Pelangi
Kecil Ku
Aku
membencinya. Ya aku sangat membencinya. Gara-gara dia aku kehilangan kasih
sayang seorang ibu sejak umur enam tahun. Ibu ku telah menyelamatkannya, ketika
dia hampir tertabrak mobil. Dia selamat. Tapi tidak dengan ibu ku. Ibuku meninggal
saat perjalanan ke rumah sakit. Sejak saat itu aku membencinya. Sangat sangat
membencinya.
Bukan
Cuma itu. Dia juga telah merebut semua kasih sayang ayahku. Aku tahu, aku anak
pertama dan dia anak bungsu tapi, setidaknya ayahku tidak pilih kasih terhadapku.
Dulu, sebelum ibu ku meninggal aku dan dia tidak dibeda bedakan alias pilih
kasih. Tapi, beberapa bulan semenjak ibu ku meninggal ayah ku sangat
menyayanginya dan pilih kasih.
Aku
sangat tidak mengharapkan kehadirannya. Kenapa bukan dia saja yang tertabrak.
Kenapa harus ibuku. Ibu yang sangat menyayangiku. Aku membencinya dan sampai
kapan pun aku selalu membencinya.
***
“selamat
pagi kak”
Dia
baru saja menyapaku dengan sebuah senyuman yang membuat ku ingin muntah. Dan
kalian pasti sudah tahu, aku tak akan membalas sapaannya dan memilih langsung
berangkat ke sekolah.
“Rama
kamu gak sarapan?”
“gak
yah, aku sarapan disekolah”
Aku
selalu menolak sarapan dirumah. Pasti kalian tahu alasannya. Yap, aku tidak mau
makan semeja dengannya. Aku tidak mau makan bersama dengan seorang pembunuh.
“kak,
ini buat kakak. Ini buatan aku sendiri loh. Aku jamin rasanya top dah”
Dia
memberi ku sebuah kotak bekal yang melihatnya aja membuatku bergidik ngeri. Aku
takut saja, siapa tahu dia sudah memberinya racun tikus atau sejenisnya.
Mungkin saja setelah dia membunuh ibu ku, dia juga berniat membunuhku.
Setiap
hari dia membuatkan ku bekal dan setiap hari juga aku menolaknya. Aku sendiri
bingung, apakah dia tidak capek membuatkanku bekal yang sudah pasti aku tolak.
Aku saja yang menolaknya kesal sendiri.
“aku
gak mau”
“tapi
kan, kakak belum sarapan”
“kalau
aku bilang gak mau ya gak mau. ngerti kamu”
Setelah
membentaknya aku langsung masuk ke mobil ku dan meninggalkannya yang diam
mematung. Aku sangat kesal padanya. Sangat sangat kesal padanya.
***
Sore
ini hujan turun. Aku duduk di gazebo rumah ku dan menatap hujan yang berlomba
lomba turun ke bumi. aku sangat suka dengan yang namanya hujan. Entah kenapa
aku sangat menyukai hujan. Dengan melihat hujan hati ku terasa tentram dan
damai.
“kak
nanti temaninin aku lihat pelangi ya”
Rasa
tentram dan damai di hati ku seketika sirna gara-gara kehadirannya yang tiba
tiba duduk di sampingku. Bayangkan, kehadirannya saja dapat menghilangkan rasa
tentram dan damai dihati ku. Apalagi dengan orang yang ku sayang. Itu sangat
mudah baginya.
Oh
ya, tadi dia mengajak ku melihat pelangi. Dasar bodoh, sudah tahu aku tak suka
dengan pelangi, kenapa dia mengajakku. Oh ternyata, selain dia pembunuh dia
juga bodoh.
Kalian mau tahu kenapa aku tak suka dengan
pelangi. Aku tak suka pelangi karena namanya. Ya, dia yang kumaksud adalah
pelangi ,adik ku yang berbeda setahun denganku.
“gak”
“kenapa
sih kakak gak mau nemenin aku lihat pelangi. Pelangi itu indah loh kak. Gak
kalah indahnya dengan hujan”
“aku
benci dengan pelangi”
“apa
yang kakak maksud pelangi itu aku”
Aku
tersenyum miring mendengarkan ucapannya. Aku pun meninggalkannya. Aku tak mau
berlama lama berada di dekatnya.
***
Hari
ini adalah ulang tahun ku. Seharusnya aku bahagia. Tapi keadaan sebaliknya
buatku. Kalian tahu, tepat saat aku ulang tahun ke enam tahun ibu ku meninggal. Kalian tahu, setiap malam
ulang tahun ku aku selalu bermimpi kejadian saat ibu ku tertabrak mobil. Itu
sungguh membuat ku sedih dan rasa benci ku terhadapnya pun bertambah.
Pagi
ini aku melihat dia dan ayah ku tertawa bersama. Bisa-bisa mereka tertawa lepas
tepak duabelas tahun kepergian ibuku. Jangan jangan dia sudah meracuni pikiran
ayahku.
Aku
pun melewati mereka tanpa menyapanya.
“rama,
sini dulu nak. Ayah mau ngomong sama kamu”
Aku
pun berhenti dan menatap ayahku.
“ada
apa ayah”
“ayah
ingin mengucapkan selamat ulang tahun untukmu”
“iya
yah. Terimakasih.”
Setelah
itu aku pun pergi ke luar rumah dan segera berangkat sekolah. Baru beberapa
langkah berjalan, dia memanggilku.
“kak
rama, ini buat kakak. Aku buat sendiri. Mungkin rasanya nggak seenak buatan
ibu. tapi kakak coba deh.”
Aku
melihat kue yang dibawanya. Cake rainbow kesukaan ku sebelum ibu ku meninggal.
Dan sekarang aku sama sekali tidak menyukainya. Ya karena berhubungan dengan
pelangi. Jadi, intinya semua yang berhubungan dengan pelangi aku takkan
menyukainya.
“aku
gak mau”
“kakak
coba dulu deh”
“kalau
aku gak mau ya gak mau. dan ingat aku gak suka yang namanya dipaksa”
“kenapa
sih kakak gak mau makan masakan aku”
“ya
jelas saja aku tak mau. aku tak mau makan makanan yang sudah kamu kasih racun”
“ya
ampun kak. Kenapa kakak berfikiran seperti tu. Aku gak mungkin kasih racun di
masakan aku. Apalagi untuk kakak”
“ya
bisa saja. Siapa tahu saja setelah kamu membunuh ibu, kamu berniat untuk
membunuhku”
“gak
kak. Aku gak pernah berniat membunuh kakak.”
“aku
tak percaya”
Aku
pun langsung meninggakannya yang berderai air mata. Sungguh sebenarnya aku tak
berniat membuatnya menangis. Aku sendiri pun tak tega melihatnya menangis. Tapi
aku sangat membencinya. Dan sampai kapan pun aku sangat membencinya.
Aku
pun melajukan mobil ku. Kulihat dia berlari mengejar mobilku. Aku tak
menggubrisnya. Malah kutambah kecepatanku menuju kesekolah.
***
Sepulang
sekolah kudapati rumah ku sedang sepi. Aku pun tak melihat dia dirumah maupun
disekolah semenjak kejadian tadi. Aku
pun di hantui rasa bersalah yang telah membuatnya menangis. Apalagi setelah
mendengar nasehat sahabat ku tadi, bahwa kematian itu adalah takdir yang di
gariskan oleh sang kuasa dan tidak ada yang boleh disalahkan. Aku pun berniat
menanyakan ke pembantu ku yang sudah lama bekerja di rumah ku. Bahkan sebelum
ibu ku meninggal.
“bi,
pelangi mana?”
“non
pelangi sekarang di rumah sakit den. penyakit Non Pelangi kumat, sewaktu
mengejar mobil den Rama”
Aku
yang mendengar perkataan pembantu ku pun kaget. Apa maksud perkataannya itu.
Pelangi sakit apa. Berbagai macam pertanyaan pun bermunculan di otak ku.
“maksud
bibi apa? Emang pelangi sakit apa bi?”
“non
pelangi punya penyakit jantung den”
Aku
pun kaget. Sejak kapan pelangi mempunyai penyakit itu.
“sejak
kapan bi?”
“beberapa
bulan setelah nyonya meninggal den”
Bagai
di sambar petir aku mendengar ucapan pembantu ku. Aku pun langsung terjatuh
lemas. Kakak macam apa aku ini yang tidak mengetahui penyakit adik ku sendiri.
Sekarang aku tahu kenapa ayah sangat menyayangi pelangi. Aku menyesal, sungguh sangat menyesal.
Aku
pun segera bergegas ke rumah sakit. Sesampainya aku dirumah sakit aku pun
langsung menanyakan ruang inap pelangi. Setelah mengetahui ruang inap pelangi
aku pun langsung masuk ke ruang itu.
Ku
lihat dia sedang menatap ke luar yang baru saja di guyur hujan. Alat bantu
pernapasan dan infus pun menancap di tubuhnya.
“pelangi”
Sepertinya
dia kaget karena aku yang tiba tiba datang. Tapi setelah itu dia menyambut ku
dengan sebuah senyuman yang aku akui sangat manis.
“kak
rama”
Aku
pun membalas senyumannya dengan senyuman yang tak kalah manisnya. kulihat
Bibirnya sedikit pucat.
“kak
rama mau nemenin aku lihat pelangi. Setelah ini aku gak bakal maksa maksa kak
rama lagi buat nemenin aku lihat pelangi, bawa bekal, berangkat bareng, pulang
bareng atau pun lainnya yang membuat kak rama kesal. Aku janji kak”
Aku
pun tercengang mendengar ucapannya.
“tapi
kan pelangi lagi sakit”
Baru
kali ini aku berkata lembut dengannya setelah kejadian duabelas tahun silam.
“aku
gak sakit kok kak. Lihat bibir pelangi gak pucat kan”
“tapi...”kataku
tapi langsung di potong oleh pelangi.
“kak
please! Satu kali ini saja. Masa iya pengorbanan aku maksa dokter rendy untuk
kasih obat dengan dosis tinggi harus sia sia. Aku mau lihat pelangi yang
terakhir kalinya kak”
Hati
ku mencolos mendongar ucapan pelangi.
Apa lagi dengan kata ‘terakhir’, air mata ku serasa mau jatuh saja. Tapi
kutahan.
Atas
izin dokter aku pun mengantarkan pelangi ke taman tempat ku bermain dulu
dengannya. Kami pun langsung duduk di tempat favorit kita berdua dulu.
“kak,
aku tahu kakak benci sama aku. Karena gara gara aku ibu jadi meninggal. Kalau
boleh milih, aku rela bertukar tempat dengan ibu asalkan kakak bahagia. Aku
sayang sama kakak. Sayang banget. Jadi, aku minta maaf ya kak, selama ini aku
buat kakak jadi kesal”
Tak
terasa air mata ku jatuh mendengar
ucapan pelangi. Aku memandangnya dengan penuh kasih sayang dan langsung
memeluknya.
“kakak
jangan nangis dong. Masa pangeran SMA Putra Bangsa nangis. Nanti penggemar
kakak lari loh”
Aku
pun tambah erat memeluknya.
“kak
jangan kencang kencang dong. Aku sesak nih”
Aku
pun langsung melepas pelukannya.
“kakak
jangan nangis ya. Aku gak suka lihat kakak nangis. Aku lebih suka lihat senyum
kakak yang buat para cewek kepek klepek”katanya sambil mengusap air mata ku.
Aku
pun langsung memasang senyum untuknya. Dia juga ikut tersenyum. Baru ku sadari
adik semata wayang ku sangat cantik. Jelas saja banyak yang menyukainya.
Mata bulatnya yang bening, rambut lurusnya
yang panjang, giginya yang gisul menambah kecantikannya. Beruntungnya aku
mempunyai adik yang bernama pelangi.
“kak
lihat deh ada pelangi”
Aku
pun ikut mengeladahkan kepalah ku keatas. Kunikmati pemandangan pelangi yang
sangat menakjubkan itu. Tiba tiba saja pelangi terbatuk tiada henti.
“uhuk
uhuk “........ “uhuk uhuk”
Kulihat
dia langsung menutup mulutnya, kulihat ada darah ditangannya.
“pelangi,
kamu batuk darah”
“gak
apa apa kok kak. Udah biasa”
aku
pun langsung melap darahnya menggunakan jaketku. Kulihat pelangi terkejut.
“jaket
kakak”
“gak
apa apa”
Kulihat
dia tersenyum. Setelah ku lap tangannya, pelangi pun seperti mengambil sesuatu
dari tasnya.
“selamat
ulang tahun kak rama. Semoga kakak panjang umur dan diberi kesehatan selalu”
Pelangi
menyerahkan cake raibow yang tadi aku tolak mentah mentah. Aku pun langsung
menerimanya dan ku ambil secuil kemudian memakannya.
“gimana
kak? Gak enak ya”
“enak
kok pelangi. Enak banget malah seenak buatan ibu”
Kulihat
dia tersenyum kembali. Dan sepertinya aku sudah kecanduan dengan senyumannya.
“ini
kado buat kakak. Aku buat sendiri khusus untuk kakak.”
Dia
memberi ku sebuah syal. Syal berwarna putih dan kuning.
“makasih
ya pelangi.”
“sama
sama kak. Aku senang kalau kakak juga senang”
“uhuk
uhuk”
Pelangi
terbatuk lagi bahkan lebih sakit dari sebelumnya. Tangannya sudah penuh dengan
darah.
“k.a.k”
katanya terengah engah.
“aku
boleh bersandar di bahu kak”
Aku
pun mengangguk.
“aku
sangat sayang sama kakak. Aku sedih kak kalau kakak sering bentak bentak aku.
Tapi, sekarang aku bahagia karena sekarang kakak udak balik jadi kakaknya
pelangi yang dulu.”
“uhuk
uhuk”
aku
pun langsung memeluknya dengan penuh kasih sayang. Tak peduli baju ku yang
sudah penuh dengan darah.
“k.a.k”
“a.ku
ma.u de.ngar ka.kak nya.nyi”
“pelangi
minta lagu apa?”
“ter.se.rah”
Aku
tau ini permintaan terakhirnya. Dengan berderai air mata aku pun menyanyikan
lagu sebuah lagu.
Aku ingin engkau
selalu
Hadir dan temani
aku
Di setiap
langkah yang meyakiniku
Kau tercipta
untukku
Meski waktu akan
mampu
Memanggil
seluruh ragaku
Kuingin kau
tahu, kau selalu milikmu
Yang mencintaimu
Sepanjang
hidupku
“ma.ka.sih
kak. Pe.langi sa.yang ka.kak”
Setelah
pelangi mengucapkan kalimat itu, tak lagi terasa detak jantung pelangi. Aku pun
langsung melepaskan pelukanku. Ku lihat mata beningnya sudah terpejam. Dan itu
berarti dia sudah pergi untuk selama lamanya.
Aku
pun langsung memeluknya lagi. Tak kusangka adikku sudah pergi meniggalkanku
yang penuh dengan penyesalan. Ku tatap langit dan melihat pelangi yang mulai
memudar. Lalu aku kembali menatap adikku kemudian menyium keningnya.
“PELANGI
AKU MENYAYANGIMU.”
***
Hujan
baru saja mengguyur kota ku. Saat ini aku sedang duduk di bangku taman. Setelah
kematian pelangi dua tahun yang lalu aku selalu kesini jika hujan turun. aku
ingin lihat pelangi adikku yang muncul setelah hujan. Ya, aku yakin adikku
pasti akan muncul bersama pelangi yang berwarna warni itu. Sekarang, aku sangat
merindukannya.
Di
bangku taman ini aku membaca buku diary pelangi yang baru saja aku temukan
beberapa hari yang lalu.
6, maret 2013
Dear diary,
Ry,aku sangat
merindukan kak rama ku yang dulu. Kak rama yang selalu menyayangiku. Tapi,
menurutku kak rama pantas marah kok sama aku. Aku telah membunuh ibu. orang
yang sangat kak rama sayangi. Kalau boleh memilih, aku rela bertukar tempat
dengan ibuku agar aku bisa melihat senyum kak rama lagi. Kak rama adalah segala
galanya buat aku setelah ibu dan ayah. Sudah dulu ya ry, penyakit menyebalkan
ini datang lagi.
Pelangi.
Ku
buka lembaran lembaran selanjutnya.
21, maret 2013
Dear diary,
Ry, hari ini aku
melihat pelangi. Tapi, aku belum bisa melihat pelangi bersama kak rama lagi.
Aku tahu kak rama benci dengan pelangi. Tapi, aku akan selalu berusaha agar kak
rama menyukai pelangi. Apapun caranya. Ry, doa’in aku ya. J
Pelangi.
“kamu
udah berhasil pelangi, buat aku jadi suka pelangi”
7, april 2013
Dear diary,
Ry, kamu tahu
gak besok hari ulang tahunnya kak rama. Aku berencana buatin kak rama cake
rainbow kesukaannya. Semoga kak rama suka ya ry. Terus aku buatin kak rama syal.
Walaupun jelek sih hehehe. Aku berharap besok kak rama kembali lagi jadi kak
rama ku yang dulu.
Ry, aku juga
sedih karena besok tepat duabelas tahun ibu ku meninggal. Ibu pelangi rindu
sama ibu. bu, doain pelangi ya semoga kak rama bisa berubah kayak dulu lagi.
Tuhan pelangi
rindu dengan ibu. pelangi pingin ketemu sama ibu. tuhan, pelangi ingin kak rama
berubah jadi kak rama yang dulu. Pelangi rindu lihat senyumnya kak rama.
Pelangi.
Ku
tutup buku diary pelangi. Kulihat langit yang telah memunculkan pelangi.
Kulihat senyum pelangi yang mengembang. Senyum yang selalu kurindukan. Ku buka
buku diary pelangi dan menulis di diary itu.
8, april 2015
Hari ini adalah
hari ulang tahun ku. Dan tanggal ini juga dua orang yang kusayangi pergi untuk
selama-lamanya.
Ibu, aku
merindukan mu. Rama minta maaf sudah jahat sama pelangi. Rama janji akan selalu
mengunjungi ibu dan pelangi.
Pelangi, maafin
kakak ya, kakak sudah jahat sama kamu. Pelangi, tak terasa kamu sudah dua tahun
ninggalin kakak. Aku sangat merindukannmu pelangi. Apakah kamu merindakanku?
Pelangi kakak janji akan selalu lihat pelangi, walaupun tidak bersamamu.
Pelangi aku menyayangimu.
Tuhan, aku titip
pelangi dan ibu ya. Aku ingin mereka disana tetap tersenyum. Aku tak mau mereka
sedih. Apalagi karena aku.
Ibu, pelangi
tunggu rama ya. Rama akan menyusul ibu dan pelangi suatu saat nanti. Rama ingin
ibu dan pelangi menyambut rama di surga ya.
Salam manis,
Rama
Tidak ada komentar:
Posting Komentar