Tittle :
Semua Tak Sama #3 ( Permulaan yang rumit )
Genre : Enmity, Friendship, Love, Sad, etc. (maybe)
Cast :
Ify Alyssa, Gabriel Stev, Rio Stevadit, Ashilla Zee, Cakka Nuraga, Agni
Trinubuwati, Alvin Jo, Sivia Azizah, Ray
Prasetya, Deva Ekada, Ozy Ardiansyah, Lintar Morgen and other cast.
Author: Yanti L Ayuningsih | Line,
Twitter, Ig : @yanti_lestariA
“I just wanna hold you
I just wanna kiss you
I just wanna love you all my life
I normally wouldn’t say this
But I Just can’t contain it
I want you forever right here by my side..”
(Maudy
Ayunda ft. David Choi – By My Side)
**<3**
Sudah
tak dapat terhitung berapa kali Ify menguap pagi ini. Semenjak tadi hingga
sekarang ia terus saja menguap. Secangkir kopi susu sudah habis diminumnya dan
cangkirnya sudah tergelatak tak berdaya didepannya. Ini gara-gara semalam ia
bermainan monopoli bersama adik kembarnya. Ketiga adiknya itu bersikeras
mengajaknya main dan ia tak bisa menolaknya. Dan disini lah ia sekarang. Duduk
seorang diri dikafetaria kampusnya –menurutnya, padahal masih ada segelintir
mahasiswa dikafetaria itu-. Via masih ada jam sedangkan dirinya tak mengenal
siapapun kecuali Via.
“Hai
Fy.. Gue lihat-lihat sibuk benget lo dari pagi,” Ify menatap Via yang tengah
duduk dihadapannya. Salah satu alisnya terangkat bertanda ia tidak mengerti
perkataan Via.
“Sibuk?”
“Ya...
sibuk menguap,” Ify menatap Via malas. Via sudah tertawa terbahak-bahak karena
guyonannya sendiri yang menurut Ify sangat tidak jelas.
“Ngantuk
banget ya Fy?” tanya Via kemudian. Ify pun mengangguk kemudian menidurkan
kepalanya di meja kafe. “Lagian, elo juga mau nurutin kemauan tuh bocah. Jadi
ngantuk kan lo..”
“Gue
gak bisa nolak...” jawab Ify dan mengangkat kepalanya. “Ah, gue laper. Lo mau
nitip Vi?”
Via
mengangguk senang, “Gue pesen bakso sama green tea ya Fy.”
Ify
mengangguk kemudian ia segera memesan pesanan mereka.
***
Via
menatap Ify yang sedang mangap-mangap kepedesan. Sudah dua gelas aqua yang
dihabiskan Ify dan mie setannya masih sisa setengah. Via menggeleng-gelengkan
kepalanya. Menurutnya Ify sudah gila. Ya gila. Ify memesan mie setan level 5.
Level 2 aja Via udah mengap-mengap bagaimana level 5. Lagian, Ify ada-ada aja
sih. Dengan alasan menghilangkan kantuk Ify rela kepedasan seperti itu.
“Hah
hah hah... pedes banget Vi. Lo mau coba,” tawar Ify yang langsung ditoak
mentah-mentah oleh Via.
“Lagian
lo kok aneh banget. Kira-kira dong kalau mau beli. Beli kok yang level lima,”
ucap Via sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Tapi,
ngantuk gue langsung hilang seketika. Suer..”
“Terus,
kalau elo sakit perut gimana?”
“Ya
tinggal minum obat. Gitu aja kok repot..” Via menatap Ify tak percaya. Sungguh
ajaib gadis yang ada dihadapannya. Daripada lihatin Ify yang mangap-mangap
kayak ikan koi, lebih baik ia melanjutkan memakan baksonya.
“Siapa
yang nyuruh elo duduk disini,” seketika Ify dan Via menolehkan wajahnya kesudut
kanan kafetaria. Disana ada Rio dan Cakka. Dan baru saja yang
berteriak-teriak adalah Rio.
Sambil
mengunyah makanannya Via mulai berkomentar, “Lagian salah tuh cewek sih. Udah
tau itu meja keramat eh malah didudukin..”
“Emang
ada penunggunya ya Vi?” tanya Ify polos. Via pun melongo dan sejurus kemudian
tanganna dengan lihai menjitak kepala Ify.
“Sakit
Via..” rajuk Ify sambil mengelus-ngelus kepalanya.
“Lagian
lo bego banget sih. Maksud gue meja itu udah ada disitu khusus buat genk TM..”
Ify
mengangguk-anggukkan kepalanya. Via pun lebih memilih melanjutkan memakan
baksonya.
“Uhuk
uhuk,” Via keselek baksonya. Gimana gak keselek tiba-tiba saja Cakka duduk
disampingnya dan Rio disamping Ify. Tentu saja Via shock. Ada apa gerangan
pentolan dari genk TM duduk bersamanya.
“Ngapain
elo duduk disini..” protes Ify menghiraukan Via yang masih terbatuk-batuk.
Untung saja ada Cakka yang memberikannya minum.
“Suka-suka
gue. Gue kan pacar elo,” jawab Rio dengan santainya.
Ify
pun membulatkan matanya. Cakka menatap Ify dan Rio bergantia dengan tatapan
tidak percaya. Sedangkan Via menggeleng-gelengkan kepalanya. Sebentar lagi
pasti ada peraang kampus pertama, pikirnya.
“Pacar
hidung lo pesek. Sejak kapan gue mau jadi pacar elo. Sorry aja ya,” cerocos
Ify. Astaga, sepertinya rencananya menjadi wanita cuek gagal sudah.
“Terserah
elo deh. Gue mau makan,” ucap Rio yang mulai melahap mie gorengnya. Ify pun
mengerucutka bibirnya dan beralih menatap Cakka.
“Lo
kok betah sih temenan sama nih cowok Afrika,” ujar Ify. Cakka pun menatap Ify
bingung.
“Ini
nih cowok disamping gue,” Cakka pun membulatkan mulutnya lalu terkekeh pelan.
Baru kali ini ia melihat ada cewek yang menolak Rio terang-terangan. Biasanya
sang cewek lah yang mengeja Rio blak-blakan.
“Ya
dibetah-betahin,” jawab Cakka asal. Rio pun menatap Cakka tajam sedangkan Cakka
hanya senyum mengejek kearah Rio.
“Oh
ya, nama gue Ify. Lo?”
Cakka
pun menyambut uluran tangan Ify, “Cakka. Cakka Nuraga..”
“Gak
usah lama-lama pegangan sama pacar gue,” protes Rio dan menampik tangan Cakka
dari tangan Ify. Ify pun menatap tajam Rio sedangkan Cakka menggeleng-gelengkan
kepalanya.
“Gue
bukan pacar elo cowok Afrika..” kesal Ify.
“Gak
denger..” ucap Rio acuh. Ify pun mengerucutkan bibirnya dan menatap Rio sebal.
“Oh
ya nama lo siapa?” tanya Cakka ke Via.
Via
pun tersenyum. Lalu membalas uluran tangan Cakka. “Alvia Umari. Tapi lo cukup
panggil gue Via..”
“Cakka..”
“Gue
udah tau..”
Cakka
pun membulatkan mulutnya. Wajar sih kalau seluruh mahasiswa/mahasiswi
mengenalnya. Yang tidak wajar itu kalau mereka tidak mengetahui siapa dirinya.
“Kalian
sahabatan?” tanya lagi Cakka.
Via
pun menggeleng, “ Kita sepupuan. Dia Gabrify Umari anak dari adik bokap gue,”
jawab Via sambil menatap Ify yang tengah menatap Rio dengan tatapan ntahlah..
“Mengagumi
ketampanan gue sayang..” Ify yang tertangkap basah tengah menatp Rio pun
gelagapan sendiri.
“Tampan
apanya.. Muka lo kayak nampan baru iya. Rata..”
“Udah
deh ngaku aja. Lo terpesona kan sama gue..”
“Sorry
ya cowok Afrika. Bagi gue terpesona sama
elo itu kutukan. So, Gue gak bakal terpesona sama elo.”
“Terus
kenapa lo lihatin gue kalau bukan karena terposona?” tanya Rio sambil memainkan
kedeua alisnya.
“Gue
baru aja kenapa badan lo bisa kayak triplek gini. Soalnya, lo makan mie
instan.. Mie instan itu gak ada gizinya cowok Afrika..”
Rio
tersenyum manis, “Ternyata elo perhatian banget ya sama gue. Makin cinta deh
gue sama elo.”
“Yakk
Cowok Afrika, siapa bilang gue perhatian sama elo. Gue itu Cuma... Cum--”
“Tuh
kan elo gak bisa jawab. I Love You sayang..”
Ify
menatap Rio bringas karena merasa kalah. “I HATE YOU COWOK AFRIKA,” ucap Ify
penuh tekanan membuat Rio terkekeh dan mengacak puncak kepala Ify.
“Berantakan
cowok Afrika..”
“Tetap
cantik kok..” pipi Ify memerah antara malu dengan marah. Melihat itu, Cakka,
Rio, bahkan Via tertawa puas menatap Ify.
“Cie
Ify salting..” goda Via. Ify pun menatap Via tajam. Kenapa Via tidak
membelanya. Bukannya Via yang melarangnya untuk tidak jatuh dalam pesona Rio.
Tapi, kenapa sekarang Via seperti mendukung Rio. Aihhh..
Ify
pun menatap ketiga makhluk berjenis manusia itu dengan kesal. Dengan satu
hentakan Ify memundurkan kursinya lalu berdiri dari duduknya. Daripada ia
disini makan rempelo (?) lebih baik ia pergi.
“Gue
bilang pergi lo dari hadapan gue..” Ify diam membatu melihat dengan jelas salah
satu member genk BB yang Ify sendiri tidak ketahui namanya baru saja mendorong
Shilla -teman satu jurusannya- hingga jatuh dilantai.
Via,
Rio dan Cakka sontak menghentikan tawanya dan beralih menatap meja yang berada
di tengah-tengah kafetaria. Tampak Gabriel dengan muka merah menatap Shilla
–yang telah terjatuh dilantai- dengan sengit.
Tiba-tiba
saja Cakka berdiri dari tempatnya dan menghampiri meja yang menjadi pusat
perhatian tersebut. Rio menatap Cakka cemas. Dengan segera Rio ikut menghampiri
meja tersebut. Sedangkan Ify dan Via msih terpaku melihat kejadian tersebut.
Semua
mahasiswa yang berada dikafetaria menahan nafas mereka. Mereka yakin, bakal
terjadi adu tonjok diantara mereka. Yang ada difikiran mereka, tidak usah ikut
campur atau kematian menghampiri mereka.
“Lo
bisa sopan gak sama cewek..” ucap Caka dingin sambil membantu Shilla berdiri.
Cakka pun merangkul Shilla yang telah menangis.
“Cewek
kayak dia gak pantas disopanin,” Shilla menatap Gabriel dengan tatapan terluka.
Hatinya sakit mendengar ucapan Gabriel.
Cakka
mengepalkan tangannya kuat-kuat. “Jaga ucapan lo,” desis Cakka tajam. Gabriel
hanya tersenyum miring menanggapi Cakka.
“Sebaiknya
lo bawa cewek itu dari hadapan gue. Gue muak lihatnya..” ucap Gabriel
merendahkan. Cakka langsung menatap tajam Gabriel dan..
BUGH
Satu
pukulan mendarat tepat diwajah Gabriel. Gabriel menatap Cakka dengan senyum
miring dibibirnya. Tangannya sibuk menyeka darah disudut bibirnya.
BUGH
Pukulan
kembali mendarat diwajah Gabriel. Gabriel menatap tajam Cakka.
“Gue
ada salah apa sama elo, hah,” marah Gabriel. Dirinya tidak terima dipukul dua
kali oleh Cakka.
“Salah
elo itu banyak. Tapi, yang paling gue gak suka lo ngatai-ngatain Shilla,” ucap
Cakka. Gabriel tersenyum mengejek kali ini.
“Dia
emang pantas dikatain,” ucap Gabriel
dengan memandang Shilla dengan tatapan merendahkan.
Dengan
geram Cakka langsung memukul Gabriel berkali-kali. Gabriel pun tak mau kalah ia
juga memukul balik Cakka. Rio pun mencoba menarik Cakka tapi percuma,
begitupula dengan Alvin yang mencoba memisahkan mereka. Shilla sudah menangis
tersedu-sedu sambil memanggil nama Cakka.
Ify
yang melihat itu tiba – tiba merasakan sakit disekujur tubuhnya. Entah kenapa.
Tapi, Ify merasakan kalau dirinya juga terkena pukulan. Dengan mengikuti kata
hatinya Ify pun berjalan ke tempat dimana Gabriel dan Cakka adu tonjok.
“Stop...”
Ify mencoba melerai mereka berdua. Tapi, percuma kedua ksatria itu masih
bergelut. Ify terus mencoba sampai tangan Rio menariknya menjauhi Cakka dan
Gabriel.
“Lo
jangan gila. Lo bisa kena tonjok,” ucap Rio kesal.
“Tapi
mere—“
“Biarin.
Nanti mereka akan berhenti sendiri kalau salah satu diantara mereka mengaku
kalah..” Ify menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian melepaskan cekalan tangan
Rio pada tangannya.
“Cakka
stop berhenti..” teriak Ify sambil menarik baju Cakka sehingga Cakka mundur
belakang. Cakka pun menatap Ify sengit.
“Lo
gak usah ikut campur Fy. Ini urusan gue..”
Ify
menatap memohon ke Cakka, “Kalo lo mukul dia gue ngerasain sakit Kka. Please
berhenti buat mukulin dia...”
Cakka
menatap Ify heran. Sedangkan Ify masih menatap Cakka memohon. Cakka pun
menghembuskan nafasnya kasar kemudian menatap Gabriel tajam.
“Untung
ada Fy. Kalau nggak mati lo ditangan gue..” ucap Cakka kemudian membawa Shilla
pergi dari tempat itu.
Ify
pun menoleh kebelakang dan mendapati Gabriel yang tengah menatapnya. Mata
itu... sepertinya ia sangat mengenalnya.
“Lo
gpp kan?” tanya Ify sambil menyentuh sudut bibir Gabriel.
Gabriel
pun menepis tangan Ify dengan kasar kemudian pergi meninggalkan kafetaria
diikuti para pengikutnya.
Via
pun datang kemudian menarik tangan Ify untuk menjauhi tempat kejadian perkara.
Ify hanya diam saja ditarik seperti itu oeh Via. Lagian kalau bukan Via yang
menariknya siapa lagi? Pasti ia akan tetap diam mematung.
***
“Maksud lo tadi apa Fy?” tanya Via sesampainya
mereka ditaman belakang kampus. Ify pun lebih memilih duduk selonjoran diatas
rerumputkan dan menatap danau buatan didepannya.
“Entah.
Gue juga gak tau..” jawab Ify seadanya. Toh memang benar ia tidak mengetahui
penyebab ia tadi bersikap seperti itu.
“Lo
gak lagi---“
“Lagi
apa maksud lo?” potong Ify langsung. Via pun memutar bola matanya gemas.
“Jangan
dipotong dulu omongan gue,” kesal Via. “Lo gak lagi jatuh cinta kan sama
Gabriel?” tanya Via membuat Ify langsung membulatkan matanya.
“Gabriel
siapa maksud lo?” tanya Ify balik.
“Gabriel.
Itu cowok yang tonjok sama Cakka,” Ify pun mangut-mangut.
“Oh
namanya Gabriel,” Via pun menatap Ify sebal. Kemana saja Ify selama ini
sampai-sampai nama pentolan genk TM Ify tidak tau.
“Jadi..”
“Jadi
apa?” Via menatap Ify gemas. Tangannya gatal ingin menjedok-jedokin kepala Ify
ke batu.
“Lo
jatuh cinta sama Gabriel?”
Ify
nampak berfikir kemudian menggeleng-gelangkan kepalanya. “Ini bukan rasa cinta.
Tapi, seperti rasa familiar bagi gue..”
Via
mengerutkan keningnya tanda tidak mengerti akan ucapan Ify. “Maksud lo? Gue gak
ngerti deh bahasa ajaib lo itu.”
Ify
pun menghela nafasnya, “Intinya gue gak jatuh cinta sama Gabriel. Tapi, ini
rasa ingin ngelindungin Gabriel. Karena apa yang dirasakan Gabriel pasti gue
juga rasain,” jelas Ify.
Via
pun mangut-mangut, “Jadi kesimpulannya?”
“Gue
gak jatuh cinta sama Gabriel, ALVIAAA.”
Via
pun cengengesan dan menampilkan jari telunjuk dan tengahnya berbentuk huruf ‘V’
***
Angin
berhembus dengan kencang menerpa wajah sembab Shilla. pohon-pohon menari-nari
karena ulah tangan nakal sang angin. Shilla menghembuskan nafasnya. Sudah
hampir satu jam ia duduk ditaman sudut kampus bersama Cakka. Cakka yang
mengajaknya kesini. Tatapi, Cakka sama sekali belum membuka suara sedari tadi.
Padahal tubuhnya sedari berteriak minta diistirahatkan. Akhirnya....
“Sorry..”
buka Shilla. Cakka pun menatap tepat dimata Shilla. Cakka melihat banyak luka
pada tatapan mata itu.
“Atas
apa?”
“Karena
gue lo jadi luka-luka gini,” jawab Shilla. Cakka pun tersenyum. Sungguh sedari
tadi sakit difisiknya sama sekali tidak terasa. Yang ada sakit dihatinya yang
terus menerus bertambah.
“Gpp
kok Shill..” jawab Cakka sambil tersenyum. Shilla pun mengangguk lantas
menyenderkan kepalanya dibahu Cakka.
“Gue
cinta sama Gabriel Kka. Sudah dua tahun lebih gue nyimpan rasa itu buat
Gabriel,” cerita Shilla. Tanpa sadar tangan Cakka sudah mengepal mendengar
pengakuan Shilla. “Menurut lo gue harus gimana Kka?” tanya Shilla sambil
mengangkat kepalanya dari bahu Cakka.
Cakka
menatap Shilla dan memegang kedua bahu gadis ayu itu. “Lo harus lupain dia.
Lupain Gabriel. Dan lo bisa cari yang lain yang jelas-jelas sayang sama elo,”
ucap Cakka. Jujur menurutnya ia egois menyuruh gadis dihadapannya ini untuk
merelakan Gabriel. Dia tidak munafik. Ia juga mengingankan Shilla bersamanya.
Shilla
menggelengkan kepalanya, “Gue gak bisa Kka. Gue udah coba berkali-kali. Yang
ada rasa ini semakin subur.”
Cakka
menghembuskan nafasnya lelah, “Lo coba terus Shill. Gue yakin lo bisa.”
Shilla
kembali menggeleng, “Gak bisa Kka. Gue gak bisa,” jawab Shilla dengan penuh
keyakinan.
***
“Fy
besok ada jam dikampus?” tanya Via sambil memakan cemilan dan duduk disamping
Ify. Ify sedang menulis nada balok yang Via sendiri tidak mengerti artinya.
Ify
mengangguk, “emang kenapa?” tanya Ify tanpa mengalihkan matanya dari buku
partitur (?) nadanya.
“Gpp
sih. Jam berapa?”
“Jam
setengah 8” jawab Ify. Via pun mangut-mangut.
“Jadi,
besok kita berangkat bareng. Gue juga ada jam pagi soalnya,” Ify pun memilih
tidak mengubris ucapan Via dan lebih memilih mengerjakan tangga nada yang ada
dihadapannya dan mengumpulkannya besok.
“Jadi,
lo besok gak nganterin kita daftar dong Fy?” celetuk Ray tiba-tiba. Ify pun
mengelihkan perhatiannya ke arah Ray yang tengah berjalan dan duduk
dihadapannya.
Ify
pun menatap Ray dengan tatapan bersalah. “Sorry Ray. Tapi, gue harus ngumpulin
tugas besok.”
Ray
pun mengangguk, “Gpp Fy. Udah biasa kok.”
Ify
tercekat mendengar ucapan Ray. Ya, tidak ada yang salah dengan ucapan Ray.
Tapi, menurutnya ucapan Ray seperti menyindirnya. Memang semenjak ia kuliah,
adik-adiknya tidak terurus lagi. Apa-apa sendiri. Daftar SMA sewaktu di Rusia
sendiri. Ambil Raport sendiri. Dan jujur Ify merasa bahwa ia adalah seorang
kakak yang tidak becus mengurus adik-aadiknya. Ia tak pantas dipanggil kakak.
Mengurus hal kecil seperti mengantarkan daftaran untuk sekolah SMA baru mereka
pun ia tidak bisa.
“Fy,
besok lo anterin kita daftar di SMA Lintar kan?” tanya Deva yang datang bersama
Ozy dan Lintar. Ify, lebih memilih menundukkan kepalanya. Air matanya mulai
menetes menedengar pertanyaan sama dari mulut Deva.
“Fy..”
Deva menyenggol lengan Ify. Ify tetap menundukkan wajahnya
“Ify
gak bisa nganterin kita. Besok pagi Ify ada jam,” jawab Ray sambil memainkan
psp-nya. Terdengar biasa, tapi bagi Ify ini sebuah sindiran kalau ia tak pantas
jadi seorang kakak.
“Oh..”
Deva menghela nafas kemudian menyenderkan tubuhnya disandaran sofa.
“Maafin
gue hiks..” ucap Ify sambil menangis. Sontak saja Deva menegakkan badannya dan
menatap Ify. Begitupula dengan Via, Ray, Deva dan Lintar, menatap Ify khawatir.
Ify tidak pernah menangis selama ini.
“Fy
lo kenapa?” tanya Deva sambil menyibakkan rambut sebahu Ify.
Ify
menggeleng-gelengkan kepalanya,”Maafin gue..”
Ozy
yang pertamanya duduk disamping Ray pun pindah disamping Ify dengan menyuruh
Via bergeser. Ozy pun langsung memeluk Ify.
“Lo
kenapa, hm,” tanya Ozy sambil menyenderkan kepala Iy ke dada bidangnya.
Ify
pun menggeleng-gelengkan kepalanya, “Maafin gue hiks...”
“Maaf
utuk apa? Lo gak ada salah sama kita..”
Ify
kembali menggelenng-gelengkan kepalanya, “Gue gak becus jadi kakak buat kalian.
Gue gak pantas jadi kakak. Gue gak bisa bahagian kalian gue.. gue..” Ify
menangis sejadi-jadinya. Ozy pun langsung memeluknya erat, mencoba menenangkan
kakak semata wayangnya ini. Sungguh Ozy tidak menyangka kalau Ify berfikiran
seperti ini.
“Ify,
lo itu kakak terbaik buat Gue, Ray dan juga Deva. Lo itu segalanya buat kami
Fy,” ucap Ozy. Ray pun segera menghampiri saudar-saudaraya dan memilih berdiri
dihadapan Ify.
“Iya
Fy. Lo itu kakak yang palingggg baik buat kami. Kita sayang sama elo,” ucap Ray
kemudian memeluk Ify yang dipeluk oleh Ozy.
“Iya
Fy kita sayang sama elo,” ucap Deva dan juga ikut-ikut berpelukan bersama
kakak-kakaknya.
Via
menatap haru keempat saudara yang tengah berpelukan itu. Ia tau rasa sayang
antara mereka begitu besar. Ia sangat tau itu. ia merupakan saksi bagaimana
kehidupan mereka dulu. Ify yang merawat sikembar hingga rela homeschooling. Ify
juga lah yang mengantarkan sikembar dan juga Lintar sekolah saat mereka
berempat masih duduk ditaman kanak-kanak. Bahkan Via yakin rasa sayang Lintar
lebih besar ke Ify dibandingkan dirinya. Itu karena sosok ibu telah mereka pada
diri Ify sejak kecil, sejak bunda Ify berubah. Via tidak tau betul bagaimana
kronologis masa lalu keluarga Ify. Tapi, yang ia ingat Ify masih mempunyai
kakak laki-laki yang dulu juga sangat dekat dengan dirinya. Dan ia juga tau
kalau kakak laki-laki Ify ikut dengan ayah Ify.
***
“Kenapa
muka lo ditekuk kayak gitu?” tanya Via Ke Ify yang baru saja datang dan memilih
duduk disamping Via yang sedang memakan siomay.
“Gue
ada tugas berat, huh,” ucap Ify kesal kemudian meminum jus jeruk Via higga
tandas.
“Ify
jus gue...” rajuk Via menatap nanar gelas kosong dihadapannya kemudian menatap
Ify sengit.
“Pelit
banget sih lo sama gue. Tambah gendut rasain lo,” ucap Ify asal membuat Via
merengut kesal.
“Emang
hubunganya apa coba?”
“Ada.
Kalau lo minum sendiri, nanti lo tambah lebar,” jawab Ify tetap ngasal. Via pun
menjitak kepala Ify saking kesalnya.
JTAK
“Aw..
sakit Pia..” sungut Ify. Via pun lebih memilih mengacuhka Ify dan kembali
memakan siomaynya yang sempat menganggur.
“Vi...”
panggil Ify kemudian. Via pun mendongak mennati lanjutan ucapan Ify. “Lo mau
gak bantu gue?”
Salah
saru alis Via terangkat, “Bantu apa?”
“Lo
mau kan duet nyanyi sama gue minggu depan diacara pensi?” Via membulatkan
matanya? Apa tadi? Duet? Apakah ia tak salah dengar? Astaga, ia akan bernyanyi
diacara pensi yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali itu? Acara yang
tamunya adalah orang-orang penting yayasan Indonesia International School. Oh
God, ini suatu keajaiban..
“Lo
beneran Fy? Diacara pensi itu?” tanya Via kurang yakin.
Ify
mengangguk, “Iya. tadi itu Miss Clara nyuruh semua mahasiswa fakultas musik
untuk nyari pasangan duet dari fakultas lain. Nah, karena yang gue kanal Cuma
elo, makanya gue ngajak elo. Lagian suara lo kan gak jelek-jelek amat,” ucap
Ify menjelaskan.
“Tapi,
ini acara besar Fy. Gue takut malu-maluin diri gue sendiri,” sangsi Via. Ify
pun menghembuskan nafasnya kasar.
“Gue
gak peduli itu. Yang penting gue dapat nilai,” ucap Ify menghiraukan ketakutan
Via.
JTAK
Satu
jitakan kembali mendarat di kepala Ify. Ify menatap Via dengan bengis.
“Enak
aja lo. Kalau gue malu-maluin lo juga ikut malu Gabrify,” ucap Via penuh
penekanan.
“Yakin
deh sama gue, lo pasti gak bakal malu-maluin. Suara lo cukup oke kok untuk di
dengar,” yakin Ify.
Via
nampak berfikir panjang sampai-sampai ia tidak sadar kalau ada tikus berkepala
hitam telah mengambil siomaynya.
“Tapi,
gue takut Fy. Kalo lo mah enak, suara lo gak usah diragukan lagi,” ucap Via
sedih.
Ify
pun mencomot kembali siomay Via kemudian mengunyahnya lalu menelannya. Via yang
melihat itupun melotot karena piring siomaynya sudah tak berpenghuni lagi.
“Tenaang aja, ada Ozy sama gue. Gue sama Ozy bakal ngajarin lo nyanyi dengan
baik, benar dan cetar membahana.”
“Iya
gue tau. Tapi, gak usah makan siomay gue juga kali,” kesal Via.
“Loh
kalau lo tau, seharusnya lo gak usah khawatir gitu dong. Slow mbk bro,” ucap
Ify tanpa menyinggung sindiran tentang siomay Via. Yang terpenting perutnya
kenyang.
“Okedeh.
Tapi, nyanyi lagu apa?”
“Hmm,
gue juga gak tau. Ntar aja tanya sama Ozy. Dia kan paling pintar tuh milih
lagu,” ucap Ify dan diangguki oleh Via.