SEMUA AKAN BAHAGIA PADA WAKTUNYA
Lantunan ayat suci Al-Qur’an mengingatkanku akan almarhum ibuku yang
meninggal dua tahun yang lalu. Ibu yang melahirkanku dan merawatku seorang diri
sampai aku seperti sekarang.Sewaktu aku kecil aku telah diajari akan ilmu-ilmu kebaikan.Aku
diajari untuk tidak pernah meninggalkan sholat.Setiap hari aku mendengarkan
suara ibuku yang merdu sewaktu membaca Al-Qur’an.Lantunan ayat suci Al-Qur’an
yang di baca oleh ibuku membuat hatiku tentram dan damai.Sebelum aku tidur ,aku
selalu diceritakan kisah-kisah para nabi.Semua itu tidak akan perna kulupakan
.Oh iya,aku dulu hanya tinggal berdua dengan ibuku.Ayahku telah meninggal
sewaktu aku masih dikandung oleh ibuku.Sehingga aku tidak pernah melihat
wajah ayahku dan merasakan kasih sayang
seorang ayah.
Perkenalkan namaku Rahmawati Saputri seorang dokter spesealis
jantung.Aku lahir 30 tahun yang lalu.Hidupku dulu hanya pas-pasan.Ibuku bekerja
sebagai buruh cuci.
Sewaktu aku kelas empat Sd aku ditanya oleh guruku “Rahma cita-cita mu menjadi
apa?
“Mana mungkin anak tukang cuci baju bisa
menjadi dokter spesealis jantung.” Kata Ratu ,temanku sekaligus anak kepala
desa di desaku.
Serentak saja semua teman-temanku
tertawa semua. Rasanya aku ingin menangis sejadi-jadinya. Untung ada sahabatku
Lina yang menghiburku.
“Sudahlah Rahma kamu tidak perlu
sedih.Kan kamu tau sendiri Ratu itu sifatnya seperti iti.” Kata Lina.
“ Tapi benar kata Ratu. Aku itu hanya
anak tukang cuci baju yang tidak mungkin bisa menjadi dokter apalagi spesealis
jantung.”Kataku
“Tidak ada yang tidak mungkin di dunia
ini Rahma. Aku yakin kelak kamu bisa menggapai cita-citamu. Percayalah !”kata
Lina
“iya terimakasih Lina,kamu adalah
sahabat terbaikku.” Kataku.
“iya.” Kata Lina
Semenjak itu Ratu selalu memanggilku dengan sebutan tukang mimpi. Setiap
hari aku di panggil dengan sebutan itu. Perna aku ingin sekali marah dengannya.
Tapi ditahan oleh Lina. Lina kwatir kalau aku berurusan sengan dia urusannya
menjadi panjang. Dan pada akhirnya sewaktu kelas dua SMP kemarahanku sudah di
ubun-ubun.Lina sudah menasihatiku, tetapi kemarahanku sudah tidak terbendung
lagi. Ratu sudah menghina ibuku. Aku sudah tidak tahan lagi. Akhirnya di depan
teman-temanku aku marah.
“ hai ratu jangan perna kau menghina
ibuku. Apakah kamu kurang puas selama ini menghinaku?” kataku
“emang kenyataannya ibumu yang pincang
itu sebagai tukang cuci baju dirumahku kan.” Kata Ratu
“iya memang ibuku tukang cuci baju di
rumahmu.Tapi aku tidak tinggal diam kalau ibuku dipanggil pincang” kataku
“iya aku marah. Siapa yang tidak marah
kalau ibunya dihina seperti itu. Apakah kamu tidak marah kalau ibumu dihina
seperti itu.” Kataku. Ratu hanya terdiam dan pergi keluar kelas. Entah apa yang
dia pikirkan sekarang. Kemudian Lina datang
menghampiriku dan menenangkanku.
Semenjak itu Ratu tidak pernah menghinaku lagi sampai aku lulus. Aku
sangat bersyukur karna Ratu sudah berubah.
Aku pun melanjutkan sekolahku di kota. Itupun karna aku mendapatkan
beasiswa.selama ini aku sekolah karna mendapatkan beasiswa. Entah apa jadinya
kalau aku tidak dapat beasiswa lagi. Walaupun aku berat harus meninggalkan
ibuku didesa,aku harus tetap sekolah walaupun harus berpisah dengan ibuku. Ini
semua aku lakukan agar cita-citaku tercapai.
Walaupun aku mendapatkan beasiswa untuk sekolahku SMA aku tetap
bekerja,untuk aku tabung saat kuliah nanti.setip hari sepulang sekolah aku
bekerja di sebuah restoran ternama di kotaku sebagai tukang cuci piring.
Lumayan untuk nambah-nambah untuk kuliah
nanti. Aku takut nanti saat aku kuliah aku tidak dapat beasiswa lagi. Setiap
pagi aku sekolah. Sepulang sekolah aku kerja dan pulang jam tujuh malam. Aku
belajarnya setelah pulang kerja dan setelah sholat shubuh.
Tidak seorang pun yang tahu kalau aku bekerja. Ibuku pun tidak tahu.
Kalau ibuku tahu pasti aku dimarahin. Aku tidak mau terlalu membebani ibuku.
Sehingga pada akhirnya salah seorang temanku mengetahuinya.
“loh Rahma kamu kerja disini ya?” kata
Sinta temanku
“ iya aku kerja disini” kataku
“kamu kenapa bekerja,bukannya kamu dapat
beasiswa” kata sinta
“ iya, tapi aku takut nanti aku tidak
bisa melanjutkan sekolah yang lebih tinggi” kataku
“ okelah kalau itu alasanmu” kata Sinta
Akhirnya ketika pengumuman kelulusan nilaiku menjadi nilai terbaik
dikotaku. Dan aku bisa memilih kampus mana aku mau. Aku memilih salah satu kampus
terbaik dikotaku. Aku disana diterima dan Alhamdulillah aku tetap mendapatkan
beasiswa. Walaupun aku masih dapat beasiswa aku tetap bekerja. Rencananya
uangku ini akan kuberikan ke ibuku untuk naik haji. Ibuku ingin sekali naik
haji. Walaupun uangku ini belum cukup,aku yakin lama kelamaan nanti cukup juga.
Aku mengambil kuliah yang masuk hanya empat kali seminggu. Agar waktu luangku
bisa kupakai untuk bekerja.
Salah satu dosenku ada yang mengetahui kalau aku bekerja.
“ eh Rahma kamu bekerja disini” kata
dosenku
“ iya bu” kata ku
“kenapa kamu bekerja” kata dosenku
“ untuk mengisi waktu luangku bu” kata
ku
“ kamu emangnya gak ada jam hari ini”
kata dosenku
“ tidak ada bu” kata ku
“ loh bukannya kamu dapat beasiswa,
kenapa gak milih kuliah setiap hari?” kata dosenku
“ tidak apa-apa bu” kata ku
“seharusnya kamu itu memilih kuliah yang
setiap hari,mumpung ada kesempatan.” Kata dosenku
“(aku hanya tersenyum) bu aku permisi
dulu” kata ku
“ iya silahkan Rahma” kata dosenku
Setiap hari aku bertemu dengan dosenku. Ternyata dosenku sering kesini
untuk menghilangkan penat. Aku kuliah 4 tahun ditambah 4 tahun lagi menjadi 8
tahun,karena aku mengambil jurusan kedokteran di bidang spesealis jantung.
Akhirnya aku diwisuda. Ibuku tidak bisa datamg karena aku. Sebenarnya
aku ingin saat wisuda ku ibuku dapat menemaniku. Setelah aku diwisuda aku ke
biro haji untuk mendaftarkan ibuku naik haji. Gaji ku selama 11 tahun akhirnya
cukup untuk naik haji ibuku. Akupun kembali kedesa dan memberikan tiketnya ke
ibuku.
“ ini bu tiket untuk naik haji dan tahun
ini ibu bisa naik haji.” Kata ku
“dari mana kamu merndapatkan uang untuk
tiket ini nak” kata ibu
“ selama ini aku bekerja bud an ini
adalah hasilnya” kataku
“ jadi selama ini kamu bekerja nak” kata
ibu
“iya bu”kataku
Ibu ku menagis bahagia karna apa yang
diharapkan selama ini bisa menjadi kenyataan. Akhirnya ibuku bisa naik haji.
Selama 2 tahun aku praktek. Dan hari ini aku diangkat menjadi dokter
spesealis jantung disebuah rumah sakit ternama. Aku menunggu ibuku. Tapi ibuku
tidak datang-datang juga. Akhirnya aku diangkat tanpa kehadiran ibuku. Setelah
pemangkatanku aku pergi kedesa dan di rumah sederhanaku ini aku ibuku sedang
sakit keras. Dan hari itu ibuku meninggal dunia.sebelum ibuku pergi ibuku
berpesan agar aku tidak melupakan sholat.



