Tittle :
The Guardian of Devangel Chapter 2
Cast :
Ify Alyssa as Gifyana Vita Pervetta | Sivia Azizah as Taviana Juniver | Ashilla
Zee as Nashilla Vrijkan Gonzales | Agni Tri Nubuwati as Agnita Zoettav | Rio
Stevadit as Micher Giorio Leanarda Haling | Alvin Jo as Jason Calvin Sindunatha
| Gabriel Stev as Michel Gabriel Damanik | Cakka Nuraga as Reinardo Cakka
Nuraga | Riko Anggara as Miriko Juan William | Zahra Damariva as Zahraya
Guessti Alpha | Dayat Simbaia as Day Nikholas | Aren Nadya as Arenadya Kinomi
Chan |
Genre :
Friendship, Romance, Comedy, Hurt etc (maybe)
Author :
Yanti L Ayuningsih | @yanti_lestariA
<3
-D’STATTLICH- <3
<3 -SIVA- <3
“Lo kenapa Ag?”
tanya Aren yang baru saja datang bersama Day, Riko dan juga Zahra. Tentu saja
Aren bertanya seperti itu melihat mata Agni yang sembab.
“Gue gpp kok
Ren,” jawab Agni mencoba tersenyum terpaksa. Aren menatap Agni dan Agni
membalasnya dengan senyumam dan gelengan kepala. Aren pun menghembuskan
nafasnya pasrah.
“Kok sepi Ag?”
tanya Riko heran.
“Ify, Via sama
Shilla lagi ke minimarket. Terus D’Stattlich....” Agni menjeda kalimatnya dan
membuat Riko, Day, Aren dan juga Zahra menatap Agni kepo.
“Terus...”
“Mereka pergi
bang. Gue gak bisa nahan mereka,” Riko berdecak kesal mendengar tuturan Agni.
Astaga kenapa ke empat pemuda itu sangat sangat keras kepala.
“Terus gimana?
Apa kita biarin mereka diluar tanpa kita?” Dayat angkat suara. Apalagi melihat
raut wajah Riko yang sudah frustasi sendiri membuat dia ikut ikutan frustasi.
“Ini gak bisa
dibiarin. Bisa bahaya. Belum lagi emosi mereka yang tidak bisa dikontrol. Bisa
bisa besok kita dapat panggilan dari polisi karna ulah mereka lagi,” ucap Riko
yang mengingat kejadian dua minggu lalu. Ia ditelpon polisi karna Gabriel telah
menghajar anak polisi yang merupakan lawan balapan motor D’Stattlich. Untung
saja saat itu Riko berhasil meyakinkan polisi dan berakhir damai.
“Terus gimana
Bang? Kita tau mereka kemana aja nggak,” komen Aren. Riko mengacak rambutnya
frustasi. Benar kata Aren. Ia sendiri juga tidak mengetahui dimana keberadaan lelaki
Iblis itu.
“Emang tadi
mereka gak bilang mau kemana gitu Ag?”
Agni tersenyum
miring lalu menggelengkan kepalanya. “Gak Bang. Lagian gue siapa mereka,” Agni
beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju kamarnya dilantai atas.
***
“Eh eh stop
stop,” Shilla menepuk nepuk pundak Via yang memang sedang mengemudikan motor.
Via yang mendengar teriakan Shilla memekakkan telinga pun menghentikan laju
motornya secara mendadak.
“Astaga Vi lo
bisa naik motor gak sih,” ucap Ify kesal. Pasalnya hampir saja Ify menabrak
motor Via dari belakang.
“Salahin tuh
Shilla,” kata Via tak terima kemudian menoleh kebelakang menatap Shilla. “Emang
ada apaan sih Shill?”
“Eh itu tadi gue
D’ Stattlich lewat. Cepetan kejar mereka. Mereka Cuma berempat,” perintah
Shilla.
“Hah?” Via dan
Ify cengo tidak mengerti ucapan Shilla yang begitu cepat. Shilla yang melihat
itupun langsung mengambil alih motor dan untungnya Via ntah sadar atau tidak
menyerahkan motornya ke Shilla kemudian duduk dibelakang Shilla.
Shilla pun
memutar balikkan motornya lalu melajukan dengan kecepatan tinggi. Ify pun akhirnya
sadar dan mengikuti Shilla dari belakang.
***
“Ngaapain kita
ketempat ginian Shill?” tanya Via dan turun dari motor.
“D’Stattlich ada
disini,” ucap Shilla sambil melepas helmnya dan mencabut kunci motor kemudian berjalan masuk kedalan sebuah
diskotik terkenal dikota. Diskotik yang terkenal tempat para pria hidung belang
melepas penak. Ya, karena disini sarangnya para perempuan malam.
“Vi, Shilla
ngapain ajak kita kesini?” tanya Ify yang tau tau sudah berdiri disamping Via.
Via tersentak kaget kemudian menoleh kearah Ify.
“D’Stattlich ada
disini,” jawab Via kemudian menggeret tangan Ify masuk kedalam diskotik.
“Darker club,”
gumam Ify yang sempat membaca nama diskotik itu.
***
Suara dentuman
musik yang merusak telinga menyambut kedatangan Shilla, Via dan Ify. Bukan Cuma
itu, kelakuan bejat para anak manusia sudah tersuguh begitu menjijikkaan dimata
mereka. Bau minumal alkohol ditambah pemandangan ‘itu’ membuat mereka ingin
muntah ditempat. Astaga ini lebih menjijikkan dari sampah.
Mata mereka
mulai menyapu ruangan sarang neraka itu. Mereka harus segera menemukan
D’Stattlich dan menyeret mereka pulang. *kayakberaniaja
“Eh itu mereka,”
tunjuk Via membuat Shilla dan Ify mengalihkan pandangan mereka kearah yang
dimaksud Via.
“Gabriel...”
seru Shilla dan langsung berjalan kearah Gabriel. Ify dan Via hanya saling
pandang sebentar kemudian berjalan mengikuti Shilla.
Gabriel menoleh
mendengar sebuah suara yang menembus gendang telinganya. Shock, tapi dengan
pandainya ia merubah wajahnya menjadi dingin kembali. Begitupula dengan Rio,
Alvin dan Cakka.
“Oke, dia
taruhan gue,” ucap Gabriel setibanya Shilla, Via dan Ify.
Shilla seketika
membulatkan matanya mendengar kata ‘taruhan’. Apakah para lelaki ini sedang
bertaruh??
“Dia?” tanya
lelaki yang berdiri dihadapan Gaabriel sambil menatap Shilla.
“Iya. Lo boleh
milikin dia kalau gue kalah dari balapan ini,” ucap Gabriel datar membuat
Shilla menganga tidak percaya. Jadi, ia akan menjadi bahan taruhan Gabriel??
Tega-teganya Gabriel melakukan ini kepadanya. Apa sebenarnya salahnya?
“Oke gue
terima,” ucap lelaki tersebut sambil memandang Shilla dengan tatapan ewhhh...
pengen ditabok.
“Gue gak mau,”
seru Shilla. Air matanya mulai jatuh. Ia takut. Sangat-sangat takut. apalagi
lelaki itu menatapnya dengan tatapan lapar. “Gue gak mau sama dia,” isaknya
sambil menunjuk pemuda yang ada dihadapan Gabriel.
Gabriel langsung
menarik lengan Shilla menjauh. Setibanya di lorong sempit, Gabriel langsung
mengunci pergerakan Shilla ditembok. Sepi, gelap dan jauh dari keramain
menambah betapa tegangnya keadaan dilorong itu.
“Mau gak mau lo
harus mau Nashilla,” ucap Gabriel dingin. Matanya menatap tajam Shilla. Shilla
dengan beraninya menatap balik mata berpupil biru legam itu.
“Gak. Gue gak
mau jadi bahan taruhan elo,” kata Shilla berani. Perasaan marah, kesal dan
takut campur jadi satu. Air matanya tetap setia mengalir membasahi pipinya. “Lo
pikir lo siapa, hah,” ujarnya kemudian.
Gabriel
tersenyum miring, “Bukannya gue ini tunangan lo Nashilla. So, gue berhak atas
lo.”
Shilla
mengepalkan tangannya mendengar perkataan Gabriel. Sungguh, Gabriel sudah
keterlaluan pada dirinya. Menjajah Shilla seenaknya sendiri. Menjadikannya
bahan taruhan tanpa memikirkan nasib Shilla nantinya. Emang brengsek Gabriel!!
Batinnya.
“Da-shffffttt,”
ucapan Shilla terpotong. Mulutnya terkunci oleh bibir Gabriel yang mulai
bermain dibibirnya. Shilla mencoba memberontak tapi, tidak bisa. Tangannya
digenggap erat oleh Gabriel. Sekarang Shilla hanya pasrah dilecehkan oleh
Gabriel. Ya, dicium secara paksa merupakan sebuah pelecehan??
Gabriel melepas
ciumannya kemudian mengusap bibir bawah Shilla menggunakan ibu jarinya. “Anggap
aja itu hadiah buat elo karena lo mau jadi bahan taruhan gue.”
PLAKK
“Lo brengsek
Gabriel!!” maki Shilla menatap Gabriel tajam. Gabriel hanya tersenyum miring
menanggapinya. “Lo cowok paling brengsek yang pernah gue temuin!! Lo gak punya
hati gabriel!!!”
“Udah,” ucap
Gabriel dengan santainya sambil bersandar didinding tepat disamping Shilla.
Sebuah senyum tersungging dibibirnya. Shilla, ia hanya melirik sekilas dan
tertegun ketika melihat Gabriel tersunyum. Jujur baru kali ini ia melihat
Gabriel tersenyum. Wajahnya yang tampan berlipat dua kali tampannya. Tidak
seperti biasanya yang memasang wajah tembok tetapi tetap mempesona. *eh
“Terpesona,
heh?” Shilla merutuki dirinya sendiri yang melamun sambil memandangi wajah
Gabriel. Terlihat Gabriel tersenyum mengejek kearahnya. Shilla menegakkan
badannya kemudian menggeser sisi kiri tubuh kirinya 45 derajak kedepan.
Jadinya, ia meniru sikap Gabriel. Bedanya Shilla tidak bersandar pada tembok.
“Terserah lo
deh.” Ucap Shilla kemudian berjalan meninggalkan Gabriel.
Gabriel segera
mencekal tangan Shilla kemudian menariknya sehingga Shilla sekarang berdiri
dihadapannya.
Gabriel
menegakkan badannya dan menatap Shilla tajam. “Mau kemana lo?!”
Shilla berdecak,
“Ya pulang lah. Ngapain disini.”
“Lo tetap jadi
bahan taruhan gue Nashilla,” ucap Gabriel kembali dingin. Astaga cepat sekali
mood pria ini berubah.
“Gue gak mau
Gabriel. Gue gak mau sama dia.”
“Lo nyuruh lo
jadi bahan taruhan gue Shill, bukan ngasih lo ke dia.”
“Terus apa
bedanya? Lo kalah gue jadi jalang-nya cowok itu Gabriel,” ucap Shilla kesal.
Mengatai dirinya sendiri jalang, astaga!
“Gue gak akan
kalah! Lo akan tetap jadi milik gue,” ucap Gabriel penuh penekanan. Tangan
Gabriel terulur menyentuh pipi Shilla.
tanpa disadari kini Shilla didalam pelukannya. “Percaya sama gue Shilla. Lo
akan tetap menjadi Nashilla Damanik,” bisik Gabriel ditelinga Shilla kemudian
menciumnya.
***
Ify dan Via
menatap kepergian Gabriel yang tengah menyeret Shilla entah kemana. Didalam
otak mereka Gabriel sudah gila karena
menjadikan Shilla jadi bahan taruhan. Melakukan taruhan dengan cowok-cowok
hidung belang yang tengah berdiri dihadapan D’Stattlich –minus Gabriel
tentunya- dan menatap Ify dan Via dengan tatapan lapar.
“Teman lo udah
gila tau gak,” buka Ify sambil menatap Rio yang tengah menatap dirinya tajam.
“Gue juga bakal
lakuin hal yang sama sepeti Gabriel kalau posisi gue seperti dia,” Rio
tersenyum miring setelah mengucapkan kata-kata itu. Ify membelalakkan matanya.
Dasar cowok berwajah malaikat berhati iblis!! Batin Ify kesal.
“Kalau
cewek-ceweknya kayak mereka gue juga mau Yo,” celetuk salah satu cowok yang
memiliki rambut berwarna pirang.
Ify menatap
cowok tersebut. Keren sih, tapi kelakuannya itu yang membuat Ify membatalkan
memasukkan cowok tersebut ke playlist cowok terkeren versinya. Cih, cowok kayak
gini mah dibuang kelaut aja, batinnya.
“Dan gue yakin,
takdir hidup lo akan berubah,” ucap Rio dingin.
‘Yaiyalah takdir
hidup dia berubah, secara sama gue, Gifyana Pervetta,” batin Ify jengkel.
***
BROM BROM BROM
BROOOMMM
Suara
saut-sautan deruman (?) motor menjadi backsound di sirkuit yang letaknya
dibelakang Darker Club. Ditengah jalan (?) Gabriel dan lawannya telah duduk dimotor
mereka masing-masing. Rio, Alvin dan Cakka berdiri disisi kiri jalan sedangkan
Shilla, Ify dan Agni berdiri disisi kanan.
Shilla sedari
tadi sudah komat-kamit tidak jelas. Perutnya mules mau muntah. Keringat dingin
mulai menghinggapi dirinya. Pikiran-pikiran gak baik mualai merasuki otaknya.
Aduh, bisa mampus dirinya kalau Gabriel kalah.
Ify melirik Via
yang berdiri disamping kanannya. Wajahnya begitu semangat. Tentu saja, Via
paling menggilai balapan. Entah itu balapan mobil maupun motor. F1 maupun
motogp. Didalam kamar mereka punbanyak poster Valentino Rossi. Helm morornya
pun ada stiker angka 46 dan the doctor. Seminggu yang lalu pun Via membeli
poster foto Rio Hariyanto pembalap muda F1 dari Indonesia. Dan betapa sebalnya
Via, setelah tau kalau posternya itu hilang entah kemana. Katanya sih, disimpan dimeja ruang tengah. Akhirnya
umpatan-umpatan sehari penuh keluar dari mulut Via.
Ify mengalihkan
pandangannya kearah Shilla yang berdiri disamping kirinya. Terlihat Shilla
tengah gelisah, galau, merana alias gegana *eh. Ify tau, Shilla pasti khawatir
kalau Gabriel kalah. Jujur saja ia juga khawatir.
“Tenang aja
Shill, gue yakin Gabriel pasti menang,” ucap Ify sambil memegang bahu Shilla.
Shilla menoleh menampakkan wajah tegangnya membuat Ify tambah kasihan.
Shilla tersenyum
tipis kemudian menatap Gabriel dengan penuh keyakinan. Ia yakin Gabriel pasti
menang. Lagian Gabriel sudah janji kalau dia pasti akan memenangkan balapan
ini. Huft, tenang Shilla, batin Shilla.
“Lagian kalau
Gabriel kalah ya, kita langsung kabur aja,” celetuk Via tiba-tiba. Ify dan
Shilla menatap Via cengo.
“Hmm, boleh juga
sih,” jawab Shilla polos. Ify pun ikut-ikutan mengangguk.
“Waah tumben lo
cerdas Vi,” ucap Ify membuat Via mendengus sebal. Via pun lebih memilih menatap
kedepan karena sebentar lagi balapan akan dimulai.
***
“One, Two
Three,” cewek yang berdiri didepan kedua pembalap itupun mengangkat bendera
bermotif caturnya. Tanpa hitungan detik kedua motor itupun melaju dengan cepat
meninggalkan garis start.
Suara sorakan mulai
terdengar. Suara teriakan para pendukung kedua pembalap itu mulai terdengar
memekakkan telinga. Kepala mereka juga mengikuti kemana perginya kedua manusia
pembalap itu. Apalagi salip-menyalip mewarnai adu balap tersebut.
Shilla menggigit
bawah bibirnya melihat kalau lelaki itu yang memimpin balapan. Shilla melihat
jarak Gabriel dengan lelaki itu cukup jauh. Sepertinya Gabriel sengaja.
Entahlah.
“Wah gawat
Shill, sebaiknya kita kabur,” ujar Ify tiba-tiba. Shilla langsung menatap Ify
takut. matanya mulai berair.
Ify menepuk
pundak Via, “Vi, ayo kita pulang.”
Via menoleh dan
menatap Ify merengut. “Ihh Fy, bentar lagi napa. Udah hampir finish juga.”
“Nah karena itu
kita harus cepat pulang Via sayang. Lo gak liat kalau yang mimpin sakarang
cowok lawannya si Gabriel. Lo ma—“ belum sempat Ify menyelesaikan ucapannya Via
langsng menariknya dan juga Shilla. Mereka berlari cepat kearah parkiran.
“Eh ngapain lo
bertiga kesini?” Ify, Via dan Shilla menghentikan lari mereka. Mereka bertiga
menatap dua orang pemuda yang menatap mereka bingung.
“Em mau pulang
bang,” balas Via yang hendak akan berlari lagi tapi, segera ditahan oleh Ify.
“Ishh ayo Fy,”
ucap Via. Shilla hanya mematung ingin menangis. Riko dan Dayat yang merupakan
dua pemuda tadi menatap ketiga wanita itu dengan tatapan bingung.
“Disirkuit ada
D’Stattlich,” ucap Ify kemudian meninggalkan Riko dan Dayat. Apa daya kekuatan
Via lebih kuat darinya.
Tanpa berfikir
lagi, Riko dan Dayat pun berlari kearah sirkuit. Sebelum terjadi apa-apa mereka
harus segera kesana.
***
Shilla segera
berlari kekamar yang berada dilantai atas. Aren dan Zahra yang duduk diruang
keluarga menatap Shilla bingung. Sepertinya Shilla menangis.
Tak lama
kemudian Ify dan Via datang dan berjalan kearah Zahra dan Aren.
“Eh si Shilla
kenapa nangis?” tanya Aren. Ify dan Via saling pandang kemudian dengan kompak
mereka mengangkat bahu mereka kompak. Zahra dan Aren pun mentap mereka berdua
tajam.
“Panjang
ceritanya,” ucap Via akhirnya.
“Yaudah
ceritain,” buru Zahra. Via menggeleg kemudian menguap.
“Huh besok aja
ya gue ngantuk,” kata Via dan berjalan kearah tangga.
“Oh ya ni
belanjaannya. Lo tata sendiri ya? Gue udah ngantuk,” ucap Ify kemudian
mengikuti jejak Via menaiki tangga menuju kamar mereka.
***
Agni membuka
matanya ketika merasakan suara isakan yang berada disampingnya. Ia pun memutar
kepalanya kebelakang dan mendapati Shilla yang berbareng memunggunginya.
Bahunya bergetar membuat Agni mengerenyikan keningnya.
“Lo kenapa
Shill?” tanya Agni yang sudah mengubah posisinya menjadi duduk. Matanya menatap
Shilla yang juga menatapnya shock.
“Eh Sorry Ag,
gue ganggu elo ya?” ucap Shilla sambil menghapus air matanya dan segera
mengubah posisinya menjadi duduk.
“Lo kenapa
nangis?” tanya Agni. Shilla tersenyum tipis kemudian menggelengkan kepalanya.
“Gue gpp kok
Ag,” jawab Shilla beserta gelengan sebagai pendukung.
“Tap—“
“Lo tanang aja
Ag, gue gpp kok. Lebih baik kita tidur. Besok kan kita sekolah,” ucap Shilla
sambil tersenyum kemudian membaringkan kembali tubuhnya.
Agni menatap
Shilla prihatin. Ada sebuah rasa sakit dimata Shilla. Jujur ia penasaran kenapa
Shilla seperti itu. Tapi, ia tidak akan memaksa Shilla untuk bercerita
sekarang. Mungkin besok. Ya besok ia akan bertanya kembali pada Shilla.
Agni mengalihkan
pandangannya kearah pintu ketika mendengar suara pintu terbuka. Terlihat Ify
dan Via memasuki kamar dengan muka lelah. Seketika Agni teringat kalau Ify dan
Via tadi pergi bersama Shilla. Ia yakin mereka berdua pasti tau penyebab Shilla
menangis seperti itu.
“Eh si Shilla
kenapa nangis?” tanya Agni.
Via
menghembuskan nafas lelah, “Besok aja Ag. Gue ngantuk,” ucap Via kemudian
berbaring di bed yang berada disamping Agni. Ify semenjak menginjakkan kakinya
masuk kekamar ia sudah tepar disamping Via.
“Tapi, gue kepo Vi,”
ucap Agni.
“Besok Ag,”
jawab Via dengan mata yang sudah tertutup.
“Gue kepo maks
Vi,” ucap Agni tetap memaksa Via.
“Yaudah minum
obat pengurang kepo,” ucap Via mulai ngelantur.
“Ishh Via gue
serius,” ucap Agni dengan menahan volume suaranya agar tidak membangunkan Ify
dan Shilla.
Via membuka
matanya lalu menatap Agni tajam, “Stop it Agni. Gue ngantuk.”
Agni merengut
menatap Via yang kembali menutup matanya. Huhh, sepertinya ia memang harus
segera mencari obat penurun penyakit kepo akutnya. Hadehh.
***
On that lonely night (Lonely night)
You said it wouldn’t be love
But we felt the rush ( Felt the love)
It made us believe it there was only us (only us)
Convinced we were broken inside, yeah
Inside, yeah
....
Agni keluar dari
kamar mandi dengan wajah segar. Ditatap sahabatnya satu persatu. Shilla masih
tidur dengan enak. Via juga. Tapi, ia telah memakai seragam. Ify tengah duduk
sambil memejamkan matanya. Tangannya memegang benda persegi empat yang
mengeluarkan musik yang jujur membuat Agni langsung jatuh cinta. Lirik-liriknya
itu yang menurutnya menyimpan maksud tertentu dan jujur ia ingin tau apa
maksudnya.
Agni berjalan
kearah jendela. Matahari terlihat masih malu-malu menampakkan sinarnya. Ya
tentu saja, jam masih menunjukkan pukul lima pagi. cukup pagi dan seharusnya ia
masih tidur cans didampingi guling kesayangannya. Huhh..
Agni menatap jam
digital yang terletak di nakas. Terlihat angka 5:13. Ia pun segera bergegas
keluar kamar dan membiarkan para sahabatnya untuk tetap tidur.
***
Agni
menghentikan langkahnya melihat seorang cowok yang sedang membuka pintu kulkas.
Ia mengerenyitkan keningnya melihat Cakka –cowok itu- minum air es. Heh,
pagi-pagi minum air es? Gak kembung tuh perut, batinnya heran.
MAMPUS
Seketika Agni
salting karena tertangkap basah memperhatikan Cakka. Dengan kaku ia pun
mengalihkan pandangannya dan berjalan melewati Cakka. Toh, memang awalnya ia
kan kesini. Ingin memasak untuk penghuni rumah ini. Huhu berasa pembantu deh.
Agni mengutuk
dirinya sendiri menjadi patung. Diam, berdiri didepan kompor dengan mulut yang
masih komat kamit. Aishh bodoh bodoh. Seharusnya tadi ia tak usah kesini. Buat
apa ia disini kalau Cakka masih berdiri ganteng didepan kulkas. Nah didalam
kulkas itu ada bahan-bahan buat masak. Terus ia ngambilnya gimana. Aishh..
Agni mencoba
berfikir lagi. Apa yang harus ia lakukan sekarang. Gak mungkin kan mau balik
lagi. Ya kali ke dapur Cuma numpang berdiri. Ahaa... sebuah ide terlintas
dikepala Agni. Ya sebaiknya ia masak nasi dulu. Ya benar. Astaga kenapa ia bisa
lupa dengan masak nasi.Seharusnya masak nasi itu yang paling utama.
Agni berjalan
membuka lemari kaca penyimpanan panci ricecooker. Ia meengambilnya kemudian
berdiri mematung (lagi). Kali ini ia berdiri mematung mengarah ke Cakka yang
masih setia berdiri disamping kulkas dengan tangan yang ia masukkan kecelana
pendeknya.
Agni kembali
merutuki dirinya. Dasar bodoh. Tempat beras kan berada disamping kulkas. Gak
mungkin juga kan ia berdiri dismping Cakka mengingat kejadian semalam.
Gini-gini ia masih marah ke Cakka *nahloh.
Dengan segala
keberanian Agni pun memilih berjalan mengambil beras. Tak peduli kalau ada
Cakka disampingnya. Toh gak ngaruh juga
buat dirinya. *tapiyangngaruhjantungnya*whaks*. Ia pun berjongkok disamping
Cakka dan mengambil beras secukupnya. Hadeh, ngerasa jadi budaknya si Cakka
gue, batinnya.
Agni pun kembali
berdiri dan berjalan kearah wastafel. Dengan terampil tangannya mulai
menari-nari didalam beras bersama air. Membersihkan tepung putih yang mnempel
pada beras. Setelah acara pencucian selesai Agni pun memasukkannya kedalan
ricecooker.
Agni kembali
bingung akan berbuat apa. Halahh si Cakka pake acara jadi model dadakan sih.
Kan jadinya ia bingung mau ngambil bahan buat sandwich sederhana untuk sarapan.
Ahh kapan sih si Cakka itu pindah dari sana.
Kalau gini terus
bisa-bisa satu rumah gak jadi sarapan. Huhh kayaknya ia harus nekat lagi.
“Hmm Kka, boleh
geser dikir nggak?” ucap Agni membuka suara. Cakka pun dengan nurut menggeser
tubuhnya ‘sedikit’.
HHHAHHH
Ingin rasanya
Agni memakan cowok yang ada dihadapannya hidup-hidup. Iya sih geser dikir tapi,
gak dikit-dikit banget juga kali. Masa iya geser Cuma sejengkal. Yakali. Buat
buka kulkas aja gak bisa :3
“Hmm, Cakka lo
bisa GESER BANYAK nggak? Gue mau buka kulkasnya,” ucap Agni dengan penuh
penekanan pada kata yang di caps lock. Geser banyak? Kata dari mana tuh?
Cakka pun
bergerak membuka kulkasnya. Agni pun cengo menatap Cakka. Cakka ia hanya
menunjukkan senyum miringnya.
“Katanya lo mau
buka kulkasnya. Yaudah gue bukain,” ucap Cakka datar.
Agni pun
melongos kemudian mengambil bahan-bahan yang akan dibuat sandwich. Setelah itu
ia pun berjalan kearah meja meletakkan bahan-bahannya dan bersiap membuat
sandwich sederhana ala dirinya.
Setelah menutup
kulkas Cakka pun datang menghampiri Agni dan duduk disamping wanita manis itu.
Matanya sibuk mengikuti pergerakan gadis-nya yang sedang membuat entah ia pun
tak tau.
“Mau buat apa?”
Agni pun menoleh
dan menatap kaget Cakka jujur saja ia tak sadar kalau Cakka sudah duduk
disampingnya.
“Mau buat
sandwich,” jawab Agni dan kembali fokus pada bahan-bahannya.
“Gue bantuin
ya?” ucap Cakka membuat Agni menatap Cakka cengo. Tadi, Cakka ngomong apa?
boleh direplay nggak?
“Hah? Lo tadi
ngomong apa?” tanya Agni kemudian memasang telinganya baik-baik.
Cakka berdecak
kesal kemudian mengambil alih kocokan telur dari tangan Cakka. “Sebaiknya lo
panggang rotinya dulu. Biar gue yang buat kocokan telurnya.”
Agni menganga
tidak percaya akan sikap Cakka? Semalam bukannya Cakka membencinya. Tapi,
kenapa sekarang ia bersikap manis seperti ini. Sungguh membingungkan.
“Kok malam
ngelamun sih lo. Cepetan lo panggang rotinya,” ucap Cakka mengembalikan
kesadaran Agni.
“Tapi, lo-lo kan
belum siap-siap,” kata Agnu memperhatikan penampilan Cakka yang masih memaki
kaos berwarna putih dan celana pendek. Huuhhh betapa seksinya
*penulismulaingaco.
“Tenag, gue udah
mandi,” ucap Cakka yang dibalas anggukan oleh Agni.
“Oh ya Ag, gue
pake telus ceplok ya. Gue gak suka telor dadar,” Agni pun menngangguk dan
berjalan kearah teflon. “Dan....” dengan reflek Agni menghentikan langkahnya
dan menatap Cakka yang juga menatapnya. “Gue mau lo harus ingat itu semua.”
***
“OH GOD,”
histeris Aren yang melihat Cakka dan Agni yang tengah membuat sandwich bersama.
Matanya membuat shock melihat Cakka yang mau berdekatan dengan wanita. Genk
yang bernam D’Stattlich itu tidak pernah mau berdekatan dengan wanita, karena
apa? karena menrut mereka wanita itu virus penyakit yang harus dihindari.
Cakka dan Agni
sontak menolehkan wajah mereka melihat Zahra dan Aren yang tengah berdiri
dengan wajah kaget. Melihat itu, Cakka pun berdiri dari duduknya dan segera
meninggalkan dapur, melewati Aren dan Zahra tentunya.
Aren dan Zahra
pun segera menghampiri Agni yang masih sibuk menata sandwichnya.
“Ag, kok bisa
Cakka ada disini?” tanya Aren.
“Bisa aja lah.
Kenapa gak bisa coba,” jawab Agni yang tetap sibuk.
“Yaa kan lo tau
kalau D’Stattlich it—“
“Gue gak tau!!”
potong Agni dan membawa Sandwichnya menuju meja makan. Kalau diladeni terus,
pasti si Aren gak akan berhenti nanya dan lama-kelamaan pasti bakal ngelantur
gak jelas. Huh!
***
“Aihh Agni
kenapa lo gak bangunin gue sih,” marah Ify yang tiba-tiba datang bersama Via.
Via pun ikut-ikut mengangguk dan mengerucutkan bibirnya.
“Baru aja gue
mau bangunin elo.”
“Ahh telat tauk
Ag,” kesal Ify dan memilih duduk kemudian mengambil sepotong sandwich lalu
memakannya.
“Terus ini siapa
yang buat?” tanya Via dan tangannya siap mengerilya makanan berbantal roti
tersebut.
“Ehhh,” Agni
menampik tangan Via. “Ini buat Cakka. Noh buat lo.”
Via menatap Agni
menggoda. Begitupa Ify yang sepertinya sudah bersiap melontarkan kata-kata
godaan.
“Oh gitu ya
sekarang. Buat Cakka dikhususin,” mulai Ify.
Agni melongos
kesal,” Bukan g—“
“Ck-ck pagi-pagi
udah berantem aja lo pada,” ujar Riko yang datang bersama Dayat, D’Stattlich
dan juga Aren serta Zahra. Mereka telah duduk dikursi mereka masing-msing.
“Siapa bilang
berantem. Orang kita santai aja,” ucap Via kemudian menggigit Sandwich yang ada
ditangannya. Tak peduli ada piring dihadapannya. Toh, enak makan pake tangan.
*yaiyalahmasapakaikaki*
“Eh
ngomong-ngomong Shilla mana?” tanya Zahra yang diangguki oleh Riko, Dayat dan
juga Aren. D’Stattlich mereka sibuk dengan makan masing-masing.
“Gak sekolah
Ra?” jawab Ify yang ternyata sudah selesai sarapan.
“Kenapa?Sakit?”
Ify menggeleng,
“Nggak. Tapi karena... someone pokoknya.”
“Apa gara-gara
semalam?” tanya Dayat. Ify pun mengerenyitkan keningnya kemudian mengangguk. “Lah
apa hubungannya?”
“Kan g—“
“Oh ya semalam
yang menang siapa?” potong Via. Ify pun mendengus kesal dan Via
menghiraukannya.
“Gabriel,” jawab
Dayat.
“Whoaa Fy,
ternyata semalam yang menang tuh Gabriel bukan cowok yang tak dikenal itu.
ck-ck kalau tau gini semalam kita gak usah pulang,” cerocos Via. Ify pun
mengangguk dalam hati membenarkan ucapan Via.
“Lah terus
ngapain lo semalam pulang?” tanya Riko.
“Kan gini bang,
kita bertiga itu punya rencana. Kalau ternyata Gabriel berada dalam tanda-tanda
kalah kita bakal kabur nyelamtin si Shilla,” jelas Via. Riko dan Dayat pung
nganggu-ngangguk.
“Wah ide siapa
tuh? Cerdas banget,” tanya Dayat.
“Ya ide gue
dong,” ucap Via membanggakan diri.
“Lo pada
ngomongin apaan sih?” celetuk Agni dengan wajah bingung.
“Iya nih, lo
semua ngomongin apa? Emang semalam ada apa?” tanya Aren kemudian.
“Hahaha kepo
yaaaa?” goda Via.
“Sekali lagi lo
ngomong kepo ya, gue gak bakal segan-segan nyemplungin lo kelaut,” ancaM Agni.
Via pun membentuk salam dua jari minta damai.
“Hehehe, nanti
aja deh gue jelasin,” ucap Via takut sendiri ditatap tajam oleh Agni, Zahra dan
juga Aren.
***
Huaa selamat
malam semuaa...
Malam-malam
malah ngepost
Maafkan ketidak ngefeelan cerita ini. Karena
jujur bingung mau diapain cerita ini. Hehehe
Awas ada ranjau typo’s yang banyak tersebar
disepanjang part ini..
Thanks...
