Minggu, 22 Februari 2015

pelangi kecilku



Pelangi Kecil Ku
Aku membencinya. Ya aku sangat membencinya. Gara-gara dia aku kehilangan kasih sayang seorang ibu sejak umur enam tahun. Ibu ku telah menyelamatkannya, ketika dia hampir tertabrak mobil. Dia selamat. Tapi tidak dengan ibu ku. Ibuku meninggal saat perjalanan ke rumah sakit. Sejak saat itu aku membencinya. Sangat sangat membencinya.
Bukan Cuma itu. Dia juga telah merebut semua kasih sayang ayahku. Aku tahu, aku anak pertama dan dia anak bungsu tapi, setidaknya ayahku tidak pilih kasih terhadapku. Dulu, sebelum ibu ku meninggal aku dan dia tidak dibeda bedakan alias pilih kasih. Tapi, beberapa bulan semenjak ibu ku meninggal ayah ku sangat menyayanginya dan pilih kasih.
Aku sangat tidak mengharapkan kehadirannya. Kenapa bukan dia saja yang tertabrak. Kenapa harus ibuku. Ibu yang sangat menyayangiku. Aku membencinya dan sampai kapan pun aku selalu membencinya.
***
“selamat pagi kak”
Dia baru saja menyapaku dengan sebuah senyuman yang membuat ku ingin muntah. Dan kalian pasti sudah tahu, aku tak akan membalas sapaannya dan memilih langsung berangkat ke sekolah.
“Rama kamu gak sarapan?”
“gak yah, aku sarapan disekolah”
Aku selalu menolak sarapan dirumah. Pasti kalian tahu alasannya. Yap, aku tidak mau makan semeja dengannya. Aku tidak mau makan bersama dengan seorang pembunuh.
“kak, ini buat kakak. Ini buatan aku sendiri loh. Aku jamin rasanya top dah”
Dia memberi ku sebuah kotak bekal yang melihatnya aja membuatku bergidik ngeri. Aku takut saja, siapa tahu dia sudah memberinya racun tikus atau sejenisnya. Mungkin saja setelah dia membunuh ibu ku, dia juga berniat membunuhku.
Setiap hari dia membuatkan ku bekal dan setiap hari juga aku menolaknya. Aku sendiri bingung, apakah dia tidak capek membuatkanku bekal yang sudah pasti aku tolak. Aku saja yang menolaknya kesal sendiri.
“aku gak mau”
“tapi kan, kakak belum sarapan”
“kalau aku bilang gak mau ya gak mau. ngerti kamu”
Setelah membentaknya aku langsung masuk ke mobil ku dan meninggalkannya yang diam mematung. Aku sangat kesal padanya. Sangat sangat kesal padanya.
***
Sore ini hujan turun. Aku duduk di gazebo rumah ku dan menatap hujan yang berlomba lomba turun ke bumi. aku sangat suka dengan yang namanya hujan. Entah kenapa aku sangat menyukai hujan. Dengan melihat hujan hati ku terasa tentram dan damai.
“kak nanti temaninin aku lihat pelangi ya”
Rasa tentram dan damai di hati ku seketika sirna gara-gara kehadirannya yang tiba tiba duduk di sampingku. Bayangkan, kehadirannya saja dapat menghilangkan rasa tentram dan damai dihati ku. Apalagi dengan orang yang ku sayang. Itu sangat mudah baginya.
Oh ya, tadi dia mengajak ku melihat pelangi. Dasar bodoh, sudah tahu aku tak suka dengan pelangi, kenapa dia mengajakku. Oh ternyata, selain dia pembunuh dia juga bodoh.
 Kalian mau tahu kenapa aku tak suka dengan pelangi. Aku tak suka pelangi karena namanya. Ya, dia yang kumaksud adalah pelangi ,adik ku yang berbeda setahun denganku.
“gak”
“kenapa sih kakak gak mau nemenin aku lihat pelangi. Pelangi itu indah loh kak. Gak kalah indahnya dengan hujan”
“aku benci dengan pelangi”
“apa yang kakak maksud pelangi itu aku”
Aku tersenyum miring mendengarkan ucapannya. Aku pun meninggalkannya. Aku tak mau berlama lama berada di dekatnya.
***
Hari ini adalah ulang tahun ku. Seharusnya aku bahagia. Tapi keadaan sebaliknya buatku. Kalian tahu, tepat saat aku ulang tahun ke enam tahun  ibu ku meninggal. Kalian tahu, setiap malam ulang tahun ku aku selalu bermimpi kejadian saat ibu ku tertabrak mobil. Itu sungguh membuat ku sedih dan rasa benci ku terhadapnya pun bertambah.
Pagi ini aku melihat dia dan ayah ku tertawa bersama. Bisa-bisa mereka tertawa lepas tepak duabelas tahun kepergian ibuku. Jangan jangan dia sudah meracuni pikiran ayahku.
Aku pun melewati mereka tanpa menyapanya.
“rama, sini dulu nak. Ayah mau ngomong sama kamu”
Aku pun berhenti dan menatap ayahku.
“ada apa ayah”
“ayah ingin mengucapkan selamat ulang tahun untukmu”
“iya yah. Terimakasih.”
Setelah itu aku pun pergi ke luar rumah dan segera berangkat sekolah. Baru beberapa langkah berjalan, dia memanggilku.
“kak rama, ini buat kakak. Aku buat sendiri. Mungkin rasanya nggak seenak buatan ibu. tapi kakak coba deh.”
Aku melihat kue yang dibawanya. Cake rainbow kesukaan ku sebelum ibu ku meninggal. Dan sekarang aku sama sekali tidak menyukainya. Ya karena berhubungan dengan pelangi. Jadi, intinya semua yang berhubungan dengan pelangi aku takkan menyukainya.
“aku gak mau”
“kakak coba dulu deh”
“kalau aku gak mau ya gak mau. dan ingat aku gak suka yang namanya dipaksa”
“kenapa sih kakak gak mau makan masakan aku”
“ya jelas saja aku tak mau. aku tak mau makan makanan yang sudah kamu kasih racun”
“ya ampun kak. Kenapa kakak berfikiran seperti tu. Aku gak mungkin kasih racun di masakan aku. Apalagi untuk kakak”
“ya bisa saja. Siapa tahu saja setelah kamu membunuh ibu, kamu berniat untuk membunuhku”
“gak kak. Aku gak pernah berniat membunuh kakak.”
“aku tak percaya”
Aku pun langsung meninggakannya yang berderai air mata. Sungguh sebenarnya aku tak berniat membuatnya menangis. Aku sendiri pun tak tega melihatnya menangis. Tapi aku sangat membencinya. Dan sampai kapan pun aku sangat membencinya.
Aku pun melajukan mobil ku. Kulihat dia berlari mengejar mobilku. Aku tak menggubrisnya. Malah kutambah kecepatanku menuju kesekolah.
***
Sepulang sekolah kudapati rumah ku sedang sepi. Aku pun tak melihat dia dirumah maupun disekolah semenjak kejadian tadi.  Aku pun di hantui rasa bersalah yang telah membuatnya menangis. Apalagi setelah mendengar nasehat sahabat ku tadi, bahwa kematian itu adalah takdir yang di gariskan oleh sang kuasa dan tidak ada yang boleh disalahkan. Aku pun berniat menanyakan ke pembantu ku yang sudah lama bekerja di rumah ku. Bahkan sebelum ibu ku meninggal.
“bi, pelangi mana?”
“non pelangi sekarang di rumah sakit den. penyakit Non Pelangi kumat, sewaktu mengejar mobil den Rama”
Aku yang mendengar perkataan pembantu ku pun kaget. Apa maksud perkataannya itu. Pelangi sakit apa. Berbagai macam pertanyaan pun bermunculan di otak ku.
“maksud bibi apa? Emang pelangi sakit apa bi?”
“non pelangi punya penyakit jantung den”
Aku pun kaget. Sejak kapan pelangi mempunyai penyakit itu.
“sejak kapan bi?”
“beberapa bulan setelah nyonya meninggal den”
Bagai di sambar petir aku mendengar ucapan pembantu ku. Aku pun langsung terjatuh lemas. Kakak macam apa aku ini yang tidak mengetahui penyakit adik ku sendiri. Sekarang aku tahu kenapa ayah sangat menyayangi pelangi. Aku  menyesal, sungguh sangat menyesal.
Aku pun segera bergegas ke rumah sakit. Sesampainya aku dirumah sakit aku pun langsung menanyakan ruang inap pelangi. Setelah mengetahui ruang inap pelangi aku pun langsung masuk ke ruang itu.
Ku lihat dia sedang menatap ke luar yang baru saja di guyur hujan. Alat bantu pernapasan dan infus pun menancap di tubuhnya.
“pelangi”
Sepertinya dia kaget karena aku yang tiba tiba datang. Tapi setelah itu dia menyambut ku dengan sebuah senyuman yang aku akui sangat manis.
“kak rama”
Aku pun membalas senyumannya dengan senyuman yang tak kalah manisnya. kulihat Bibirnya sedikit pucat.
“kak rama mau nemenin aku lihat pelangi. Setelah ini aku gak bakal maksa maksa kak rama lagi buat nemenin aku lihat pelangi, bawa bekal, berangkat bareng, pulang bareng atau pun lainnya yang membuat kak rama kesal. Aku janji kak”
Aku pun tercengang mendengar ucapannya.
“tapi kan pelangi lagi sakit”
Baru kali ini aku berkata lembut dengannya setelah kejadian duabelas tahun silam.
“aku gak sakit kok kak. Lihat bibir pelangi gak pucat kan”
“tapi...”kataku tapi langsung di potong oleh pelangi.
“kak please! Satu kali ini saja. Masa iya pengorbanan aku maksa dokter rendy untuk kasih obat dengan dosis tinggi harus sia sia. Aku mau lihat pelangi yang terakhir kalinya kak”
Hati ku mencolos  mendongar ucapan pelangi. Apa lagi dengan kata ‘terakhir’, air mata ku serasa mau jatuh saja. Tapi kutahan.
Atas izin dokter aku pun mengantarkan pelangi ke taman tempat ku bermain dulu dengannya. Kami pun langsung duduk di tempat favorit kita berdua dulu.
“kak, aku tahu kakak benci sama aku. Karena gara gara aku ibu jadi meninggal. Kalau boleh milih, aku rela bertukar tempat dengan ibu asalkan kakak bahagia. Aku sayang sama kakak. Sayang banget. Jadi, aku minta maaf ya kak, selama ini aku buat kakak jadi kesal”
Tak terasa air mata ku jatuh mendengar  ucapan pelangi. Aku memandangnya dengan penuh kasih sayang dan langsung memeluknya.
“kakak jangan nangis dong. Masa pangeran SMA Putra Bangsa nangis. Nanti penggemar kakak lari loh”
Aku pun tambah erat memeluknya.
“kak jangan kencang kencang dong. Aku sesak nih”
Aku pun langsung melepas pelukannya.
“kakak jangan nangis ya. Aku gak suka lihat kakak nangis. Aku lebih suka lihat senyum kakak yang buat para cewek kepek klepek”katanya sambil mengusap air mata ku.
Aku pun langsung memasang senyum untuknya. Dia juga ikut tersenyum. Baru ku sadari adik semata wayang ku sangat cantik. Jelas saja banyak yang menyukainya.
 Mata bulatnya yang bening, rambut lurusnya yang panjang, giginya yang gisul menambah kecantikannya. Beruntungnya aku mempunyai adik yang bernama pelangi.
“kak lihat deh ada pelangi”
Aku pun ikut mengeladahkan kepalah ku keatas. Kunikmati pemandangan pelangi yang sangat menakjubkan itu. Tiba tiba saja pelangi terbatuk tiada henti.
“uhuk uhuk “........ “uhuk uhuk”
Kulihat dia langsung menutup mulutnya, kulihat ada darah ditangannya.
“pelangi, kamu batuk darah”
“gak apa apa kok kak. Udah biasa”
aku pun langsung melap darahnya menggunakan jaketku. Kulihat pelangi terkejut.
“jaket kakak”
“gak apa apa”
Kulihat dia tersenyum. Setelah ku lap tangannya, pelangi pun seperti mengambil sesuatu dari tasnya.
“selamat ulang tahun kak rama. Semoga kakak panjang umur dan diberi kesehatan selalu”
Pelangi menyerahkan cake raibow yang tadi aku tolak mentah mentah. Aku pun langsung menerimanya dan ku ambil secuil kemudian memakannya.
“gimana kak? Gak enak ya”
“enak kok pelangi. Enak banget malah seenak buatan ibu”
Kulihat dia tersenyum kembali. Dan sepertinya aku sudah kecanduan dengan senyumannya.
“ini kado buat kakak. Aku buat sendiri khusus untuk kakak.”
Dia memberi ku sebuah syal. Syal berwarna putih dan kuning.
“makasih ya pelangi.”
“sama sama kak. Aku senang kalau kakak juga senang”
“uhuk uhuk”
Pelangi terbatuk lagi bahkan lebih sakit dari sebelumnya. Tangannya sudah penuh dengan darah.
“k.a.k” katanya terengah engah.
“aku boleh bersandar di bahu kak”
Aku pun mengangguk.
“aku sangat sayang sama kakak. Aku sedih kak kalau kakak sering bentak bentak aku. Tapi, sekarang aku bahagia karena sekarang kakak udak balik jadi kakaknya pelangi yang dulu.”
“uhuk uhuk”
aku pun langsung memeluknya dengan penuh kasih sayang. Tak peduli baju ku yang sudah penuh dengan darah.
“k.a.k”
“a.ku ma.u de.ngar ka.kak nya.nyi”
“pelangi minta lagu apa?”
“ter.se.rah”
Aku tau ini permintaan terakhirnya. Dengan berderai air mata aku pun menyanyikan lagu sebuah lagu.
Aku ingin engkau selalu
Hadir dan temani aku
Di setiap langkah yang meyakiniku
Kau tercipta untukku
Meski waktu akan mampu
Memanggil seluruh ragaku       
Kuingin kau tahu, kau selalu milikmu
Yang mencintaimu
Sepanjang hidupku
“ma.ka.sih kak. Pe.langi sa.yang ka.kak”
Setelah pelangi mengucapkan kalimat itu, tak lagi terasa detak jantung pelangi. Aku pun langsung melepaskan pelukanku. Ku lihat mata beningnya sudah terpejam. Dan itu berarti dia sudah pergi untuk selama lamanya.
Aku pun langsung memeluknya lagi. Tak kusangka adikku sudah pergi meniggalkanku yang penuh dengan penyesalan. Ku tatap langit dan melihat pelangi yang mulai memudar. Lalu aku kembali menatap adikku kemudian menyium keningnya.
“PELANGI AKU MENYAYANGIMU.”
***
Hujan baru saja mengguyur kota ku. Saat ini aku sedang duduk di bangku taman. Setelah kematian pelangi dua tahun yang lalu aku selalu kesini jika hujan turun. aku ingin lihat pelangi adikku yang muncul setelah hujan. Ya, aku yakin adikku pasti akan muncul bersama pelangi yang berwarna warni itu. Sekarang, aku sangat merindukannya.
Di bangku taman ini aku membaca buku diary pelangi yang baru saja aku temukan beberapa hari yang lalu.
6, maret 2013
Dear diary,
Ry,aku sangat merindukan kak rama ku yang dulu. Kak rama yang selalu menyayangiku. Tapi, menurutku kak rama pantas marah kok sama aku. Aku telah membunuh ibu. orang yang sangat kak rama sayangi. Kalau boleh memilih, aku rela bertukar tempat dengan ibuku agar aku bisa melihat senyum kak rama lagi. Kak rama adalah segala galanya buat aku setelah ibu dan ayah. Sudah dulu ya ry, penyakit menyebalkan ini datang lagi.
Pelangi.
Ku buka lembaran lembaran selanjutnya.
21, maret 2013
Dear diary,
Ry, hari ini aku melihat pelangi. Tapi, aku belum bisa melihat pelangi bersama kak rama lagi. Aku tahu kak rama benci dengan pelangi. Tapi, aku akan selalu berusaha agar kak rama menyukai pelangi. Apapun caranya. Ry, doa’in aku ya. J
Pelangi.
“kamu udah berhasil pelangi, buat aku jadi suka pelangi”
7, april 2013
Dear diary,
Ry, kamu tahu gak besok hari ulang tahunnya kak rama. Aku berencana buatin kak rama cake rainbow kesukaannya. Semoga kak rama suka ya ry. Terus aku buatin kak rama syal. Walaupun jelek sih hehehe. Aku berharap besok kak rama kembali lagi jadi kak rama ku yang dulu.
Ry, aku juga sedih karena besok tepat duabelas tahun ibu ku meninggal. Ibu pelangi rindu sama ibu. bu, doain pelangi ya semoga kak rama bisa berubah kayak dulu lagi.
Tuhan pelangi rindu dengan ibu. pelangi pingin ketemu sama ibu. tuhan, pelangi ingin kak rama berubah jadi kak rama yang dulu. Pelangi rindu lihat senyumnya kak rama.
Pelangi.
Ku tutup buku diary pelangi. Kulihat langit yang telah memunculkan pelangi. Kulihat senyum pelangi yang mengembang. Senyum yang selalu kurindukan. Ku buka buku diary pelangi dan menulis di diary itu.
8, april 2015
Hari ini adalah hari ulang tahun ku. Dan tanggal ini juga dua orang yang kusayangi pergi untuk selama-lamanya.
Ibu, aku merindukan mu. Rama minta maaf sudah jahat sama pelangi. Rama janji akan selalu mengunjungi ibu dan pelangi.
Pelangi, maafin kakak ya, kakak sudah jahat sama kamu. Pelangi, tak terasa kamu sudah dua tahun ninggalin kakak. Aku sangat merindukannmu pelangi. Apakah kamu merindakanku? Pelangi kakak janji akan selalu lihat pelangi, walaupun tidak bersamamu. Pelangi aku menyayangimu.
Tuhan, aku titip pelangi dan ibu ya. Aku ingin mereka disana tetap tersenyum. Aku tak mau mereka sedih. Apalagi karena aku.
Ibu, pelangi tunggu rama ya. Rama akan menyusul ibu dan pelangi suatu saat nanti. Rama ingin ibu dan pelangi menyambut rama di surga ya.
Salam manis,
Rama

Tidak ada komentar:

Posting Komentar