Minggu, 28 September 2014

SEMUA AKAN BAHAGIA PADA WAKTUNYA



SEMUA AKAN BAHAGIA PADA WAKTUNYA
    Lantunan ayat suci Al-Qur’an mengingatkanku akan almarhum ibuku yang meninggal dua tahun yang lalu. Ibu yang melahirkanku dan merawatku seorang diri sampai aku seperti sekarang.Sewaktu aku kecil aku telah diajari akan ilmu-ilmu kebaikan.Aku diajari untuk tidak pernah meninggalkan sholat.Setiap hari aku mendengarkan suara ibuku yang merdu sewaktu membaca Al-Qur’an.Lantunan ayat suci Al-Qur’an yang di baca oleh ibuku membuat hatiku tentram dan damai.Sebelum aku tidur ,aku selalu diceritakan kisah-kisah para nabi.Semua itu tidak akan perna kulupakan .Oh iya,aku dulu hanya tinggal berdua dengan ibuku.Ayahku telah meninggal sewaktu aku masih dikandung oleh ibuku.Sehingga aku tidak pernah melihat wajah  ayahku dan merasakan kasih sayang seorang ayah.
    Perkenalkan namaku Rahmawati Saputri seorang dokter spesealis jantung.Aku lahir 30 tahun yang lalu.Hidupku dulu hanya pas-pasan.Ibuku bekerja sebagai buruh cuci.
    Sewaktu aku kelas empat Sd aku ditanya oleh guruku “Rahma cita-cita mu menjadi apa?          
“Mana mungkin anak tukang cuci baju bisa menjadi dokter spesealis jantung.” Kata Ratu ,temanku sekaligus anak kepala desa di desaku.                                                                                                                                                                                                                                    
Serentak saja semua teman-temanku tertawa semua. Rasanya aku ingin menangis sejadi-jadinya. Untung ada sahabatku Lina yang menghiburku.                                                                                                            
“Sudahlah Rahma kamu tidak perlu sedih.Kan kamu tau sendiri Ratu itu sifatnya seperti iti.” Kata Lina.                                                                                                                                                                                       
“ Tapi benar kata Ratu. Aku itu hanya anak tukang cuci baju yang tidak mungkin bisa menjadi dokter apalagi spesealis jantung.”Kataku                                                                                                                                                                                 
“Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini Rahma. Aku yakin kelak kamu bisa menggapai cita-citamu. Percayalah !”kata Lina                                                                                                                                
“iya terimakasih Lina,kamu adalah sahabat terbaikku.” Kataku.                                                                              
“iya.” Kata Lina
      Semenjak itu Ratu selalu memanggilku dengan sebutan tukang mimpi. Setiap hari aku di panggil dengan sebutan itu. Perna aku ingin sekali marah dengannya. Tapi ditahan oleh Lina. Lina kwatir kalau aku berurusan sengan dia urusannya menjadi panjang. Dan pada akhirnya sewaktu kelas dua SMP kemarahanku sudah di ubun-ubun.Lina sudah menasihatiku, tetapi kemarahanku sudah tidak terbendung lagi. Ratu sudah menghina ibuku. Aku sudah tidak tahan lagi. Akhirnya di depan teman-temanku aku marah.                                                                                                                               
“ hai ratu jangan perna kau menghina ibuku. Apakah kamu kurang puas selama ini menghinaku?” kataku                                                                                                                                                                                                                                           
“emang kenyataannya ibumu yang pincang itu sebagai tukang cuci baju dirumahku kan.” Kata Ratu                                                                                                                                                                                                                                                         
“iya memang ibuku tukang cuci baju di rumahmu.Tapi aku tidak tinggal diam kalau ibuku dipanggil pincang” kataku                                                                                                                                                                                                                                        
“iya aku marah. Siapa yang tidak marah kalau ibunya dihina seperti itu. Apakah kamu tidak marah kalau ibumu dihina seperti itu.” Kataku. Ratu hanya terdiam dan pergi keluar kelas. Entah apa yang dia pikirkan sekarang. Kemudian Lina datang  menghampiriku dan menenangkanku.
     Semenjak itu Ratu tidak pernah menghinaku lagi sampai aku lulus. Aku sangat bersyukur karna Ratu sudah berubah.
    Aku pun melanjutkan sekolahku di kota. Itupun karna aku mendapatkan beasiswa.selama ini aku sekolah karna mendapatkan beasiswa. Entah apa jadinya kalau aku tidak dapat beasiswa lagi. Walaupun aku berat harus meninggalkan ibuku didesa,aku harus tetap sekolah walaupun harus berpisah dengan ibuku. Ini semua aku lakukan agar cita-citaku tercapai.
    Walaupun aku mendapatkan beasiswa untuk sekolahku SMA aku tetap bekerja,untuk aku tabung saat kuliah nanti.setip hari sepulang sekolah aku bekerja di sebuah restoran ternama di kotaku sebagai tukang cuci piring. Lumayan untuk  nambah-nambah untuk kuliah nanti. Aku takut nanti saat aku kuliah aku tidak dapat beasiswa lagi. Setiap pagi aku sekolah. Sepulang sekolah aku kerja dan pulang jam tujuh malam. Aku belajarnya setelah pulang kerja dan setelah sholat shubuh.
   Tidak seorang pun yang tahu kalau aku bekerja. Ibuku pun tidak tahu. Kalau ibuku tahu pasti aku dimarahin. Aku tidak mau terlalu membebani ibuku. Sehingga pada akhirnya salah seorang temanku mengetahuinya.
“loh Rahma kamu kerja disini ya?” kata Sinta temanku
“ iya aku kerja disini” kataku
“kamu kenapa bekerja,bukannya kamu dapat beasiswa” kata sinta
“ iya, tapi aku takut nanti aku tidak bisa melanjutkan sekolah yang lebih tinggi” kataku
“ okelah kalau itu alasanmu” kata Sinta
   Akhirnya ketika pengumuman kelulusan nilaiku menjadi nilai terbaik dikotaku. Dan aku bisa memilih kampus mana aku mau. Aku memilih salah satu kampus terbaik dikotaku. Aku disana diterima dan Alhamdulillah aku tetap mendapatkan beasiswa. Walaupun aku masih dapat beasiswa aku tetap bekerja. Rencananya uangku ini akan kuberikan ke ibuku untuk naik haji. Ibuku ingin sekali naik haji. Walaupun uangku ini belum cukup,aku yakin lama kelamaan nanti cukup juga. Aku mengambil kuliah yang masuk hanya empat kali seminggu. Agar waktu luangku bisa kupakai untuk bekerja.
    Salah satu dosenku ada yang mengetahui kalau aku bekerja.
“ eh Rahma kamu bekerja disini” kata dosenku
“ iya bu” kata ku
“kenapa kamu bekerja” kata dosenku
“ untuk mengisi waktu luangku bu” kata ku
“ kamu emangnya gak ada jam hari ini” kata dosenku
“ tidak ada bu” kata ku
“ loh bukannya kamu dapat beasiswa, kenapa gak milih kuliah setiap hari?” kata dosenku
“ tidak apa-apa bu” kata ku
“seharusnya kamu itu memilih kuliah yang setiap hari,mumpung ada kesempatan.” Kata dosenku
“(aku hanya tersenyum) bu aku permisi dulu” kata ku
“ iya silahkan Rahma” kata dosenku
    Setiap hari aku bertemu dengan dosenku. Ternyata dosenku sering kesini untuk menghilangkan penat. Aku kuliah 4 tahun ditambah 4 tahun lagi menjadi 8 tahun,karena aku mengambil jurusan kedokteran di bidang spesealis jantung.
   Akhirnya aku diwisuda. Ibuku tidak bisa datamg karena aku. Sebenarnya aku ingin saat wisuda ku ibuku dapat menemaniku. Setelah aku diwisuda aku ke biro haji untuk mendaftarkan ibuku naik haji. Gaji ku selama 11 tahun akhirnya cukup untuk naik haji ibuku. Akupun kembali kedesa dan memberikan tiketnya ke ibuku.
“ ini bu tiket untuk naik haji dan tahun ini ibu bisa naik haji.” Kata ku
“dari mana kamu merndapatkan uang untuk tiket ini nak” kata ibu
“ selama ini aku bekerja bud an ini adalah hasilnya” kataku
“ jadi selama ini kamu bekerja nak” kata ibu
“iya bu”kataku
Ibu ku menagis bahagia karna apa yang diharapkan selama ini bisa menjadi kenyataan. Akhirnya ibuku bisa naik haji.
    Selama 2 tahun aku praktek. Dan hari ini aku diangkat menjadi dokter spesealis jantung disebuah rumah sakit ternama. Aku menunggu ibuku. Tapi ibuku tidak datang-datang juga. Akhirnya aku diangkat tanpa kehadiran ibuku. Setelah pemangkatanku aku pergi kedesa dan di rumah sederhanaku ini aku ibuku sedang sakit keras. Dan hari itu ibuku meninggal dunia.sebelum ibuku pergi ibuku berpesan agar aku tidak melupakan sholat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar