seperti itu. Tapi, ia tidak akan memaksa Shilla untuk bercerita sekarang. Mungkin besok. Ya besok ia akan bertanya kembali pada Shilla.
Agni mengalihkan pandangannya kearah pintu ketika mendengar suara pintu terbuka. Terlihat Ify dan Via memasuki kamar dengan muka lelah. Seketika Agni teringat kalau Ify dan Via tadi pergi bersama Shilla. Ia yakin mereka berdua pasti tau penyebab Shilla menangis seperti itu.
“Eh si Shilla kenapa nangis?” tanya Agni.
Via menghembuskan nafas lelah, “Besok aja Ag. Gue ngantuk,” ucap Via kemudian berbaring di bed yang berada disamping Agni. Ify semenjak menginjakkan kakinya masuk kekamar ia sudah tepar disamping Via.
“Tapi, gue kepo Vi,” ucap Agni.
“Besok Ag,” jawab Via dengan mata yang sudah tertutup.
“Gue kepo maks Vi,” ucap Agni tetap memaksa Via.
“Yaudah minum obat pengurang kepo,” ucap Via mulai ngelantur.
“Ishh Via gue serius,” ucap Agni dengan menahan volume suaranya agar tidak membangunkan Ify dan Shilla.
Via membuka matanya lalu menatap Agni tajam, “Stop it Agni. Gue ngantuk.”
Agni merengut menatap Via yang kembali menutup matanya. Huhh, sepertinya ia memang harus segera mencari obat penurun penyakit kepo akutnya. Hadehh.
***
On that lonely night (Lonely night)
You said it wouldn’t be love
But we felt the rush ( Felt the love)
It made us believe it there was only us (only us)
Convinced we were broken inside, yeah
Inside, yeah
....
Agni keluar dari kamar mandi dengan wajah segar. Ditatap sahabatnya satu persatu. Shilla masih tidur dengan enak. Via juga. Tapi, ia telah memakai seragam. Ify tengah duduk sambil memejamkan matanya. Tangannya memegang benda persegi empat yang mengeluarkan musik yang jujur membuat Agni langsung jatuh cinta. Lirik-liriknya itu yang menurutnya menyimpan maksud tertentu dan jujur ia ingin tau apa maksudnya.
Agni berjalan kearah jendela. Matahari terlihat masih malu-malu menampakkan sinarnya. Ya tentu saja, jam masih menunjukkan pukul lima pagi. cukup pagi dan seharusnya ia masih tidur cans didampingi guling kesayangannya. Huhh..
Agni menatap jam digital yang terletak di nakas. Terlihat angka 5:13. Ia pun segera bergegas keluar kamar dan membiarkan para sahabatnya untuk tetap tidur.
***
Agni menghentikan langkahnya melihat seorang cowok yang sedang membuka pintu kulkas. Ia mengerenyitkan keningnya melihat Cakka –cowok itu- minum air es. Heh, pagi-pagi minum air es? Gak kembung tuh perut, batinnya heran.
MAMPUS
Seketika Agni salting karena tertangkap basah memperhatikan Cakka. Dengan kaku ia pun mengalihkan pandangannya dan berjalan melewati Cakka. Toh, memang awalnya ia kan kesini. Ingin memasak untuk penghuni rumah ini. Huhu berasa pembantu deh.
Agni mengutuk dirinya sendiri menjadi patung. Diam, berdiri didepan kompor dengan mulut yang masih komat kamit. Aishh bodoh bodoh. Seharusnya tadi ia tak usah kesini. Buat apa ia disini kalau Cakka masih berdiri ganteng didepan kulkas. Nah didalam kulkas itu ada bahan-bahan buat masak. Terus ia ngambilnya gimana. Aishh..
Agni mencoba berfikir lagi. Apa yang harus ia lakukan sekarang. Gak mungkin kan mau balik lagi. Ya kali ke dapur Cuma numpang berdiri. Ahaa... sebuah ide terlintas dikepala Agni. Ya sebaiknya ia masak nasi dulu. Ya benar. Astaga kenapa ia bisa lupa dengan masak nasi.Seharusnya masak nasi itu yang paling utama.
Agni berjalan membuka lemari kaca penyimpanan panci ricecooker. Ia meengambilnya kemudian berdiri mematung (lagi). Kali ini ia berdiri mematung mengarah ke Cakka yang masih setia berdiri disamping kulkas dengan tangan yang ia masukkan kecelana pendeknya.
Agni kembali merutuki dirinya. Dasar bodoh. Tempat beras kan berada disamping kulkas. Gak mungkin juga kan ia berdiri dismping Cakka mengingat kejadian semalam. Gini-gini ia masih marah ke Cakka *nahloh.
Dengan segala keberanian Agni pun memilih berjalan mengambil beras. Tak peduli kalau ada Cakka disampingnya.  Toh gak ngaruh juga buat dirinya. *tapiyangngaruhjantungnya*whaks*. Ia pun berjongkok disamping Cakka dan mengambil beras secukupnya. Hadeh, ngerasa jadi budaknya si Cakka gue, batinnya.
Agni pun kembali berdiri dan berjalan kearah wastafel. Dengan terampil tangannya mulai menari-nari didalam beras bersama air. Membersihkan tepung putih yang mnempel pada beras. Setelah acara pencucian selesai Agni pun memasukkannya kedalan ricecooker.
Agni kembali bingung akan berbuat apa. Halahh si Cakka pake acara jadi model dadakan sih. Kan jadinya ia bingung mau ngambil bahan buat sandwich sederhana untuk sarapan. Ahh kapan sih si Cakka itu pindah dari sana.
Kalau gini terus bisa-bisa satu rumah gak jadi sarapan. Huhh kayaknya ia harus nekat lagi.
“Hmm Kka, boleh geser dikir nggak?” ucap Agni membuka suara. Cakka pun dengan nurut menggeser tubuhnya ‘sedikit’.
HHHAHHH
Ingin rasanya Agni memakan cowok yang ada dihadapannya hidup-hidup. Iya sih geser dikir tapi, gak dikit-dikit banget juga kali. Masa iya geser Cuma sejengkal. Yakali. Buat buka kulkas aja gak bisa :3
“Hmm, Cakka lo bisa GESER BANYAK nggak? Gue mau buka kulkasnya,” ucap Agni dengan penuh penekanan pada kata yang di caps lock. Geser banyak? Kata dari mana tuh?
Cakka pun bergerak membuka kulkasnya. Agni pun cengo menatap Cakka. Cakka ia hanya menunjukkan senyum miringnya.
“Katanya lo mau buka kulkasnya. Yaudah gue bukain,” ucap Cakka datar.
Agni pun melongos kemudian mengambil bahan-bahan yang akan dibuat sandwich. Setelah itu ia pun berjalan kearah meja meletakkan bahan-bahannya dan bersiap membuat sandwich sederhana ala dirinya.
Setelah menutup kulkas Cakka pun datang menghampiri Agni dan duduk disamping wanita manis itu. Matanya sibuk mengikuti pergerakan gadis-nya yang sedang membuat entah ia pun tak tau.
“Mau buat apa?”
Agni pun menoleh dan menatap kaget Cakka jujur saja ia tak sadar kalau Cakka sudah duduk disampingnya.
“Mau buat sandwich,” jawab Agni dan kembali fokus pada bahan-bahannya.
“Gue bantuin ya?” ucap Cakka membuat Agni menatap Cakka cengo. Tadi, Cakka ngomong apa? boleh direplay nggak?
“Hah? Lo tadi ngomong apa?” tanya Agni kemudian memasang telinganya baik-baik.
Cakka berdecak kesal kemudian mengambil alih kocokan telur dari tangan Cakka. “Sebaiknya lo panggang rotinya dulu. Biar gue yang buat kocokan telurnya.”
Agni menganga tidak percaya akan sikap Cakka? Semalam bukannya Cakka membencinya. Tapi, kenapa sekarang ia bersikap manis seperti ini. Sungguh membingungkan.
“Kok malam ngelamun sih lo. Cepetan lo panggang rotinya,” ucap Cakka mengembalikan kesadaran Agni.
“Tapi, lo-lo kan belum siap-siap,” kata Agnu memperhatikan penampilan Cakka yang masih memaki kaos berwarna putih dan celana pendek. Huuhhh betapa seksinya *penulismulaingaco.
“Tenag, gue udah mandi,” ucap Cakka yang dibalas anggukan oleh Agni.
“Oh ya Ag, gue pake telus ceplok ya. Gue gak suka telor dadar,” Agni pun menngangguk dan berjalan kearah teflon. “Dan....” dengan reflek Agni menghentikan langkahnya dan menatap Cakka yang juga menatapnya. “Gue mau lo harus ingat itu semua.”
***
“OH GOD,” histeris Aren yang melihat Cakka dan Agni yang tengah membuat sandwich bersama. Matanya membuat shock melihat Cakka yang mau berdekatan dengan wanita. Genk yang bernam D’Stattlich itu tidak pernah mau berdekatan dengan wanita, karena apa? karena menrut mereka wanita itu virus penyakit yang harus dihindari.
Cakka dan Agni sontak menolehkan wajah mereka melihat Zahra dan Aren yang tengah berdiri dengan wajah kaget. Melihat itu, Cakka pun berdiri dari duduknya dan segera meninggalkan dapur, melewati Aren dan Zahra tentunya.
Aren dan Zahra pun segera menghampiri Agni yang masih sibuk menata sandwichnya.
“Ag, kok bisa Cakka ada disini?” tanya Aren.
“Bisa aja lah. Kenapa gak bisa coba,” jawab Agni yang tetap sibuk.
“Yaa kan lo tau kalau D’Stattlich it—“
“Gue gak tau!!” potong Agni dan membawa Sandwichnya menuju meja makan. Kalau diladeni terus, pasti si Aren gak akan berhenti nanya dan lama-kelamaan pasti bakal ngelantur gak jelas. Huh!
***
“Aihh Agni kenapa lo gak bangunin gue sih,” marah Ify yang tiba-tiba datang bersama Via. Via pun ikut-ikut mengangguk dan mengerucutkan bibirnya.
“Baru aja gue mau bangunin elo.”
“Ahh telat tauk Ag,” kesal Ify dan memilih duduk kemudian mengambil sepotong sandwich lalu memakannya.
“Terus ini siapa yang buat?” tanya Via dan tangannya siap mengerilya makanan berbantal roti tersebut.
“Ehhh,” Agni menampik tangan Via. “Ini buat Cakka. Noh buat lo.”
Via menatap Agni menggoda. Begitupa Ify yang sepertinya sudah bersiap melontarkan kata-kata godaan.
“Oh gitu ya sekarang. Buat Cakka dikhususin,” mulai Ify.
Agni melongos kesal,” Bukan g—“
“Ck-ck pagi-pagi udah berantem aja lo pada,” ujar Riko yang datang bersama Dayat, D’Stattlich dan juga Aren serta Zahra. Mereka telah duduk dikursi mereka masing-msing.
“Siapa bilang berantem. Orang kita santai aja,” ucap Via kemudian menggigit Sandwich yang ada ditangannya. Tak peduli ada piring dihadapannya. Toh, enak makan pake tangan. *yaiyalahmasapakaikaki*
“Eh ngomong-ngomong Shilla mana?” tanya Zahra yang diangguki oleh Riko, Dayat dan juga Aren. D’Stattlich mereka sibuk dengan makan masing-masing.
“Gak sekolah Ra?” jawab Ify yang ternyata sudah selesai sarapan.
“Kenapa?Sakit?”
Ify menggeleng, “Nggak. Tapi karena... someone pokoknya.”
“Apa gara-gara semalam?” tanya Dayat. Ify pun mengerenyitkan keningnya kemudian mengangguk. “Lah apa hubungannya?”
“Kan g—“
“Oh ya semalam yang menang siapa?” potong Via. Ify pun mendengus kesal dan Via menghiraukannya.
“Gabriel,” jawab Dayat.
“Whoaa Fy, ternyata semalam yang menang tuh Gabriel bukan cowok yang tak dikenal itu. ck-ck kalau tau gini semalam kita gak usah pulang,” cerocos Via. Ify pun mengangguk dalam hati membenarkan ucapan Via.
“Lah terus ngapain lo semalam pulang?” tanya Riko.
“Kan gini bang, kita bertiga itu punya rencana. Kalau ternyata Gabriel berada dalam tanda-tanda kalah kita bakal kabur nyelamtin si Shilla,” jelas Via. Riko dan Dayat pung nganggu-ngangguk.
“Wah ide siapa tuh? Cerdas banget,” tanya Dayat.
“Ya ide gue dong,” ucap  Via membanggakan diri.
“Lo pada ngomongin apaan sih?” celetuk Agni dengan wajah bingung.
“Iya nih, lo semua ngomongin apa? Emang semalam ada apa?” tanya Aren kemudian.
“Hahaha kepo yaaaa?” goda Via.
“Sekali lagi lo ngomong kepo ya, gue gak bakal segan-segan nyemplungin lo kelaut,” ancaM Agni. Via pun membentuk salam dua jari minta damai.
“Hehehe, nanti aja deh gue jelasin,” ucap Via takut sendiri ditatap tajam oleh Agni, Zahra dan juga Aren.
***
Huaa selamat malam semuaa...
Malam-malam malah ngepost
 Maafkan ketidak ngefeelan cerita ini. Karena jujur bingung mau diapain cerita ini. Hehehe
Awas  ada ranjau typo’s yang banyak tersebar disepanjang part ini..
Thanks...

4 komentar: