Jumat, 09 September 2016

Semua Tak Sama #3



Tittle   : Semua Tak Sama #3 ( Permulaan yang rumit )
            Genre : Enmity, Friendship, Love, Sad, etc. (maybe)
            Cast    : Ify Alyssa, Gabriel Stev, Rio Stevadit, Ashilla Zee, Cakka Nuraga, Agni Trinubuwati, Alvin Jo,  Sivia Azizah, Ray Prasetya, Deva Ekada, Ozy Ardiansyah, Lintar Morgen and other cast.
            Author: Yanti L Ayuningsih | Line, Twitter, Ig : @yanti_lestariA

            “I just wanna hold you
             I just wanna kiss you
I just wanna love you all my life
            I normally wouldn’t say this
            But I Just can’t contain it
            I want you forever right here by my side..”
            (Maudy Ayunda ft. David Choi – By My Side)
**<3**
            Sudah tak dapat terhitung berapa kali Ify menguap pagi ini. Semenjak tadi hingga sekarang ia terus saja menguap. Secangkir kopi susu sudah habis diminumnya dan cangkirnya sudah tergelatak tak berdaya didepannya. Ini gara-gara semalam ia bermainan monopoli bersama adik kembarnya. Ketiga adiknya itu bersikeras mengajaknya main dan ia tak bisa menolaknya. Dan disini lah ia sekarang. Duduk seorang diri dikafetaria kampusnya –menurutnya, padahal masih ada segelintir mahasiswa dikafetaria itu-. Via masih ada jam sedangkan dirinya tak mengenal siapapun kecuali Via.
            “Hai Fy.. Gue lihat-lihat sibuk benget lo dari pagi,” Ify menatap Via yang tengah duduk dihadapannya. Salah satu alisnya terangkat bertanda ia tidak mengerti perkataan Via.
            “Sibuk?”
            “Ya... sibuk menguap,” Ify menatap Via malas. Via sudah tertawa terbahak-bahak karena guyonannya sendiri yang menurut Ify sangat tidak jelas.
            “Ngantuk banget ya Fy?” tanya Via kemudian. Ify pun mengangguk kemudian menidurkan kepalanya di meja kafe. “Lagian, elo juga mau nurutin kemauan tuh bocah. Jadi ngantuk kan lo..”
            “Gue gak bisa nolak...” jawab Ify dan mengangkat kepalanya. “Ah, gue laper. Lo mau nitip Vi?”
            Via mengangguk senang, “Gue pesen bakso sama green tea ya Fy.”
            Ify mengangguk kemudian ia segera memesan pesanan mereka.
            ***
            Via menatap Ify yang sedang mangap-mangap kepedesan. Sudah dua gelas aqua yang dihabiskan Ify dan mie setannya masih sisa setengah. Via menggeleng-gelengkan kepalanya. Menurutnya Ify sudah gila. Ya gila. Ify memesan mie setan level 5. Level 2 aja Via udah mengap-mengap bagaimana level 5. Lagian, Ify ada-ada aja sih. Dengan alasan menghilangkan kantuk Ify rela kepedasan seperti itu.
            “Hah hah hah... pedes banget Vi. Lo mau coba,” tawar Ify yang langsung ditoak mentah-mentah oleh Via.
            “Lagian lo kok aneh banget. Kira-kira dong kalau mau beli. Beli kok yang level lima,” ucap Via sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
            “Tapi, ngantuk gue langsung hilang seketika. Suer..”
            “Terus, kalau elo sakit perut gimana?”
            “Ya tinggal minum obat. Gitu aja kok repot..” Via menatap Ify tak percaya. Sungguh ajaib gadis yang ada dihadapannya. Daripada lihatin Ify yang mangap-mangap kayak ikan koi, lebih baik ia melanjutkan memakan baksonya.
            “Siapa yang nyuruh elo duduk disini,” seketika Ify dan Via menolehkan wajahnya kesudut kanan kafetaria. Disana ada Rio dan Cakka. Dan baru saja yang berteriak-teriak  adalah Rio.
            Sambil mengunyah makanannya Via mulai berkomentar, “Lagian salah tuh cewek sih. Udah tau itu meja keramat eh malah didudukin..”
            “Emang ada penunggunya ya Vi?” tanya Ify polos. Via pun melongo dan sejurus kemudian tanganna dengan lihai menjitak kepala Ify.
            “Sakit Via..” rajuk Ify sambil mengelus-ngelus kepalanya.
            “Lagian lo bego banget sih. Maksud gue meja itu udah ada disitu khusus buat genk TM..”
            Ify mengangguk-anggukkan kepalanya. Via pun lebih memilih melanjutkan memakan baksonya.
            “Uhuk uhuk,” Via keselek baksonya. Gimana gak keselek tiba-tiba saja Cakka duduk disampingnya dan Rio disamping Ify. Tentu saja Via shock. Ada apa gerangan pentolan dari genk TM duduk bersamanya.
            “Ngapain elo duduk disini..” protes Ify menghiraukan Via yang masih terbatuk-batuk. Untung saja ada Cakka yang memberikannya minum.
            “Suka-suka gue. Gue kan pacar elo,” jawab Rio dengan santainya.
            Ify pun membulatkan matanya. Cakka menatap Ify dan Rio bergantia dengan tatapan tidak percaya. Sedangkan Via menggeleng-gelengkan kepalanya. Sebentar lagi pasti ada peraang kampus pertama, pikirnya.
            “Pacar hidung lo pesek. Sejak kapan gue mau jadi pacar elo. Sorry aja ya,” cerocos Ify. Astaga, sepertinya rencananya menjadi wanita cuek gagal sudah.
            “Terserah elo deh. Gue mau makan,” ucap Rio yang mulai melahap mie gorengnya. Ify pun mengerucutka bibirnya dan beralih menatap Cakka.
            “Lo kok betah sih temenan sama nih cowok Afrika,” ujar Ify. Cakka pun menatap Ify bingung.
            “Ini nih cowok disamping gue,” Cakka pun membulatkan mulutnya lalu terkekeh pelan. Baru kali ini ia melihat ada cewek yang menolak Rio terang-terangan. Biasanya sang cewek lah yang mengeja Rio blak-blakan.
            “Ya dibetah-betahin,” jawab Cakka asal. Rio pun menatap Cakka tajam sedangkan Cakka hanya senyum mengejek kearah Rio.
            “Oh ya, nama gue Ify. Lo?”
            Cakka pun menyambut uluran tangan Ify, “Cakka. Cakka Nuraga..”
            “Gak usah lama-lama pegangan sama pacar gue,” protes Rio dan menampik tangan Cakka dari tangan Ify. Ify pun menatap tajam Rio sedangkan Cakka menggeleng-gelengkan kepalanya.
            “Gue bukan pacar elo cowok Afrika..” kesal Ify.
            “Gak denger..” ucap Rio acuh. Ify pun mengerucutkan bibirnya dan menatap Rio sebal.   
            “Oh ya nama lo siapa?” tanya Cakka ke Via.
            Via pun tersenyum. Lalu membalas uluran tangan Cakka. “Alvia Umari. Tapi lo cukup panggil gue Via..”
            “Cakka..”
            “Gue udah tau..”
            Cakka pun membulatkan mulutnya. Wajar sih kalau seluruh mahasiswa/mahasiswi mengenalnya. Yang tidak wajar itu kalau mereka tidak mengetahui siapa dirinya.
            “Kalian sahabatan?” tanya lagi Cakka.
            Via pun menggeleng, “ Kita sepupuan. Dia Gabrify Umari anak dari adik bokap gue,” jawab Via sambil menatap Ify yang tengah menatap Rio dengan tatapan ntahlah..
            “Mengagumi ketampanan gue sayang..” Ify yang tertangkap basah tengah menatp Rio pun gelagapan sendiri.
            “Tampan apanya.. Muka lo kayak nampan baru iya. Rata..”
            “Udah deh ngaku aja. Lo terpesona kan sama gue..”
            “Sorry ya cowok Afrika.  Bagi gue terpesona sama elo itu kutukan. So, Gue gak bakal terpesona sama elo.”
            “Terus kenapa lo lihatin gue kalau bukan karena terposona?” tanya Rio sambil memainkan kedeua alisnya.
            “Gue baru aja kenapa badan lo bisa kayak triplek gini. Soalnya, lo makan mie instan.. Mie instan itu gak ada gizinya cowok Afrika..”
            Rio tersenyum manis, “Ternyata elo perhatian banget ya sama gue. Makin cinta deh gue sama elo.”
            “Yakk Cowok Afrika, siapa bilang gue perhatian sama elo. Gue itu Cuma... Cum--”
            “Tuh kan elo gak bisa jawab. I Love You sayang..”
            Ify menatap Rio bringas karena merasa kalah. “I HATE YOU COWOK AFRIKA,” ucap Ify penuh tekanan membuat Rio terkekeh dan mengacak puncak kepala Ify.
            “Berantakan cowok Afrika..”
            “Tetap cantik kok..” pipi Ify memerah antara malu dengan marah. Melihat itu, Cakka, Rio, bahkan Via tertawa puas menatap Ify.
            “Cie Ify salting..” goda Via. Ify pun menatap Via tajam. Kenapa Via tidak membelanya. Bukannya Via yang melarangnya untuk tidak jatuh dalam pesona Rio. Tapi, kenapa sekarang Via seperti mendukung Rio. Aihhh..
            Ify pun menatap ketiga makhluk berjenis manusia itu dengan kesal. Dengan satu hentakan Ify memundurkan kursinya lalu berdiri dari duduknya. Daripada ia disini makan rempelo (?) lebih baik ia pergi.
            “Gue bilang pergi lo dari hadapan gue..” Ify diam membatu melihat dengan jelas salah satu member genk BB yang Ify sendiri tidak ketahui namanya baru saja mendorong Shilla -teman satu jurusannya- hingga jatuh dilantai.
            Via, Rio dan Cakka sontak menghentikan tawanya dan beralih menatap meja yang berada di tengah-tengah kafetaria. Tampak Gabriel dengan muka merah menatap Shilla –yang telah terjatuh dilantai- dengan sengit.
            Tiba-tiba saja Cakka berdiri dari tempatnya dan menghampiri meja yang menjadi pusat perhatian tersebut. Rio menatap Cakka cemas. Dengan segera Rio ikut menghampiri meja tersebut. Sedangkan Ify dan Via msih terpaku melihat kejadian tersebut.
            Semua mahasiswa yang berada dikafetaria menahan nafas mereka. Mereka yakin, bakal terjadi adu tonjok diantara mereka. Yang ada difikiran mereka, tidak usah ikut campur atau kematian menghampiri mereka.
            “Lo bisa sopan gak sama cewek..” ucap Caka dingin sambil membantu Shilla berdiri. Cakka pun merangkul Shilla yang telah menangis.
            “Cewek kayak dia gak pantas disopanin,” Shilla menatap Gabriel dengan tatapan terluka. Hatinya sakit mendengar ucapan Gabriel.
            Cakka mengepalkan tangannya kuat-kuat. “Jaga ucapan lo,” desis Cakka tajam. Gabriel hanya tersenyum miring menanggapi Cakka.
            “Sebaiknya lo bawa cewek itu dari hadapan gue. Gue muak lihatnya..” ucap Gabriel merendahkan. Cakka langsung menatap tajam Gabriel dan..
            BUGH
            Satu pukulan mendarat tepat diwajah Gabriel. Gabriel menatap Cakka dengan senyum miring dibibirnya. Tangannya sibuk menyeka darah disudut bibirnya.
            BUGH
            Pukulan kembali mendarat diwajah Gabriel. Gabriel menatap tajam Cakka.
            “Gue ada salah apa sama elo, hah,” marah Gabriel. Dirinya tidak terima dipukul dua kali oleh Cakka.
            “Salah elo itu banyak. Tapi, yang paling gue gak suka lo ngatai-ngatain Shilla,” ucap Cakka. Gabriel tersenyum mengejek kali ini.
            “Dia emang pantas dikatain,” ucap  Gabriel dengan memandang Shilla dengan tatapan merendahkan.
            Dengan geram Cakka langsung memukul Gabriel berkali-kali. Gabriel pun tak mau kalah ia juga memukul balik Cakka. Rio pun mencoba menarik Cakka tapi percuma, begitupula dengan Alvin yang mencoba memisahkan mereka. Shilla sudah menangis tersedu-sedu sambil memanggil nama Cakka.
            Ify yang melihat itu tiba – tiba merasakan sakit disekujur tubuhnya. Entah kenapa. Tapi, Ify merasakan kalau dirinya juga terkena pukulan. Dengan mengikuti kata hatinya Ify pun berjalan ke tempat dimana Gabriel dan Cakka adu tonjok.
            “Stop...” Ify mencoba melerai mereka berdua. Tapi, percuma kedua ksatria itu masih bergelut. Ify terus mencoba sampai tangan Rio menariknya menjauhi Cakka dan Gabriel.
            “Lo jangan gila. Lo bisa kena tonjok,” ucap Rio kesal.
            “Tapi mere—“
            “Biarin. Nanti mereka akan berhenti sendiri kalau salah satu diantara mereka mengaku kalah..” Ify menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian melepaskan cekalan tangan Rio pada tangannya.
            “Cakka stop berhenti..” teriak Ify sambil menarik baju Cakka sehingga Cakka mundur belakang. Cakka pun menatap Ify sengit.
            “Lo gak usah ikut campur Fy. Ini urusan gue..”
            Ify menatap memohon ke Cakka, “Kalo lo mukul dia gue ngerasain sakit Kka. Please berhenti buat mukulin dia...”
            Cakka menatap Ify heran. Sedangkan Ify masih menatap Cakka memohon. Cakka pun menghembuskan nafasnya kasar kemudian menatap Gabriel tajam.
            “Untung ada Fy. Kalau nggak mati lo ditangan gue..” ucap Cakka kemudian membawa Shilla pergi dari tempat itu.
            Ify pun menoleh kebelakang dan mendapati Gabriel yang tengah menatapnya. Mata itu... sepertinya ia sangat mengenalnya.
            “Lo gpp kan?” tanya Ify sambil menyentuh sudut bibir Gabriel.
            Gabriel pun menepis tangan Ify dengan kasar kemudian pergi meninggalkan kafetaria diikuti para pengikutnya.
            Via pun datang kemudian menarik tangan Ify untuk menjauhi tempat kejadian perkara. Ify hanya diam saja ditarik seperti itu oeh Via. Lagian kalau bukan Via yang menariknya siapa lagi? Pasti ia akan tetap diam mematung.
***
             “Maksud lo tadi apa Fy?” tanya Via sesampainya mereka ditaman belakang kampus. Ify pun lebih memilih duduk selonjoran diatas rerumputkan dan menatap danau buatan didepannya.
            “Entah. Gue juga gak tau..” jawab Ify seadanya. Toh memang benar ia tidak mengetahui penyebab ia tadi bersikap seperti itu.
            “Lo gak lagi---“
            “Lagi apa maksud lo?” potong Ify langsung. Via pun memutar bola matanya gemas.
            “Jangan dipotong dulu omongan gue,” kesal Via. “Lo gak lagi jatuh cinta kan sama Gabriel?” tanya Via membuat Ify langsung membulatkan matanya.
            “Gabriel siapa maksud lo?” tanya Ify balik.
            “Gabriel. Itu cowok yang tonjok sama Cakka,” Ify pun mangut-mangut.
            “Oh namanya Gabriel,” Via pun menatap Ify sebal. Kemana saja Ify selama ini sampai-sampai nama pentolan genk TM Ify tidak tau.
            “Jadi..”
            “Jadi apa?” Via menatap Ify gemas. Tangannya gatal ingin menjedok-jedokin kepala Ify ke batu.
            “Lo jatuh cinta sama Gabriel?”
            Ify nampak berfikir kemudian menggeleng-gelangkan kepalanya. “Ini bukan rasa cinta. Tapi, seperti rasa familiar bagi gue..”
            Via mengerutkan keningnya tanda tidak mengerti akan ucapan Ify. “Maksud lo? Gue gak ngerti deh bahasa ajaib lo itu.”
            Ify pun menghela nafasnya, “Intinya gue gak jatuh cinta sama Gabriel. Tapi, ini rasa ingin ngelindungin Gabriel. Karena apa yang dirasakan Gabriel pasti gue juga rasain,” jelas Ify.
            Via pun mangut-mangut, “Jadi kesimpulannya?”
            “Gue gak jatuh cinta sama Gabriel, ALVIAAA.”
            Via pun cengengesan dan menampilkan jari telunjuk dan tengahnya berbentuk huruf ‘V’
***
            Angin berhembus dengan kencang menerpa wajah sembab Shilla. pohon-pohon menari-nari karena ulah tangan nakal sang angin. Shilla menghembuskan nafasnya. Sudah hampir satu jam ia duduk ditaman sudut kampus bersama Cakka. Cakka yang mengajaknya kesini. Tatapi, Cakka sama sekali belum membuka suara sedari tadi. Padahal tubuhnya sedari berteriak minta diistirahatkan. Akhirnya....
            “Sorry..” buka Shilla. Cakka pun menatap tepat dimata Shilla. Cakka melihat banyak luka pada tatapan mata itu.
            “Atas apa?”
            “Karena gue lo jadi luka-luka gini,” jawab Shilla. Cakka pun tersenyum. Sungguh sedari tadi sakit difisiknya sama sekali tidak terasa. Yang ada sakit dihatinya yang terus menerus bertambah.
            “Gpp kok Shill..” jawab Cakka sambil tersenyum. Shilla pun mengangguk lantas menyenderkan kepalanya dibahu Cakka.
            “Gue cinta sama Gabriel Kka. Sudah dua tahun lebih gue nyimpan rasa itu buat Gabriel,” cerita Shilla. Tanpa sadar tangan Cakka sudah mengepal mendengar pengakuan Shilla. “Menurut lo gue harus gimana Kka?” tanya Shilla sambil mengangkat kepalanya dari bahu Cakka.
            Cakka menatap Shilla dan memegang kedua bahu gadis ayu itu. “Lo harus lupain dia. Lupain Gabriel. Dan lo bisa cari yang lain yang jelas-jelas sayang sama elo,” ucap Cakka. Jujur menurutnya ia egois menyuruh gadis dihadapannya ini untuk merelakan Gabriel. Dia tidak munafik. Ia juga mengingankan Shilla bersamanya.
            Shilla menggelengkan kepalanya, “Gue gak bisa Kka. Gue udah coba berkali-kali. Yang ada rasa ini semakin subur.”
            Cakka menghembuskan nafasnya lelah, “Lo coba terus Shill. Gue yakin lo bisa.”
            Shilla kembali menggeleng, “Gak bisa Kka. Gue gak bisa,” jawab Shilla dengan penuh keyakinan.
***
            “Fy besok ada jam dikampus?” tanya Via sambil memakan cemilan dan duduk disamping Ify. Ify sedang menulis nada balok yang Via sendiri tidak mengerti artinya.
            Ify mengangguk, “emang kenapa?” tanya Ify tanpa mengalihkan matanya dari buku partitur (?) nadanya.
            “Gpp sih. Jam berapa?”
            “Jam setengah 8” jawab Ify. Via pun mangut-mangut.
            “Jadi, besok kita berangkat bareng. Gue juga ada jam pagi soalnya,” Ify pun memilih tidak mengubris ucapan Via dan lebih memilih mengerjakan tangga nada yang ada dihadapannya dan mengumpulkannya besok.
            “Jadi, lo besok gak nganterin kita daftar dong Fy?” celetuk Ray tiba-tiba. Ify pun mengelihkan perhatiannya ke arah Ray yang tengah berjalan dan duduk dihadapannya.
            Ify pun menatap Ray dengan tatapan bersalah. “Sorry Ray. Tapi, gue harus ngumpulin tugas besok.”
            Ray pun mengangguk, “Gpp Fy. Udah biasa kok.”
            Ify tercekat mendengar ucapan Ray. Ya, tidak ada yang salah dengan ucapan Ray. Tapi, menurutnya ucapan Ray seperti menyindirnya. Memang semenjak ia kuliah, adik-adiknya tidak terurus lagi. Apa-apa sendiri. Daftar SMA sewaktu di Rusia sendiri. Ambil Raport sendiri. Dan jujur Ify merasa bahwa ia adalah seorang kakak yang tidak becus mengurus adik-aadiknya. Ia tak pantas dipanggil kakak. Mengurus hal kecil seperti mengantarkan daftaran untuk sekolah SMA baru mereka pun ia tidak bisa.
            “Fy, besok lo anterin kita daftar di SMA Lintar kan?” tanya Deva yang datang bersama Ozy dan Lintar. Ify, lebih memilih menundukkan kepalanya. Air matanya mulai menetes menedengar pertanyaan sama dari mulut Deva.
            “Fy..” Deva menyenggol lengan Ify. Ify tetap menundukkan wajahnya
            “Ify gak bisa nganterin kita. Besok pagi Ify ada jam,” jawab Ray sambil memainkan psp-nya. Terdengar biasa, tapi bagi Ify ini sebuah sindiran kalau ia tak pantas jadi seorang kakak.
            “Oh..” Deva menghela nafas kemudian menyenderkan tubuhnya disandaran sofa.
            “Maafin gue hiks..” ucap Ify sambil menangis. Sontak saja Deva menegakkan badannya dan menatap Ify. Begitupula dengan Via, Ray, Deva dan Lintar, menatap Ify khawatir. Ify tidak pernah menangis selama ini.
            “Fy lo kenapa?” tanya Deva sambil menyibakkan rambut sebahu Ify.
            Ify menggeleng-gelengkan kepalanya,”Maafin gue..”
            Ozy yang pertamanya duduk disamping Ray pun pindah disamping Ify dengan menyuruh Via bergeser. Ozy pun langsung memeluk Ify.
            “Lo kenapa, hm,” tanya Ozy sambil menyenderkan kepala Iy ke dada bidangnya.
            Ify pun menggeleng-gelengkan kepalanya, “Maafin gue hiks...”
            “Maaf utuk apa? Lo gak ada salah sama kita..”
            Ify kembali menggelenng-gelengkan kepalanya, “Gue gak becus jadi kakak buat kalian. Gue gak pantas jadi kakak. Gue gak bisa bahagian kalian gue.. gue..” Ify menangis sejadi-jadinya. Ozy pun langsung memeluknya erat, mencoba menenangkan kakak semata wayangnya ini. Sungguh Ozy tidak menyangka kalau Ify berfikiran seperti ini.
            “Ify, lo itu kakak terbaik buat Gue, Ray dan juga Deva. Lo itu segalanya buat kami Fy,” ucap Ozy. Ray pun segera menghampiri saudar-saudaraya dan memilih berdiri dihadapan Ify.
            “Iya Fy. Lo itu kakak yang palingggg baik buat kami. Kita sayang sama elo,” ucap Ray kemudian memeluk Ify yang dipeluk oleh Ozy.
            “Iya Fy kita sayang sama elo,” ucap Deva dan juga ikut-ikut berpelukan bersama kakak-kakaknya.
            Via menatap haru keempat saudara yang tengah berpelukan itu. Ia tau rasa sayang antara mereka begitu besar. Ia sangat tau itu. ia merupakan saksi bagaimana kehidupan mereka dulu. Ify yang merawat sikembar hingga rela homeschooling. Ify juga lah yang mengantarkan sikembar dan juga Lintar sekolah saat mereka berempat masih duduk ditaman kanak-kanak. Bahkan Via yakin rasa sayang Lintar lebih besar ke Ify dibandingkan dirinya. Itu karena sosok ibu telah mereka pada diri Ify sejak kecil, sejak bunda Ify berubah. Via tidak tau betul bagaimana kronologis masa lalu keluarga Ify. Tapi, yang ia ingat Ify masih mempunyai kakak laki-laki yang dulu juga sangat dekat dengan dirinya. Dan ia juga tau kalau kakak laki-laki Ify ikut dengan ayah Ify.
            ***
            “Kenapa muka lo ditekuk kayak gitu?” tanya Via Ke Ify yang baru saja datang dan memilih duduk disamping Via yang sedang memakan siomay.
            “Gue ada tugas berat, huh,” ucap Ify kesal kemudian meminum jus jeruk Via higga tandas.
            “Ify jus gue...” rajuk Via menatap nanar gelas kosong dihadapannya kemudian menatap Ify sengit.
            “Pelit banget sih lo sama gue. Tambah gendut rasain lo,” ucap Ify asal membuat Via merengut kesal.
            “Emang hubunganya apa coba?”
            “Ada. Kalau lo minum sendiri, nanti lo tambah lebar,” jawab Ify tetap ngasal. Via pun menjitak kepala Ify saking kesalnya.
            JTAK
            “Aw.. sakit Pia..” sungut Ify. Via pun lebih memilih mengacuhka Ify dan kembali memakan siomaynya yang sempat menganggur.
            “Vi...” panggil Ify kemudian. Via pun mendongak mennati lanjutan ucapan Ify. “Lo mau gak bantu gue?”
            Salah saru alis Via terangkat, “Bantu apa?”
            “Lo mau kan duet nyanyi sama gue minggu depan diacara pensi?” Via membulatkan matanya? Apa tadi? Duet? Apakah ia tak salah dengar? Astaga, ia akan bernyanyi diacara pensi yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali itu? Acara yang tamunya adalah orang-orang penting yayasan Indonesia International School. Oh God, ini suatu keajaiban..
            “Lo beneran Fy? Diacara pensi itu?” tanya Via kurang yakin.
            Ify mengangguk, “Iya. tadi itu Miss Clara nyuruh semua mahasiswa fakultas musik untuk nyari pasangan duet dari fakultas lain. Nah, karena yang gue kanal Cuma elo, makanya gue ngajak elo. Lagian suara lo kan gak jelek-jelek amat,” ucap Ify menjelaskan.
            “Tapi, ini acara besar Fy. Gue takut malu-maluin diri gue sendiri,” sangsi Via. Ify pun menghembuskan nafasnya kasar.
            “Gue gak peduli itu. Yang penting gue dapat nilai,” ucap Ify menghiraukan ketakutan Via.
            JTAK
            Satu jitakan kembali mendarat di kepala Ify. Ify menatap Via dengan bengis.
            “Enak aja lo. Kalau gue malu-maluin lo juga ikut malu Gabrify,” ucap Via penuh penekanan.
            “Yakin deh sama gue, lo pasti gak bakal malu-maluin. Suara lo cukup oke kok untuk di dengar,” yakin Ify.
            Via nampak berfikir panjang sampai-sampai ia tidak sadar kalau ada tikus berkepala hitam telah mengambil siomaynya.
            “Tapi, gue takut Fy. Kalo lo mah enak, suara lo gak usah diragukan lagi,” ucap Via sedih.
            Ify pun mencomot kembali siomay Via kemudian mengunyahnya lalu menelannya. Via yang melihat itupun melotot karena piring siomaynya sudah tak berpenghuni lagi. “Tenaang aja, ada Ozy sama gue. Gue sama Ozy bakal ngajarin lo nyanyi dengan baik, benar dan cetar membahana.”
            “Iya gue tau. Tapi, gak usah makan siomay gue juga kali,” kesal Via.
            “Loh kalau lo tau, seharusnya lo gak usah khawatir gitu dong. Slow mbk bro,” ucap Ify tanpa menyinggung sindiran tentang siomay Via. Yang terpenting perutnya kenyang.
            “Okedeh. Tapi, nyanyi lagu apa?”
            “Hmm, gue juga gak tau. Ntar aja tanya sama Ozy. Dia kan paling pintar tuh milih lagu,” ucap Ify dan diangguki oleh Via.

OBLIGATIE PART 10 [END]



Tittle    : Obligatie part 10 [END]
Cast     : Ify | Rio | Via | Alvin | Shilla | Gabriel | Agni | Cakka |
Genre  : Romance, Friendship, Action, etc,- | Maybe
Author : Yanti Lestari | @yanti_lestariA | IG: @yanti_lestariA

            “APA!! Ify diculik oleh kaum hitam?” tanya Uncle Albert kaget. Jujur berita yang disampaikan oleh The Hits Boys dan juga SSA hampir saja membuatnya serangan jantung. Ia tak habis fikir kenapa bisa mereka lengah dan membuat salah satu dari mereka diculik.
            Rio menganggukkan kepalanya. Ia menundukkan kepalanya. Ini semua salahnya. Ya memang ini semua salahnya. Kalau saja dua hari yang lalu ia tidak kelepasan pasti ini semua tidak akan terjadi. Astaga kenapa penyesalan harus datang terakhir kali.
            “Kenapa kalian bisa tidak saling menjaga. Bukannya Uncle sudah memberitahu kalian untuk saling menjaga. Terus, kenapa juga kalian berbohong pada Uncle kalau kalian belum mengetahui siapa kaum hitam?”
            “Itu salah saya Uncle. Saya sengaja tidak memberitahu Uncle karena saya dan Ify masih mencari tau kebenarannya,” Shilla menundukkan kepalanya takut. Takut dengan tatapan Uncle Albert yang tajam dan menusuk itu.
            “Seharusnya kamu memberitahu saya. Kita bisa cari tau bersama-sama. tidak sendiri-sendiri seperti ini. Sekarang lihat akibatnya kan? Ify diculik oleh kaum hitam,” The Hits Boys dan SSA hanya menundukkan kepalanya mendengar kemarahan Uncle Albert. Terlebih Shilla. “Astaga pasti mereka akan membunuh Ify.”
            The Hits Boys dan SSA mendongakka kepala mereka. Menatap Uncle Albert yang sedang menyandarkan tubuhnya disofa dan memijat pelipisnya.
            “Benarkah Uncle?” tanya Rio. Uncle Albert pun menegakkan tubuhnya kembali dan menatap Rio lalu mengangguk. “Ya, karena dengan itu kaum hitam bisa menguasai bumi. Itu berarti ketidaklengkapan kalian itu sudah tidak berarti apa apa lagi.”
            Ria mengepalkan tangannya kuat kuat. Ini tidak boleh terjadi. Ia harus menyelamatkan Ify segera. Ya harus.
            “Uncle beritahu saya dimana markas kaum hitam,” paksa Rio. Uncle Albert menggelngkan kepalanya.
            “Kau tak boleh kesana. Malam hari, kekuatan kaum hitam semakin kuat. Jadi percuma saja kau kesana dengan formasi tidak lengkap,” jelas Uncle Abert.
            “Tidak Uncle. Saya harus kesana. Saya harus menyelamatkan Ify,” kekeh Rio membuat Uncle Albert kembali emosi.
            “Rio!!! Kau tak boleh kesana atau kau akan mati disana. Lebih baik esok kita menyelamatkan Ify,” seru Uncle Albert meninggikan suaranya. “Sebaiknya kalian pulang. Istirahlah. Besok kita akan menyelamatkan Ify,” usir halus Uncle Albet. “Tidak ada tapi-tapian,” ujar Uncle Albert ketika melihat Rio hendak mengelak.
            Dengan terpaksa The Hits Boys dan SSA keluar dari rumah Uncle Albert tetapi, mereka tak langsung pulang.
            “Lo yang sabar Bro. Sebaiknya lo istirahat. Lo dari kemarin belum makan juga kan,” saran Alvin sambil menepuk pundak Rio. Rio memndang sengit Alvin. Rahangnya mengeras. Tangannya terkepal di sisi kanan kiri tubuhnya.
            “Coba lo rasain kalo lo berada diposisi gue. Apa lo akan tetap tidur mengistirahatkan diri disaat nyawa Via sedang terancam. Iya. JAWAB VIN JAWAB!!!”
            Alvin menghela nafasnya. Ya benar kata Rio. Ia pasti akan melakukan apa yang Rio lakukan. Tapi, bukannya Uncle Albert tadi sudah mengatakan kalau itu semua percuma. Malah bisa saja salah satu diantara mereka akan tertangkap oleh kaum hitam.
            “Tapi Y—“
            “Kalau kalian gak mau nolongin gue, oke gue yang akan cari Ify sendiri,” tekad Rio lalu menaiki motornya.
            “Yo lo jangan gila. Lo bisa dibunuh langsung sama mereka,” Gabriel menghalangi jalan Rio. Ia akan mencoba membujuk Rio agar Rio membatalkan niatnya mencari keberadaan Ify.
            “Gue gak peduli. Sekarang lo minggir,” usir Rio membuat Gabriel frustasi sendiri.
            BUGH
            Tubuh Rio tiba tiba ambruk. Dengan segera Alvin menangkap tubuh Rio dan cakka menjaga motor Rio agar tidak ambruk. Ya, baru saja Cakka memukul tengkuk Rio.
            “Lo pinter juga Kka,” puji Alvin sambil memapah Rio bersama Gabriel.
            “Yaiyalah. Daripada berdebat yang ujung ujungnya percuma lebih baik melakukan tindakan kan,” ucap Cakka sambil memberhentikan sebuah taksi.
***
            Rio membuka matanya perlahan-lahan, membiasakan cahaya lampu yang memasuki matanya. Arghh.. kepalanya tiba tiba pusing. Rio bangun dari tidurnya sambil memegang kepanya. Matanya menyapu ruangan. Ternyata ia sekarang berada dikamarnya sendiri. Ia pun mencoba mengingat kembali kejadian kejadian dan membuat ia tiba tiba berada disini. Yang ia ingat terakhir ia berada didepan rumah Uncle Albert dan berdebat dengan sahabat sahabatnya. Tapi, kenapa ia bisa berada disini? Aishh.. seharusnya ia tidak perlu memikirkan ini. Sebaiknya ia harus mencari keberadaan Ify sekarang.
            Rio pun berdiri dengan sempoyongan karena tiba tiba saja kepalanya pusing dan pemandangannya buram. Rio menggeleng-gelengkan kepalanya lalu berjalan keluar dari kamarnya.
            Saat ia akan menutup pintu kamarnya tiba-tiba hanphonenya berbunyi tanda sms masuk. Rio pun segera mengecek dan tiba tiba saja hatinya mencolos syok.
            From : 08********
            Kalau lo mau Ify selamat, sekarang lo datang ke Jl. Mawar Melati nomor 34.
            [image]
            Rio segera berjalan menuruni tangga dengan tergesa gesa. Sudah tidak ada waktu lagi menunggu besok, besok dan besok. Diruang tengah ia bertemu dengan sahabatnya. Ia tidak peduli dengan panggilan sahabatnya. Yang ada difikirannya adalah Ify, Ify Ify dan semuanya Ify.
            “Rio lo mau kemana?” tanya Gabriel menghentikan langkahnya.
            “Gue mau nyelamatin Ify.”
            “Astaga Rio. Besok kan bisa,” kesal Cakka.
            “Dan lo akan lihat sahabat lo ini mempunyai istri tak bernyawa,” ucap Rio dingin dan menaiki motor cagivanya.
            “Maksud lo apa Kak?” tanya Via.
            Rio pun tersenyum kecut lalu menyerahkan MMS orang misterius tadi.
            “Apaa?” Via menutup mulutnya menahan tangis. Shilla dan Agni yang sebenarnya kepo pun mengambil alih hp milik Rio. Seketika mata mereka membulat Ify yang akan dijatuhkan dari lantai entahlah.. yang mereka tahu bangunan itu sangat tinggi. Shilla langsung menangis dan dengan sigap Gabriel langsung memeluknya.
            “Ini beneran Kak?” Rio mengangguk lalu mengambil Hp nya dari Agni.
            “Gue ikut Kak,” seru Via melihat Rio berjalan keluar dari rumah.
***
            “Lo yakin Vi tempatnya disini?” tanya Shilla ngeri melihat sebuah bangunan tua yang membuat bulu kuduknya langsung merinding.
            “Iya, gue yakin. Gue udah lacak dan Ify emang ada disini,” ucap Via seraya memperlihatkan tabletnya ke Shilla. The Hits Boys dan SA pun langsung menatap tablet Via yang berada dihadapan Shilla.
            “Tapi, kok tempatnya serem gini ya?” gumam Shilla.
            Rio pun langsung memasuki bangunan tua itu dengan muka datar dan terkesan dingin. Dibelakanganya diikuti Agni, Cakka, Via dan Shilla yang memegang erat lengan Alvin dan Gabriel.
            Suara derit pintu menyambut kedatangan mereka yang sontak saja membuat Via langsung memeluk erat lengan Alvin. Mereka pun berjalan masuk dipimpin oleh Rio.
            BRAKKK
            Pintu langsung tertutup sendiri. Gabriel yang notabanenya berada paling belakang bersama Shilla segera berlari kearah pintu dan mencoba membuka pintu. Shilla yang ditinggal beberapa langkah dari Gabriel pun langsung menggandeng lengan Via
            “Sial, pintunya kekunci,” umpat Gabriel sambil menggebrak pintu.
            “Terus kita keluar gimana?” tanya Via takut.
            “Apa jangan-jangan kita Cuma dijebak?” kata Agni sambil menatap teman temannya satu persatu.
            “Gak mungkin. Ify pasti disini. Gue tadi lacak dari ID Hp Ify,” jawab Via.
            “Tap—“
            “Gue percaya sama elo kok Vi,” ucap Rio memotong ucapan Agni. Agni pun melongos kesal sedangkan Rio hanya melirik Agni sekilas.
            “Yaudah ayo kita naik. Gue yakin Ify pasti ada dilantai atas,” ucap Shilla memecah keheningan kemudian.
***
            “AHHHHH.” Gabriel tersentak kaget ketika Shilla langsung memeluknya dengan erat ditambah lagi teriakan Shillaa yang memekak telinga membuat jantungnya hampir copot.
            “Lo kenapa Shill?” tanya Gabriel khawatir.
            “Disitu ada orang serem kak,” jawab Shilla yang masih membenamkan wajahnya didada bidang Gabriel.
            The Hits Bosy dan SA pun langsung mengikuti arah tunjuk Shilla kemudian menatap kembali Shilla dengan kesal. “Gak ada kali Shill. Mungkin itu Cuma ilusi lo aja.”
            “Benaran Kak Rio. Gue gak bohong. Tuh orang tadi bawa kapak dipundaknya,” kali ini tubuh Shilla sudah gemetar karena menangis. Gabriel pun mengelus kepala Shilla dan membisiikkannya dengan kata kata penenang.
            Shilla pun mengangkat wajahnya kemudian menghapus air matanya dibantu okeh Gabriel. Dengan nafas masih sesenggukan ia membalikkan tubuhnya mengarah kearah Alvin, Rio Gabriel, Via dan juga Agni. “Iya, mungkin gue tadi emang Cuma berhalusinasi.”
            ***
            “BERHENTII,” The Hits Boys dan juga SSA pun menghentikan langkah mereka dan secara kompak menolehkan kepala mereka disudut ruangan. Shilla, Via dan Agni langsung memeluk lengan suami mereka masing masing. Mata mereka menatap awas pada benda berwarna hitam dengan permukaan yang sangat tajam pada matanya (?) yang tengah berada dipundak orang tersebut. Hhh, sepertinya ucapan Shilla tadi sangat benar dan orang yang dimaksud Shilla yang memakai jubah hitam dan topeng penutup wajah sudah berdiri dengan gagahnya dan tatapan mematikan dihadapan mereka.
            “Dimana Ify,” Seru Rio emosi. Tidak ada sedikitpun rasa takut yang menghantuinya. Malah emosi yang sekarang menguasai dirinya.
            “Hmm, elo nyari Istri lo?” Rio tersentak. Kenapa orang ini bisa mengetahui kalau Ify adalah istrinya.
            “Iya. Sekarang dimana Ify?” orang berjubah tersebut pun melangkah maju mendekati Rio dengan kapak yang tergantung bebas ditangannya.
            “Lawan gue dulu, kalau elo mau tau dimana Ify,” tantang pemuda berjubah itu membuat SSA, Gabriel, Alvin dan juga Cakka syok bukan main. Beda lagi dengan Rio. Dengan angkuhnya ia mengangkat salah satu alisnya seolah mengejek orang berjubah itu. “Oke kalau itu mau lo.”
            “Yo lo jangan gila,” sergah Cakka khawatir.
            Rio pun menatap Cakka sebentar lalu tersenyum miring. “Gue gak peduli.”
***
Pertandingan sengit pun terjadi. Satu lawan satu yang membuat siapa saja ngeri melihatnya. Rio yang sedari cuma menghindari kapak orang berjubah tersebut pun membuat Gabriel, Cakka dan tentunya Alvin geram sndiri. Ini namanya tidak adil buat Rio. Rio yang notabanenya tanpa senjata pun pasti kewalahan melawan pemuda berjubah itu yang membawa kapak yang sekali tebas membuat kepala dengan tubuh terpisah secara sempurna. SADIS!!
Rio tersungkur dengan lengan yang mengeluarkan darah akibat tergores kapak. Gabriel, Alvin, Cakka dan juga SSA pun segera menghampiri Rio.
            “Yo lo gpp kan?” tanya Alvin. Rio menggeleng sebagai jawaban. Ia pun berdiri kemudian bersiap melawan pemuda berjubah itu.
            “Yo lo mau ngapain?” tanya Gabriel was-was. Bukannya ia bodoh seolah ia tidak tau kalau Rio mau melawan pemuda berjubah itu. Tapi, hanya itu yang dapat keluar dari mulutnya. Dasar bodoh!!    
“Lo jangan bodoh Rio!!” bentak Alvin. Sedangkan Rio tidak menghiraukan ucapan Alvin dan tetap maju melawan pemuda berjubah itu.
Cakka pun maju membantu Rio. Ia sudah geram melihat Rio yang berusaha sendiri. Toh, mereka kesini bersama-sama berarti sama saja kita melawan musuh secara bersama-sama.
Gabriel dan Alvin yang melihat Cakka maju pun ikut-ikutan maju. Tanpa mereka sadari dibalik topeng pemuda berjuba tersenyum kemenangan.
SSA pun menatap ngeri pertandingan itu. Ternyata pemuda berjubah itu sangat pandai dalam action. Lihat saja pemuda berjuba itu sama sekali tidak berpengaruh dengan serangan keroyokan The Hits Boys. Malah terlihat santai tapi menakutkan.
Tanpa sadar dari belakang ada yang membekap SSA dan membuat mereka bertiga tak sadarkan diri. The Hits Boys mereka terlalu sibuk bertarung sehingga tanpa mereka sadari SSA sudah menghilang entah kemana.
***
Nafas The Hits Boys terengah-engah. Pertarungan ini sungguh membuat mereka merasakan sesak nafas untuk pertama kalinya. Sungguh! Pemuda berjubah itu sangat tangguh sampai sampai mereka berempat tidak sanggup melawannya ah ralat hanya sanggup menghindari kapak yang dilayangkan.
“Masih berani lawan gue tuan muda?” pemuda berjubah itu tertawa sinis membuat The Hits Boys terbakar emosi. Mereka pun menegakkan badan mereka angkuh seolah mereka masih memiliki keberanian yang tinggi.
“Ck ck..” pemuda berjubah itu menggeleng gelengkan kepalanya tak percaya. Bukan karena keberanian The Hits Boys tapi, kepekaan mereka terhadap sekitarnya. Apakah keempat pemuda itu tidak mengetahui kalau ketiga gadis yang datang bersama mereka tadi sudah tidak ada ditempat. Apakah harus ia yang harus repot-repot memberitahunya?
The Hits Boys menatap bingung pemuda berjubah itu. Kenapa pemuda itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Sebaiknya gue pergi dari sini. Selamat mencari istri kalian masing masing,” pemuda berjubah itu pun melenggangkan kaki mereka. Rio pun mengejar pemuda berjubah itu tapi, sayangnya badannya tidak bisa diajak berlari. Alvin, Cakka dan Gabriel diam mematung mencoba mencerna kalimat yang diucapkan oleh pemuda berjubah itu. Apa maksudnya ‘mencari istri masing-masing?’.
“Astaga Agni mana?” suara Cakka yang menggelegar membangunkan kesadaran Alvin dan Gabriel. Mereka bertiga –RioAlvinGabriel- pun menoleh ketempat dimana SSA tadi berada.
“Viaaa,” teriak Alvin heboh. Pikirannya sudah tak tenang sekarang. Dimana Via sekarang. Bagaiman kalau istrinya yang cerewet itu dibunuh oleh kaum hitam?
“Jangan main main sama gue kalau lo belum bosen hidup. Dimana elo sembunyiin Shilla. Keluar lo. Keluar kalau lo bukan pengecut. Keluar!!!” teriak Gabriel frustasi.
***
             The Hits Boys berjalan mengililingi rumah tua itu dengan kesal. Sudah berkali-kali mereka mengelilingi rumah tuai ini tetapi, mereka sama sekali belum menemukan Ify, Via, Agni dan juga Shilla.
            “Arghhh..” geram Gabriel. Kesal, marah, takut, frustasi bercampur jadi satu. Sungguh ia takut terjadi apa-apa sama Gabriel. Apa jadinya kalau ia kehilangan Shilla?. “Ini semua gara-gara elo,” tuding Gabriel ke Rio. Rio yang sama frustasinya seperti Gabriel pun ikut-ikutna emosi.
            “Kenapa elo nyalahin gue? Emang gue nyuruh elo ikut sama gue?”
            Gabriel langsung menubruk tubuh Rio sehingga badan Rio langsung terhimpit ditembok dengan Gabriel didepannya. “Itu emang salah elo Mario. Coba kalau elo—“
            “Kenapa lo berdua malah berntem sih,” teriak Cakka sambil memisahkan Gabriel dengan Rio. “Bisa gak sih kalian fokus buat nyari Agni, Ify, Shilla sama Via. Lo berdua fikir gue gak kesel, gak takut, gak frustasi? Gue sama kayak kalian. Gue juga takut kalau terjadi apa-apa sama Agni.”
            Rio dan Gabriel pun saling menatap satu sama lain. Saling memberikan tatapan tajam melepaskan emosi. Untung saja tadi Cakka langsung memisahkan mereka. Kalau tidak pasti kebenaran kata Cakka pasti akan terjadi sekarang. Adu jotos.
            “Udahlah Gab, Yo. sebaiknya kita cari istri kita sebelum terlambat. Lo mau mereka terjadi apa-apa?” Alvin menrik tangan Gabriel dan Rio agar saling berdekatan. Gabriel pun mengulurkan tangannya.
            “Maaf,” Rio pun menyambut jabatan tangan Gabriel kemudian mengangguk. “Gue juga.”
***
            “Apa ini semua dari awal emang sudah direncanakan?” tanya Via shock sambil menatap satu persatu semua orang yang sedang duduk dihadapannya. “Apa jangan-jangan lo juga telibat Fy?”
            “No!! Gue gak terlibat. Sebelumnya gue juga sempat bingung. Taksi yang gue tumpangi tiba tiba bawa gue kesini dan menyuruh gue masuk. Gue yang gak mau pun harus diseret masuk oleh orang sangar dan menemukan mama gue dan juga Rio. Dan kemudian mereka pun menceritakan semuanya,” jelas Ify jujur. Ya, tadi pagi sewaktu Ify berangkat sekolah tiba-tiba saja ia diantarkan ke rumah ini. sontak saja Ify bingung. Sang sopir taksi yang mengerti kebingungan Ify pun menyuruh Ify masuk. Pertama, Ify waspada. Jangan-jangan ia dijebak oleh orang jahat atau yang lebih parahnya kaum hitam. Sontak saja Ify menolaak kemudian sang sopir tersenyum lalu mengatakan kalau mamanya telah menunggunya didalam. Ify tetap tidak percaya dan akhirnya pintu taksinya dibuka secara paksa oleh dua orang lelaki yang menurut Ify sangar dan menakutkan. Ify yang kekuatannya tak ada bandingannya dengan kedua lelaki ini pun dengan mudda menarik Ify masuk. Dan tadaa, Ify menemukan mamanya mama mertuanya tengah bergosip ria.
            “Sebenarnya ini belum saatnya kalian tau rencana kita. Tapi, karena sebelumnya Ify dan Shilla sudah mengetahuinya jadi papa terpaksa mempercepatnya.”
            “Saya sama Shilla baru mengetahui kalau kaum hitam itu adalah orang-orang yang menyerang sewaktu acara musik lima hari yang lalu om,” komen Ify.
            “Tapi, sebenarnya kamu tau kan sayang kalau om Husein ikut terlibatkan?” tanya papa Ify.
            “Om Husein orang kepercayaan papa kan?” papa Ify pun mengangguk. “Iya pah.”
            “Makanya kamu merasa dibuntuti oleh kaum hitam kan?” Ify pun kembali mengangguk. Papa Ify pun tertawa. “Lagian papa menyuruh om Husein mengikutimu gara-gara  papa takut kamu bunuh diri sayang.”
            “Bunuh diri? Bunuh didi buat apa?” tanya Ify bingung.
            “Papa tau kamu ppunya masalah dengan Rio. Jadi, papa mengira kamu akan bunuh diri gara-gara Rio ingin meninggalkanmu,” jawab papa Ify sambil tertawa puas. Ify pun merengut melihat papanya dan juga yang lainnya yang ikut menertawakannya.
“Siapa bilang Ify mau bunuh diri.”
            “Haha melihatmu berjalan seperti mayat hidup itu namanya kamu mau bunuh diri Ify. siapa tau saja kamu terpeleset atau disrempet motor gara gara kamu tidak fokus dan tidak ada menolongmu bagaimana? Hahaha Ify Ify sepertinya pilihan papa tidak salah. Kamu begitu mencintai Rio rupanya.”
            “Ihh Papa,” merengut Ify. Sungguh saat ini ia sangat kesal, kesal, kesal dan kesal. Papanya memang sangat suka menggodanya habis-habisan dan akan berhenti kalau Ify menangis. Jangan pernh berfikir kalau Ify cengeng. Sungguh ia tidak bermaksud cengeng hanya saja coba kalian bayangkan bagaimana perasaan Ify. Ify malu, marah kesal. Dan sekarag Ify bisa apa? tidak mungkin kan ia menangis didepan semua orang.
            “Sudahlah pah.. Nanti Ify nangis lagi,” kata mama Ify. Pertama Ify senang karena mamanya mau membelanya. Tapi, akhirnya sama saja. Ini sama saja menhujami Ify dengan seribu piasau didadanya.
            Ify mengerucutkan bibirnya. Ia marah sekarang. Terserahlah Ify disangka durhaka kepada orang tuanya. Apakah mama dn papanya tidak tau kalau skarang ia sangat sangat malu. Karena kesal Ify pun mulai menutup wajahnya dan menangis sesenggukan.
            “Loh Fy kok lo nangis?” tanya Shilla yang memang duduk disampingnya. “Wah sebaiknya om sama tante membujuk Ify daripada kita kebanjiran nanti.”
            Ify pun menaikkan kakinya disopa dan menekuknya mencoba menyembunyikan wajahnya. Ia manambakan volume (?) nangisnya. Badan Ify mulai bergetar tanda Ify sedang menangis hebat (?)
            “Udah sayang. Jangan nangis dong,” mama Ify pun meminta Shilla pindah dan ia duduk disamping Ify. Mama Ify pun mengelus pelan rambut Ify yang masih menangis.
            “Ify mau apa? Pasti mama belikan,” rayu mama Ify akhirnya. Ya, dengan cara ini biasanya Ify akan berhenti menangis dan meminta aneh aneh. Contohnya dulu Ify meminta Martabak yang harus dipesan lagsung dari Semarang. ASTAGA!! Semoga saja Ify tidak meminta yang macam-macam.
            “Kak Rio...” Ify berkata lirih. Mama Ify pun tersenyum lalu menoleh kepada suaminya.
            “Nanti Rio akan kesini sayang. Tapi, kita harus bermain-main dulu dengan mereka,” jawab papa Ify. Ify pun mengangkat wajahnya lalu menghapus air matanya.
            “Maksud papa?”
            “Kita akan memberikan kejutan kecil baut mereka berempat,” SISA pun menatap papa Ify dengan bingung. Maksudnya kejutan untuk The Hits Boys??
            “Untuk mereka berempat? Emang ada apa om?” tanya Agni mewakili yang lain.
            “Lihat saja nanti---”
            BRAKK
***
            Cakka menyandarkan tubuhnya pada tembok. Tubuhnya sudah lelah sekarang. Sudah berulang kali ia dan juga ketiga sahaatnya mengelilingi rumah ini sedari tadi tetapi belum membuahkan hasil. Sempat terfikir dalam otaknya kalau istrinya dan juga istri para sahabatnya dibawa keluar dari rumah ini. Tapi, itu semua ia tepik karena tidak mungkin orang tersebut membawa Agni pergi dari sini tanpa ia ketahui. Bangunan ini sangat sepi, maka keributan sekecil apapun pasti ia dengar. Ditambah, pintu utama yang merupakan satu-satunya jalan keluar akan berbunyi bila dibuka.
            “Dimana orang itu menyembunyikan istri kita?” Gabriel membuka suara. Semua mata pun langsung menatap Gabriel sendu.
            “Gak tau. Tapi, gue yakin pasti masih dirumah ini,” jawab Cakka.
            Alvin pun menumpu tangannya disebuah nakas kecil disebelahnya. Tanpa diduga tiba tiba sebuah rak buku bergeser terbuka. Sontak saja The Hits Boys yang berdiri tepat didepan nakas itupun terlonjak kaget dan menatap rak tersebut dengan bingung.
            “Kenapa bis—“
            “Kayaknya ini salah satu jalan untuk menemukan istri kita,” ucap Rio memotong ucapan Cakka. Rio pun segera memasuki ruangan tersebut tanpa ragu. Cakka, Alvin dan Gabriel pun saling pandang kemudian mengikuti jejak Rio.
***
            “Bunuh diri? Bunuh didi buat apa?” tanya Ify bingung.
            “Papa tau kamu punya masalah dengan Rio. Jadi, papa mengira kamu akan bunuh diri gara-gara Rio ingin meninggalkanmu,” jawab papa Ify sambil tertawa puas. Ify pun merengut melihat papanya dan juga yang lainnya yang ikut menertawakannya.
“Siapa bilang Ify mau bunuh diri.”
            “Haha melihatmu berjalan seperti mayat hidup itu namanya kamu mau bunuh diri Ify. siapa tau saja kamu terpeleset atau disrempet motor gara gara kamu tidak fokus dan tidak ada menolongmu bagaimana? Hahaha Ify Ify sepertinya pilihan papa tidak salah. Kamu begitu mencintai Rio rupanya.”
            “Ihh Papa,” merengut Ify.
            “Sudahlah pah.. Nanti Ify nangis lagi,” kata mama Ify.
            “Loh Fy kok lo nangis?” tanya Shilla yang memang duduk disampingnya. “Wah sebaiknya om sama tante membujuk Ify daripada kita kebanjiran nanti.”
                        “Udah sayang. Jangan nangis dong,” mama Ify pun meminta Shilla pindah dan ia duduk disamping Ify. Mama Ify pun mengelus pelan rambut Ify yang masih menangis.
            “Ify mau apa? Pasti mama belikan,” rayu mama Ify akhirnya
            “Rio...” Ify berkata lirih. Mama Ify pun tersenyum lalu menoleh kepada suaminya.
            “Nanti Rio akan kesini sayang. Tapi, kita harus bermain-main dulu dengan mereka,” jawab papa Ify. Ify pun mengangkat wajahnya lalu menghapus air matanya.
            “Maksud papa?”
            “Kita akan memberikan kejutan kecil baut mereka berempat,” SISA pun menatap papa Ify dengan bingung.
            “Kejutan untuk mereka berempat? Emang ada apa om?” tanya Agni mewakili yang lain.
            “Lihat saja nanti...”
            BRAKK
            Rio membuka pintu dengan emosi. Pupil matanya yang semula berwarna biru legam berubah menjadi sangat menakutkan. Disampingnya ada Gabriel yang menatap dengan tatapan membunuh. Cakka dan Alvin yang berdiri dibelakang Rio dan Gabriel pun tak kalah emosinya sampai-sampai Alvin menggeretakkan (?) rahangnya saking emosinya. *mbulet*
            “Kak Rio..” Ify yang tersadar duluan dari keterkejutannya pun segera berlari kearah Rio dengan senyum yang mengembang dibibirnya. Dirinnya sudah sangat rindu dengan pemuda itu.
            “Stop it,” Ify pun menurunkan rentangan tangannya ketika mendengar ucapan dingin Rio. Maksud hati ingin memeluk Rio untuk menyenangkan hati, malah sakit yang ia dapatkan.
            “Kak Ri—“
            “Puas lo ngerjain gue. Puas lo buat gue khawatir. Puas lo buat gue sakit. IYAA. KENAPA LO LAKUIN INI KEGUE FY. LO MAU BALAS DENDAM KE GUE. IYA,” Ify menatap Rio dengan sedih. Matanya mulai berkaca-kaca mendengar bentakan Rio. Hatinya perih mendengar kata-kata Rio. Ia berfikir kalau Rio sudah memaafkannya. Tapi ternyata, ia salah besar. Rio belum memaafkannya bahkan sekarang tambah membencinya.
            “Dan selamat Fy. Lo berhasil. Lo berhasil buat gue ngerasain sakit yang mungkin tidak seberapa dibandingkan gue yang telah nyakitin elo,” Ify menangis. Dirinya sudah tidak kuat mempertahankan. Ify berjalan mendekat hendak memeluk Rio. Tapi tiba-tiba Rio menahannya.
            “Jangan sentuh gue Fy,” ucap Rio dingin. Ify menggeleng-gelengkan kepalanya.
            “Tapi Kak...”
            “JANGAN SENTUH GUE,” bentak Rio membuat Ify terlonjak kaget.
            “Cukup Rio,” buka papa Rio. Papa Rio pun berdiri dari duduknya kemudian berjalan mendekati Rio. “Papa tidak pernah mengajarkanmu untuk membentak wanita. Apalagi membentak istrimu. Pa—“
            “Oh papa belain dia,” potong Rio sambil menunjuk Ify yang tengah menangis hebat (?).
            “Jangan potong ucapan papa!!,” bentak papa Rio. Rio pun tersenyum miris dan melirik Ify sinis. “Ini semua rencana papa Rio. Dari awal pertemuanmu dengan Ify juga rencana papa.”
            The Hits Boys tersentak kaget mendengar perkataan papa Rio. “Maksud papa?”
            “Papa yang membuat skenario ini untuk mempertemukanmu dengan Ify. Begitupun dengan Gabriel, Cakka dan Alvin.”
            “Tapi, ini semua untuk apa om?” tanya Alvin membuka suara. Tangannya yang tadi terkepal mulai longgar mendengar ucapan papa Rio.
            “Papa dan juga papa kalian memang sudah merencakan perjodohan kalian dengan anak sahabat kami. Tapi, melihat tipikal kalian yang membenci wanita pun membuat papa harus memutar otak agar kalian bisa menerima calon kalian. Dan Akhirnya papa menggunakan cara ini,” jelas papa Rio membuat The Hits Boys melongo tidak percaya. Bahkan SSA yang baru tau cerita aslinya pun ikut-ikutan melongo.
            “Tapi, bagaimana dengan kalung ini?” tanya Rio sambil menyentuh kalungnya.
            “Haha. Sebenarnya itu kalaung couple biasa. Hanya saja papa memberikan sebangsa pendeteksi. Jika kalian berpisah maka kalian akan merasa kesakitan.”
            “Tapi, kenapa setelah kami berpelukan rasa sakitnya langsung hilang?” tanya Ify yang masih sesenggukan. Kontan saja semua menatap Ify kemudian menatap papa Rio meminta penjelasan. Tetapi, tidak dengan Rio. Tiba-tiba rasa bersalah tiba tiba menggelayutinya.
            “Karna kalung ini sanagt berdekatan. Ya kira kira hanya berjarak 20 cm saja setelahnya pendeteksi itu pun berhenti berfungsi. Tetapi kalau kalian berdekatan lagi, kalung tersebut pun aktif kembali.”
            “Bagaimana dengan sinar ketika katanya ‘kaum hitam’ berada didekat kami,” tanya Via mengingat kejadian saat itu.
            “Karna kaum hitam yang kau maksud adalah suruan om. Om telah memberikan sebuah remot untuk menyalakannya.”
            “Terus kenapa setelah saya merasa kesakitan?” tanya Via lagi.
            “Karna tanpa sepengetahuan kamu, lelaki tersebut telah menempelkan alat seperti alat pada kalung kalian,” Via pun mangut-mangut mengerti.
            “Kalau kemunculan Uncle Albert yang tiba-tiba?” tanya Shilla kini. Shilla ingat betul kejadian itu. Saat Shilla mengetahui kebenarannya.
            “Itu Cuma hologram,” jawab papa Rio terkekeh. Shilla pun membulatkan matanya tak percaya. Kok bisa? Padahal saat itu Uncle Albert seperti orang sungguhan.
            “Penculikan itu?” papa Rio menatap Gabriel kemudian mengehela nafas.
            “Itu asli. Kalian memang diculik oleh musih kita,” jawab papa Rio sedih.
            Selamat ulang tahun...
            Selamat ulang tahun...
            Selamat ulang tahun Ify..
            Selamat ulang tahun...
            Ify menoleh kebelakang mendapati mamanya membawa sebuah kue kecil dengan lilin angka 17 diatasnya diikuti oleh sahabatnya dan juga orang tua sang sahabat *mbuletlagi*. Ify pun menangis (lagi). Tapi, kali ini menangis bahagia.
            “Tiup lilinnya sayang,” ucap mama Ify.
            “Jangan lupa make wish Fy,” seru Agni yang diangguki oleh Ify. Ify pun memejamkan matanya dan merapalkan doa untuk kebahagian orang-orang yang disayanginya.
            “Yeee,” semua orang pun bertepuk tangan senang setelah Ify meniup lilinnya. Ify pun menerima pisau kue yang diserahkan oleh mama Rio kemudian memotong kuenya.
            “First Cake nya baut siapa Fy,” seru Via heboh. “Pasti buat gue,” Shilla dan Agni pun menoyor kepala Via.  Via pun cemberut.
            Ify pun tersenyum kemudian meyerahkan kue pertamanya buat kedua orang tuanya dan juga mertuanya.
            “Dan ini buat Viaa,” seru Ify sambil meyerahkan kue ulengtahunnya yang hilang sedikit. Via pun tersenyum dan menerima kue itu dengan senang hati.
            “Makasih Ify sayong. Moga keiinginan lo dapat terkabul di tahun ini,” ucap Via sambil mencium pipi Ify.
            “Ihh Via...” seru Ify sambil menghapus bekas ciuman Via menggunakan tangannya. Via pun tertawa sambil menatap Ify jahil.
            “Hmm Fy, Rio gak lo kasih?” tanya Cakka.
            Ify pun menatap Cakka dengan bingung. “Rio siapa ya kak?”
            “Wah Yo, dirimu dilupakan oleh Ify,” Rio pun menatap tajam Ify. Ify pun membuang muka kemudian menatap orang tuanya dengan muka imut.
            “Ma, Pa kado buat Ify mana?”
            “Tuh Rio udah ada. Itu kado buat kamu sayang,” Ify pun cemberut sambil menggelengkan kepalanya.
            “Tapi, Ify gak mau ma, pa.”
            “Terus kamu mau apa, hm?” tanya papa Rio.
            “Ify maunya suami baru,” Ify melirik Rio dengan senyum menggoda. “Gpp kan ma, pa.”
            “Apapun buat kamu asalkan kamu bahagia pasti papa turutin.”
            “Yee suami baruuu,” seru Ify senang. “Eh lo mau kan jadi saksi pernikahan gue nanti?” tanya Ify ke Rio. Rio jangan ditanya tiba-tiba mukanya merah karena kesal.
            “IFYYYYYY”
***
            Ify berjalan ke springbed tempat diman suaminya tengah tertidur lelap. Ify menatap suaminya dengan senyum kebahagian yang tecetak jelas dibibrnya. Wajah suaminya yang tampan berlipat dua ketika sedang tidur seperti ini. Sungguh. Jujur saja kalau setiap hari Ify wajah tampan suaminya maka, ia akan berfikir dua kali untuk mencari selingkuhan dan pastinya itu takkan pernah terjadi. Karena apa, pasti suaminya ini akan membunuhnya hidup-hidup.
            “Mangagumiku?” Ify tersentak kaget mendengar ucapan tiba-tiab Rio. Sejak kapan Rio membuka matanya?
            “Sejak kapan kamu bangun?” tanya Ify.
            “Sejak istriku menatapku dengan tatapan menggoda,” Ify membulatkan matanya. Kapan dirinya menatap Rio dengan tatapan menggda. “Dan kau tau.. aku tergoda sekarang,” Rio menarik tangan Ify agar berbaring dan kemudian menindihnya dengan sikunya sebagai penyangga.
            “Ka—“
            “Sstt,” Rio meletakkan jari telunjukkan didepan bibir Ify. “Biarkan aku menikmatimu dear.”
            “Tapi kak...”
            Rio mengindahkan ucapan Ify malah mendekatkan wajahnya. Rio pun menutup matanya dan membuat Ify ikut tersugesti sehingga ia juga menutup matanya.
            Sudah hampir tiga menit ia tidak merasakan apa-apa sama sekali. Ify pun membuka matanya perlahan-lahan dan menemukan Rio yang menatapnya geli.
            Ify pun mendorong tubuh Rio dengan kasar dan membuat Rio tertawa terbahak-bahak. Ify jangan ditanya lagi. Saat ini mulutnya sudah maju 5 cm.
            “Hahaha. Sepertinya kamu sudah tak sabar Fy. Tapi, sayangnya papa melarangku sebelum kau lulus kuliah,” Rio tertawa sangat puas sekali. Sampai-sampai tawanya masih terdengar saat ia masuk kekamar mandi.
***
            Ify berjalan duluan meninggalkan Rio. Sungguh kejadian tadi masih membuatnya keki setengah mati. Huh dasar Rio emang nyebelin, batin Ify kesal.
            “Fy, tunggu,” ucap Rio mencoba menyamai langkah Ify. Tapi, semakin dekat ia dengan Ify maka semakin cepat Ify berjalan. Dengan kesal, Rio pun menarik tangan Ify dan mengunci tubuh Ify ditembok.
            “Aishh kak, gak usah main-main deh. Kta udah ditungguin nih di loby,” ucap Ify mencoba memberontak. Tapi, semakin Ify memberontak maka makin dekat pula jaraknya dengan Rio.
            “Kamu marah?” tanya Rio menghiraukan ucapan Ify.
            “Siapa yang marah sih kak?”
            “Terus kenapa kamu gak mau jalan disamping ku?” tanya balik Rio.
            “Karena kakak jalannya lelet. Padahal kita udah ditunggu dibawah.”
            “Kamu gak usah bohong Fy. Aku hidup sama kamu itu hampir satu tahun. Jadi, aku tau giman tingkah kamu kalau marah, kesal, berbohong ataupun senang,” TELAK. Jawaban Rio memang benar.
            “Terus ngapain nanya?” tanya Ify keki.
            “Ify, bukannya aku tidak mau menyen—“
            “Bukan itu maksud aku kak,” potong Ify cepat. Ify tau jalan cerita Rio dan itu membuat pipinya nanti memerah. “Aku kesal karena kak Rio jailin aku kayak gitu. Kak Rio gak tau kan efeknya  ke Ify gimana. aku gak biasa kak.”
            Rio terkekeh mendengar tuturan Ify. “Yaudah nanti malam aku bantu kamu biasain. Bagaimana dengan ciu—“
            “Kak Rio!!” seru Ify kesal.
            “Hahaha baiklah-baiklah,” ucap Rio kemudian mencium bibir Ify sekilas. Ify langsung shock menatap Rio. Beberapa detik kemudian Ify pun mencak-mencak gak jelas.
            “AHH Kak Rio nyebelin.”
            ***
            “Wahh sunsetnya keren banget,” seru Via heboh. Astaga Via kayak orang katro aja.
            “Viaa lo malu-maluin deh,” seru Shilla kesal. Gimana gak malu-maluin. Dengan hebohnya Via teriak kayak gitu. Jadinya semua orang jadi lihatin mereka aneh deh.
            “Ini yang gue kagenin dari pantai Kuta,” kata Agni dan sontak saja Ify, Via dan Shilla menatap Agni kemudian mengangguk sambil tersenyum.
            “Ya bener banget. Apalagi saat kaki gue disentuh oleh air. Wahh seneng banget.”
            “Hahaha bener banget. Rasanya gue mau banget lomba sama air,” Ify, Agni, dan juga Shilla menatap Via aneh.
            “Lomba apa Vi?” tanya Agni.
            “Lomba lari.”
            “Eh lo kat air punya kaki sampai lo ajakin lomba lari,” jawab Shilla geli.
            “Aihh masa iya lo gak tau sih maksud gue,” ucap Via cemberut.
            “Ngerti kok Vi. Ngerti,” ucap Ify dan membuat Via tersenyum senang.
            “I LOVE YOU,” sontak saja SISA menolehkan kepala mereka kearah kanan tempat sumber suara tersebut. Mate mereka membulat ketika mengetahui kalau suami mereka lah yang mengucapkan kata itu. SISA pun berlari kearah suami mereka.
            “Hayoo itu tadi buat siapa?” tuding Via.
            “Buat cewek-cewek bule yang ada disini,” kompak The hits boys dan membuat SISA membulatkan mata mereka kesal. Dan tanpa hitungan detik, sebuah cubitan mendarat di perut rata The Hits Boys.
            “Tadi, kalian ngomong apa? oke Fix Mr. Gabriel malam ini kau tidak akan mendapatkan jatah dariku,” ucap Shilla kemudian berjalan menjauh dari tempat kejadian.
            “Shilla,” Gabriel pun berlari menegkar Shilla.
            “Oke malam ini Via akan ke pub dan bakal cari cowok baru,” ucap Via.
            “Yaudah silahkan kalau kamu masih betah hidup,” ucap Alvin dingin. Nah kicep deh Via.
            “Ahh kak Alvin ngeselin,” Via menutup wajahnya dan akhirnya nangis deh. Alvin pun berjalan maju mendekati Via kemudian memeluknya.
            “Apa lo lihat-lihat,” garang Agni.      
            Cakka pun tersenyum kemudian merangkul Agni. “Kata I Love You tadir jujur buat kamu sayang,” dan langsung saja rona merah jambu menghiasi pipi Agni dan membuat Cakka terkekeh.
            “sstt,” jari telunjuk Rio pun mendarat dibibir Ify saat Ify ingin membuka mulutnya. “I LOVE YOU,” Ify tersenyum kemudian memeluk tubuh Rio erat.
            “I Love You Too.”

#END